
Zidan menembak dua dari penjahat itu, sementara lainya berlari ke mobil, Bram mendekatkan helikopter dan Zidan membidik ban mobil, tanpa ampun mobil itu terjatuh dan terguling.
Mereka turun. “Kakatan di mana mereka?” tanya Leon mengarahkan pistol jenis combat ke kening si Botak, walau sudah sekarat lelaki itu masih tertawa menyeringai
“Kita bertemu lagi Bos.”
“Katakan dimana? Leon memasukkan senjata yang sudah dipasang peredam itu ke dalam mulut.
Tidak mau menjawab setan dalam bos mafia itu akhirnya bagun lagi.
Dor-Dor!
Dua kali tembakan tembus ke belakang kepala, ia seketika modar dan berangkat menuju alam baka.
“Jangan menguji kesabaranku, Bodoh!”
Pak
Ia menendang lelaki yang sudah di dor tersebut, melihat temannya dikirim ke alam baka, para lelaki itu pun ketakutan lalu menunjuk tebing dimana kedua gadis malang itu terjatuh dan terluka parah.
“Ka-kami menemukannya Bos,” ujar Bimo dengan suara bergetar.
“Dimana? Dimana?” teriak Leon dengan suara meninggi , suara kemarahan itu sampai mengagetkan burung-burung yang sedang tidur di pohon mereka terbang menjauh.
“Ada di bawah tebing Bos, sepertinya mereka didorong ke tebing.” membayangkan putri kesayangannya diperlakukan seperti itu tidak ada ampun sedikitpun pada mereka.
Dengan marah Leon menarik senjata laras panjang milik Zidan ia mengarahkan ke pada kelima lelaki.
“Dreet-dreeet-rereret-rereret!
Nyawa mereka semua melayang seketika. Itu akibatnya jika berani menyentuh putri mantan mafia, wajah Leon menghitam dan tatapan kemarahan.
“Singkirkan mereka semua jangan sampai ada jejak!
“Baik Bos!” Ken dan rekannya mengangkat mayat-mayat itu ke dalam helikopter, mereka akan disingkirkan dengan cara lama yakni dengan zat sulfur, itu cara mafia menghilangkan kejahatan tanpa jejak.
“Setelah diangkat pakai tali kedua wanita akhirya bisa dievakuasi, tapi malang mereka berdua terluka parah dan tidak sadarkan diri.
“Che, sayang, putriku Ayah ada disini,” ucap Leon memeluk putrinya dengan tangan bergetar, dia tidak tahan melihat darah yang berlumuran di wajah Chelia
__ADS_1
Wajah anak buahnya sangat menegang, mereka semua tau, kalau Leon dipuncak kemarahannya dan lelaki itu akan meledak.
“Siapkan helikopter,” ujar Toni membantu Luna mengangkat ke helikopter.
Leon menggendong putrinya ke dalam helikopter, memeluknya dengan erat mencoba membangunkannya .
“Buka Matamu Che,” ujar Leon.
Zidan menelepon dokter Billy.
“Halo Dok, tolong siapkan ruang operasi.”
“Ada apa? Apa bosmu terluka?” tanya dokter pribadi sang bos.
“Bukan, Non Chelia Dok.”
“Baiklah, saya akan mempersiapkan.” Billy dokter pribadi Leon dari dia masih mudah dan sampai ia punya anak juga jasa dokter itu yang ia pakai.
Apa terjadi malam itu mengingatkan mereka pada puluhan tahun yang lalu dimana mereka selalu bertaruh nyawa untuk mendapatkan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan itu sendiri, sering sekali mereka memakai hukum rimba, siapa yang kuat maka ia yang paling berkuasa.
“Kalian ke markas, bereskan para brengsek itu jangan sampai ada jejak,” pinta Toni pada Bram dan beberapa orang rekannya.
“Baik Pak.”
Para anak buah Leon sudah tahu apa yang mereka akan kerjakan. Leon tidak perlu mengurus hal kecil seperti itu. Karena ban mobil itu sudah gembos terpaksa mengganti ban mobil dulu, setelah beres mengendarai dari sana, kalau ditinggalkan kan takut menimbulkan kecurigaan warga yang melintas.
“Apa kamu yakin sudah beres semua?” tanya Bimo.
