Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Akhirnya Bisa Bertemu Naira


__ADS_3

Setelah Luna tidak masuk kerja Okan  duduk di kursi dengan malas, tiba-tiba Naira menelepon Okan.


“Naira?” Okan kaget.


“Halo Nai.”


“Saya yang  datang ke sana. Apa kamu yang datang ke kantorku?’ tanya Naira tanpa basa basi.


“Maksudnya?”


“Desain ku  yang menang untuk pembangunan bar milikmu,” ujar Naira.


Okan menatap Fudo yang duduk di sofa menikmati serapan yang gagal di makan Okan sama Naira tadi.


“Desain gambar untuk  Bar yang  Surabaya?” tanya Okan sembari merentangkan telapak tangannya meminta penjelasan pada Fudo. Lelaki itu mengangguk lalu menunjukkan kertas pada Okan.


“Oh,  aku tidak tahu Nai. Apa desainmu yang terpilih?” tanya Okan.


‘Dari mana dia tahu tentang perusahaan baru ku, padahal Aku tidak pernah mengatakan siapa-siapa?’ tanya Okan dalam hati.


“Ya,  gambarku yang terpilih saat aku persentase.”


“Oh baiklah, itu artinya gambar milikmu  yang terbaik. Baiklah Aku yang akan datang ke sana.”  Okan menutup sambungan telepon.


“Dari mana dia tahu kalau itu perusahaan baruku. Aku berpikir ada yang membocorkan,” ujar Okan


“Akan saya cari tahu  siapa pengkhianatnya Bos.”


Okan  keluar  ia  ingin menemui Naira. Setelah mendapatkan alamat  Naira Okan meminta Fudo membawanya ke sana, ternyata si cantik Naira sudah membuka kantor baru. Naira  seorang arsitek sama seperti Jovita Hara ibu Okan


Tiba di kantor  Naira.


“Apa kamu yakin  ini kantornya?” Ia menatap Fudo.


“Yakin Bos, saya sudah konfirmasi sama bawahan Mbak Naira,”


“Baiklah, saya akan keluar, kamu tunggu saja di parkiran,” pintah Okan.


“Siap Bos.” Fudo mengangguk patuh.


Tidak ada Luna, Okan mendatangi Naira,  ia gadis cantik yang memiliki tubuh semampai bak seorang foto model, ia juga pintar.


Beberapa hari yang lalu ia meminta Okan pergi  dari hidupnya karena kecewa. Naira kecewa karena Okan tidak menepati janji, namun kali ini ia memintanya datang ke kantor barunya. Naira ingin melupakan hal yang buruk dalam hidupnya, walau ia beberapa kali melihat ada orang asing yang mengawasinya , Namun, ia ingin memulai kehidupan yang baru.


“Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang wanita yang  duduk  di meja resepsionis.

__ADS_1


“Saya ingin   bertemu Naira.”


“Sudah ada janji Pak?”


“Ya sudah,  bilang saja Okan.”


“Baik Pak, mohon tunggu,  saya akan memberitahukan kedatangan bapak.


“Suruh dia masuk”


Okan masuk, tatapan mata Naira sangat berbeda kali ini, wanita berparas  cantik itu tak lagi marah, saat Okan datang ia sudah senyum kembali


“Selamat siang Bu Naira,” sapa Okan bercanda tersenyum kecil.


“Selamat pagi Pak Okan Wardana, saya pikir kamu tidak datang.”


“Untuk kamu Aku pasti datang,” ujar Okan  masih berdiri ia meneliti pajangan dan beberapa penghargaan di ruangan Naira,


“ Aku hanya  ingin menunjukkan ini  gambar desain bagunan yang kamu inginkan.” Naira  menyerahkan gambarnya pada Okan.


“Kenapa kamu memilih ikut kompetisi Nai. Kamu kan bisa bicara langsung denganku.”


“Aku hanya ingin bekerja profesional Kan, Aku tidak mau gambarku dipilih hanya karena kita saling kenal,” ujar Naira.


Ia menatap  gambar  desain itu dengan seksama dan Naira menjelaskan material yang akan digunakan untuk  bangunan gedung klub malam milik Okan. Okan hanya mengangguk dan menerima dengan baik ide yang diberikan Naira.


“Bagaimana Pak Okan?” tanya Naira dengan tatapan serius.


“Baiklah saya setuju, mungkin nanti kita bisa bicarakan lagi  untuk pertemuan berikutnya,” ujar Okan.


“Saya tahu Pak,  mau berangkat  bareng apa kita jalan masing-masing?”


“Kemana?’ tanya Okan karena Naira terlihat sangat buru-buru.


“Lihat lokasi yang di Jakarta dulu, nanti baru yang di Surabaya,” tutur Naira, ternyata desain Naira yang terpilih oleh team  yang  ingin membangun bar dan cafe miliknya.


