Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
CEO Baru


__ADS_3

Saat semua  berkerumun melihat Okan Wardan CEO muda, yang sangat tampan dengan postur tinggi dan  pahatan rahang tegas terkesan dingin.


Tapi tidak untuk Luna sebagai staf administrasi di kantornya, ia banyak pekerjaan.


Semua orang berdiri penawaran melihat pemimpin baru mereka. Luna memilih  menyelesaikan pekerjaannya sebelum Bayu meneriaki nanti.


“Lun, kamu gak mau cuci mata” tanya Sinar.


“Gak, ah mataku bersih.”


“Bukan itu maksudku … cuci mata melihat lelaki tampan itu,”cicit Sinar.


“Pekerjaanku banyak Sinar,” ujar  Luna tidak menghiraukan ajakan sang sahabat.


Saat Okan, Shin dan Fudo berjalan  menuju ruangannya, ia sekilas melihat Luna dari samping  yang tidak menghiraukannya lewat, tapi hanya sekilas lalu berjalan tegas menuju ruangan barunya.


Okan mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


“Bagaimana apa, perkembangan?” tanya Okan, sembari membuka laptop di diatas meja.


“Saya mendengar, dia masih ada di Thailand  Bos,” lapor Shin, ia berdiri  hormat di depan Okan.


“Danis sepertinya  ingin main kucing-kucingan  denganku. Saya bukan Okan yang dulu lagi, akan Aku hancurkan bisnis yang kamu bangun Danis ….! Shin, Jual barang kita ke pasar basis dia dengan harga murah,” pinta Okan dengan tatapan dendam.


“Tapi Bos, apa tidak apa-apa? Kita akan merusak pasar nanti. Lelaki tua itu akan marah,” ujar Fudo.


“Tidak apa-apa, saya  sudah mencari tahu tentang ketua dari Black Moon. Dia dipanggil Taipan kaya dari Asia.”


“Apa bos  mengenalnya?’ tanya Shin.


“Dia  bermusuhan dengan ayah di masa lalu, kita akan menjinakkan induknya untuk dapat menangkap anak-anaknya.” Okan memainkan ponsel di tangannya.


“Bos, saya ingin melaporkan juga, orang-orangku  mendapat kabar tentang Dave.”


Seketika Okan terdiam saat mendengar nama Dave dan Naira


“Mereka tinggal di sini saat ini Bos.” Shin menyodorkan kertas, sebuah alamat  yang mereka percaya rumah Dave.


‘Naira, aku merindukannya’ ujar Okan dalam hati, sepertinya ia tidak akan mudah menyerah mendapatkan Naira.


“Oke, kalian boleh pergi,” ujar Okan, ia berdiri di jendela kaca ruangannya, menatap taman di samping kantor


**


“Lun, apa kamu ikut liburan kantor nanti?” tanya Sinar di sela makan siang mereka. Luna dan Sinar menikmati  rantang  bekal yang dibawa Luna. Luna terkadang  membawa  bekal dari rumah dan mereka  berdua memakannya di taman di samping kantor.


Kalau makan bekal mereka berdua bisa tertawa bebas sembari menikmati angin segar, makanan di kantin kantor  terkadang  menu pilihannya tidak banyak pilihan, mereka berdua bosan.


“Aku ingin ikut, ini pertama kalinya aku mengikuti liburan dari  kerjaan,” ucap Luna.


“Aku juga tidak sabar lagi,” sahut Sinar antusias.

__ADS_1


“Kalau kita gak ikut rugi.” Luna tersenyum lebar.


“Ee … Lun kamu tidak ingin cari pasangan  agar kita bisa pergi membawa pasangan saat liburan nanti, sayang tahu kalau hanya  datang sendiri,” tutur Sinar.


“Apa kamu datang sama pacarmu?’ Luna berharap  Sinar tidak membawa kekasihnya agar mereka berdua bisa bersama.


“Hmm. Makanya Aku bilang kamu cari pacar.”


Luna memainkan bibir bawahnya, merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan Sinar.


“Kenapa, Lun?”


“Tidak akan ada yang mau jadi pacarku, Sin.”


“Itu tadi yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Apa?”


“Bara … bagaimana kalau kamu pacaran aja sama Bara,” usul  Sinar.


“Bara …!? Mana mau dia samaku, aku yakin dia punya selera tinggi.” Luna menggeleng.


OK ita belum mencoba.”


“Tidak,  pasti dia tidak mau denganku.”


“Tenang biar saya yang atur,” ujar Sinar.


*


Saat mereka sedang bekerja,Sinar terlihat mengobrol dengan Bara. Wajah Luna seketika langsung merah saat Bara menatapnya sembari bicara dengan Sinar.


