
Setelah pemakaman Leon menempati janjinya Okan di bawa ke sebuah tempat, rumah di tengah hutan rumah rahasia milik Leon di masa lalu, Anak lelaki keras kepala itu akan mendapatkan pengalaman yang tidak bisa ia lupakan seumur hidup.
“Kamu tahu tempat ini apa?” tanya Leon, aura tegas terpancar di sana.
“Aku tidak tahu.”
“Tempat inilah yang bisa menyelamatku.”
“Lalu kenapa Aku dibawa ke tempat ini?” Okan melirik sang ayah.
Tatapannya sinis seolah-olah ingin menunjukkan kalau ia tidak selemah yang dipikirkan ayahya. Sementara Leon menganggap Okan anak baru kemarin sore, karena sifatnya yang selalu bertindak tanpa memikirkan terlebih dulu akibat dari tindakannya tersebut.
“Kalau kamu ingin jadi penguasa seperti ayah, maka kamu akan melewati ujian ini baru jadi pemimpin.”
“Baik Aku terima,” ucap Okan dengan angkuh.
Leon benar-benar melakukannya, walau ia sudah tahu resikonya kalau ia mengantar putranya ke tengah hutan tersebut,. Itu sama saja mengantar putranya kandang harimau. Okan bisa kehilangan nyawah, karena pertikian antar suku masih tetap terjadi di sana, apa lagi Okan menggunakan simbol saluh suku dari ayahnya, simbol seorang putra adat yang berupa tato naga dan beberapa helai sayap burung.
‘Para leluhur Aku menyerahkan anak ini, tolong jaga dia’ ucap Leon dalam hati
“Aku akan memberikan misi untuk kamu. Jika kamu berhasil melakukan setiap tingkatannya maka kamu saya anggap berhasil dan layak menggantikan saya.”
“Baik,” jawab Okan masih dengan keyakinan yang tinggi.
“Ayah sama Ibu akan membawa Chelia untuk mendapatkan pengobatan di luar negeri, bukan hanya Chelia ibu juga,” ujar Leon berjalan pincang karena luka tembakan di kakinya.
“Apa sengaja mengurungku di sini?’ tanya Okan menatap Leon.
“Kenapa? Kamu takut? Kalau kamu ingin seperti Ayahmu maka harus bisa melalu rintangan yang aku berikan.”
“Apa ini ujian atau hukuman?” tanya Okan masih dengan sikapnya yang acuh.
__ADS_1
“Anggap saja rintangan,” tutur bapak tiga anak itu lagi.
“Baik, Ayah katakan saja apa ujiannya,” tantang Okan dengan percay diri.
“Aku mem beri tahumu.” Leon melepaskan pakaiannya dan memperlihatkkan arti dari tato yang ditiru Okan.
“Tato ini adalah sebuah lambang sebagai putra pilihan dari suku ayah. Salah satu suku penghuni di hutan ini, suku yang memiliki kekuatan supranatural yang sangat hebat. Suku kami punya musuh dari suku lain juga bermukim di hutan ini. Suku yang dikenal sadis dan memakan manusia.” Pundak Okan berkedig karena kaget, tadinya ia pikir Leon hanya menakut-nakutinya, tetapi melihat wajah Leon yang serius jadi Okan hanya bisa mendengarkan cerita menegangkan dari ayahnya.
“Lalu apa yang mereka inginkan?”
“Tentunya kekuasan dan kemenangan Karena untuk mendapatkan kekuasaan tentunya dengan cara mengalahkan musuh.”
“Baiklah,” jawab Okan masih dengan sikapnya yang sok berani, padahal ia tidak tahu betapa sulitnya bertahan di tengah hutan di tengah kepungan musuh.
“Mereka akan menangkapmu jika melihatmu berada di wilayah mereka. Lalu saat tau kalau kamu punya tato lambang suku ini maka kamu akan dibunuh dengan cara dipanggang dalam acara ritual mereka.”
“Baiklah,” jawab Okan ia masih belum begitu percaya dengan cerita Leon, ia berpikir kalau lelaki itu sengaja menakut-nakutinya.