“Baiklah, kita naik mobilku saja,” ujar Okan.


“Baiklah.” Naira merapikan gambar  miliknya lagi dan ia  bergegas keluar mendahului Okan.


Fudo  yang menyetir, mereka berdua  bicara santai terkesan kaku. Naira sibuk   mempelajari desain untuk klien selanjutnya. Berangkat ke lokasi pembangunan.


‘Bersama mbak Naira bos terlihat sangat serasi berkelas’ Fudo membatin.


Naira seorang  arsitek, ia lulusan arsitek terbaik dari kampusnya, Hara lah yang membiayai kuliahnya hingga ia sukses seperti itu.

__ADS_1


“Apa kamu  membuka membuka kantor baru?” tanya Okan


“Ya, Aku ingin memulai kehidupan dan pekerjaan baru.”


Suasana kembali hening, Naira hanya menjawab apa yang ditanyakan Okan, karena ia tahu kalau lelaki berwajah tampan itu tidak suka banyak bicara. Ia  mengenal Okan  dengan sangat baik dari mereka sekolah,


Fudo sesekali melirik ke belakang, ia melihat Okan sangat menjaga  sikap di depan Naira.


Tiba di lokasi  bangunan  mereka berdua berjalan beriringan, tanpa sengaja tangan Naira  tersenggol  lengan Okan yang terluka.


“Auh ..!”


“Kamu tidak apa-apa?”


“Bersikaplah seolah-olah tidak terjadi apa-apa Nai, jangan sampai Fudo tahu,” bisik Okan menahan tangannya yang terluka.


Saat Naira menoleh noda darah terlihat dari kemeja Okan, tentu saja Naira panik.


“Bagaimana ini kamu berdarah, aku minta maaf.” Naira menutup mulutnya dengan telapak tangannya. “Lakukan sesuatu sebelum kamu kehabisan darah,” ujar Naira,


Sementa Fudo tidak melihat  ia sedang menerima telepon dari Shin.


“Kita pergi dari sini,” ujar Okan,  mereka berdua berjalan  ke balik bangunan dan  menghentikan taxi meninggalkan Fudo yang masih  menerima telepon ia belum menyadari kalau Okan sudah pergi.


Saat Okan dalam mobil barulah ia mengabari Fudo, meminta ia mengurus surat ijin bangunan dan mengawasi pembangunan bar miliknya. Okan melakukan langkah-langkah berani,  di lokasi itu belum ada yang berhasil membangun karena dikuasai preman dan ormas di sana dilarang membangun tempat hiburan dan cafe.  Namun Okan mampu melakukannya.


“Kita ke rumah sakit ya,” bujuk Naira, ia sangat panik melihat luka di lengan Okan.


“Jangan, apa di apartemenmu ada kotak obat?” tanya Okan.


“Ada, Belok kiri Pak apartemen Darmawangsa ya,” ujar Naira.


*


Tiba di apartemen  Naira dengan sikap buru-buru Naira melepaskan kemeja Okan, perban luka itu lepas.


“Oh, aku tidak pernah cocok jadi dokter. Kalau Chelia ada  di sini dia pasti sudah melakukannya dengan cepat,” ujar Naira, ia tidak kuat melihat cairan  merah yang menetes dari luka Okan.


“Lakukan saja pelan-pelan,” ucap Okan lembut.


Ia memilih menutup mata, saat Naira mengganti perban luka di tangannya, tanpa terduga yang datang malah wajah Luna.


‘Apa ada denganku? Kenapa malah wajah gadis itu yang aku pikirkan’ ucap Okan mendesis kesal saat mengingat Luna yang  kabur begitu saja tadi pagi, ia mengalihkan  pikirannya ia menatap wajah cantik Naira, bulu mata lentik kulitnya putih seputih susu dan matanya beralih ke bibir,


‘Naira sangat cantik’ ucap Okan menatap wajah Naira yang sedang duduk di depannya wanita itu fokus mengobati luka  di lengan Okan, tiba-tiba matanya menoleh ke wajah Okan mata mereka saling  menatap beberapa detik  kemudian  tiba-tiba Naira memajukan tubuhnya dan mencium bibir Okan. Lelaki tampan itu awalnya terkejut, karena selama ini Naira selalu menolak dirinya, sebagai lelaki normal ia tidak bisa menolak pesona  sicantik Naira.

__ADS_1


Lalu kemanakah hati Okan akan bertaut? Di  satu sisi ada Naira  wanita cantik, pintar, gadis pilihan ibunya juga. Namun disisi lain hatinya menemukan  gadis sederhana yang  mampu membuatnya selalu bahagia saat mereka bersama.


Bersambung…


__ADS_2