
Entah kenapa sejak tiba di Bali Luna dan Sinar mendadak jadi perhatian banyak orang dan dikagumi banyak orang, terlebih satu kantor. Selama ini kedua gadis muda itu bukanlah siapa-siapa di kantor mereka, tidak populer bahkan tidak banyak yang mengenal mereka. Namun tiba di Bali kedua gadis muda itu seolah-olah menunjukkan hal yang baru dari mereka. Luna menjadi sangat populer karena jago main Voli dan jago main papan seluncur bahkan memenangkan hadiah ponsel bagus dari Bara.
Malam itu Sinar yang akan tampil bersinar seperti namanya, ia akan membawakan lagi-lagu andalannya di atas panggung. Ternyata setelah mereka temui satu band yang tampil malam itu tidak ada vokalisnya. Luna dengan berani mendatangi salah satu grup band yang akan manggung malam itu.
“Beneran mau tampil Mbak?” tanya sang gitaris dengan wajah gembira,
“Bukan aku sih temanku yang ini … dia hanya menyumbangkan beberapa lagu saja.”
“Dia bisa menyanyi?”
“Bisa … jago malah,” ucap Luna membangkan Sinar.
“Kebetulan sekali … Bagaimana kalau teman kamu kami sewa satu malam.”
“Maksudnya? “
“Kami pakai dia jadi personil kami untuk satu malam ini, Tenang bayarannya pasti ada.”
“ Saya boleh nyanyi di panggung itu?” tanya Sinar lagi.
“Tentu. Daripada kami pulang lebih baik kami pinjam Mbak saja.”
“Ok, tapi temanku harus ikut ia akan pakai kojan untuk menemaniku. Bagaimana?” tanya Sinar bersemangat.
“Baiklah, sebenarnya itu milik grup band lain … tapi saya pinjam ,” ujar lelaki berambut gondrong tersebut.
Sesuai kesepakatan mereka akan menggunakan Sinar sebagai vokalis mereka malam itu, karena vocalis mereka tiba-tiba sakit, dari pada group band itu pulang sia-sia jadi mereka sepakat mengikuti kemauan Luna untuk menyanyikan beberapa lirik lagu dari bollywood dan beberapa lagu milik mereka.
Setelah dibrefing sebentar Luna masuk ke ruangan ganti di sana mereka berdua berdandan sederhana. Beruntung outfit yang digunakan Luna saat itu pakaian casual celana jean dan kaos dipadukan sweater jadi saat ia duduk di panggung untuk memukul kojan tersebut tidak mengganggu.
“Masa kita pakai sendal,” tunjuk Luna menoleh ke bawah
“Pakai sepatu kets saya saja kebetulan aku selalu bawa stok sepatu, tunggu sebentar ujar manajer mereka wanita itu berlari ke mobil dan membawa dua sepatu ket untuk Luna dan Sinar, ia juga membantu Luna dan Sinar merapikan bedak dan membantu merapikan rambut.
__ADS_1
“Oke, sebentar lagi giliran kita yang tampil ya bersiap,” ucap sang manager.
“Ok siap,” sahut Luna, tapi Sinar terlihat sangat nerves ia beberapa kali menghela nafas panjang.
*
Tidak lama kemudian mereka naik panggung bersama personil grup band tersebut, saat Luna datang dari belakang panggung, ia kaget karena orang sudah sangat banyak bukan hanya di meja bahkan yang berdiri juga banyak memenuhi area depan hotel.
“Astaga banyak bangat!” ujat Luna kaget ia hampir gak mau maju.
Tadinya ia piki hanya panggung biasa menghibur tamu yang sedang makan di cafe di depan hotel ternyata panggung musik untuk acara weekend . Setelah mengintip dari balik panggung tiba-tiba Sinar tidak mau maju hampir saja mempermalukan group banda tersebut, padahal para personilnya sudah ambil bagian masing-masing.
“Sin … jangan seperti itu, tadi kan kakaknya sudah tanya kamu. Kamu bilang bisa,” bujuk Luna.
“Tadi aku pikir orangnya gak sebanyak itu, ini mah konser Lun, bukan panggung biasan” ujar Sinar ia menolak naik panggung keningnya dipenuhi keringat segede-gede jagung.
Manajer itu dan pemain gitaris itu sudah membujuk Luna tetapi wanita malah semakin grogi, para penonton juga tidak sabar lagi menunggu vokalis menyanyi.
