Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Melakukan Acara Ritual


__ADS_3

Setelah Luna keluar dari ruangan Okan, lelaki tampan itu hanya duduk memainkan ponsel di tangannya tiba-tiba kehilangan mood, tadi niatnya ingin ingin langsung kerja setelah sarapan bersama Luna.


“Apa kamu terluka Bos?” tanya Fudo yang menyadari lengan kiri Okan tidak digerakkan.


“Hanya luka kecil, Luna sudah mengobatinya.”


Fudo tidak merasa khawatir  saat Okan mengatakan sudah diobati sama Luna.


“Apa Bos memerlukan sesuatu?” tanya Fudo merasa cemas saat melihat wajah Okan yang tiba-tiba kusut seperti kain tidak  disetrika satu bulan.


“Bisakah kamu mendapatkan nomor ponsel Luna, untukku?”


“Apa perlu saya panggilkan ke ruangannya Bos?”


“Masalahnya Bu Tika bilang dia ijin  pulang.” Raut wajah Okan semakin kusut saat mendengar Luna tidak masuk kerja hari itu.


“Baik Bos, saya akan  coba minta ke rekan kerjanya.”


Saat ana-anak kantotr sudah datang, Fudo melihat Sinar baru datang, ia tahu Sinar satu-satunya teman akrab Luna di kantor. Tapi demi apapun juga Sinar tidak akan memberikan nomor Luna sembarangan, karena Luna sudah berpesan padanya . Karena ia tahu yang minta  adalah bos besar maka ia memberikan nomor Luna yang sudah tidak aktif,


“Maaf Pak, hanya itu nomor Luna yang saya tahu, dia tidak sembarangan kasih nomor ponsel ke orang lain,” ujar Sinar menatap wajah Fudo. Seketika jiwa betinanya keluar.


“Wah … ternyata dia juga tampan. Anak buahnya tampan Bagaimana dengan Bosnya,” gumam Sinar memiringkan wajahnya sambil bicara.


“Apa kamu mengatakan sesuatu, Gadis?”


“Oh tidak Pak, nomor Luna memang jarang aktif,” ujar Sinar mengalihkan pembicaraan


“Ok, baiklah.”


Fudo  masuk lagi ke ruangan Okan,  ia mengatakan kalau nomor Luna tidak aktif,  mereka tidak tahu kalau nomor itu nomor yang salah diberikan Sinar.


‘Apa jangan-jangan dia berpikir kalau aku berbuat sesuatu padanya, ais gadis ini’ Okan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu ia berdiri menatap jendela.


“Kamu harus cari tahu semua tentang Luna ,” pintah Okan pada Fudo .


**

__ADS_1


Hari itu Luna tidak kerja, ia berangkat ke Kalimantan bersama Bimo, Bram,  bersama  Bu Ana Asisten rumah tangga di rumah Leon. Luna akan selalu dibawa kesana setiap bulan setelah ia pindah ke Jakarta.


Bram  menerbangkan heli berwarna putih ke sana, sepanjang perjalanan lelaki bertampang sangar itu tidak membahas tentang Luna dan Okan lagi.  Brama hanya diam sesekali menatapnya dengan tatapan yang sinis. Luna santai dan tenang, ia saling bercengkrama dengan Bu Ana. Wanita itu  sangat baik padanya, apa lagi setelah tahu kalau Luna anak yatim piatu ia memperlakukannya seperti anak perempuannya, bahkan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan sama Luna selalu dikerjakan Bu Ana.


“Kamu sudah siap Neng?’ tanya Bu Ana setelah helikopter itu  mendarat di belakang mansion di Kalimantan


“Ya Bu siap.”


“Lakukan dengan baik  agar pak Bram tidak marah-marah lagi padamu,” ucap Bu Ana dengan lembut.


“Tapi Bu … sebenarnya untuk apa mereka melatihku melakukan itu? Selama ini Aku tidak berani bertanya karena aku takut om Bram marah.”


Wanita paruh baya itu menarik napas panjang,


“Ibu tidak punya wewenang menjelaskan itu padamu Nak, hanya Nyonya dan Pak Leon lah  nanti menjelaskan padamu. Kamu sudah menandatangani kesepakatan dengan Nyoya sama Tuan kan?”


“Ya,” jawab Luna.


“Maka lakukan dengan baik.”


“Baiklah.”


