
Beberapa hari kemudian Luna akhirnya bertugas di rumah sakit di Jakarta, Stanley menemui Luna di rumah tidak jauh dari rumah sakit, Azka dan teamnya menyewa satu rumah khusus untuk Luna tinggali, sebenarnya wanita cantik itu sudah diminta Stanley untuk berhenti bekerja, namun, Luna menolak ia tetap ingin ada aktivitas, tidak punya kegiatan akan membuat stres. Saat Stanley tiba, mereka berdua duduk di ruang depan.
“Apa kamu marah?” tanya Stanley melirik wajah adik kesayangannya tersebut.
“Tidak, aku senang bisa tinggal dengan kakak,” ucap Luna mengulas seuntai senyuman manis.
Staley merasa sangat legah, ia duduk di samping Luna.
“Aku melakukan ini, untuk melindungi kamu, Lun.”
“Baiklah Kak, aku mengerti, hanya aku akan merasa kehilangan sahabat baik, kami sudah terbiasa selalu bersama,” wanita berambut panjang itu melirik sang kakak.
“Aku harus melakukannya, tidak ingin ada masalah antara Dorroty dan aku,” ucap Stanley.
“Apa kakak tidak apa-apa? Maksudku apa bisa melupakan Dita?”
“Apa yang tidak bisa aku lakukan, semuanya bisa, dengan harta yang aku miliki saat ini, siapa yang tidak mau sama kakakmu ini,” ucap Stanley menggulum senyum.
“Mulai sombong dia,”ucap Lu tertawa, tiba-tiba tawa itu berhenti lalu menatap Stanley dengan tatapan mata sendu.
“Tapi apa kita akan baik-baik saja, maksudku apa ada masalah besar?” tanya Luna .
“Tidak hanya berjaga-jaga saja, kita akan baik-baik saja, tapi, aku ingin meminta kerja sama kamu, dik,” ucap Stanley dengan tatapan mata serius.
“Apapun akan aku lakukan, kalau itu untuk kebaikan.”
“Pertama kamu harus menganti penampilanmu mulai sekarang untuk menutup kepala.”
“HA? Tapi kita, kan?”
“Iini hanya sementara waktu Lun, hanya jika kamu keluar dari rumah, saat ini mereka lagi mencariku.”
“Baiklah kalau itu yang terbaik,” ucap Luna.
‘Kamu sudah bersikap dewasa Lun, aku bangga sama kamu’ Stanley membatin.
Stanley menuangkan jus dari kotak dan menyodorkan untuk Luna.
“Waktu rasanya cepat berlalu dulu, kamu hanya anak kecil yang selalu mengekor padaku dan Dave, tapi, sekarang kamu sudah tumbuh jadi gadis yang sangat cantik dan pintar,” ujar Stanley, membelai rambut Luna penuh sayang, jelas sekali kalau Stanley sangat menyayangi Luna.
“Terkadang aku merindukan mereka semua, mama, bapa dalam kakak Dave. Apa menurutmu dia masih hidup?” tanya Luna menatap Stanley.
__ADS_1
“Aku tidak tau, jangan pikirkan, hidupmu masih panjang, tapi aku akan berusaha mencari tahu,” ucap Stanley.
“Baiklah, aku percaya padamu,”tutur wanita itu dengan suara pelan.
Perhatian sayang yang ditunjukkan Stanley pada adik perempuannya, jadi perhatian tiga pria yang duduk di ruang dapur. Billy, Damar, Azka ada juga di rumah tersebut.
“Tampang boleh sangar seperti Rambo, tapi hati seperti hello kitty,” ucap Pak Damar.
“Dia sangat sayang sama adik perempuanya, tapi, itu tidak boleh dilihat musuh sangat berbahaya,” ucap Azka.
“Kenapa?” Billy menatap serius.
“Aku takut mereka menculik seperti Neil, lalu menekan dengan menggunakan adiknya.”
Lalu ia memberi pengarahan pada orangnya yang bertugas mengawasi Luna , meminta jangan melakukan penjagaan yang mencolok saat sedang mengawal Luna.
*
Setelah adiknya mendapat keamanan yang menjamin, akhirnya Stanley bergabung dengan Azka.
“Apa ada rencana?’ tanya Pak Damar, mereka berempat mengadakan rapat.
“Pertama kita selamatka Neil, hanya dia yang bisa masuk ke situs Ketua,” ucap Stanley.
