Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Menghadapi Ujian yang Pertama


__ADS_3

Setelah pemakaman  Leon menempati janjinya Okan di bawa ke sebuah tempat, rumah di tengah hutan rumah rahasia milik Leon di masa lalu, Anak lelaki keras kepala itu akan  mendapatkan pengalaman yang tidak bisa ia  lupakan seumur hidup.


“Kamu tahu tempat ini apa?” tanya Leon, aura tegas terpancar di sana.


“Aku tidak tahu.”


“Tempat inilah yang bisa menyelamatku.”


“Lalu kenapa Aku dibawa ke tempat ini?” Okan melirik sang ayah.


Tatapannya sinis seolah-olah  ingin menunjukkan  kalau ia tidak selemah yang dipikirkan ayahya. Sementara Leon menganggap Okan  anak baru kemarin sore,  karena sifatnya yang selalu  bertindak tanpa  memikirkan terlebih dulu akibat dari tindakannya tersebut.


“Kalau kamu ingin jadi penguasa seperti ayah, maka kamu akan melewati ujian ini baru jadi pemimpin.”


“Baik Aku terima,” ucap Okan dengan angkuh.


Leon benar-benar melakukannya, walau ia sudah tahu  resikonya  kalau ia  mengantar putranya ke tengah hutan tersebut,. Itu sama saja mengantar putranya  kandang harimau.  Okan bisa kehilangan nyawah, karena  pertikian antar suku masih tetap terjadi di sana, apa lagi Okan menggunakan simbol saluh suku  dari ayahnya, simbol seorang putra adat yang berupa tato naga dan beberapa  helai sayap burung.


‘Para leluhur Aku menyerahkan anak ini, tolong jaga dia’ ucap Leon dalam hati


“Aku akan memberikan misi untuk kamu. Jika kamu berhasil melakukan setiap tingkatannya maka kamu saya anggap berhasil dan layak menggantikan saya.”


“Baik,” jawab Okan masih dengan keyakinan yang tinggi.


“Ayah sama Ibu akan membawa Chelia untuk mendapatkan pengobatan di luar negeri, bukan hanya Chelia ibu juga,” ujar Leon  berjalan pincang karena luka tembakan di kakinya.


“Apa sengaja mengurungku di sini?’ tanya Okan menatap Leon.


“Kenapa? Kamu takut? Kalau kamu ingin seperti  Ayahmu maka harus bisa melalu rintangan yang aku  berikan.”


“Apa ini ujian atau  hukuman?” tanya Okan masih dengan sikapnya yang acuh.

__ADS_1


“Anggap saja rintangan,” tutur bapak tiga anak itu lagi.


“Baik, Ayah katakan saja apa ujiannya,” tantang Okan dengan percay diri.


“Aku mem beri tahumu.” Leon melepaskan pakaiannya dan memperlihatkkan arti dari tato yang ditiru Okan.


“Tato ini adalah sebuah lambang  sebagai putra pilihan dari suku ayah. Salah satu suku penghuni di hutan ini, suku yang memiliki kekuatan supranatural yang sangat hebat. Suku kami punya musuh dari suku lain juga bermukim di hutan ini. Suku yang dikenal sadis dan memakan manusia.” Pundak Okan berkedig karena kaget,  tadinya ia pikir Leon hanya menakut-nakutinya, tetapi  melihat wajah Leon yang serius jadi Okan hanya bisa mendengarkan cerita  menegangkan dari  ayahnya.


“Lalu apa yang mereka inginkan?”


“Tentunya kekuasan dan kemenangan Karena untuk mendapatkan kekuasaan tentunya dengan cara mengalahkan musuh.”


“Baiklah,” jawab Okan  masih dengan sikapnya yang sok berani, padahal ia tidak tahu betapa  sulitnya bertahan di tengah hutan di tengah kepungan musuh.


“Mereka akan menangkapmu  jika melihatmu berada di wilayah mereka. Lalu saat tau  kalau kamu punya tato lambang suku ini maka kamu akan dibunuh dengan cara dipanggang dalam acara ritual mereka.”


“Baiklah,” jawab Okan ia masih belum begitu percaya dengan cerita Leon, ia berpikir kalau lelaki itu sengaja menakut-nakutinya.