Ternyata Leon kembali menganut kepercayaan leluhurnya yang dulu yang sempat ia tinggalkan. Ia  sudah  berjanji pada kepala suku kalau ia akan menjalankan ritual setiap bulan . Gedung doa di belakang mansion kembali di bangun, sebelumnya Leon pernah merobohkannya dan ikut istri. Namun kali ini, setelah istrinya sembuh  punya perjanjian pada ketua adat  kalau ia akan membakar dupa persembahan dengan cara menyembelih satu hewan untuk disembahkan pada leluhur mereka.


Luna juga tidak  mengerti kenapa dia yang dipilih Leon untuk menggantikan melakukan ritual itu setiap bulan.


Setiap kali melakukan ritual mempersembahkan  dalam ruangan itu, Luna selalu merasakan hal mistis, tapi ia tetap menahan diri agar tetap  melanjutkan pembakaran dupa dan menuangkan darah hewan sembelihan tersebut dalam wadah  yang terbuat dari tanah liat, lalu  diletakkan di depan sebuah patung. Itulah keyakinan yang dianut Leon dan sukunya.


Mempercayai arwah keluarga yang meninggal akan datang ke dalam patung dan menjaga mereka itulah  yang mereka percayai menganut keyakinan portualisme.


“Lun jangan bengong, letakkan di sana,” ujar Bimo.


“Baik Om.” Lun meletakkan  wadah darah hewan itu  di depan sebuah patung kayu.


Beberapa menit kemudian bertiup deras datang dari arah pintu, Luna merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri, beberapa orang pemuka agama komat kamit membacakan sebuah kitab mereka yang terbuat dari kulit kayu yang usang. Setiap kali Luna ikut dalam acara tersebut mantra yang dibacakan pemuka agama yang berpakaian transional itu,  setiap kali  mereka membacakanya Luna mendengar seperti baca mantra.


“Lun, bakar lagi dupannya,” bisik Bu Ana, wanita itu asli dari suku  tersebut jadi ia juga mengerti tentang ritual.

__ADS_1


“Baik Bu.” Luna menunduk dan menyalakan api  dupan di depan patung, tapi tiba-tiba Luna menatap mata kedua patung kayu itu seolah-olah melotot.


Luna kaget tapi ia tidak ingin melakukan kesalahan lagi, dulu saat diajak untuk melakukan ritual pemujaan Luna pernah melakukan kesalahan, ia lari karena takut. Itu salah satu hal yang tidak boleh dilakukan dalam acara keagamaan  dalam suku Leon, karena patung jelek itu hal yang sakral bagi mereka.


Maka kali ini, saat Luna takut, ia hanya meremas ujung pakaiannya dan sesekali menutup mata.


‘Aku tidak tahu apa tujuan Om, memintaku menggantikanku melakukan ini, tapi aku berharap aku bebas dari semua ini’ ujar Luna dalam hati.


*


Setelah melakukan ritual pemujaan, Luna kembali melakukan kegiatan yang kedua, Kegiatan ini juga ia tidak tahu tujuannya apa, tetapi ia mau melakukannya.


Luna diajari menggunakan  senjata mulai dari pistol, panah, pedang bahkan sumpit.


“Om jangan marah ya … sebenarnya ini semua untuk apa sih?” tanya Luna menatap Bram, seperti biasa lelaki itu akan menatap dengan tatapan tajam kalau tidak menjawabnya dengan ketus.


“Lakukan saja Luna, apa salahnya !” bentak Brama, kini giliran dia yang mengajar wanita itu  cara menggunakan pedang.


“Ya Luna penasaran saja sih Om, selama ini kan Luna selalu menurut. Tapi gak tau sebenarnya buat apa?’ tanya Luna.


Gadis muda  itu orang yang sangat berani , walau Bram selalu  bicara kejam padanya ia tetap  mau bertanya pada Bram.


“Kamu sudah menandatangani surat perjanjian kalau kamu tidak akan keluar dari rumah Bos, sampai mereka pulang ke Indonesia.”


“Itu benar tapi ini-”


“Kamu juga setuju dengan peraturan yang kami buat,”


“Jadi latihan pegang pistol buat apa?”


“Luna, itu semua agar kamu bisa berjaga diri,” sahut Bimo dari belakang.


“Memangnya apa yang ingin mencelakaiku Om?”  Bimo  mengangguk,


“Banyak yang ingin membunuhmu. Kamu belum nyadar,kalau kamu adik penjahat,” timpal Bram.


“Anggap saja untuk kebaikanmu Lun, ayo teruskan latihannya,” ujar Bimo

__ADS_1


Apa sebenarnya tujuan Leon meminta Aluna Atasya memintanya melakukan semua itu?


Bersambung…


__ADS_2