
Hari itu, akan jadi hari yang tidak akan terlupakan untuk Luna Atasya, ia bercanda santai, bahkan mengajak lelaki yang duduk di sampingnya untuk menikah, tetapi ia tidak tahu ternyata lelaki itu adalah CEO perusahaannya.
Mata Luna melotot segede jengkol, saat Pak Suni membungkuk hormat di hadapan Okan.
‘APA? Dia Pak Okan, bu-bukannya dia Jhoni?’ tanya Luna dalam hati wajahnya tiba-tiba pucat.
Saat mereka sedang mengobrol serius Luna ngacir dan berlari ke kamar mandi di sana ia seperti orang gila, bonda-mandir dan memukul-mukul otaknya yang korslet.
“Ternyata dia CEO perusahaan ini. Lalu kenapa mereka bilang namanya Jhoni? Apa aku tadi mengajaknya menikah? Bagaimana kalau dia salah paham dan berpikir aku sengaja menggoda bos . Aduh … kenapa juga tadi Aku bersikap sok akrab padanya?' Luna masih menyesali semua tindakannya tadi, setelah tenang, ia kembali duduk ke meja kerjanya.
Saat Luna duduk di mejanya, ia kembali mendapat tatapan sinis dari semua rekan kerjanya, bahkan lebih sinis dari yang pertama.
“Apa lagi sekarang,” ujar Luna dengan tenang.
“Apa aku bilang! Dia wanita penggoda, bos besar saja digoda,” ujar Intan lagi.
“Lun … bagaimana bisa?” Sinar menatapnya dengan mata membesar. Ia mengajak Luna bicara di pantry kantor biar tidak di dengar karyawan yang lain.
“Bisa bagaimana maksudnya?” Lu balik bertanya.
“Mbak Kana bilang kamu menggoda Bos.”
“Dia salah paham … Aku tidak tahu kalau dia CEO baru kita.”
“Ha! Kamu yakin belum tau?” tanya Lu tidak percaya.
“Awalnya memang Aku tidak tau Sinar. tadi baru aku tau kalau namanya Okan Wardana CEO tampan yang kalian gilai itu.”
“Kok bisa sih kamu gak tau kalau dia Bos, ini sudah satu minggu sejak dia datang ke sini Luna,” ujar Sinar.
“Dia mengaku padaku namanya Jhon, kami pertama bertemu saat aku lembur, saat perkenalan CEO baru waktu itu kan aku gak datang,” ujar Luna.
Kali ini dengkulnya kembali lemas, setelah bertengkar dengan Intan tadi ia sudah sangat kesal ditambah masalah itu lagi, ingin rasanya ia menghilang dari tempat itu saat itu juga. Saat duduk kembali di kursinya Bayu kembali memanggilnya ke ruangannya.
“Ya ampun. Apa lagi sekarang aku kan, sudah menyelesaikan pekerjaanku,” ujar Luna.
“Sudah sana sebelum dia marah,” ujar Sinar.
Luna berjalan percaya diri ke ruangan Bayu.
Tok -Tok!
“Masuk!”sahut Bayu dari dalam.
Luna masuk ke dalam ruangan itu, menghela napas panjang bersiap untuk mendapat omelan lagi dari Bayu.
“Bapak memanggil saya?”
__ADS_1
“Ya, duduklah.”
Luna duduk dengan dengan tatapan mata terfokus pada Bayu.
“Apa kamu memang wanita yang suka menggoda pria?”
“Tidak, Pak.”
“Lalu kenapa semua karyawan di kantor membicarakanmu Luna?”
“Saya tidak tahu Pak.”
“Tidak tahu bagaimana? Semua bilang kamu menggoda Pak Okan di taman.”
‘Ada apa dengan pria ini, kenapa dia marah kalau Aku dekat pria lain, apa jangan-jangan pak Bayu mat-mata Om Bimo’ Luna menebak-nebak asal.
“Itu salah paham Pak, saya hanya duduk mengobrol dengannya, saya tidak tahu kalau beliau CEO di perusahaan ini,” ucap Luna apa adanya, karena memang itulah kenyataannya.
Bayu marah padanya , memberi Luna peringatan agar tidak membuat masalah, apa lagi yang mengundang karyawan lain jadi bergosip.
“Saya harap kamu tidak sedang membagun drama di kantor ini.”
“Drama apa Pak?” tanya Luna polos.
“Mungkin kamu ingin meniru drama Korea CEO jatuh cinta sama karyawan,”cicit Bayu.