“Kamu harus belajar bagaimana  cara bertahan hidup di hutan,” ujar Leon masih tetap memberi arahan untuk putranya, karena sejahat dan senakal apapun seorang anak, orang tua manapun tidak akan rela melihat anaknya terluka


Melihat sikap Okan yang menganggap terlalu sepele, ia ingin marah, tapi menahan diri.


“Aku bukan pelatih Okan, Aku ini hanya seorang ayah daan suami yang ingin menjaga keluarga. Aku membawamu ke tempat yang aman dan terang tapi kenapa kamu memilih  kegelapan untuk,” ujar Leon tidak habis dengan pemikiran putranya.


“Aku ingin  bebas.”


“Baik, kalau kamu bisa  melewati ujian yang saya berikan dan kamu masih hidup, Kamu pemenangnya.”


“Ok. Tantangan saya terima,” ujar Okan.


Leon  merelakan Okan walaupun ia  nantinya tidak bisa bertahan.

__ADS_1


Okan ditinggalkan di rumah rahasia yang pernah Leon tingali saat ia masih killer dan jadi burunon. Untuk bersembunyi dari incaran musuh maka Leon membangun rumah di bawah tanah  yang sangat rahasia  di tengah hutan pedalaman Kaliman. Kali ini, Okan menjalani kehidupan yang pernah di lalui Leon


“Lakukan dengan baik dan pulanglah dengan selamat.” ucap Leon.


“Baik, setuju,” jawab Okan   mengangkat satu bahunya seperti tanda  kalau ia merasa mampu.


Melihat sikap Okan yang terlalu menyepelekan peringatan darinya, Leon hanya menghela napas, lalu meninggalkan rumah rahasia itu dengan  cara hati-hati, ia keluar menyusuri jalan rahasia yang pernah ia lalu puluhan tahun lalu, Leon nyaris tidak bisa keluar karena  jalan terowongan  itu tertutup rumput liar . Beruntung ia mengantar Okan ke sana saat siang hari kalau saja malam mereka berdua bisa tidak selamat.


“Selamat berjuang anak muda. Aku berharap kamu bisa melalui  kesulitan itu nanti,” ujar Leon meninggalkan Okan , lalu Leon masuk ke  dalam kendaraan yang ia sembuyikan dalam di balik rumput tempat rahasia.


Setelah Leon pergi,  Okan ,  menyusuri rumah bawah tanah itu lagi,  mencoba menyalahkan lampu, ternyata masih menyalah dan ia berjalan ke arah  dapur, ia terdiam sejenak rumah rahasia Leon   mewah bagai hotel. Semua fasilitas masih lengkap   hanya sedikir berdemu.


“Apa susahnya hidup mandiri. Berhentilah mengajariku dan memperlakukanku seperti anak,” ucap Okan .


Lalu ia  membersihkan  ruangan itu sampai bersih karena Okan  tipe lelaki yang bersih dan perfeksionis, setelah  bersih ia  merasa perut mulai keroncongan saat menuju kulkas maka rintangan paling sulit telah di mulai.


“Kok, kulkas kosong tidak ada -apa.”


Lelaki tampan itu membongkar semua laci karena sudah bertahun-tahun tidak dihuni semua bahan makanan di sana sudah kedaluarsa.


“Sial … tidak ada makanan ternyata. Tapi tenang bisa diatasi,” ucapnya percaya diri.


Okan keluar dari sarangnya ia melalui jalan  rahasia seperti yang di katakan Leon, di ujung jalan terowongan itu ia tiba di sebuah sungai, salah satu sungai terpanjang dan terluas di kalimantan. Okan seperti orang kebingungan karena tidak ada apa-apa di sana hanya ada pohon-pohon tinggi dan suara-suara khas hutan yang terdengar.


Baru juga berjalan  sekita dua ratus meter ia sudah merasakan aura yang tidak enak, suara desiran angin seolah-olah berbisik menyapu wajahnya.


“Ah  … sial kok gue merinding,” ujar Okan mengusap bulunya yang  meremang.


Saat ingin berbalik badan sosok laki-laki  berpakain bulu-bulu memegang tongka kayu dan hidung ditindi berdiri  tepat di depannya.


“Oh, astaga mahluk apa ini!” Okan kaget.

__ADS_1


Detik kemudian tanpa aling-aling lelaki itu sudah menyerangnya dengan  tongkat di tangannya.


Bersambung.


__ADS_2