Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Kecewa Karena Ditinggal


__ADS_3

Setelah Fudo pergi Okan masuk kamar mandi, lalu menatap wajahnya di pantulan kaca, kini wajah tirus dengan pahatan rahang tegas itu penuh dengan coretan lipstik.


"Sial, Aku lupa menghapus tadi. Fudo pasti sudah berpikir macam-macam tadi.  Dia pasti sudah  berpikir aku tidur dengan Luna," ujar Okan membasuh wajahnya  sampai bersih.


“Lebih baik mandi dulu sebelum sarapan.” Okan menyalakan  kran air kamar mandi.


Tepat saat Okan mandi ponsel Luna   berdering, ia buru-buru bangun menjawab panggilan dari Bimo sebelum Okan mendengar.


“Kamu di mana?’ suara bernada tegas terdengar di ujung telepon.


“Luna masih di ruangan Pak Okan Om,” jawab Luna setengah berbisik.


“Ngapain kamu di sana?”


“Pak Okan lagi mandi, Aku baru bangun Om.


Mendengar okan mandi sementara Luna masih tidur,  otak Bimo berpikir kalau  mereka sudah melakukan aktivitas ranjang.


Okan tidak mendengar karena ia menyalakan kran kamar mandi.


“Kenapa  kamu  masih belum keluar  dari sana Luna. Apa kamu akan tidur sampai siang di sana? tadi malam saya, kan sudah bilang kamu pulang sebelum anak buah Okan datang,” bentak Bram.


“Maaf Om Luna ketiduran.”


“Ketiduran atau memang kamu sengaja merayu dia? Ingat ya jangan kamu pikir kalau dia baik denganmu dia jatuh cinta. Kamu bukan tipe dia. Baginya kamu hanya hiburan,” ujar Bram terdengar kejam, tapi Luna sudah terbiasa dengan kata-kata kejam seperti itu dari Bram.


“Tidak Om, Luna tidak merayu, kami juga tidak melakukan apa-apa,” ujar Luna.


“Kamu ingat tidak pesan saya tadi malam,  di sana  saya sudah jelaskan dengan jelaskan semua. Coba kamu baca lagi biar kamu paham maksud  saya,” bentak Bram.


“Baik Om.”


“Kamu keluar buruan! Selagi Fudo keluar,” desak Bram.


“Baik Om,” Luna meraih tas  miliknya  membuka pintu pelan-pelan menoleh kanan-kiri belum ada orang yang datang ke kantor. Luna buru-buru ke pos satpam  mengambil pakaian ganti untuk Luna yang dititipkan di sana.


Bram memang sangat keras dan galak sama Luna, sangat berbeda dengan pengawal Leon yang bernama Bimo,  kalau Bimo  baik padanya. Bram masih belum percaya padanya, lelaki berkumis itu masih tetap  berpikir kalau Luna penyebab Chelia diculik .


*


Ternyata tadi malam Bram lah yang meminta Luna dan merawat Okan setelah ia mengirim pesan bahwa Okan terluka.


Isi pesan Bram pada Luna tadi malam.

__ADS_1


[Kamu tidak usah pulang malam ini, rawat dan temani Okan. Besok pagi saya akan antar pakaianmu ke sana] isi pesan Bram.


[Tapi Om Bimo sudah mau jemput Luna, Om]


[Nanti saya  akan  suruh dia pulang lagi]


[Baik Om]


[Dengar … jangan sampai ada orang lain melihatmu  bersama Okan. Kamu keluar dari sana jam enam, saya akan menjemput di seberang jalan] pesan  Bram.


Luna masih diam di kamar mandi membaca isi pesan  Bram, ia memukul kepalanya karena  lalai menjalankan tugas yang diberikan Bram.


Padahal ia juga sudah meminta izin pada Bimo untuk menemani Okan. Bimo setuju dan meminta Luna merawat Okan,  Bimo juga memperingatinya agar jangan membongkar siapa dirinya atau menyinggung tentang penculikan satu tahun lalu. Luna tidak menyinggung tentang kehidupan pribadi Okan malam itu mereka hanya  bermain game.


“Tapi kenapa tadi malam aku bisa ke ruangan Pak Okan? Apa kami melakukan sesuatu?” terlihat seperti orang bodoh, Luna memiringkan kepalanya mencoba mengingat kejadian saat mereka tidur di sofa, lalu dengan polosnya ia memasukkan satu jadi ke bagian sensitifnya.


