Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Gadis Pilihan


__ADS_3

Luna masih di Kalimantan, kali ini agenda terakhir, bahkan puncaknya. Luna dibawa ke rumah ketua adat yang ada di hutan pedalaman, suku  dari Leon Wardana.


Lalu ia mendapat pelatihan khusus dari seorang wanita yang sudah berumur, ia berpakaian adat khas mereka dan Luna juga mengenakan pakain tersebut. Lalu mengajari Luna dengan berbagai tradisi di suku Leon.  Luna dengan patuh melakukan semuanya dengan baik, walau sebenarnya  ia tidak tahu untuk apa  ia latih seperti itu, gadis ceria itu hanya menuruti semuanya dengan patuh.


Setelah dilatih  selama beberapa  bulan, akhirnya Luna berhasil.


“Kamu lolos pelatihan dari saya, Nak,” ujar wanita itu menepuk pundak Luna.” kamu tidak seperti istri Leon. Wanita itu tidak menghormati  leluhur dalam tradisi suaminya, tapi saya memaafkannya karena kasihan pada Naga,” ujar wanita itu lagi.


Wanita yang dimaksud adalah Jovita Hara, seperti yang diketahui Leon mendapat hukuman dari para tetua adat karena istrinya tidak mau mengikuti adat dan tradisi sebagai istri dari putra penjada.


“Aku lolos, Nek?” tanya Luna mencium tangan wanita itu dengan hormat.


“Ya kamu gadis yang baik yang punya aura positif, kamu mampu membawa kegembiraan pada orang di sekitarmu,” puji wanita itu lagi.


“Akhirnya,” ucap Luna tergelak di lantai dengan tangan terlentang, mereka semua tersenyum melihat kelakuan Luna.


“Apa latihan itu susah bagimu?” tanya wanita itu tersenyum pada Luna, ia  memberikan satu gulung daun sirih untuk Luna, ia mengunyah dan mereka berdua duduk sembari makan sirih.


“Susah Nek. Lelaki berkumis itu sangat menakutkan saat melatih, dia seperti singa kelaparan kalau lagi marah,” bisik Luna.


Wanita tua itu tertawa  terbahak-bahak  mendengar cerita Luna, melihat sikap Luna yang sangat baik, wanita menoleh ke dalam mata Luna, ia bahkan bisa melihat  jika ada hal buruk pada seseorang.


“Wanita jahat di kantormu menjauhlah darinya, dia cemburu padamu.”


“Oh Nenek tau? Namanya intan Nek, dia memang sangat jahat, mulutnya sangat berbisa,  gara-gara dia aku sampai diskors selama tiga hari. Tapi aku tidak takut padanya Nek.”


“Hati-hatilah dengannya, dia akan membuatmu dalam besar,” ujar wanita tua itu memperingatkan Luna.


“Baik Nek.”


Saking senangnya sama Luna, ia membuka gelang berharga miliknya dan memakaikannya pada Luna.

__ADS_1


“Jangan pernah melepaskan gelang ini, jika kamu dalam bahaya, bisikkan pada gelang ini dengan kata ’bantu aku’ Maka dengan kekuatan alam semesta,  seseorang  yang punya hubungan dengan gelang ini akan menolongmu,” ujar wanita itu dengan raut wajah serius.


“Baik Nek.”


Sikap ceria Luna dan sikapnya yang ramah membuat daya tarik sendiri baginya, ia bisa diterima dengan baik di suku Leon.  Tidak banyak orang bisa  melakukan itu, bahkan Jovita Hara gagal di terima jadi bagian suku mereka, bukan hanya gagal ia bahkan dikirim satu penyakit mistis yang bisa merenggut nyawanya.


Aluna Astasya lahir dan besar di desa,  jadi hutan dan  kehidupan desa sudah terbiasa baginya. Makannya pada hari ketiga   Luna langsung lolos dan dapat diterima di suku  tersebut.


“Latihan itu  membuatku sangat lelah, Nek, Tapi saat  nenek yang melatihku aku sangat senang,” ujar Luna, sembari memeluk tubuh wanita itu dengan erat.


Setelah beberapa menit saling mengobrol.


