
Mana mungkin seorang karyawan rendahan seperti Luna meminta Bos besar membawa barang-barang, sekilas itulah yang dipikirkan kedua anak buah Okan. Tapi tapi ajaib Okan mau melakukan, ia bahkan tidak menunjukkan raut wajah yang marah atau kesal.
Sementara Luna masih asyik bertelepon dengan temannya yang bernama Sinar.
“Kamu pulang saja Lun,” bujuk Sinar.
Saat sedang menelepon tiba-tiba lift berhenti, Luna panik.”Apa yang terjadi, kenapa liftnya mati?” tanya wanita itu sembari menatap ketiga pria itu dengan wajah serius.
“Kenapa, Lun Apa terjadi sesuatu?" tanya Sinar di ujung telepon.
“Lift tiba-tiba mati.”
“Apa kamu perlu bantuan?” Sinar juga beranjak dari tempat duduknya karena khawatir terjadi apa-apa dengan Luna.
Tiba-tiba Fudo memberi syarat, kalau ia akan menelepon meminta bantuan.
"Apa?" tanya Luna, menatap wajah Fudo yang bersikap biasa saja.
“Jangan khawatir, Tidak apa-apa, saya akan telepon penjaga gedung mungkin listrik dimatikan, dia dipikir mungkin semua orang sudah pulang.” Fudo dengan sedikit kesusahan saat ia menelepon penjaga gedung, karena tangannya penuh barang milik Luna.
“Tidak apa-apa kebetulan Aku juga bersama tiga karyawan yang lembur juga,” ucap Luna sembari melirik ketiga pria kaku di belakangnya. Fudo tersenyum kecil saat Luna menganggap Okan sebagai karyawan.
“Okelah kalau begitu. Memangnya apa sih kata Pak Bayu?” tanya Sinar penasaran karena Luna setelah dimarahi Pak Bayu dan ditambah Bara yang mendiamkannya. Luna jadi gak banyak bicara tadi di kantor.
“Pak Bayu meminta berkasnya harus selesai jam tujuh pagi. Apa lelaki itu sudah gila? Apa dia tidak punya perasaan? Kenapa dia selalu memberiku kesulitan?” tanya Luna sembari pura-pura menangis seperti anak kecil.
“Sabar Lun, kamu pasti kuat,” ujar Sinar.
“Aku tidak kuat … dengkulku gemetaran karena lapar, oh sial ternyata sandalku juga beda warna aku salah bawa sendal. Satu gambar hello kitty dan sebelahnya lagi gambar Batman sepertinya aku memakai sandal Bara. Gak mecing bangat sih perpaduannya masa hello Kitty kawin sama Batman, hiks, hiks,” ujar Lunas menangis sembari menoleh kebawah melihat pasangan sandal yang tertukar,satu berwarna pink dan satu lagi berwarna hitam sandal model laki-laki.
Fudo menahan tawa di belakang melihat sandal yang dipakai Luna. Untuk pertama kalinya Shin si manusia es itu tersenyum mendengar Badman kawin sama hello kitty.
“Kamu bagaimana sih masa sendal bisa ketuker? Kalau sandalku kamu pasangkan sama sandal Bara, nanti sandalku bunting bagaimana?” tanya Sinar, ia juga tertawa lepas mendengar Luna salah membawa sandal.
__ADS_1
“Gak tau ah. Bodoh amat kalau hello kitty dihamili Badman Aku ingin ingin mengadukan kelakuan Pak Bayu pada CEO baru kita,” ujar Luna.
Okan akhir paham kalau wanita yang memintanya memegang rantang tidak tahu kalau dirinya adalah bos di sana.
“Makanya cari pacar biar ada yang bantuin kamu, kalau gak pacaran sama pak Bayu saja,” ledek Sinar.
“Ogah gue pacaran sama orang galak kek begitu. Aku berharap besok ban mobilnya pecah biar gak bisa masuk kantor, kalau gak lato-latonya kejepit pintu sampai pecah biar mati sekalian,” ujar Luna marah.
Mendengar lato-lato pria itu disumpahin pecah , Fudo kembali tertawa dibelakang, ia baru ingat wanita yang berteriak di lantai atas tadi wanita kocak yang bisa membuatnya tertawa dari tadi.
