
Tua-tua keladi semakin tua semakin jadi, itulah yang cocok digambarkan untuk Leon dan teman-temannya, saat anak-anak mereka diganggu, para mantan mafia itu kembali beraksi dan menunjukkan taring mereka.
“Aku ingin meremukkan tulang-tulang lelaki itu jika ia berani menyentuh sehelai rambut putriku,” ujar Leon, rahang tegas itu semakin mengeras dan tatapan matanya menatap tajam.
“Bos, saya mendapatkan alamatnya, kita berangkat sekarang,” ujar Bram.
“Di mana?”
“Dia ada di tepi pantai di PIK.”
“PIK …?”
Leon menatap ketiga rekannya , Leon punya kenangan pahit di daerah itu saat masih bos mafia, dulu ia kehilangan dua anak buah di rumahnya di daerah pantai kapuk dulu. Dulu anak buahnya Rikko dan istrinya meninggal dengan cara tragis dibunuh musuhnya saat mereka baru pulang dari bulan madu, setiap kali mendengar daerah itu jantungnya berdebar.
“Ya, Bos menurut penelusuran orang-orangku, mobil itu menuju ke sebuah Villa mewah yang dijaga orang-orang bersenjata.”
“Baik, mari kita patahkan rahang si brengsek itu,” ujar Ken, walau sudah lama tidak memegang senjata lagi tetapi mereka masih terlihat lihai dalam mengendalikan senjata mematikan itu.
Saat mereka lagi mempersiapkan diri, ternyata Bimo datang, padahal lelaki itu sudah hampir dua tahun tidak pulang ke Jakarta, ia membuka restoran di Kalimantan, saat Bram memberitahukan kalau Chelia diculik ia langsung datang. Leon lelaki yang sangat beruntung keempat anak buahnya setia sampai mereka tua.
“Bimo… bagaimana bisa?” tanya Ken diantara keempat anak buah kepercayaan Leon kedua orang ini yang paling rame dan kocak.
“Bisa dong, Aku terbang dari Kalimantan,” ujar Bimo
“Baiklah formasi kita lengkap, mari kita beraksi lagi.” ujar Ken.
Ken, Bimo, Zidan, Toni merekalah anak buah leon yang paling setia dan punya keahlian masing-masing, walau sudah berumur kelima mantan mafia itu masih memiliki pesona yang keren apalagi Leon tubuhnya masih tetap kotak-kotak walau sudah berumur.
“Aku merasa kita seperti peteran yang reunian,” ujar Ken, selera bercandanya masih tetap sama.
Saat Leon diam dengan wajah mengeras tapi si Ken rambut keriting masih sempat-sempatnya bercanda. Zidan sang sniper kembali membuka kotak senjata laras jenis SPR-2 salah satu senjata andalan Zidan.
“Bagaimana dengan Okan?” tanya Leon menatap Bram.
“Dia ada di markas mereka Bos.”
“Anak tengil, dia bertindak di luar kemampuanya, bodoh!” umpat Leon kesal.
__ADS_1
“Okan dan rekan-rekannya berpikir kalau tidak tahu apa yang mereka lakukan, Aku sudah lama jadi penjahat bodoh kalau aku tidak tahu apa yang mereka kerjakan, Aku hanya memberinya sedikit kebebasan karena dia selalu bertengkar sama ibunya,” ujar Leon.
“Dasar anak-anak nakal, mereka tidak tahu kalau orang tua mereka mantan mafia yang pernah makmur d negara ini,” ujar Ken
Di sisi lain
Dave sangat khawatir saat mengetahui kalau Chelia anak dari Leon, ia sudah tahu tentang Leon, jika mengenal Bokoy maka akan tahu siapa Leon
“Antar mereka pulang,” ujar Dave tiba-tiba melempem saat ia melihat adiknya ikut diculik.
“Tapi Bos-”
“Jangan membantah, saya tidak mau berurusan dengan Leon, masalahku sudah banyak, tidak ingin menambah lagi.”
“Baik Bos.”
“Tapi sebagai gantinya tinggalkan wanita cantik itu jadi tawananku,” ujar Dave, ia menunjuk si cantik Naira.
“Aku tidak mau,” bantah Naira.
