Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Akhirnya Bertemu Stanley


__ADS_3

Setelah tiba di rumah, Bram sudah menunggu  Luna di ruang tamu.


“Pulang juga akhirnya kamu.”


“Maaf Om, tadi aku makan dulu.”


“Tapi saya sudah bilang  kalau makan di rumah kan,” tegas Bimo ikut marah.


“Dengar Nona, jangan menyusahkan pekerjaan kami, kalau bukan Bos dan Nyonya Hara yang meminta kami untuk menjaga dan merawat kamu, saya tidak akan peduli,” ujar Bram .


Dari kedua  anak buah Leon, Bram yang lebih galak pada Luna, lelaki brewokan itu masih menganggap Luna sebagai mata-mata Dave saudaranya. Walau ia sudah menjelaskan puluhan kali kalau ia tidak ada hubungannya dengan penculikan satu tahun lalu, tetapi Brma belum percaya. Berbeda dengan Bimo,  bapak dua anak ini masih mau bicara lembut padanya.


“Saya kan sudah bilang jangan bicara dan bergaul dengan orang asing. Lalu kenapa kamu makan dengan tiga pria yang baru kamu kenal,” cerca Bram lagi.


“Mereka bukan orang asing Om, mereka juga karyawan di kantor,” jawab Lun dengan yakin.


‘Karyawan kepalamu. Shin dan Fudo pengawal Okan bos’ ucap Bram dalam hati.


“Menjauhlah dari mereka, lagian kamu juga baru kenal,” ujar Bimo.


“Baik Om.”


“Ingat! Jangan dekat-dekat mereka,  sebelum kamu dapat masalah besar nanti.”  gertak Bram lagi.


Luna mengangguk setuju, lalu ia masuk ke kamarnya,  lelah di kerjaan dan sekarang ia merasa lelah juga karena kedua lelaki itu mengawasinya  sangat ketat.


‘Sabar Luna, sabar … itu untuk keselamatanmu. Kamu harus bisa mengumpulkan uang yang banyak agar bisa  kuliah lagi,” ujar Luna dalam hati, setelah berganti pakaian  ia kembali berkutat dengan komputer di kamarnya, ia harus mengerjakan pekerjaan berkas yang ia bawa dari kantor sebelum Bayu meneriaki sampai budak.


*


Malam itu, setelah Okan pulang dari kantor mereka bertiga menuju sebuah apartemen. Saat  turun dari mobil Okan ditelepon lelaki yang pernah menolongnya beberapa kali.


“Siapa ini…?” Kening Okan berkerut


“Siapa Bos?”


“Tidak tahu, tidak ada namanya,” sahut Okan.


Stanley berdiri di  balkon apartemennya. Ternyata lelaki itu baru pulang dari penjara, walau akhirnya bebas dari penjara,  tetapi semua itu tidak lantas membuatnya senang, ada banyak  kepahitan dan penderitaan ia dapatkan di penjara selama jadi penghuni hotel prodeo tersebut.


“Dia akan mendapat balasan atas rasa sakit yang aku alami,” ucap Stanley, mengepal tangannya dengan kuat, “kalian semua akan mendapatkan balasannya,” ucapnya lagi, melemparkan gelas bening yang ia pegang.


Lalu ia membuka dompetnya, membuka lipatan kertas yang sudah usang, memperlihatkan kalau lipatan itu sudah sangat lama tersimpan di sana.


Lalu ia menekan nomor itu  di ponselnya dan tersambung.


“Halo?”’ tanya seorang lelaki yang di sebrang telepon.


“Ini aku.”


“Aku siapa?” tanyanya lagi.


“Stanley.”

__ADS_1


“Stanley ….?”


“Apa kabar Bung?” tanya Stanley, ia menelepon Okan.”


“Apa benar.  Ini Asta Stanley?”


“Ya.”


“Bukannya kamu di penjara, apa yang terjadi, kenapa kamu bisa bebas?”


“Oh, slow Bung, bertanya satu-satu agar aku bisa menjawabnya.”


“Kapan kamu bebas?”


“Aku baru bebas,  datanglah ke apartemenku kalau kamu tahu tentang Dave dan Naira. Datang sendiri tanpa pengawal,” tegas Stanley.


“Baik sebutkan alamatnya.”


Mendengar Okan akan menemui Stanley sendiri Shin dan Fudo tidak setuju, tetapi Okan lelaki yang gentlemen, ia tidak mau dikawal. Ia tidak mau  Stanley salah paham.