“Kamu parah, masa atasan di sumpahin begitu,” ujar Sinar, ia juga tertawa mendengar Luna mengoceh,
“Biarin … biar burung perkutut milik si Bayu itu mati suri sekalian, aku geram sama pria itu,” ujar Luna.
Ting!
Lif akhirnya menyala dan pintu terbuka.
Tapi anehnya Luna melenggang keluar melupakan barang bawaannya yang dibawa ketiga pria tampan di belakangnya. Saat Luna berjalan keluar dari Lift mereka bertiga mengikuti langkah Luna. Melihat Luna berjalan melewati lobby penjaga gedung yang melihat bos besar membawa rantang makan hanya bisa melongo.
Okan memberi kode jangan memberitahukannya, jadi mereka bertiga terlihat seperti pengawal dari wanita yang berjalan di depannya, terlihat sangat lucu . Okan menenteng rantang makan model susun dan bag kecil berisi sepatu kantor , sisir, dan jaket, sementara Shin membawa setumpuk berkas dan tas jinjing milik Luna, Fudo membawa berkas sebagian dan termos kecil jadi masing-masing mereka membawa dua jenis barang milik Luna. Sementara Luna berjalan santai sembari bertelepon dan memegangi perut yang lapar, ia tidak menyadari apa yang sudah ia perbuat pada ketiga lelaki tampan itu, bahkan ia tidak menyadari dengan siapa ia berurusan.
“Sekarang kamu di mana?” tanya Sinar, ini lagi menuju mob-”
Luna baru tersadar setelah sampai di depan kantor, ia menoleh ke belakang ketiga pria itu mengikutinya dari belakang sembari menenteng barang bawaan Luna.
“Astaga, sudah dulu.”
“Ada apa?” tanya Sinar.
“Sepertinya Aku melakukan kesalahan lagi.”
Luna buru-buru mematikan sambungan telepon menatap ketiga pria tampan itu dengan gugup, ia menggaruk kepalanya dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
“Sa-saya minta maaf,” ujar Luna nyengir kuda sikapnya yang menggemaskan, ternyata menarik perhatian Shin lelaki tampan yang selalu bersikap dingin itu, baru kali ia melihat wanita kocak, polos dan tampil apa adanya.
“Tidak masalah,” sahut Shin menyodorkan tas jinjing milik Luna.
“Baydeway model sandalnya bagus,” ledek Fudo.
“Saya minta maaf, Apa kalian juga lembur?” tanya Luna, ia berpikir mereka bertiga juga karyawan sama seperti dirinya, karena Okan menggulung kemeja lengan panjangnya sampai ke siku, jasnya yang ia pakai tadi tertinggal di helikopter saat mereka terbang tadi.
“Ya,” jawab Fudo berbohong.
“Kenapa perusahaan Wardana Group ini senang sekali menyiksa para karyawannya. Tenang Pak besok saya akan mengadu pada CEO baru, agar lebih memperhatikan para karyawannya,” ujar Luna dengan raut wajah serius.
“Ya, laporkan saja,” sahut Fudo, ia ingin tertawa terbahak-bahak melihat sikap Luna dan penampilannya yang setengah berantakan, sandal beda jenis, sementara rambut di ikat pakai masker.
Setelah mengambil barang-barangnya Luna meminta bantuanya mereka lagi.
“Bagaimana kalau kita berempat makan, biar Aku yang traktir,” ujar Luna tersenyum ramah senyumannya tulus.
“Maaf mungkin lain kami masih ada pekerjaan lain.”
“Oh, padahal aku sangat lapar,” tuturnya lagi.
“Kamu kan bisa makan sendiri.”
“Kalau aku makan sendiri takut.”
“Kenapa takut?” tanya Fudo, dari ketiga lelaki itu hanya Fudo yang memiliki sikap ramah dan baik. Kalau kedua lainnya berbeda Okan dengan sikap tegas, mudah marah Shin dingin seperti es batu.
“Aku takut diculik.”
“Baiklah, Ayo, kebetulan saya juga ingin makan,” ucap Okan.
Mendengar kata diculik membuatnya teringat pada adiknya.
__ADS_1
Mereka makan bersama di sebuah restoran di samping kantor.
Bersambung