Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Mutiara Hitam dari Timur


__ADS_3

Luna  memang pantas mendapat julukan mutiara hitam dari Timur, ia juga sering dipanggil gadis pantai, sebab Luna seolah-olah menyatu dengan pantai dan lautan.


Wanita hitam manis itu kini membuat semua laki-laki satu kantornya mlonggo dengan kepiawaian Luna mengendalikan  papan seluncur  lalu menerjang ombak.


“Wow …Luna!” Sinar bersorak-sorak di tepi pantai.


“Gila jago bangat cewek,” ujar  beberapa anak muda yang memegang papan seluncur, mereka berdiri di samping Okan dan kedua anak buahnya.


“Gue gak ada apa-apanya … apa dia salah satu pelatih  turnamen ini?” tanya mereka lagi.


“Entahlah … seksi, jago main selancar  tu … cewek idaman gue bangat, gue harus bisa mendapatkan nomor wanita itu,” pungkas salah seorang dari mereka lagi.


“Bodynya bikin  gua berfantasi liar,” ujar seorang laki-laki dari tampangnya mereka masih pelajar yang datang dari luar Bali. Sebab kalau mereka dari Bali wanita seksi bahkan berbikini sudah hal biasa, tapi diluar dari Bali biasanya  melongo ataupun bersorak jika melihat wanita berbikini dan seksi, sama seperti yang mereka  lakukan pada Luna. Karena dalam pertandingan itu hanya Luna yang perempuan, lainnya semuanya laki-laki jadi Luna jadi perhatian semua  yang menonton saat itu.


Karena  banyak ingin bermain papan selancar jadi penjaga pantai mengadakan  per regu atau menggunakan sistem nomor, daftar dulu  baru boleh tampil. Jadi dengan cara seperti itu para peserta Water sports itu merasa  tertip.


“Wuih … seksi Bro manuvernya keren bangat,” ujar salah seorang dari mereka sembari berdiri.


Mendengar Luna  jadi objek fantasi nakal para pria muda itu. Okan beberapa kali menggerakkan  batang lehernya yang terasa kaku karena menahan emosi, lalu ia berdiri mengangkat papan miliknya dan menyenggol para pria yang memuji tubuh Luna. Okan terlihat bersikap kekanak-kanakkan karena cemburu.


“Eh … hati-hati dong Bro,” ujar mereka  menghadang Okan  ke depan, Lalu dengan sigap  Fudo dan Shin berdiri di samping Okan dengan tatapan tajam. Mereka mundur dan menyadari kalau Okan bukan orang sembarangan karena membawa dua pengawal. Mereka mundur setelah dua orang dua bodyguard mengawal tubuh Okan.


Lalu  Okan  berdiri di di depan mereka,  menatap ke arah terjangan ombak, Luna  masih melakukan manuver-manuver dalam terjangan ombak.  Suara sorak  memanggil nama Luna semakin riuh.


“Ternyata dia  gadis yang keren,” puji Fudo sembari tepuk tangan.


“Apa kamu bisa mengalahkan Luna? Kalau kamu bisa mengalahkan gadis itu,  akan aku berikan jam tangan ini untukmu,” ujar Shin.

__ADS_1


“Serius Bro …?”


“Ya, tapi perlihatkan kemampuanmu padaku. Kamu pernah bilang padaku kalau kamu jago surfing. Aku  menantangmu bermain selancar dengan Luna.”


“Ok gue terima,” sahut Fudo dengan percaya diri tinggi, jam tangan milik  Shin ia sangat menyukainya.


*


Luna akhirnya mengalahkan Raka.  Sinar berlompat  kegirangan seperti orang kesurupan,  setelah kekasihnya dikalahkan sama Luna.  Bara menepati janjinya, ia memberikan voucher belanja untuk Luna dan Sinar,  ia juga memberikan ponsel miliknya pada Luna.


“Kamu yakin berikan Aku ponsel?” tanya Luna, ia pikir laki-laki itu hanya bercanda.


“Lu gak mau …? Ponsel lu kan sudah  kuno,” ucap Bara.


“Iya … tau tapi maksud aku … ini kamu beneran kasih Aku?” tanya  Luna dengan bibir tersenyum.