“Kenapa? Kamu takut?” Stanley menantang Azka.
“Tidak. Hanya dia dikurung di markas mereka.”
“Kita bisa melakukannya, kita bisa masuk melalui pembuangan limbah pembuangan, lubangnya buat tubuh kita.”
“Itu mustahil. Lubang pembuangan sampah rumah tangga sempit,” protes Azka.
“Saya memberi dua solusia pertama kita masuk menerobos penjagaan. Cara kedua masuk dari lubang yang aku katakan.”
“Saya ikut cara yang kedua,” ucap Pak Damar.
“Apa kamu sudah pernah mencoba lewat dari sana?” tanya Azka belum yakin denga cara yang kedua.
“Lakukan saja dia tidak akan mengajak dari sana kalau dia belum pernah mencoba,”timpal Pak Damar, ia yakin Stanley sudah tahu .
“Baiklah, walau belum yakin. Namun tidak ada pilihan baiklah.” Azka akhirnya setuju dengan usulan Stanley.
__ADS_1
Billy hanya diam saat Bosnya berbeda pendapat, setelah mereka sepakat, akhirnya memuskan menggunakan rencana B mengeluarkan Neill dari sana masuk melalui gorong-gorong, tengah malam mereka akan beraksi.
“Billy dan pak Damar mengawasi dari dalam mobil, biar akus ama Azka yang melakukan,” ucap Stanley, “luka kamu belum kering,” sambungnya lagi, mendapat perhatian Stanley Billy hanya tersenyum.
“Baik Bos,” jawabnya kemudian.
Tepat saat semua orang sudah masuk ke alam mimpi dan terlelap dalam tidur yang nyenyak Stanley dan rekan-rekannya melakukan aksi mereka, membebaskan Neil dari tahanan.
Stenley dan Azka yang beraksi, Billy dan Pak Damar di dalam mobil untuk mengawasi keadaan melalui CCTV yang sebelumnya sudah di retas Azka.
“Bos, di depan ada pasukan dua orang yang sedang berjaga,” ucap Billy.
“Baik, ada berapa penjaga, Apa ada penjaga ke arah pintu belakang?”
“Tidak ada, patroli baru saja di lakukan di belakang, waspada dengan anjing pelacak yang sedang tidur,” ucap Billy mengingatkan.
“Jangan khawatir, aku sudah menyiapkan sebelumnya.” Tiba di bangunan belakang tempat kandang binatang berbulu, Stanley melemparkan gas tidur ke arah kandang duduk dan menunggu lima menit. Benar saja para dua doggy yang sudah terlatih itu akhirnya tertidur pulas.
Tidak lama kemudian Stanley mengeser kandang doggy ternyata ada lubang rahasia untuk masuk ke dalam gedung.
“Apa Bos sudah pernah ke sana?” tanya Billy saat melihat Stanley seolah-olah hapal dengan semua selak beluk gedung tersebut.
Untuk mencapai ruangan tempat Neil di kurung ia harus naik plapon, sementara para penjaga berjaga dengan ketat.
“Apa kamu bisa mematikan CCTV nya?” tanya Stanley berbisik.
“Bisa.” Azka mengeluarkan ponsel dari dalam saku lalu mematikan camera pengintai tersebut penjaga berjaga di bawah Stenlay merangkak diatas Plapon tanpa suara.
“Bos berhenti ada seorang yang datang,” ucap Billy mengingatkan, lelaki bertato itupun berhenti merangkak, setelah keluar dari kamar mandi iapun melanjutkan merangkak, hingga akhirnya tib di sebuah ruangan.
“Apa ini ruangannya?” tanya Stanley , berhenti.
“Bukan Bos, itu ruangan kosong, kira- kira empat meter maju ke depan.”
“Baik.” Stanley tiba di ruangan yang sebut, lalu ia membuka asbes.
Melihat Neil lagi tidur, namun ia orang yang waspada, Stanley melempar benda kecil ke wajahnya , ia terbangun dan menatap keatas.
“Bos!?” Neil tekejut karena berdani
“Sttt ….” Stanley meletakkan satu jemari di bibirnya dan memberi kode ada yang datang.
__ADS_1
Setelah situasi aman, Stanley menjatuhkan tali, Neil naik dengan cara pelan-pelan merangkan menuju kamar mandi dari sana, mereka kembali ke pintu rahasia dan akhirnya misi mereka berhasil membebaskan Neil.
Bersambung