“Sepertinya kita punya urusan yang belum selesai,” ujar Dave, ternyata Naira baru ingat lelaki yang pernah dijodohkan sama dia dulu adalah Dave, orang yang memberi bantuan ke panti asuhan mereka.
Ia memberi kode untuk membawa Luna dan Chelia, berniat mengembalikannya karena gangster kejam itu rupanya takut sama Leon dan anak buahnya. Dalam dunia para gangster dan mafia penghianatan dikhianati sudah satu hal biasa dan sering terjadi. Kali ini pun terjadi pada Dave, saat lelaki bertato burung elang hitam itu memerintahkan anak buahnya memulangkan Chelia dan adiknya ke ke keluarga mereka. Ternyata mereka membawa ke rumah seorang Taipan, ia musuh terbesar Dave bahkan musuh Leon juga.
“Apa yang kamu lakukan? kenapa membawa kami ke sini, bukannya bosmu memintamu membawa kami pulang?” tanya Luna ketakutan ia memeluk Chelia.
“Diamlah, lelaki itu akan merasakan bagaimana rasanya dihabisi mafia yang sebenarnya,” ujar lelaki yang yang berjalan ngangkang, ia pria yang burung perkututnya ditembak Dave.
“Apa kamu ingin menghianati Bosmu?” tanya Luna, wanita cantik itu juga sudah terbiasa menghadapi para penjahat, karena kedua kakak laki-lakinya ternyata terlibat dalam dunia kejahatan.
Pak!
Alex menampar Luna, ia begitu marah saat Dave menyebabkan burungnya tidak bisa bangun lagi, ia ingin membalas Dave .
“Bawa mereka ke rumah ketua, kalian berdua akan dijadikan santapan ikan piranha miliknya, tapi setelah menikmati tubuh cantikmu tentunya,” ujar Alex menyentuh bagian tubuh Chelia, mendapat pelecehan dari pria brengsek Chelia melawan, ia menendang ************ Alex lagi. Untuk kedua kalinya ia mendapat rasa sakit yang luar biasa baru saja kedua biji salaknya dibuang karena tidak berfungsi lagi setelah ditembak Dave. Sekarang ia merasakan rasa sakit kedua kalinya dari wanita cantik bernama Chelia.
“AAK SiAL,” ujarnya dengan suara tertahan dan wajahnya mengeras seperti orang yang sedang menahan berak, lalu ia tergeletak di tanah memegang selangkangannya yang berdarah.
__ADS_1
“Bro kamu tidak apa-apa?” Ketiga lelaki itu memegang Alex.
Kesempatan itu yang digunakan kedua wanita cantik itu untuk melarikan diri.
“Ayo lari, Dok.” Luna menarik tangan Chelia membawanya berlari menuju perkebunan teh, karena mereka berdua dibawa ke arah puncak Bogor.
“Kejar mereka Bodoh,” ujar Alex dengan suara setengah meringis, setelah melihat kedua gadis cantik itu berlari.
“Cepat, cepat Dok.” Luna menyeret Chelia, langkah wanita berkulit eksotis itu panjang dan larinya kuat, ia gadis kampung yang berasal dari Indonesia Timur, hutan dan jalanan berduri dan berlumpur sudah hal biasa untuknya, tapi Chelia gadis kota yang hidup bagai seorang putri. Ia tidak bisa berlari secepat Luna.
“A-aku capek,” ujar Chelia ia ngos-ngosan.
“Kita harus menjauh dari mereka sebelum kita diberikan pada bandot tua itu,” ujar Luna.
“Apa kamu sudah mengenalnya?” tanya Chelia.
“Nanti Aku jelaskan Dok, yang penting kita harus lari dari sini dulu.”
“Berhenti!” teriak penjahat itu mengejar mereka berdua.
“Kita dalam bahaya kalau mereka sampai lolos, Dave akan tahu kita berkhianat dan kita akan dibunuh.”
“Lalu apa yangg kita lakukan?” tanya rekannya.
“Habisi saja mereka.”
“Kamu yakin?”
“Yakin, lakukan saja,” ujar lelaki berkepala Botak itu
Saat Chelia berlari sekuat tenaga di perkebunan dan posisinya di belakang sebuah tembakan mengenai tubuhnya.
Dor!
Seketika tubuhnya roboh dan tergeletak di tanah.
Apakah Chelia selamat?
__ADS_1
Bersambung.