
Luna masih berada dalam kamar Okan, mengobrol santai dengan Bos
Setelah selesai makan malam ia kembali berdiri di jendela kamar
“Kenapa tidak di sana?”
“Aku takut berdiri di balkon, takut ada orang lain melihat.” Luna menjaga harga diri Okan di depan semua karyawan.
“Apa kamu mau minum sesuatu?” tanya Okan ia ikut berdiri menatap ke bawah.
Sebelum Luna menyahut ponsel Okan berdering, ia menghela napas semberi tersenyum kecil. Namun ia tidaklangsung menjawab telepon, Okan menatap Luna.
“Kamu boleh kembali ke kamarmu aku kan menjawab telepon dulu,” ujar Okan sembari berjalan menuju balkon “Ya Nai bagaimana perjalananmu?”
‘Oh … telepon Mbak Naira’ Luna membatin.
Mendengar itu Luna hanya menganggu-angukkan kepalanya sambil berjalan, sebelum keluar dari kamar Okan ia menoleh kanan-kiri lalu masuk ke kamar mereka. Di sana Sinar sudah menunggu dengan cemas.
"Apa yang dikatakan Pak Okan padamu? Apa dia memarahi? Apa dia memberi sangsi?" Luna mencercanya dengan banyak pertanyaan.
"Tidak Pak Okan tidak marah hanya ...." Luna menggantung kalimatnya.
"Kenapa?" Sinar menatap Luna dengan serius.
"Aku tidak enak selalu merepotkan Pak Okan, jika ada gosip aku punya hubungan dengan pak Bos aku takut kekasih mengetahui gosip itu. Tapi saat kami di kamarnya kekasih menelepon."
"Tunggu ... Kamu ke kamar Pak Okan?" tanya Sinar menatap wajah Luna dengan serius.
"Iya. Memang salah?"
"Tentu saja salah Lunaaa .... Apa lagi ini hotel, apa kata orang ."
"Tapi kami tidak melakukan apa-apa," tutur Luna.
" Aduh Lun, walau kalian tidak melakukan apa-apa tapi orang yang berduaan di dalam kamar walaupun tidak melakukan yang macam-macam, tapi orang pasti sudah berpikir negatif. Apa ada yang melihatmu?" tanya Sinar, ia selalu khawatir Jika Luna dapat masalah.
"Tidak ada sih."
"Harusnya kamu tolak Lun, biasanya kamu tolak, kenapa diajak ke kamar hotel kamu mau?"
"Aku pikir tidak mau menambah masalah lagi, jadi aku mau diajak untuk makan di kamar Pak Okan ."
Mendengar Okan menelepon Naira. Luna dan Sinar sepakat untuk menjauh dari Okan untuk menjaga perasaan Naira, Luna berpikir kekasih bos akan marah jika mendengar gosip yang beredar.
**
Sementara Okan masih mengobrol serius dengan Naira . Tadinya Naira menawarkan diri untuk datang ke Bali tapi Okan menolak.
"Kenapa Aku tidak boleh datang?"
__ADS_1
"Aku hanya sebentar di sini, rencana besok akan kembali ke Jakarta."
"Okan, Aku ingin menemui Chelia ... Apa kamu mau ikut?" tanya Naira hati-hati.
Okan diam untuk beberapa saat, ia paling malas kalau menyinggung tentang keluarga.
"Aku tidak ikut pergilah sendiri," pungkas Okan.
"Tapi ini sudah lama Okan. Apa kamu tidak rindu keluargamu?"
"Naira kita jangan membahas mereka. Bagaimana dengan dengan perjalananmu?" tanya Okan mengalihkan pembicaraan.
Okan tidak berubah, setiap kali menyinggung tentang keluarga ia akan menolak. Tapi biarpun ia bilang tidak suka keluarga diam-diam ia mencari tahu tentang Chelia .
Padahal Naira tadinya ingin men bilang kalau Stanley ingin menemui Leon di Canada. Mendengar Okan menolak membahas keluarganya, Naira juga tidak ingin menyinggung lagi
"Baiklah Okan, aku akan pergi sendiri. Apa kamu punya pesan untuk Chelia?”
“Tidak ada,” jawab Okan terdengar ketus.
Naira sudah tahu bagaimana krakter Okan kalau ia sudah bicara dengan suara seperti itu artinya ia sudah sangat kesal. Hara percaya kalau Naira bisa mengubah sikap keras Okan, karena ia tahu kalau Okan sangat mencintai Naira.
“Sikapmu berubah belakangan ini apa terjadi sesuatu?” tanya Naira
“Tidak ada Nai.”