“Tapi … lobangnya masih sempit, ah mungkin tidak … ya kali dia tidur denganku, ha, ha.” Luna terlihat seperti orang  gila di kamar mandi bicara sendiri  lalu tertawa sendiri.


“Lalu bagaimana dengan  bukitku …? Kalau dia tidak menjelajahi hutan lebatku mungkin dia menaiki bukitku …,” Luna melepas kancing kemeja miliknya lalu meneliti kedua sisi gunung kembar itu, ia  berpikir barangkali ada tanda merah di sana. Tapi tidak ada lalu,  ia tertawa kembali, antara senang, bodoh dan panik bercampur jadi satu


Luna belum bisa mengingat seutuhnya kenapa dia bisa tidur di ruangan Okan, apalagi sampai diketahui Fudo, untungnya anak-anak kantor belum pada datang, kalau sampai mereka tahu kalau Luna tidur bermalam dengan Okan maka seisi kantor akan gempar.


“Aku bego … kenapa sampai ketiduran di sana,” ujar Luna mengetuk kepalanya dengan kepala tangannya,


"Bagaimana?" tanya Bimo.


"Sudah Om, terimakasih atas pakain gantinya," ucap Luna.


"Bi, Ana yang memilih,  saya hanya minta sopir mengantarkan ke kantor, Om tidak tahu itu cocok apa tidak."


"Cocok Om. Ini memang pakaian kerja Luna."


"Bagaimana dengan Okan?" tanya Bimo, mereka berdua masih mengawasi Okan diam-diam dan melaporkan pada Leon.


"Sudah baikkan , Fudo juga sudah ada di sini." Luna melaporkan semua yang ia lihat tentang Okan. "Om … Aku berpikir untuk pindah kerja, bekerja dengan Pak Okan kadang membuatku ketakutan, aku takut dia mengetahui semuanya," tutur Luna.


"Baiklah nanti kita akan pikirkan, sebaiknya kamu  ijin pada Okan sebelum dia marah, kita akan ke Kalimantan,” ujar Bimo.


*


Okan baru selesai mandi , setelah Okan keluar dari kamar mandi, ternyata Luna sudah tidak ada di ruangannya, ia merasa kesal padahal ia ingin Luna menemaninya serapan  sebelum  bekerja.


"Anak ini ... pergi gak bilang-bilang," desis Okan kesal.

__ADS_1


.


Setelah izin pada Bu Tika, Luna akan pulang ke rumah . Tidak ingin dianggap tidak sopan Luna menelepon  Okan,


“Kenapa pergi tidak pamit?”tanya Okan mimik wajahnya terlihat datar.


“Bos, saya tidak ingin ada gosip panas lagi di kantor, Apa lagi Fudo memergokiku tidur di ruangan Bos.” Luna sedikit memelas agar Okan tidak marah.


“Tapi saya tidak melakukan apa-apa padamu Luna.”


“Benarkah?” tanya Luna,   ia mengusap dada merasa legah.


“Apa kamu mengharapkan saya melakukannya. Atau jangan-jangan kamu berpikir aku menyentuhmu?” tanya Okan tertawa kecil, wajah Luna terasa  panas mendengarnya, ia berpikir kalau Okan meledek ketidaktahuannya.


“Oh, ti-tidak terimakasih,” ujar Luna kelagapan.


Lalu Kenapa kamu kabur begitu saja seolah-olah saya melakukan hal buruk padamu,” ujar Okan.


“Saya hanya tidak ingin ada gosip lagi  tentang saya dan Pak Okan,” ujar Luna dengan lembut.


“Baiklah,” Okan  menutup telepon


Tidak lama kemudian Fudo datang membawa pesanan Okan sarapan pagi untuk mereka berdua dan pakaian baru untuk Luna.


“Bos, ini sa-”


“Makan sajalah. Kamu penganggu,” ujar Okan melampiaskan kekecewaannya pada sang anak buah, terdengar seperti anak kecil yang sedang merajuk.


‘Aduh salahku dimana’ tanya Fudo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Tapi Bos pakaian ini.”


“Pakai saja kalau tidak buang,” ujarnya ketus.


“Apa Luna sudah pergi?”


“Ya.”


Akhirnya paham kenapa bosnya marah karena Luna sudah pergi sebelum menemaninya serapan.


Baru kali  Okan Putra Wardana merasa kesal karena ditinggalkan perempuan, biasanya ia yang selalu bersikap dingin sama wanita.


Fudo hanya bisa diam dan garuk-garuk kepala saat dijadikan kambing hitam atas kaburnya Luna dari ruangan Okan. Bos memang tidak pernah salah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2