
Okan masih terbaring di rumah rumah ketua suku, ia hanya bisa berbaring karena luka di tubuhnya sangat parah. Tapi ia terus memaksa otaknya untuk bekerja, mencoba mengingat kejadian sebelum ia dijadikan daging panggang sama musuh, ia masih sempat mendengar suara tembakan dan menumbangkan pada lelaki yang menari mengelilingi api.
“Aku sepertinya mendengar suara mereka. Apa benar Aku hanya berhalusinasi?” tanya Okan.
“Silahkan minum obat ini,” pintah lelaki tua itu membantu Okan duduk dan memintanya meminum sebuah cairan dalam wadah yang terbuat dari tempurung kelapa.
Ia mengingat nasihat Leon tidak boleh menolak pemberian kepala suku.
Walau baunya tidak enak di hidung Okan, namun ia memaksa meminum, saat perutnya menolak ia membekap mulutnya sendiri dan memaksa masuk obat itu masuk ke dalam lambungnya.
‘Astaga ini apaan? Baunya bikin Aku mual dan rasanya …’
“Itu akar direbus dan dicampur dengan darah ayam.” Mendengar ia minum darah ayam, seketika perut Okan bergejolak.
“Ueeek … Ueeek.” Ia ingin muntah.
Lelaki tua itu memberinya totokan di punggung , seketika tubuh Okan diam dan berhenti mual.
“Itu obat berharga, jangan sampai terbuang.”
“Aku ingin keluar dari sini,” tutur Okan.
“Sepertinya kamu gagal total dalam ujian pertamamu.
“Kalau kamu sudah gagal dan ditangkap musuh, itu akan jadi aib buat suku kami, mereka berpikir kalau kamu bagian dari kami karena lambang yang kamu dilukis di tubuhmu. Asal kamu tahu! Tidak sembarangan untuk melakukan itu,” bentak lelaki tua itu nada suaranya tegas dan bernada marah.
“Aku hanya kagum, Kek.”
“Itu bukan hanya dikagumi. Leon memiliki tato itu di tubuhnya karena dia sudah melewati banyak rintangan, kamu baru satu rintangan saja sudah hampir mati. Tapi kamu tanpa mengerti arti dari tato itu tapi kamu sudah mengukir di tubuhmu, itu tidak dibenarkan,” ujar lelaki tua itu dengan nada yang lebih ketus.
Okan semakin merasa kesal saat lelaki tua itu membanding-bandingkannya dengan sang ayah.
“Lalu bagaimana agar aku bisa pantas menggunakannya?” tanya Okan.
“Kamu harus seperti ayahmu , menguasai tujuh aspek perang dan memiliki jiwa pemimpin.”
“Baiklah, saya akan berlatih keras di sini.”
__ADS_1
Okan gagal di rintangan yang pertama, beruntung di saat -saat genting Leon datang menyelamatkannya, kalau saja Leon dan anak buahnya tidak datang tepat waktu Okan sudah dihabisi musuh dan mungkin akan di gantung di gerbang pintu masuk musuh. Kalau tidak kepalanya akan dipenggal dan diantar ke suku Leon, mereka biasa melakukan itu sebagai tanda kemenangan , karena dalam tato Okan dia dikenal sebagai putra Ketua atau orang penting atau pemimpin pasukan perang.
“Baik, siapkan dirimu setelah kamu lolos dari sini barulah kamu bisa keluar dari hutan ini,” ucap lelaki itu dengan tatapan yang tegas .
“Baik Kek.”
Okan akan tinggal di hutan itu dengan waktu yang tidak bisa ditentukan, bisa satu tahun, dua tahun atau mungkin sepuluh tahun, tergantung bagaimana dia menguasai tujuh teknik perang seperti yang disebutkan kepala suku tersebut.
*
Disisi lain.
Tepatnya di Jakarta, setelah leon merasa tenang dan luka di kakinya sudah membaik, ia akan membawa Chelia untuk melakukan pengobatan ke luar negeri , karen selama pengobatan di tanah Air tidak ada kemajuan, ia tetap seperti putri tidur tidak pernah bangun-bangun lagi.
“Kita akan melakukan pengobatan untuk Chelia di luar negeri,” ujar Leon.
“Kenapa mendadak?”
“Aku ingin dia dan Ibu sembuh.”
“Bagaimana dengan perusahaan?”
