
Luna kembali berdiri menenteng papan seluncurnya sembari mengobrol dengan Bara. Melihat papan selancar milik Luna, Shin menoleh milik Fudo, lelaki itu memilih papan jenis Epoxy di mana dalam papan itu ada pengaman telapak kaki yang biasa digunakan untuk orang yang belajar berselancar.
“Eh … jangan melihatku seperti itu … tadi tidak ada pilihan lagi, jadi Aku sewa yang ini,” ujar Fudo membela diri. Lalu Shin menoleh ke belakang di dalam ruangan berkaca itu masih banyak jenis papan seluncur dari segala level.
“Ok baiklah … aku belum begitu bisa seperti kalian berdua,” ujar Fudo mengakui kekalahan sebelum bertanding.
“Harusnya begitu dari awal, jangan ngaku-ngaku bisa,” ujar Shin dengan gayanya yang cuek.
“Dasar garing … bercanda saja ditanggapin serius,” cletuk Fudo.
Saat kedua bawahannya saling meledek okan tidak menghiraukannya, ia masih menatap Luna. Gadis manis itu masih mengobrol dengan Bara. Melihat kemampuannya bermain selancar, banyak para pecinta papan selancar minta berfoto dengan Luna, bahkan beberapa orang meminta nomor. Tetapi untuk mengasih nomor ia tidak memberikannya. Namun untuk minta foto ia masih meladeni.
“Ckk … apa dia pikir dia artis,” desis Okan dengan kesal, ternyata bos tampan itu cemburu dan merasa terbakar saat Luna menghiraukannya dan selalu menghindarinya namun akrab sama semua orang bahkan meladeni orang yang meminta foto dengannya.
“Bos kenapa tidak tunjukkan pada Luna kalau Bos juga bisa,” ujar Fudo.
“Saya tidak suka pamer,” ujar Okan memasang wajah dingin.
“Tapi saya sudah sudah lapor sama penjaga kalau kita akan ikut Bos.”
“Ha ...? Kamu kenapa tidak bilang-bilang dulu,” ujar Okan sembari melirik ke arah Luna.
Walau mulutnya mengatakan kalau ia tidak ingin pamer tapi demi apapun Okan ingin Luna melihatnya bermain papan selancar, ia ingin menunjukkan pada wanita itu kalau ia juga bisa.
“Bos, ayo giliran kita,” ujar Fudo, ia melepaskan pakaiannya hanya mengenakan celana pendek.
“Wow Bos!” teriak Bara melihat ketiga lelaki tampan itu menunjukkan kemampuannya.
Saat Okan berjalan ke dalam air menenteng papan miliknya para cewek -cewek bersorak, dan kebanyakan dari para pegawainya
“Woh Bos …!” Tika bertepuk tangan riuh diikuti yang lain.
Mata semua orang melirik Luna membuat wanita itu merasa tidak nyaman.
__ADS_1
“Sin … kita keluar dari sini, aku merasa sumpek di sini,” bisik Luna.
“Apa kita gak melihat Pak Okan dulu? Dia hebat ternyata Lun,” ujar Sinar masih menatap ketiga pria tersebut.
Okan dan Shin juga bisa tapi tidak untuk Fudo, ia beberapa kali terhempas ombak dan terbatuk-batuk karena menelan berliter-liter air laut.
“Aku tidak suka melihat tatapan semua orang padaku,” ujar Luna.
Sinar melirik kanan kiri Intan dan gengnya tampak berbisik-bisik seperti ingin merencanakan sesuatu yang jahat.
Sang sahabat juga setuju, ia juga tidak ingin melihat Intan dan Raka yang lengket kayak perangko.
“Ayo, kita pakai voucher belanja ini untuk beli barang yang kita suka.” Sinar dan Luna meninggalkan pantai. Luna bahkan tidak melihat Okan unjuk kebolehan, ia juga tidak melihat saat semua orang mengagumi tubuh sixpack milik Okan, di tambah tato di tubuh menggambarkan cowok cool, saat semua wanita berteriak histeris melihat Okan . Luna malah pergi tidak ingin menonton penampilan Okan.
Saat Okan keluar dari air disambut tepuk tangan meriah dari semua orang, tetapi tatapan itu berubah dingin dan kaku tidak ada Luna di sana.
Saat ia menoleh ke arah jauh ke depan kedua wanita itu sudah pergi menaiki motor mereka setelah berganti pakaian. Okan sadar kalau Luna tidak melihat penampilannya.