“Tapi Bos, musuh ada dimana-mana, jika mereka melihatmu-”


“Jangan khawatir, Aku bukan anak bayi lagi yang harus dijaga-jaga.”


“Kamu orang penting Bos, dari Waidana group ada banyak musuh diluar sana yang mengincarmu,” tutur Fudo dengan panik


“Apa Bos tidak bisa melupakan wanita itu, untuk sementara waktu?”


“Memang kamu siapa mengatur-atur saya!”


“Maaf Bos, saya hanya mengingatkan dan menjalankan tugas sebagai pengawal.” ujar Fudo, mereka berdua menunduk.


“Tugasmu hanya mendengarkan perintahku, paham kamu!”


“Ya Bos.”


“Baik. Berikan kuncinya.”


Okan berkendara menuju apartemen Asta Stanley,  ia sangat bersemangat saat mendengar akan  bertemu Naira, Okan  belum bisa  melupakan Naira.


*


Tidak lama kemudian Okan tiba di alamat  yang dikirim  Stanley padanya, sebuah apartemen mewah yang bisa dimiliki orang-orang berkang tebal.


Ting!


Okan menekan bel apartemen Stanley.


Pintu terbuka, seorang pria  menyodorkan kepalanya dan menoleh kanan-kiri.


“Apa kamu datang sendiri?”


“Ya.” sahut Okan.

__ADS_1


“Masuklah.”


Lelaki bertato itu tidak menceritakan bagaimana ia bisa lepas dari penjara dan Okan juga tidak terlalu ikut campur dengan kehidupan  Stanley. Ia hanya ingin tahu tentang Naira. Setelah mereka duduk dengan tenang, barulah Stanley  bicara.


“Aku baru pulang dari penjara,” ujar Stanley memulai pembicaraan.


“Apa yang membawamu masuk penjara, Bro?”


“Dituduh membunuh Dave.”


“Apa yang terjadi?”


“Mereka menculik Dave dan wanita itu.”


Mendengar nama Naira diculik Okan ingin marah , tetapi ia  tetap tenang mendengarkan cerita Stanley.


“Maksudnya penculik diculik?”


“Kamu salah Bro, saya sudah menyelidiki, dia di jadikan kambing hitam oleh seseorang  bos besar black Moon, lelaki yang paling kuat , lelaki itu kebal hukum,  dia mafia yang bisa mengontrol perekonomian di negara ini,” ujar Stanley.


“Kamu ingin bilang kalau pria yang bernama Dave itu tidak ada hubungannya dengan penculikan?”


“Ya, saya bisa jamin.”


“Dari mana kami bisa menjamin penjahat?”


“Karena saya adiknya .”


“Apa.” Mendengar Stanley adik Dave dengan reflek Okan menarik pistol dari pinggang dan menodongkan ke arah kening Stanley.


“Tenang Bro. Dengarkan Aku jelaskan.”


“Apa yang kamu jelaskan?  selama ini kamu membohongi saya.” ujar Okan masih dengan senjata yang  mengarah ke kening Stanley.


“Saya baru tahu kalau dia masih hidup, saya datang ke Jakarta ingin mencari tahu tentangnya, tapi baru bertemu dia sudah dibunuh didepan mataku.”


“Apa, dia sudah meninggal?” Okan menurunkan pistol miliknya dan menyelipkan kembali ke pinggangnya.


‘Bagaimana dengan Naira?’ tanya Okan dalam hati.


“Jangan khawatir wanita itu baik-baik saja,” ucap Stanley seolah-olah ia tahu isi pikiran Okan yang memikirkan nasib Naira wanita  yang ia cintai. Tetapi ia tidak tahu pada siapa hati wanita itu diberikan.


“Aku juga  belum menemukan  keberadaan adik perempuanku yang diculik. Dia bilang anak buah  Black Mon  menculiknya.” ujar Stanley .


“Turut prihatin, Aku berharap adik perempuan segera ditemukan,” ujar Okan, ia tidak tahu adik perempuan yang dimaksud Stanley adalah Luna.


“Oh, kalau kamu ingin bertemu Naira aku akan memberikan alamatnya, lelaki yang bernama Jordan yang membantu.”


Mendengar nama Jordan yang menyelamatkan Naira, wajah Okan langsung berubah .


“Aku pulang,” ujar  Okan meninggalkan apartemen Stanley.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2