
Saat Okan datang ke clup malam itu, itu sama saja mengantar nyawa nya sendiri dan menyebabkan masalah pada Ken dan orang-orangnya, demi menyelamatkan Okan, Ken menerobos masuk ke dalam clup.
Saat ingin masuk penjaga clup mencegat mereka, penjaga curiga karena mereka datang berkelompok dan penampilan mencurigakan.
“Mana kartu pengunjungnya?”
“Kami ada janji dengan bos di dalam,” jawab Ken, wajah lelaki itu sudah panik takut Okan dalam masalah.
“Ingin bertemu siapa?” tanya kedua lelaki bertubuh tinggi besar itu menyingkapkan pakainya memperlihatkan pistol yang terselip di pinggangnya.
“Kami ingin bertemu Dave,” jawab Toni berbohong .
“Sudah ada janji?”
“Sudah.”
Setelah ditanyain barulanh mereka boleh masuk, saat masuk ke dalam bar mereka berpencar mencari keberadaan Okan.
Sementara Okan berlari ke belakang gedung bersama lelaki yang menolongnya.
“Terimakasih Bro.”
“Tidak masalah, saya hanya tidak ingin melihat orang bertarung keroyokan, itu tidak gentleman menurutku,” ujar lelaki pemilik tatapan tajam itu.
“Oh saya Okan.” Lelaki tampan itu menyodorkan tangannya.
“Asta Stanley.”
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Okan menatap wajah lelaki yang ia tutupi topi Hoddy.
“Ingin menangkap salah satu macan tua di clup ini, Aku dengar dia melarikan diri ke tempat ini.”
“Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan di tempat beginian anak muda? Apa kamu melarikan diri dari rumah dan ingin bersenang-senang di tempat ini?”
“Tidak,” jawab Okan merasa jengkel dengan pertanyaan yang dilontarkan lelaki yang baru dikenal itu.
Okan tidak tahu kalau lelaki yang baru saja yang menyelamatkan hidupnya adalah seorang bos mafia juga, dia adik dari Dave orang yang menculik Chelia.
“Apa kamu pikir Aku anak remaja?” tanya Okan kesal.
__ADS_1
Stanley melepaskan topi Hoddynya dan memperlihatkan wajahnya pada Okan, ia seorang lelaki dewasa dengan wajah tegas berkarisma, tatapan matanya tajam dan mendominasi.
“Itu yang Aku lihat dari wajahmu saat ini anak muda,” ujar Stanley tersenyum kecil.
Disisi lain ‘
Leon sangat geram melihat kelakuan putranya.
“Bagaimana … Apa kamu menemukannya?” tanya Leon pada Ken.
“Bos, dia membuat keributan di sini , Aku melihat dia berlari dengan seorang pria ke belakang gedung, saya akan melihatnya ke sana.”
“Beri pelajaran buat anak itu, biar dia tahu kalau dunia yang dihadapi tidak semudah yang dia bayangkan,” ujar Leon.
Sebenarnya Leon mempekerjakan dua orang pasukan terlatih untuk mengawal Okan secara diam-diam, jadi apa yang dilakukan Okan selama ini. Leon tahu, hanya saja ia pura-pura tidak tahu dan mengawasinya , ia ingin melihat sejauh mana Okan dan rekan- rekannya melakukan kegiatan terselubung, mereka termasuk membangun markas di rumah kosong tersebut.
“Baik Bos,” jawab Bimo kali ini ia dan Bram ikut datang.
Saat sedang mengobrol dengan Stanley, Bram dan Bimo datang.
“Tuan muda mari ikut dengan kami,” ujar Bimo dengan nada jengkel, ia sampai menyebut Okan dengan sebutan ‘Tuan Muda’ karena sikapnya yang selalu membangkang nasihat orang tuanya.
“Om, apa yang kalian lakukan?” tanya Okan saat dua orang anak buah Leon memegang tangannya hingga tubuh Okan tidak bisa bergerak.
“Diamlah Tuan Muda … Bos meminta kami untuk membawamu pulang.”