“Sina … ini kesempatan kamu untuk menunjukkan bakat menyanyi kamu yang kamu simpan selama ini. Buktikan pada keluarga dan pada teman-temanmu kalau kamu punya sisi yang luar biasa. Tunjukkan pada Raka kalau kamu wanita yang hebat, bahkan tidak apa-apanya ketimbang Intan, Buktikan pada orang selama ini menganggap sepele kalau kamu hebat … anggap saja kedua orang tuamu disana berikan yang terbaik untuk mereka,” ujar Luna.
Kata-kata penyemangat itu rupanya bisa membangkitkan semangat Sinar, ia berdiri dengan wajah yakin.
“Baiklah, aku akan lakukan yang terbaik,” ujar Sinar mereka akhirnya maju ke depan.
“ Halo selamat malam semua, Maaf agak lama ada sedikit problem di belakang,” ujar Sinar tiba-tiba bersikap seperti seorang penyanyi profesional.
Seketika mata satu kantornya melongo saat mereka berdua tampil diatas panggung. Luna dengan senyuman manisnya ia mengambil bagian, ia menarik alat musik itu lalu mendudukinya dan memukulnya sebenarnya hanya formalitas. Luna hanya ingin menemani sahabatnya di atas panggung karena Sinar tidak berani tampil diatas panggung, daripada ia bengung jadi ia memukul-mukul Kojan itu saja.
Melihat Luna dan Sinar tampil diatas panggung satu kantornya melongo, tadi siang Luna yang menyita perhatian mereka kali Sinar yang tampil diatas panggung dengan penampilan yang memukau . Ternyata untuk penampilan pertama ia memutuskan membawa lagu dari Barat ‘You re Stiil’ by Shania twain ia juga duduk memetik gitar. Luna tersenyum melihat sang sahabat, tadinya ia pikir Luna bercanda bisa bermain gitar ternyata jago.
“Apa mereka berdua punya group band?” tanya Tika sang atasan
Disisi lain.
__ADS_1
“Luna …?” Fudo sampai menganga.
“Bos, itu dia Luna,” ujar Shin.
Okan yang sedari tadi menatap layar ponselnya ia menoleh ke atas panggung, ternyata kedua karyawannya mendadak seperti penyanyi papan atas.
“Apa itu Luna?’ tanya Okan menyengitkan kedua alisnya.
“Ya, Luna dan Sinar,” sahut Fudo ia sampai berdiri.
“Suaranya bagus,” puji Shin, ia menatap Sinar.
Sinar sagat cantik, ia memang sengaja melepaskan kacamatanya dan menggunakan soflen dan rambutnya sengaja di gerai. Raka melotot tanpa berkedip, ia baru tahu kalau gadis yang baru ia putuskan itu ternyata punya sisi yang berbeda.
Pada lagu kedua Sinar menyanyikan lagu ‘Lovely’ dari Billie Eilish, Sinar memang sangat mengidolakan artis Billie Eilish bahkan hafal lagu-lagu dari artis yang selalu berpenampilan nyentrik itu.
“Bos apa mereka berdua penyanyi?” pertanyaan yang sama juga ditanyakan Fudo sama seperti yang ditanyakan semua rekan-rekannya.
“Mana saya tau,” jawab Okan dengan ketus, saat semua orang memuji penampilan kedua gadis manis itu, ternyata Okan tidak suka melihat Luna jadi perhatian banyak orang, “aku mau ke kamar.” Okan meninggalkan mereka.
“Ada apa dengan Bos?” tanya Fudo.
“Gak tau,” sahut Shin.
“Apa dia cemburu …? Ah … masa cemburu. Sama siapa?” Fudo tampak berpikir dan memiringkan kepalanya, ia bertanya ia juga yang menjawab sendiri.
“Jangan terlalu ikut campur, yang ada kamu kena marah lagi,” ujar Shin dengan tatapan acuh.
“Kamu sama Bos … layak dijodohkan sama-sama kaku, kayak tiang listrik, garing dan gak ada selera humornya,” ujar Fudo sewot.
“Kalau aku pantas sama Luna selera humor kami sama,” ujar Fudo lagi sembari tersenyum menatap Luna yang terlihat cantik diatas panggung.
Bersambung
__ADS_1