“Kamu harus belajar bagaimana cara bertahan hidup di hutan,” ujar Leon masih tetap memberi arahan untuk putranya, karena sejahat dan senakal apapun seorang anak, orang tua manapun tidak akan rela melihat anaknya terluka
Melihat sikap Okan yang menganggap terlalu sepele, ia ingin marah, tapi menahan diri.
“Aku bukan pelatih Okan, Aku ini hanya seorang ayah daan suami yang ingin menjaga keluarga. Aku membawamu ke tempat yang aman dan terang tapi kenapa kamu memilih kegelapan untuk,” ujar Leon tidak habis dengan pemikiran putranya.
“Aku ingin bebas.”
“Baik, kalau kamu bisa melewati ujian yang saya berikan dan kamu masih hidup, Kamu pemenangnya.”
“Ok. Tantangan saya terima,” ujar Okan.
Leon merelakan Okan walaupun ia nantinya tidak bisa bertahan.
__ADS_1
Okan ditinggalkan di rumah rahasia yang pernah Leon tingali saat ia masih killer dan jadi burunon. Untuk bersembunyi dari incaran musuh maka Leon membangun rumah di bawah tanah yang sangat rahasia di tengah hutan pedalaman Kaliman. Kali ini, Okan menjalani kehidupan yang pernah di lalui Leon
“Lakukan dengan baik dan pulanglah dengan selamat.” ucap Leon.
“Baik, setuju,” jawab Okan mengangkat satu bahunya seperti tanda kalau ia merasa mampu.
Melihat sikap Okan yang terlalu menyepelekan peringatan darinya, Leon hanya menghela napas, lalu meninggalkan rumah rahasia itu dengan cara hati-hati, ia keluar menyusuri jalan rahasia yang pernah ia lalu puluhan tahun lalu, Leon nyaris tidak bisa keluar karena jalan terowongan itu tertutup rumput liar . Beruntung ia mengantar Okan ke sana saat siang hari kalau saja malam mereka berdua bisa tidak selamat.
“Selamat berjuang anak muda. Aku berharap kamu bisa melalui kesulitan itu nanti,” ujar Leon meninggalkan Okan , lalu Leon masuk ke dalam kendaraan yang ia sembuyikan dalam di balik rumput tempat rahasia.
Setelah Leon pergi, Okan , menyusuri rumah bawah tanah itu lagi, mencoba menyalahkan lampu, ternyata masih menyalah dan ia berjalan ke arah dapur, ia terdiam sejenak rumah rahasia Leon mewah bagai hotel. Semua fasilitas masih lengkap hanya sedikir berdemu.
“Apa susahnya hidup mandiri. Berhentilah mengajariku dan memperlakukanku seperti anak,” ucap Okan .
Lalu ia membersihkan ruangan itu sampai bersih karena Okan tipe lelaki yang bersih dan perfeksionis, setelah bersih ia merasa perut mulai keroncongan saat menuju kulkas maka rintangan paling sulit telah di mulai.
“Kok, kulkas kosong tidak ada -apa.”
Lelaki tampan itu membongkar semua laci karena sudah bertahun-tahun tidak dihuni semua bahan makanan di sana sudah kedaluarsa.
“Sial … tidak ada makanan ternyata. Tapi tenang bisa diatasi,” ucapnya percaya diri.
Okan keluar dari sarangnya ia melalui jalan rahasia seperti yang di katakan Leon, di ujung jalan terowongan itu ia tiba di sebuah sungai, salah satu sungai terpanjang dan terluas di kalimantan. Okan seperti orang kebingungan karena tidak ada apa-apa di sana hanya ada pohon-pohon tinggi dan suara-suara khas hutan yang terdengar.
Baru juga berjalan sekita dua ratus meter ia sudah merasakan aura yang tidak enak, suara desiran angin seolah-olah berbisik menyapu wajahnya.
“Ah … sial kok gue merinding,” ujar Okan mengusap bulunya yang meremang.
Saat ingin berbalik badan sosok laki-laki berpakain bulu-bulu memegang tongka kayu dan hidung ditindi berdiri tepat di depannya.
“Oh, astaga mahluk apa ini!” Okan kaget.
__ADS_1
Detik kemudian tanpa aling-aling lelaki itu sudah menyerangnya dengan tongkat di tangannya.
Bersambung.