“Sudah terima saja Lun … ,” ucap Sinar greget.


“Kamu memberikan ini padaku? Kamu tidak ingin menjebakku kan?” tanya Luna dengan polos.


“Ya ela Lun … nggaklah. Ini sebagai rasa terimakasihku karena kamu membungkam mulut lelaki sombong itu,” bisik Bara.


“Siapa?” tanya Luna, ia bahkan tidak menganggap permainan selancar yang ia lakukan sebuah taruhan  besar, ia hanya berpikir Bara akan mentraktirnya makan es krim atau minuman dingin. Itu saja buat Luna sudah hal besar karena mereka biasa melakukan itu di kampungnya.


“Raka,” tutur lelaki itu ia memberikan ponselnya pada Luna. Raka dan Intan menatap Luna dengan tatapan dendam.


“Wanita sialan, gue pernah berpikir akan dikalahkan wanita kampungan seperti dia, gue harus kasih dia pelajaran,” ujar Raka dengan licik.

__ADS_1


“Tenang sayang aku dipihakmu, Aku juga punya dendam besar pada wanita kampung itu,” sahut Intan, mereka berdua sama-sama  membenci Luna.


“Ya tapi kenapa kamu dengan mudah memberikan ponselmu?


Ternyata mereka juga melakukan taruhan, dalam taruhannya siapapun yang bisa mengalahkan ,Raka, ia akan memberikan ponsel iPhone miliknya, ternyata ucapan sesumbar itu ditantang oleh Bara dan memasukkan nama Luna sebagai penantang. Ia menyetujuinya, dengan sombongnya ia mengatakan kalau ia sudah beberapa kali menang dalam turnamen papan selancar di Bali,  karena Raka Wisnu Tama asli orang Bali.  Mendengar Raka asli orang Bali dan  piawai memainkan papan selancar Intan langsung terpesona, ia lebih memilih Raka. Padahal saat di Jakarta dan Di dantor ia menempel terus pada Bara. Tentu saja Bara sakit hati dan ingin membalas kesombongan kekasih Sinar tersebut.


Raka tidak menduga kalau gadis muda yang dapat julukan mutiara pantai itu bisa mengalahkanya dengan mudah bahkan di set kedua kedua Luna, memperlihatkan sebuah atraksi surfing fish  sebuah atraksi  manuver di ombak besar.


Bahkan papan selancar yang digunakan Luna bukan lagi menggunakan jenis fiberglass ataupun apoxi  tetapi Luna sudah menggunakan papan selancar model Guns, papan selancar yang  biasa digunakan  para atlet surfing profesional, biasa digunakan  berselancar melawan ombak besar dan biasa digunakan para atlet surfing  tentunya sudah pandai dan handal ukurannya lebih panjang dibandingkan yang biasa,


Dari  papan selancar yang mereka gunakan bisa terlihat  seberapa  jago orang yang menggunakannya. Sementara Raka yang katanya asli Bali dan biasa melakukan olahraga surfing dengan teman-temannya, ia masih mengenakan jenis Longboard


“Bagaimana Bro?” Bara merentangkan tangannya.


“Sial,” umpat Raka dengan wajah tidak ikhlas, ia memberikan ponsel iPhone miliknya, padahal ia baru saja membeli dengan cara kredit.


“Mampus kamu,” ujar  Sinar menatap mantan kekasihnya yang kalah taruhan.


Sementara Luna masih menatap ponsel  yang diberikan Bara sebagai hadiah untuknya.


“Sin, ini benaran untukku?” tanya  gadis hitam manis itu seolah-olah belum percaya.


“Ya sayangku … memang kamu tidak pernah  menang dapat taruhan?” Sinar menatap wajah sang sahabat.


“Tidak. Memang taruhannya seperti apa? Biasanya kalau menang hanya ditraktir makan eskrim doang,” ujar Luna dengan polos.


“Astaga sahabatku memang wanita polos … ya ampun Dewa tolong jaga sahabatku yang datang dari kampung ini,” ujar  Sinar menatap patung  Bali yang tidak jauh dari pantai, ia berucap sembari bercanda. Mereka berdua sama-sama tertawa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2