
Setelah keluar dari kantor Luna masih memegang perut karena lapar, ia meminta ketiga lelaki tampan itu menemaninya makan, karena ia tidak pernah mau pergi kemana-mana setelah penculikan satu tahun yang lalu.
Oh, padahal aku sangat lapar,” tuturnya lagi.
“Kamu kan bisa makan sendiri.” Fudo menuju restoran di depan mereka.
“Kalau aku makan sendiri takut.”
"Takut setan?" tanya Fudo
“Aku takut diculik.”
“Baiklah Ayo kebetulan saya juga ingin makan,” ujar Okan.
Mendengar kata diculik memb“Kenapa takut?” tanya Fudo, dari ketiga lelaki itu hanya Fudo yang memiliki sikap ramah dan baik. Kalau kedua lainnya berbeda Okan dengan sikap tegas, mudah marah Shin dingin seperti es batu.
uatnya teringat pada adiknya yang diculik satu tahun yang lalu.
“Baiklah kebetulan saya juga ingin minum segelas kop,” ujar Okan berjalan menuju sebuah cafe.
“Tunggu sebentar, tadi Om ku sudah pesan mobil online, aku mau suruh tunggu saja.”
Supir yang menunggu Luna merasa keberatan diminta menunggu lagi, Luna berjanji memberi uang tambahan akhirnya mereka sepakat. Okan berjalan menuju sebuah restoran tidak jauh dari kantor. Namun Luna menunjuk ke arah lain.
“Waduh, kalau diminta traktir makan di restoran gajiku satu bulan kerja di kantor ini tidak akan sanggup bayar tiga orang,” gumam Luna pelan.
“Pak, saya ingin makan di sana.” Wanita itu menunjuk warung pecel lele di seberang jalan.
Mereka bertiga berhenti dan saling melihat, mungkin untuk Shin dan Fudo ini pertama kalinya makan di pinggir jalan. Namun Okan sudah mengalami lebih dari itu saat tinggal di hutan.
“Baiklah.” Okan berjalan mendahului mereka bertiga.
“Ha? Bos yakin?” tanya Fudo setengah berbisik , ia kaget saat Bos mereka tiba-tiba mau makan di pinggir jalan.
“Yakin, lebih dari makan dipinggir jalan sudah Aku lalui jangan khawatir.”
Okan duduk di bangku plastik di warung tenda, tapi ada moment Luna menatap dengan bigung saat Fido membersihkan kursi dan meja sebelum Okan duduk.
Setelah Okan memberi kode barulah Okan sadar.
“Tadi bekas sambal, takut mengotori pakaiannya.”
“Oh, baiklah . Kalian mau makan apa? Biar saya yang traktir,” ujar Luna dengan percaya diri, untuk hanya makan di pecel lele ia masih bisa traktir, karena ia biasa makan disana jadi tahu harga makanan di situ.
“Kami tidak makan, Mbak saja.”
“Oh, kita belum kenalan,namaku Luna.” Luna mengusap tangannya di baju lalu menyodorkan duluan tangannya pad Fudo.
“Fudo,” sahut lelaki bertubuh tinggi itu.
__ADS_1
“Saya Shin.”
Saat ia menyodorkan tangannya ke Okan, lelaki itu tiba-tiba menerima telepon .
“Namanya Jhon,” sahut Fudo asal.
“Oh, senang bertemu kalian bertiga? Kalau lembur enaknya minum yang hangat-hagat dan makan nasi yang masih panas. Kalian makan ya,” Wanita hitam manis itu menawarkan lagi.
“Tidak terimakasih kamu makan saja, kami hanya menemanimu.”
‘Baik bangat mereka bertiga’ ucap Luna dalam hati.
Karena tidak mau diajak makan Luna makan sendiri ayam goreng dan lalapan dan makan pakaia tangan, minta nambah pula. Mereka bertiga hanya minum es jeruk. Mata Okan masih menyelidiki kanan kiri.
“Apa kalian beneran tidak mau makan?’ tanya Lunas masih dengan sikapnya yang ceria.
“Tidak terimakasih, kami tadi sudah makan sore.”
“Maaf ya saya makannya buru-buru, aku tidak mau kalian bertiga menunggu terlalu lama.”
Saat lagi enak-enak makan lagi-lagi Bimo menelepon.
“Ah kenapa dia menelpon lagi,” retuk Luna, buru-buru mencuci tangan di kebokan di atas meja.
Lalu dengan cepat ia menjawab telepon dengan gestur tubuh takut-takut.