“Bagaimana dengan gadis itu?” tanya Hara melirik Luna gadis muda yang masih menggunakan satu tongkat karena satu kaki kirinya mengalami patah tulang.
“Kita tidak bisa membawanya pergi dia akan mendapatkan perawatan di rumah, tentu dengan perawatan dan penjagaan yang ketat,” jelas Leon.
“Bagaimana kalau penjahat itu masih mencarinya?”
“Dia akan aman, kita akan minta Toni dan Ken membawanya ke Kalimantan. Sayang saya ingin jujur sama mu, sebenarnya mansion kita yang di Kalimantan sudah Aku beli lagi.” Leon menjelaskan semuanya, tadinya ia pikir Hara akan marah, karena di tempat itulah Hara kehilangan bayinya.
“Baiklah kalau begitu, tidak apa-apa,” ucap Hara.
Leon menghela nafas lega saat istri tidak marah.
Setelah bicara dengan Luna, gadis muda itu juga setuju untuk tinggal di rumah Leon sampai mereka pulang nanti dari luar negeri dan kembali ke Indonesia.
“Oh, Aku nyaris melupakan benda ini, Leon mengeluarkan dompet dan mengeluarkan sebuah buntalan.
__ADS_1
“Aku tidak tahu ini untuk apa, tapi istri ketua suku memberikan ini untuk kamu minum.”
“Ah, apa ini.” Hara membulatkan matanya melihat buntalan berwarna putih itu.
“Apa ini aman?”
“Saat Aku bilang kalau kamu sakit dia memberikan ini untukmu, coba saja minum,” tutur Leon.
“Baiklah Hara tidak menolak ia mengikuti seperti yang diperintahkan Leon, ia meminumnya, rasanya hambar.
Tapi berapa menit kemudian Hara ingin muntah dan ia memuntahkan sebuah gumpalan seperti darah yang mengental berwarna hitam.
“Astaga sayang! Apa mereka memberimu sihir? Kamu tidak apa-apa?” Leon mencekram rambutnya dengan kedua tangan karena panik.
Tiba-tiba Hara berdiri dengan mata melotot, ia memegang dadanya, “Aku merasa … seperti plong tidak ada lagi sakit di kepala dan rasa sesak di dada,” ujar Hara, ia melompat kegirangan.
“Ka-kamu ya-yakin Sayang?” tanya Leon terbata-bata, mata bapak tiga anak itu berkaca-kaca memeluk Hara. Ia sangat terharu bercampur bahagia melihat wajah istrinya yang kembali bersinar.
Ternyata selama ini Hara di kirim sebuah penyakit karena melanggar aturan di suku Leon dan saat ini penyakit itu sudah dihilangkan.
Hara serasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat tadi, Leon meminta dokter Shena datang ke rumah , dokter sekaligus teman Hara.
“Bagaimana?” tanya Leon saat wanita itu menempelkan stetoskop alat pendeteksi itu ke dada Hara, mimik wajahnya berbeda.
“Nafasnya sudah normal dan matanya juga sudah normal, coba mulut.” Hara melakukannya dengan semangat, bahkan ia bisa melompat bebas.
“Kamu percaya ini Dok? Aku sembuh,” ujar Hara dengan tawa yang melebar, sementara Leon mengusap ujung mata, ia tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya saat Hara dinyatakan sembuh. Padahal beberapa tahun belakangan Hara sudah sering sakit-sakitan, bahkan ia sudah beberapa kali harus menggunakan kursi roda saat beraktivitas si rumah karena ia sering terjatuh karena kepalanya sering sakit dan dadanya terasa terbakar membuatnya kesusahan bernafas.
Tapi saat ini wanita itu tampak seperti wanita usia tiga tahun karena wajahnya kembali cerah, Hara cantik saat ia sembuh.
“Oh, ini ajaib. Bagaimana mungkin Ibu bisa sembuh?” Shena menatap mereka bergantian.
“Kuasa Tuhan,” ujar Hara masih dengan wajah sumringah.
“Kita akan membawa Chelia ke luar negeri, mulai sekarang kita akan fokus untuk kesembuhan anak gadisku. Aku ingin dia melihatmu,” ujar Leon.
Akhirnya Hara sembuh dari penyakitnya secara ajaib, Leon sangat bahagia melihat Hara tertawa tanpa beban.
__ADS_1
Bersambung