“Astaga tidak seharusnya aku melakukan itu, ini memalukan. Mana ada cewek yang   duluan mengajak pacaran,” gumam Luna ia merasa sangat malu, bahkan tidak berani menatap Bara yang saat ini duduk kembali di sampingnya.


Saat mereka duduk  Bara mendadak tidak menyapanya, lelaki itu tiba-tiba jadi  mendiamkan dirinya.


Luna merogoh ponsel dari dalam laci lalu mengirim pesan pada Sinar.


[Apa aku bilang, dia pasti marah , kan?]


[Tenanglah Lun,  memang kenapa?]


[Bara mendiamkanku, dia tidak mau bicara denganku lagi, aku jadi malu] tulis Luna lagi dengan emoji nangis bombai.


[Tidak apa-apa, kita kan, hanya mencoba] balas Sinar, ia merasa  tidak enak, karena ia yang memberi usul. Karena sibuk saling berbalas pesan Luna melupakan tugasnya.


“Luna! Ke ruangan saya, bawa berkas yang saya minta,” ujar Bayu.


“Mati aku,” ucap Luna dengan panik,  ia buru-buru meletakkan ponsel di atas mejanya dan membereskan tumpukan  berkas.


“Kenapa Lun?” tanya Sinar ikut-ikutan panik

__ADS_1


“Bayu akan mencekikku, pekerjaanku  belum selesai,” ujar Luna memajukan bibirnya , ia seperti anak kecil yang ingin menangis.


“Aduh sabar Lun, tutup saja kupingmu pakai ini,” ujar Sinar menggulung  tissu jadi  bulatan kecil dan memasukkan ke  dua kuping Luna, “sudah sana hadapi,” ujar Sinar mengulum senyum.


Ia tahu  atasan mereka yang bernama Bayu itu akan meneriaki Luna dan nada suaranya sudah melebihi toa.


Luna berjalan ke ruangan Bayu dan mengetuk pintu sang atasan.


“Masuk. Bagaimana Luna? Apa kamu sudah mengetik proposal yang saya minta?” tanya lelaki  tanpa menoleh.


“Belum Pak, itu saya ta-”


“Kamu Bagaimana sih! Ini sudah jam berapa? Tadi kan saya sudah bilang sebelum jam empat!”  Luna hanya diam, teriakan seperti itu sudah makanan setiap hari dari Bayu baginya, bukan hanya Luna bahkan semua orang yang dipanggil ke ruangannya akan mendapatkan perlakuan yang sama.


“Ya Pak, ini saya lagi kerjakan.”


“Kamu tidak patuh peraturan saya? Kamu lembur malam ini. pekerjaan kamu saya tambahkan.” Bayu mengambil tumpukan  berkas dari atas mejanya dan meletakkannya di atas berkas yang di tangan Luna.


‘Ah, dasar pria tidak punya otak’ pekik  Luna dalam hati, ia sangat geram, ingin rasanya ia menendang kedua lato-lato pria itu sampai pecah.


“Kenapa?  Keberatan? Atau tidak mau mengerjakan?”


“Tidak Pak, saya mau.”


“Baiklah, jam tujuh pagi besok, semua sudah harus ada di atas meja  saya, kamu paham?”


“Baik Pak,” ujar Luna dengan suara tertahan,  wajahnya seperti orang yang sedang menahan berak.


“Baiklah kamu  keluar,” pinta lelaki itu lagi ,” eh Luna!”


“Ya Pak.”


“Tutup pintunya pelan-pelan.”


“Baik Pak.”


Karena setiap kali Luna kena marah dari atasannya yang  bernama Bayu itu,  ia akan melampiaskan kekesalannya ke pintu ruangan Bayu,  ia akan  membanting lebih keras dan sepertinya Bayu menyadarinya.


Luna keluar dari ruangan Bayu menutup pintu dengan pelan-pelan dan ia masih berdiri di depan pintu ruangan Bayu, satu tangannya diarahkan ke pintu dengan gerakan mencakar-cakar seolah-olah sedang mencakar atasannya tersebut, ia merasa sangat kesal dengan Bayu.


“Luna! Aku bisa melihatmu dari sini!,” ujar Bayu.


Luna meninggalkan ruangan sang atas dengan mulut   mendumal kesal.


“Aku akan memberimu racun tikus  biar mati kamu sekalian,” ujar Luna  kesal. Lalu meletakkan bekas yang menggunung itu di atas meja,  Sinar dan Bara melonggo melihat  pekerjaan Luna yang  se ambrak.


“Lun … Kam-”


“Stop jangan bertanya apa-apa dulu, biarkan Aku  tenang dulu,” ujar Luna lalu ia berjalan  keluar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2