
Luna dan Intan masih saling adu mulut di kamar mandi.
“Apa kamu bilang? Anak kecil?” Wanita bertubuh tinggi semampai itu melotot marah , lalu mendorong-dorong tubuh Luna sampai-sampai wanita berhidung mancung itu mundur beberapa langkah ke belakang.
“Kamu membuatku kesal,” pungkas wanita berkulit hitam manis itu dengan marah, pundak naik turun tatapan matanya tajam ke arah Intan, ia terlihat seperti banteng melihat kain merah.
Tidak lama kemudian Luna maju menarik rambut wanita jahat itu dengan kuat, Intan berteriak-teriak kesakitan karena Luna menarik rambutnya ke kanan ke kiri.
Perkelahian mereka di kamar mandi mengundang perhatian para rekan-rekan mereka, lalu datang berkerumun dan melerai keduanya.
“Hentikan Lun!’ teriak Sinar memegang tubuh Luna.
“Wanita gila ini memancingku marah,” ujar Luna geram.
“Pen kakimu baru diganti, kakimu lagi sakit nanti bertambah parah,” bisik Sinar, ia melepaskan tangannya
Setelah dilerai mereka berdua akhirnya berhenti.
“Lihat saja gua akan membalas lo!” teriak Intan memegang kepalanya , sebagian rambutnya rontok karena dijambak Luna.
"Bodo amat,” balas Luna.
Luna menjalani hari yang buruk saat itu, setelah Luna dan Intan bertengkar dan jambak-jambakan di kamar mandi, ternyata kejadian itu sampai juga pada atasan mereka. Bayu memanggil ke ruangannya dan menceramahi keduanya sampai kuping mereka panas. Kalau dicatat apa yang diucapkan Bayu hari itu, mungkin setebal buku pelajaran sekolah.
“Apa kalian paham apa yang saya bicarakan?”
“Paham Pak.”
“Jangan paham, paham saja. Jangan bikin malu di kantor ini, kalian bukan anak sekolahan yang jambak-jambakan demi rebutin laki-laki,” ujar Bayu menatap kedua wanita itu bergantian.
“Bapak salah paham … kami bukan karena rebutan cowok dia ni yang melamar Bara jadi kekasihnya,” tuduh Intan lagi.
“Astaga, Aku sudah bilang bukan Aku itu kerjaan Sinar, kok kamu belum ngerti juga ya,” ujar Luna marah.
“Sudah. Sudah apapun masalahnya jangan kalian lakukan lagi di kantor ini,”kata Bayu dengan nada tegas.
“Baik Pak,” ucap keduanya serentak
“Baiklah kalian boleh keluar,” ujar Bayu.
Kedua wanita yang cemberut lalu keluar dari ruangan Bayu, Luna merasa kesal ia berjalan menuju taman disamping kantor, salah satu tempat teraman untuk Luna, ia duduk menenangkan diri, tanpa ia sadar ada sepasang mata yang mengawasinya. Okan berdiri di jendela kaca ruangannya seperti biasa, ia memikirkan hubungannya dengan Naira dan tiba-tiba matanya melihat Luna yang duduk dengan wajah marah.
“Apa yang dipikirkan wanita muda ini sampai menekuk wajahnya seperti itu?” tanya Okan.
Okan meraih rokok dari atas meja.
“Bos mau kemana?” tanya Fudo ikut berdiri.
__ADS_1
“Saya ingin cari tempat untuk merokok. Kalian cari data-datanya sampai ketemu jangan ikuti saya,” pinta Okan.
Lalu ia juga turun dan berjalan menuju taman, Okan penasaran apa yang terjadi pada Luna, lalu ia duduk di samping wanita yang sedang cemberut tersebut.
“Apa semua baik-baik saja?” Okan duduk
Luna kaget kaget, melihat Okan yang datang ia tertawa.
“Pak Jhon apa yang bapak lakukan di sini?” tanya Luna kembali ia tersenyum ceria saat melihat Okan seolah-olah ada tombol on dan Off di tubuhnya yang bisa stel secara bergantian, baru juga ia marah dan kesal tiba-tiba aja sudah ceria lagi.
“Saya merokok, kamu mau?” Okan menawarkan bungkus rokok ke Luna.
“Boleh?”
Mata Okan menatap dengan penasaran.
“Boleh kalau kamu mau,” ucap Okan.
“Tidak Ah … aku hanya bercanda.”
“Apa ada masalah?”
“Ya, ada rekan kerja bernama Intan, dia selalu mencari masalah denganku, kami habis bertengkar tadi. Apa bapak tau yang kulakukan padanya? Aku menarik rambut sampai rontok,” ujar Luna tertawa.
Saat Okan ingin duduk tenang, ternyata Luna bercoleh panjang lebar seperti burung Beo. Ia bercerita banyak pada Okan dengan santai, hal kecil saja bisa jadi hal lucu saat Luna yang menceritakannya, bahkan tawa Luna bisa membuat orang disekitarnya ketularan tertawa.