Wanita itu memberi kode pada ketua adat, kalau Luna lolos.


Akhirnya sang ketua tertinggi  memberikan sebuah kotak kayu pada Bimo dan Bram. Wajah keduanya seketika langsung  bersedih saat dan mendapatkan kotak kayu tersebut.  Mereka keluar dari rumah ketua adat untuk pulang ke mansion,  bahkan mereka dikawal sangat ketat sama para lelaki berpakaian adat khas pedalaman untuk menjaga keselamatan mereka.


Luna sangat di sayangi di suku tersebut karena ia ramah dan tidak ada raut takut ataupun jijik, hanya pertama saja Luna kaget melihat dewa mereka. Tetapi untuk selanjutnya ia sudah terbiasa walau harus  merinding setiap kali melihat mereka melakukan pemujaan dan  merinding melihat tarian mistis dari suku tersebut.


“Kamu hebat Lun,” puji Bimo untuk pertama kalinya lelaki itu memuji dirinya sejak dia  tinggal  di rumah itu satu tahun lebih.


Bukan hanya Bimo, Bram untuk pertama kalinya  angkat jempol padanya, mereka keluar dari hutan membawa  sebuah  benda  yang paling diinginkan Leon dalam, sebuah segel milik almarhum ayah Okan. Seperti yang diketahui Leon Wardana dan Hara tidak menjalankan tradisi  layaknya  bagian dari suku  itu,  maka segel ataupun gelar yang seharusnya Leon miliki tidak bisa sidapatkan. Tapi kali ini Leon akhirnya memiliki  barang berharga tersebut.


Bimo menelepon Leon, mantan bos mafia itu sangat kaget saat Luna mampu melakukannya.


“Apa yang terjadi. Kenapa dia bisa melakukannya?”


“Dia gadis yang gigih seperti yang bos katakan,” sahut Bimo.


“Baiklah. Kamu harus melindunginya dengan baik, bila perlu tambahkan penjaga,” ujar Leon.


“Baik Bos.”

__ADS_1


“Tapi … apa Tuaq  memberinya  simbol?” tanya Leon penasaran.


“Ya mereka memberinya, Bos.”


Leon menghela nafas panjang, ia  sangat bahagia, akhirnya ia mendapat segel berharga itu setelah puluhan tahun.


“Baiklah jaga Luna  dengan baik.”


Leon mematikan sambungan  telepon dan menghampiri Luna yang duduk santai di samping kolam renang di mansion tersebut.


“Apa sebenarnya  yang kita dapatkan Om?” tanya Luna.


“Ini lebih berharga dari emas dan uang bagi  bos Leon. Karena kamu berhasil melakukannya om mau kasih kamu hadiah. Kamu boleh ikut liburan  kantor,” ujar Bimo.


“Benarkah?” Luna melompat kegirangan, memikirkan liburan selama tiga hari membuatnya  sangat gembira.


“Bersiaplah, kita akan pulang ke Jakarta,” ujar Bimo lagi.


“Baik Om siap dilaksanakan,” Ia menghormat Bimo  dengan sikap ceria, lalu  ia berlari ke mansion, siang itu mereka akan menuju ke Jakarta, bahkan Luna sudah menelepon Bayu untuk menunda meeting sampai siang, karena berencana langsung masuk kantor.


“Berhentilah bersikap kasar padanya, dia sudah terpilih,” ujar Bimo tersenyum kecil pada Bram.


“Aku tidak tahu, pengantin untuk  siapa dia dipersiapkan. Apakah untuk Bos? Apa untuk Lucas? Apa jadi pengantin Okan?” tanya Bram


“Masih misteri. Mungkin tidak untuk Okan Nyonya Hara memilih Naira jadi calon istri untuk Okan.”


“Untuk Lucas? Apa untuk Bos?” tanya Bram mereka berdua menebak-nebak.


Jadi. Luna  terpilih untuk calon pengantin untuk melakukan tradisi pernikahan adat dari suku Leon, dengan pernikahan itu Leon bisa menebus atau membayar kesalahan di masa lalu. Pertanyaannya untuk siapakah  luna menikah? Apakah untuk Lucas adik bungsu Okan?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2