“Tapi kamu memperlakukanku sama seperti kita saat SMA dulu. Satu tahun yang lalu kamu bilang kalau kamu ingin berjuang merebut hatiku. Tapi sekarang kamu berubah Okan.”
“Baiklah, setelah mengurus paspor aku akan berangkat,” uap Naira dengan suara lemah.
“Ya.” Panggilan telepon dimatikan.
Okan duduk diam, setiap kali habis bertemua ataupun mengobrol Okan selalu terlihat memikul beban sendiri..
“ Tujuh tahun lalu … harusnya kamu tidak mengungkit itu Naira, Aku ingin melangkah maju meninggalkan semua masa lalu,” ujar Okan. Ia berjalan ke balkon duduk dengan wajah sedih dan kesepian.
***
Okan terdiam pikiranya melintas pada tujuh yang tahu yang lalu, di mana seorang siswa ingin di pecat karena di tuduh memakai narkoba, ia di fitnah sama anak-anak populer di sekolah itu, padahal sat itu Okan melihatnya sendiri tetapi ia tidak mau membelanya ia cuek karena gadis itu culun.
Padahal saat itu gadis culun itu hanya mengambar di belakang sekolah, ia tidak punya teman, waktu istirahatnya untuk mengambar dan melukis.
Ibunya yang sakit-sakittan karena kejadian saat itu, ia kehilangan ibunya, sejak saat saat itu Naira tinggal di pantai.
Hara merasa sangat kasihan mendengar kisah hidup Naira, ia membiayai kuliah Naira dan memperlakukannya sebagai keluarga, begitulah cara Hara untuk menebus kesalahan putranya.
“Bu, Maaf karena kelakuan Okan, Ibu Naira meninggal,” tutur Okan.
“Tidak apa-apa Nak, kalau kamu merasa bersalah kamu harus minta maaf begitulah cara lelaki sejati menyelesaikan masalah.”
__ADS_1
“Bagaimana cara Okan menebus kesalahanku padanya?” Ia menatap Hara.
“Banyak Hal, kamu bisa menikahi dia setelah kita besar nanti,” timpal Chelia saat itu.
“Aku punya selera tinggi untuk wanita,” ucap Okan.
“Ibu juga bilang dia suka sama Naira dan akan membiayai kuliahnya nanti,” ujar Chelialagi.
“Iya Ibu suka sama dia,” uca Hara.
*
Setelah beberapa tahun kemudian mereka sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Okan kembali ke Indonesia dan bertemu Naira. Hara mendukungnya Okan untuk menjadikan Naira sebagai kekasih.
“Bu sebenarnya aku menjadikannya kekasih pinjaman.”
“Loh untuk Apa?” tanya Hara dan Chelia kaget.
“Untuk menghindari wanita yang mengejar-ejarku,” jelas Okan.
“Itu sama saja kamu menyakitinya berulang-ulang Kak. Apa kamu tidak bisa mencintai Naira dengan tulus, dia sudah jadi seorang asrsitek bukan pemulung seperti Abang lihat.”
“Tapi dia memulung,” ujar Okan.
“Dia memulung hari itu hanya ingin membantu adik-adik panti mendapat uang tambahan,” ujar Chelia.
“Bicaralah padanya baik-baik Nak, jangan kecewekan Ibu, Aku sudah setuju dia jadi kekasihmu,” ujar Jovita Hara saat itu.
Okan menemui Naira, ia ingin meluruskan kesalah pahaman.
“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah arsitek ?” tanya Okan saat itu
“Untuk apa?”
“Iya setidaknya aku tahu, kalau kamu bukan pengemis.”
“Jangan khawatir … aku tidak akan mengatakan apa-apa pada keluargamu,” ujar Naira bersikap acuh pada Okan, karena sejujurnya ia membenci Okan. Karena ulah Okanlah ia kehilangan satu- satu keluarga yang ia miliki.
“Baiklah, aku juga berharap seperti itu,” ujar Okan, kali ini ia benar-benar merasa bersalah, ia ingin minta maaf atas kejadian masa lalu, tetapi Okan tidak punya keberanian mengucapkannya, ia hanya diam memainkan ponselnya matanya sesekali melirik Naira . Gadis cantik itu saat itu tidak lagi memakai kaca mata tebal, penampilan culun itu sudah ia tinggalkan.
“Ibu yang memintaku untuk menjadikanmu kekasihku.”
“Jangan lakukan itu kalau kamu juga tidak suka.” ujar Naira
“Aku sepertinya mulai jatuh cinta padamu . Aku akan berjuang untuk mendapatkan cintamu,” ujar Okan.
Ternyata Okanlah yang dulu berjanji padanya akan mencintai.
‘Apakah cinta itu masih ada atau sudah menghilang?’
__ADS_1
Bersambung