“Aku tidak mau. Aku ingin bebas melakukan apapun mulai sekarang, tidak ingin mendengar aturan ini itu dari Bosmu. Aku akan membalas dendam pada orang telah menghianatiku dan membalas orang yang menyakiti adikku,” ujar Okan.
Stanley tidak ingin ikut campur saat brontak dari orang-orang suruhan Ayahnya, ia sempat bertarung dengan dua orang anak buah Bimo. Namun menit kemudian tiba-tiba ada bayangan kilat muncul dari balik gedung menghampiri Okan.
Cus!
Husttt!
Tubuh kedua lelaki berpakaian ala ninja melompat ke arah Okan dan melakukan satu jurus totok tepat di leher Okan, seketika tubuh lelaki itu diam seperti patung hanya bola matanya yang bisa bergerak ke kanan dan ke kiri.
“Pasukan Jitshu …?” tanya Stanley dengan tatapan melotot, karena tidak sembarangan orang bisa mempekerjakan pasukan legendaris itu.
Pasukan ‘Desufaita’ atau dikenal pasukan Naga Hitam atau petarung kematian. Mereka berasal dari perguruan suci dari Jepang, pasukan yang biasa bertugas menjaga kuil suci kuno. Hanya orang-orang terpilihlah yang bisa bergabung di perguruan suci tersebut.
__ADS_1
Pasukan yang punya tradisi, jika gagal misi, maka nyawa sendiri yang akan dikorbankan.
Jika gagal melakukan misi atau tanggung jawab maka ia akan menikam jantungnya sendiri di hadapan para tetua atau kepala.
“Siapa sebenarnya ayah lelaki ini? Kenapa dia bisa punya pasukan legendaris itu?’ tanya Stanley, ia sungguh penasaran dengan sosok ayah Okan.
Ia tidak tahu kalau ayah Okan seorang yang paling ditakuti di masanya.
Pasukan hitam itu ingin melenyapkan Stanley karena melihat misi mereka, Stanley sadar pasukan sembilan nyawa itu bukan tandingannya, hanya orang yang punya ilmu tinggi yang bisa menghadapi mereka. Stanley mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
“Saya bukan musuh. Saya orang yang menyelamatkannya,” ujar Stanley.
“Biarkan saja dia.” pinta Toni dan Ken yang juga keluar dari dalam clup.
Kedua pasukan hitam itu berhenti dan meninggalkan Stanley yang masih mengangkat tangan .
“Pergilah, Bro kita tidak ingin mendapat masalah lagi dengan orang lain,” ujar Ken, meminta Stanley pergi.
Okan dibawa paksa bertemu ayahnya, Leon sepertinya sudah kehabisan kesabaran, setelah Okan diseret kehadapanya, Leon menghajarnya sampai babak belur, mengajak Okan beratung bebas dengannya. Hanya menggunakan satu tangan, tapi wajah Okan sudah babak belur bibinya pecah.
“Apa hanya itu kemampuanmu. Bodoh! Gunakan ini,” ia melempar tongkat dengan marah, Leon mematahkan gagang satu lalu ia menggunakan itu untuk melawan Okan.
“Pak!
Satu pukulan keras kembali menghantam badan Okan, garis memanjang terlihat jelas di badan bagian belakangnya.
“Ayo kamu sudah merasa jago kan? Ayo berikan Aku pukul terbaikmu anak muda!” ujar Leon.
Tak-Tak-Tak!
Suara pukulan kayu itu terdengar nyaring saling di sebuah gudang, Leon memberi pelatihan sesungguhnya pada putranya.
Wajah Okan sudah babak belur bibir pecah mata lebam dan pelipis berdarah. Leon tidak merasa kasihan sedikitpun, ia terus saja memprovokasi putranya untuk mengejarnya.
“Kalau kamu lemah seperti itu, mana bisa jadi sepertiku,” ucap Leon.
Semua anak buah Leon tidak tega melihat Okan di hajar sama ayahnya sendiri.
“Sepertinya Bos sangat marah sama Okan,” bisik Ken.
__ADS_1
“Itu bukan kemarahan, lebih tepatnya kecewa,” ujar Zidan.
bersambung….