“Ini bukan tentang Aku Luna, ini tentang kamu dan Aku tidak sedang bercanda.” pungkas Bayu.
Bukannya takut Luna malah senyum manis menatap sang atasan.
“Baiklah, kalau bapak butuh rekomendasi tentang drama, saya punya drama favorit yang bagus , Filmnya bisa bikin mata Bapak bengkak karena nangis bombay,” ujar Luna.
Bayu langsung memegang batang leher dan meminta Luna keluar dari ruangannya sebelum ia terkena stroke karena Luna terus saja mengoceh seperti burung beo.
Ia kembali duduk di meja kerjanya semua orang masih menatapnya dengan tatapan menyelidiki.
“Bagaimana Lun kamu dimarahin lagi? Kamu bisa pindah tempat duduk denganku? nanti kamu ember lagi kalau aku bicara dengan Luna,” ujar Sinar menatap Bara biang semua masalah hari ini.
“Baiklah, Aku minta maaf tidak ada niat seperti itu,” ujar Bara ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun Sinar dan Luna sudah terlanjur kecewa jadi mencoret nama lelaki itu dari daftar pertemanan mereka hal yang paling tepat.
“Uda, udah kamu pindah sana saja, bila perlu di dekat sama si Intan sekalian,” ujar Sinar marah. Lalu ia duduk di samping Luna.
“Apa kata Pak Bayu?”
“Tenang, aman,” jawab Luna masih dengan sikapnya yang tenang .
“Memangnya apa yang kalian bicarakan sih bisa sampai pegang-pegangan seperti ini,” ujar Luna menunjukkan video di mana Luna beberapa kali bercanda meninju otot lengan Okan.
__ADS_1
“Oh, sial siapa yang merekam itu? Itu sangat memalukan , suer aku tidak menggodanya . Tadi Aku sempat mengajaknya menikah. Itu sangat memalukan,” ujar Luna memukul-mukul kepalanya di atas mejanya.
“HA? Menikah?” teriak Sinar kaget.
“Sttt jangan berisik,” ujar Luna.
“Kok bisa kalian akrab begitu, padahal Pak Okan dingin seperti kulkas dua pintu. Tapi kenapa sama kamu dia bisa tertawa. Mana manis bangat lagi senyumnya. Makanya anak-anak sangat iri dan marah sama kamu. Mereka penggemar berat Pak Okan termasuk aku,” ujar Sinar.
“Itu sangat memalukan, jadi karyawan yang lembur bersamaku malam itu adalah dia.”
Luna menceritakan semuanya pada Sinar kenapa dia sampai bisa akrab sama Okan, karena Okan menyembunyikan nama Okan.
Sejak hari itu Luna jadi menjauh dari Okan, ia selalu menghindar dari Okan, jika kebetulan mereka ada di depan, maka Luna akan belok atau balik badan. Saat bertemu di lift Luna memilih tidak naik Lift. Okan menyadari semua perubahan sikap Luna.
“Apa dengan wanita itu Bos?” tanya Shin saat Luna tidak mau naik lift karena ada ketiga lelaki tampan itu.
“Sepertinya dia sudah mengetahui kalau saya bosnya, biarkan saja dia menenangkan pikirannya, dia pasti syok,” ujar Okan tersenyum kecil saat wanita muda itu memberikan tebak-tebakan konyol padanya.
“Shin!”
“Ya Bos.”
“Apa kamu punya tebak-tebakan coba sebutkan satu.”
“Ha?” mereka berdua melonggo/
“Ya, sudah kalau tidak ada kita jalan.”
“Oh, ada Bos, mau saya sebutkan?”
“Ya.”
“Hewan, hewan apa yang selalu diberi uang?” tanya Fudo.
“Gak tau.”
“Tikus berdasi.” jawab Fudo.
‘Kenapa Fudo yang melakukan tebak-tebakan biasa saja. Tapi gadis itu yang melakukannya rasanya lucu bangat ‘ Okan membatin
“Lanjut ya Bos,” ucap Fudo bersemangat.
“Tidak usah tidak lucu,” ujar Okan.
Ia ingin membandingkan tebak-tebakan yang dilakukan Luna dan Fudo, saat Luna yang melakukannya Okan merasa sangat lucu bahkan terhibur , saat tiba di rumah hari itu, ia bahkan beli buku tebak-tebakan, tapi saat Fudo yang melakukannya terasa garing.
Bersambung
__ADS_1