Seketika raut wajahnya menunjukkan kalau ia marah dan kesal.
“Ha, jangan tanya Pak. Aku rasa lelaki itu kebanyakan makan ikan asin,” ucap Luna dengan mimik wajah yang serius.
“Apa hubunganya suka marah sama ikan asin?” tanya Okan mengkedutkan keningnya.
“Kata Mamaku, orang yang kebanyakan makan ikan asin itu cenderung pemarah dan pemarah itu biasanya cepat sakit, setelah sakit dia pasti mati.”
“Apa kamu mendoakan Pak Bayu mati?” tanya Okan tersenyum kecil.
“Tidak sih .. tapi aku berharap dia cepat menikah. Kalau dia sudah menikah mungkin dia tidak marah karena sudah tersalurkan.”
“Kenapa kamu tidak menikah saja sama dia, bukannya kamu bilang bertengkar karena laki-laki” ucap Okan, baru kali ia mau bicara santai dan penuh candaan sama lawan jenis, biasanya Okan akan selalu menjaga jarak dengan wanita, tapi entah kenapa setiap kali melihat Luna ia ingin mengobrol banyak.
“Idih bapak salah kaprah sama seperti Pak Bayu. Begini Pak Jhon … kita gak rebutan, Sinar hanya bercanda ingin menjomblangin aku sama mahluk alien itu, ternyata ia menceritakan sama semua orang. Mulut laki-laki kok ember seperti itu,” ujar Luna.
“Ya kamu menikah saja si Bayu,” ujar Okan.
“Gak ah … aku mau menikah dengan bapak aja. Bapak mau kan menikah denganku?” Luna menatap Okan.
“Apa?” tanya Okan kaget, ia terkejut saat karyawannya mengajaknya menikah.
__ADS_1
“Ha, ha, wajah Bapak tegang bangat, Aku hanya bercanda, lagian Aku tidak mau menikah sama orang ganteng. Karena orang ganteng itu biasanya beracun.” ujar Luna tertawa lebar melihat wajah Okan yang panik saat diajak Luna menikah.
“Kamu beneran mau menikah denganku?” tanya Okan menatap wajah Luna serius.
“Gak Lah Pak, Aku hanya bercanda.” Okan menatap wajah Luna dengan tatapan penyelidikan.
‘Apa benar gadis muda ini tidak mengenalku?’ tanya Okan dalam hati.
“Jangan menatapku seperti itu, Benaran … Aku hanya bercanda. Aku memang orangnya seperti itu jangan dianggap serius lah,” ujar Luna sembari tertawa dan tangannya tanpa sadar memukul lengan Okan, wanita muda itu seakan-akan lagi bercanda sama teman lamanya. Okan menyepitkan kedua matanya. Seumur-umur baru kali ini bertemu dengan wanita yang langka bercanda sembari memukul tubuhnya.
“Gadis yang langka,” gumam Okan sembari melirik sandal yang di pakai Luna, sendal itu sekarang sudah sepasang, soalnya malam itu ia menggunakan dua jenis yang berbeda hello kitty dan Batman.
“Bapak itu kaku kayak kanebo … mau main tebak-tebakan samaku?” tanya Luna.
“Hmm.” Okan mengangguk.
“Jawab ya …Binatang, binatang apa yang nyariin bapaknya mulu?” tanya Luna menatap Okan sembari menggulum senyum.
Okan berpikir sebentar lalu ia menjawab.” Gak tau.”
“Beee … Beee. Kambing nyariin babenya mulu,” jawaab Luna sembari tertawa lebar.
Okan tertawa kecil walau hanya tawa kecil tapi baru kali ini ada gadis yang bisa membuatnya tersenyum. Lalu Luna melanjutkan tebak-tebakan yang kedua.
“ Lunjut ya …. Diinjek nggak bikin sakit, tapi bisa bikin pincang. Apa itu?” tanya Luna lagi.
“Gak tau,” Okan menggeleng.
“Injek tai ayam,” sahut Luna sembari tertawa lebar.
Saat sedang tertawa bercanda dengan CEO perusahaan itu tiba-tiba dari belakang Luna datang Pak Suni, wakil direktur sudah pasti atasan Luna juga.
“Pak Okan. Bapak di sini ternyata.” Ia berdiri di depan mereka berdua.
“Pak Okan.” Luna menoleh ke arah lelaki tampan yang bercanda bersama tadi.
“Ada apa?” tanya Okan masih dengan posisi duduk santai.
“Para pemegang saham menunggu Pak Okan untuk rapat.”
Teng!
Bibir Luna langsung berhenti tersenyum seiring detak jantungnya yang berdetak keras.
Tidak lama kemudian Kana sekretaris Okan datang ke taman juga.
“Pak Okan, saya mencari bapak kemana-kemana, hari ini Bapak jadwal rapat,” ujar Kana, ia melirik Luna dengan tatapan sinis.
__ADS_1
Bersambung…