“Kamu dimana, ini sudah jam berapa?” tanya Bimo di ujung telepon.
“Aku lapar bangat Om sampai gemetaran dari pada pingsan Aku makan di pecel ayam di seberang kantor. Tenang Aku tidak makan sendiri ada tiga orang teman yang menemani kebetulan mereka lembur sama seperti Luna.”
“Siapa?”
“Pak Shin, Fudo dan Jhon.”
“Aa?”Bimo menyingitkan kedua alis matanya mendengar nama kedua lelaki itu,
‘Bukankah mereka pengawal Okan. Apa mereka bersama? Luna dalam bahaya jika bertemu dengan Okan’ ucap Bimo dalam hati.
“Apa kamu tahu mereka bagian apa?”
“Oh, Luna tidak bertanya, sudah ya Om. Kalian tidur duluan saja,biar bibi buka pintu untukku,” ujar Luna mematikan sambungan telepon.
Setelah selesai makan, Luna bergegas ingin pulang.
“Kakak-kakak yang ganteng Aku minta maaf, Aku harus pulang. Karena kedua omku akan mengurungku di luar kalau Aku belum terlalu larut.” ujarnya berdiri dengan tubuh bergoyang kanan-kiri.
Ia merasa tidak enak karena ia mengajak mereka bertiga ia juga yang meninggalkan.
“Apa kamu tinggal dengan kedua om mu?” tanya Fudo.
__ADS_1
“Ya, Aku berharap mereka berdua tidak bertemu kalian. Mereka berdua sangat galak,” ujar Luna.
“Baiklah kami mengerti, silahkan pulang Nona,” ujar Shin dengan dingin.
Sementara Fudo merasa terhibur dengan sikap Luna yang bersikap apa adanya.
“Baiklah, karena kalian bertiga hanya minum es jeruk aku traktir itu saja,” kata Luna lagi.
“Terimakasih Mbak Luna.” Fudo tersenyum lebar menatap wajah Luna.
Setelah pamit ia berjalan menuju mobil yang di pesan Bimo, tapi tatapan mata ketiga lelaki itu masih menatap Luna.
“Apa dia pincang?” tanya Shin penasaran.
“Sepertinya Iya,” jawab Fudo.
“Mbak Luna memang pincang Pak, dia habis kecelakaan katanya satu tahun lalu,” sahut penjaga keamanan kantor ternyata ia juga ingin makan di sana.
“Oh, kecelakaan apa?” tanya Okan penasaran.
“Katanya dia dan temannya ditabrak mobil dengan sengaja, temannya yang bernama Sinar yang cerita sama bapak,” ujar lelaki itu lagi.
Luna masih berjalan sedikit pincang jika habis periksa kaki, karena luka di kakinya masih belum sembuh total, ia juga masih harus sering kontrol gifs yang dipasang di kaki kirinya.
“Baiklah karena wanita itu sudah pulang mari pergi,” ujar Okan ia berdiri, setelah mobil Luna pergi.
“Tumben Bos mau diajak sama wanita makan?” tanya Fudo tersenyum kecil.
“Aku melihat wanita itu diawasi seseorang.”
Tangan Fudo berhenti membuka pintu mobil, “jadi beneran kalau dia takut diculik tadi?”
“Kenapa kamu pikir dia ingin makan berdua dengan kamu?” cletuk Shin.
“Tidak, Aku pikir dia hanya cari alasan saat ia bilang ada orang ingin menculik.”
“Saat mereka keluar dari kantor tadi saya melihat seseorang mengawasi dia, itulah sebabnya saya mau diajak untuk menemaninya makan,” ujar Okan.
Ini hal yang langka, kalau biasanya ia selalu angkuh dan cuek sama semua wanita, tapi pertama melihat Luna makan bekal rantang di taman bersama Sinar lalu melihat ia berteriak di gedung atap dengan frustasi, Okan merasa kasihan. Karena itulah saat ia diminta memegang rantang makan saat di lift ia mau. Mungkin kalau itu wanita lain Okan ogah melakukannya
“Lalu siapa yang ingin mencelakai wanita malang itu?”
“Saya tidak tahu mungkin musuh keluarganya,” jawab Okan asal,
“Bisa jadi orang yang menabrak mereka itu sengaja melukainya,” ucap Fudo asal menebak.
Lalu siapa orang yang mengawasi mereka? Apakah dia mengawasi Okan atau ingin menculik Luna ?
Bersambung
__ADS_1