“Sudah, hanya perawat di klinik tadi melihat semuanya dan dia ketakutan, katakan padanya tidak melihat apa-apa,” pintah Bimo.
“Baik Pak.”
Karena klinik lumayan jauh dari perkampungan jadi apa yang terjadi malam itu tidak menghebohkan warga sekitar, karena Leon dan Zidan memakai peredam di senjata mereka. Hanya dua orang yang perawat yang bertugas di klinik itu yang melihat bagaimana menegangkannya jika berurusan dengan para gangster dan para mafia. Setelah mengamankan semuanya Bimo dan keduanya mengendarai mobil itu membawa dari sana, bisa dipastikan tidak ada jejak adanya pembantain di tempat itu.
**
Sementara helikopter yang ditumpangi Leon sudah tiba di rumah sakit. dr. Billy dan dua orang perawat pria sudah menunggu Leon di gedung atap. Saat burung besi itu mendarat sempurna kedua pria itu berlari dengan kepala menunduk.
“Biar saya yang membawa, kalian bantu wanita itu,” ujar Leon, ia menggendong putrinya sendiri membawa ke ruangan yang sudah dipersiapkan dr. Billy.
__ADS_1
“Apa yang terjadi?” tanya Billy ikut berlari di samping Leon.
“Dia ditembak dan dilempar ke jurang.”
“Astaga biadab sekali!”
“Aku akan mencincang tubuh bajingan itu,” ucap Leon.
Tiba di ruang operasi ia meletakkan tubuh Chelia di ranjang, wajah Leon semakin menegang melihat putrinya tidak bergerak, hatinya begitu hancur melihat anak perempuan yang disayangi terluka begitu parah.
‘Bangunlah Che … jangan biarkan ayahmu ini jadi monster pembunuh lagi’ ucap Leon dalam hati ia menatap wajah Chelia dengan napas tertahan.
Billy sudah mengenal bos mantan mafia dari mereka masih muda, ia tahu kalau iblis dari tubuh Leon akan muncul kembali, ia akan mendapatkan siapa yang memerintahkan putrinya diculik dan dicelakai.
“Sebaiknya kamu keluar Pak Bos, biarkan saya bekerja dengan konsentrasi, melihat kemarahan di wajahmu membuatku tidak bisa fokus,” ujar dr. Billy.
Leon menurut, hubungan Leon dengan Billy sangat baik, hanya ada beberapa orang saja yang bisa yang dikenal Leon yang bisa bicara santai seperti itu padanya. Leon berdiri mondar mandir di depan pintu Chelia. Sementara Luna dibawa keruangan yang lain, ia juga mendapatkan perawatan karena luka wanita berkulit gelap itu juga lumayan parah, kakinya tertusuk ranting pohon saat mereka terjatuh ke jurang.
“Bos … mereka anak buah Dave,” ujar Toni.
“Bajingan … kamu tidak akan tenang, aku akan mendapatkanmu, sekalipun kamu lari ke ujung dunia sekalipun,” ujar Leon.
“Bos, wanita yang bersama Non Cheli namanya Luna, menurut perawat di klinik itu, wanita itu yang mengeluarkan peluru dari tubuh Chelia,” lapor Toni lagi.
“Apa dia juga dokter?”
“Saya menelepon rumah sakit Non Chelia, kata mereka Luna perawat di sana , selalu bertugas mendampingi Chelia.”
“Baiklah … bagaimana keadaan wanita itu?” tanya Leon memijit batang hidungnya, ia sampai mengabaikan telepon dari Hara.
“Dia juga belum sadarkan diri, Bos,” jawab Toni menghela nafas berat, apa yang dirasakan bapak tiga anak itu dapat mereka rasakan.
“Kumpulkan orang-orang mu, Aku ingin si Keparat itu dapat malam ini!” intah Leon dengan tegas.
“Baik Bos.” Toni bahkan tidak berani menatap mata Leon karena sorot matanya yang tajam bagai laser.
“Bawa lelaki itu padaku , Aku akan mengulitinya,” ucap Leon , wajah mengeras dan urat leher bertarikaan.
"Baik Bos." Toni, Bimo, Bram ditugaskan menangkap
__ADS_1
Bersambung.