Tatapan kecewa terlihat jelas di matanya, wajahnya kembali dingin dan datar, ia sadar kalau Luna terus berusaha menghindarinya. Ia menghindar sejak kejadian hari itu, bahkan Luna mengalihkan wajahnya jika mereka kebetulan saling bertemu mata.
Melihat Luna pulang dari sana ia juga meninggalkan pantai tersebut.
“Lun, Apa menurutmu Pak Okan menang?” tanya Sinar.
“Gak tau Aku gak lihat,” jawab Luna apa adanya.
“Memang kamu tidak melihat sedikitpun? Saat semua wanita histeris tadi … kamu tidak ikut melihat?”
“Tidak berani melihat … takut semua orang bergosip lagi, kasihan Pak Okan kalau digosipin lagi.”
“Hadeh …semua ini karena Intan , mulut wanita itu perlu di kasih cabe rawit biar jerah,” ujar Sinar.
Kali ini kedua wanita itu sudah tiba di kamar, mereka berdua berganti pakaian karena hari semakin sore. Sinar melilitkan syal ke leher dan Luna mengenakan sweater, setelah mandi mereka kembali turun dari kamar. Saat turun di depan hotel ternyata ada panggung musik di isi beberapa band lokal untuk menghibur para tamu hotel.
__ADS_1
“Panggung musik” teriak Sinar menatap Luna dengan bola mata membesar.
“Aku tidak pernah bilang kalau aku bisa nyanyi,” ujar Luna dengan tatapan bingung.
“Bukan untuk kamu tapi untuk Aku,” ujar Sinar menggenggam tangan Luna dengan kuat.
“Kamu mau tampil?” tanya Luna menatap wajah sang sahabat.
Sinar pintar menyanyi apalagi lagu-lagu India yang jenis melow dan spesial patah hati, Di kantor ia dan Luna sering putar lagu saat sedang istirahat makan dan bernyanyi santai.
“Aku mau tapi aku tidak pede, kalau kamu temenin ke panggung aku mau,” ujar Sinar.
Gadis berlesung pipi itu memang punya bakat terpendam, dulu katanya ingin jadi penyanyi. Namun ditentang kedua orang tuanya dan selalu dimarahi setiap kali ia nyanyi di undangan maupun di rumah. Jadi bakat menyanyi itu hanya dipendam.
“Tapi aku tidak bisa nyanyi india, masa aku bengong doang di panggung,” ujar Luna.
“Kamu bisa duduk sembari pukul kajon … itu ada juga, bukankah kamu sering melakukannya saat di kantor,” ujar Sinar dengan tatapan ceria ia sangat berharap bisa tampil di panggung walau hanya sekali. Tapi sayang Sinar punya kemampuan tetapi ia tidak punya nyali.
“Kamu tampil saja, aku akan duduk di meja sana aku akan pendengar setia sekalian aku mau pesan minum,” ujar Luna.
“Luuun … Aku tidak pede,” rengek Sinar ia menggoyang-goyangkan lengan Luna sambil mata dikedip-kedipkan tanda memohon.
“Aku tidak bisa menyanyi …,” tolak Luna, ia bisa menyanyi hanya lagu-lagu dari daerahnya saja
“Itu ada Kajon Lun … irama gendang mejamu sama saja saat kamu memukul Kajon itu,” mohon Sinar lagi.
Kajon adalah alat musik pukul yang berbentuk kotak yang berasal dari Peru, dimainkan dengan hanya memukul permukaan depan atau belakang (pada umumnya menggunakan kayu lapis tipis) dengan tangan, jari, atau terkadang pemain menggunakan alat tambahan seperti stik drum sapu atau Mallet, atau tongkat stik drum.
Tidak ingin mengecewakan sahabat baiknya Luna tidak bisa menolak, selama ini Sinar yang selalu membelanya dan teman satu-satunya di kantor.
“Baiklah, mudah-mudahan Aku tidak memalukan,” ucap Luna, ia menoleh kanan -kiri meja yang tadinya kosong kini sudah mulai penuh, makan sembari ditemani penyanyi memang lebih menyenangkan.
‘Aku berharap satu kantor tidak ada yang turun ke bawah’ Luna membatin, baru juga berucap seperti itu matanya sudah melihat Bayu yang baru saja pesan makan di meja tidak jauh dari panggung.
__ADS_1
Bersambung.