
Luna memang pantas mendapat julukan mutiara hitam dari Timur, ia juga sering dipanggil gadis pantai, sebab Luna seolah-olah menyatu dengan pantai dan lautan.
Wanita hitam manis itu kini membuat semua laki-laki satu kantornya mlonggo dengan kepiawaian Luna mengendalikan papan seluncur lalu menerjang ombak.
“Wow …Luna!” Sinar bersorak-sorak di tepi pantai.
“Gila jago bangat cewek,” ujar beberapa anak muda yang memegang papan seluncur, mereka berdiri di samping Okan dan kedua anak buahnya.
“Gue gak ada apa-apanya … apa dia salah satu pelatih turnamen ini?” tanya mereka lagi.
“Entahlah … seksi, jago main selancar tu … cewek idaman gue bangat, gue harus bisa mendapatkan nomor wanita itu,” pungkas salah seorang dari mereka lagi.
“Bodynya bikin gua berfantasi liar,” ujar seorang laki-laki dari tampangnya mereka masih pelajar yang datang dari luar Bali. Sebab kalau mereka dari Bali wanita seksi bahkan berbikini sudah hal biasa, tapi diluar dari Bali biasanya melongo ataupun bersorak jika melihat wanita berbikini dan seksi, sama seperti yang mereka lakukan pada Luna. Karena dalam pertandingan itu hanya Luna yang perempuan, lainnya semuanya laki-laki jadi Luna jadi perhatian semua yang menonton saat itu.
Karena banyak ingin bermain papan selancar jadi penjaga pantai mengadakan per regu atau menggunakan sistem nomor, daftar dulu baru boleh tampil. Jadi dengan cara seperti itu para peserta Water sports itu merasa tertip.
“Wuih … seksi Bro manuvernya keren bangat,” ujar salah seorang dari mereka sembari berdiri.
Mendengar Luna jadi objek fantasi nakal para pria muda itu. Okan beberapa kali menggerakkan batang lehernya yang terasa kaku karena menahan emosi, lalu ia berdiri mengangkat papan miliknya dan menyenggol para pria yang memuji tubuh Luna. Okan terlihat bersikap kekanak-kanakkan karena cemburu.
“Eh … hati-hati dong Bro,” ujar mereka menghadang Okan ke depan, Lalu dengan sigap Fudo dan Shin berdiri di samping Okan dengan tatapan tajam. Mereka mundur dan menyadari kalau Okan bukan orang sembarangan karena membawa dua pengawal. Mereka mundur setelah dua orang dua bodyguard mengawal tubuh Okan.
Lalu Okan berdiri di di depan mereka, menatap ke arah terjangan ombak, Luna masih melakukan manuver-manuver dalam terjangan ombak. Suara sorak memanggil nama Luna semakin riuh.
“Ternyata dia gadis yang keren,” puji Fudo sembari tepuk tangan.
“Apa kamu bisa mengalahkan Luna? Kalau kamu bisa mengalahkan gadis itu, akan aku berikan jam tangan ini untukmu,” ujar Shin.
__ADS_1
“Serius Bro …?”
“Ya, tapi perlihatkan kemampuanmu padaku. Kamu pernah bilang padaku kalau kamu jago surfing. Aku menantangmu bermain selancar dengan Luna.”
“Ok gue terima,” sahut Fudo dengan percaya diri tinggi, jam tangan milik Shin ia sangat menyukainya.
*
Luna akhirnya mengalahkan Raka. Sinar berlompat kegirangan seperti orang kesurupan, setelah kekasihnya dikalahkan sama Luna. Bara menepati janjinya, ia memberikan voucher belanja untuk Luna dan Sinar, ia juga memberikan ponsel miliknya pada Luna.
“Kamu yakin berikan Aku ponsel?” tanya Luna, ia pikir laki-laki itu hanya bercanda.
“Lu gak mau …? Ponsel lu kan sudah kuno,” ucap Bara.
“Iya … tau tapi maksud aku … ini kamu beneran kasih Aku?” tanya Luna dengan bibir tersenyum.
“Sudah terima saja Lun … ,” ucap Sinar greget.
“Kamu memberikan ini padaku? Kamu tidak ingin menjebakku kan?” tanya Luna dengan polos.
“Ya ela Lun … nggaklah. Ini sebagai rasa terimakasihku karena kamu membungkam mulut lelaki sombong itu,” bisik Bara.
“Siapa?” tanya Luna, ia bahkan tidak menganggap permainan selancar yang ia lakukan sebuah taruhan besar, ia hanya berpikir Bara akan mentraktirnya makan es krim atau minuman dingin. Itu saja buat Luna sudah hal besar karena mereka biasa melakukan itu di kampungnya.
“Raka,” tutur lelaki itu ia memberikan ponselnya pada Luna. Raka dan Intan menatap Luna dengan tatapan dendam.
“Wanita sialan, gue pernah berpikir akan dikalahkan wanita kampungan seperti dia, gue harus kasih dia pelajaran,” ujar Raka dengan licik.
__ADS_1
“Tenang sayang aku dipihakmu, Aku juga punya dendam besar pada wanita kampung itu,” sahut Intan, mereka berdua sama-sama membenci Luna.
“Ya tapi kenapa kamu dengan mudah memberikan ponselmu?
Ternyata mereka juga melakukan taruhan, dalam taruhannya siapapun yang bisa mengalahkan ,Raka, ia akan memberikan ponsel iPhone miliknya, ternyata ucapan sesumbar itu ditantang oleh Bara dan memasukkan nama Luna sebagai penantang. Ia menyetujuinya, dengan sombongnya ia mengatakan kalau ia sudah beberapa kali menang dalam turnamen papan selancar di Bali, karena Raka Wisnu Tama asli orang Bali. Mendengar Raka asli orang Bali dan piawai memainkan papan selancar Intan langsung terpesona, ia lebih memilih Raka. Padahal saat di Jakarta dan Di dantor ia menempel terus pada Bara. Tentu saja Bara sakit hati dan ingin membalas kesombongan kekasih Sinar tersebut.
Raka tidak menduga kalau gadis muda yang dapat julukan mutiara pantai itu bisa mengalahkanya dengan mudah bahkan di set kedua kedua Luna, memperlihatkan sebuah atraksi surfing fish sebuah atraksi manuver di ombak besar.
Bahkan papan selancar yang digunakan Luna bukan lagi menggunakan jenis fiberglass ataupun apoxi tetapi Luna sudah menggunakan papan selancar model Guns, papan selancar yang biasa digunakan para atlet surfing profesional, biasa digunakan berselancar melawan ombak besar dan biasa digunakan para atlet surfing tentunya sudah pandai dan handal ukurannya lebih panjang dibandingkan yang biasa,
Dari papan selancar yang mereka gunakan bisa terlihat seberapa jago orang yang menggunakannya. Sementara Raka yang katanya asli Bali dan biasa melakukan olahraga surfing dengan teman-temannya, ia masih mengenakan jenis Longboard
“Bagaimana Bro?” Bara merentangkan tangannya.
“Sial,” umpat Raka dengan wajah tidak ikhlas, ia memberikan ponsel iPhone miliknya, padahal ia baru saja membeli dengan cara kredit.
“Mampus kamu,” ujar Sinar menatap mantan kekasihnya yang kalah taruhan.
Sementara Luna masih menatap ponsel yang diberikan Bara sebagai hadiah untuknya.
“Sin, ini benaran untukku?” tanya gadis hitam manis itu seolah-olah belum percaya.
“Ya sayangku … memang kamu tidak pernah menang dapat taruhan?” Sinar menatap wajah sang sahabat.
“Tidak. Memang taruhannya seperti apa? Biasanya kalau menang hanya ditraktir makan eskrim doang,” ujar Luna dengan polos.
“Astaga sahabatku memang wanita polos … ya ampun Dewa tolong jaga sahabatku yang datang dari kampung ini,” ujar Sinar menatap patung Bali yang tidak jauh dari pantai, ia berucap sembari bercanda. Mereka berdua sama-sama tertawa.
__ADS_1
Bersambung