
Leon tidak ingin putranya jadi penjahat seperti dirinya di masa lalu, ia ingin Okan dihargai dan dikenal banyak orang. Namun Okan lebih memilih jalan terjal yang gelap, ia ingin seperti ayahnya. Maka itu Leon menunjukkan padanya bagaimana menjadi mafia. Malam itu, Okan dibawa paksa sama anak buahnya. Leon sangat marah dengan apa yang dilakukan Leon, saat ia dan istrinya bersusah payah agar keluarga mereka tidak terlibat lagi dengan kegelapan. Okan putra sulung Leon seolah-olah menariknya kembali ke dalam kegelapan itu.
Setelah menarik napas panjang Leon melepaskan pakaiannya dan menunjukkan pada putranya bagaimana untuk bertarung, malam itu juga ia melatih putranya, lebih tepatnya menghajar sampai babak belur.
“Bangun Kamu!” pinta Leon setelah Okan terduduk kehabisan tenaga, Lalu Leon memegang kayu baru lagi setelah gagang sapu pertama patah karena ia gunakan menghajar Okan, kini ia menggunakan kayu kedua.
“Berikan Aku waktu bernapas,” ujar Okan membuang ludahnya yang penuh darah, wajahnya babak belur di hajar.
“Kamu pikir bisa seperti itu jika berhadapan musuh? Ayo tunjukkan padaku kemampuan-kemampuan mu! Tunjukkan padaku kalau kamu sudah dewasa,” ujar Leon terus memprovokasi Okan, lelaki tampan itu berdiri menggunakan tongkat di tangannya sebagai penopang tubuhnya.
Hiaak!
Ia kembali mengayunkan tongkat kayu ke arah Leon, Leon meladeninya dengan santai, bahkan satu tangan, seolah-olah Okan hanya anak kecil di matanya.
Buak!
Aaak!
Satu pukulan kuat kembali mengenai punggung Okan, ia melepaskan pakaiannya memperlihatkan tubuhnya yang putih dan otot tubuh yang baru mulai terbentuk dengan tato yang persis sama seperti sang ayah.
Leon sudah terlebih dulu melepaskan pakaiannya, tetapi seperti berbanding balik dengan putranya, Leon memiliki tubuh yang keras berotot, tubuh kekar dengan kesan tegas dan berkharisma, walau sudah berumur tetapi Leon menjaga bentuk tubuhnya agar tetap berotot
Kini bapak sama anak itu saling berhadapan dengan, tato yang tergambar di tubuh keduanya sama persis. Anak buah Leon hanya menonton mereka berdua.
“Kenapa? Kamu kesakitan? Ingin menyerah?” tanya Leon dengan tatapan datar, ia menatap putranya dengan tatapan merendahkan seolah-olah Okan baru anak kemarin sore.
“Tidak, Aku akan menghajarmu!” balas Okan marah.
“Bocil sepertimu mana bisa melawanku. Maju!”
Leon membuang kayu di tangannya, ia melawan Okan dengan tahan kosong.
“Buak-Bak!
Satu pukulan keras kembali mendarat di perut dan di wajah. Leon membuat putranya tidak bisa berkutik, ia terhuyung beberapa langkah ke belakang.
__ADS_1
“Apa Bos tidak terlalu keras itu?” tanya Ken khawatir dengan wajah Okan yang babak belur.
“Aku juga berpikir seperti itu, kasihan Okan sudah kelelahan,” ujar Bimo.
Tapi Ken, Toni hanya diam, mereka tahu Leon ingin menunjukkan padanya kalau berhadapan dengan para mafia dan gangster memang keras dan kejam, karena Leon sudah mengalami semua itu, luka ditubuhnya bukti betapa keras perjalanan hidup yang ia jalani saat ia masih muda.
“Tenanglah. Bos tahu apa yang dilakukan,” ujar Zidan.
Melihat Okan tidak bertenaga lagi, Leon melemparkan kayu, berbalik badan berniat meninggalkan tempat tersebut. Tiba-tiba Okan berkata seperti ini;
“Apa Ayah marah karena Aku mengikuti jejakmu?”
“Tidak, Ayah tidak marah, hanya saja kamu masih belum siap dengan yang kamu pilih,” ujar Leon tenang, sikapnya yang tenang dan tatapan datar jadi ciri khas Leon dari dulu. Okan juga tampan dari ayahnya, karena Hara ibu Okan sangat cantik, Leon dan Okan memiliki sikap yang sama yakni sama-sama keras dan tidak terlalu banyak bicara, hanya saja karena Okan masih muda strategi perangnya masih jauh dibawah ayahnya Jika Leon selalu bertindak cerdas dan berpikir panjang sebelum bertindak, maka Okan selalu bertindak gegabah dan menyesal kemudian.
“Aku hanya ingin seperti Ayah, kuat dan disegani semua orang!” teriak Okan.
“Kenapa kamu ingin seperti Aku? Padahal ibumu ingin kamu jadi orang yang sukses.”
“Aku benci diatur-atur, Aku ingin menjalani hidupku seperti yang Aku mau. Aku benci jadi orang lemah, Aku benci diriku yang selalu dikhianati!” teriak Okan dengan marah.
“Aku ingin Ayah percaya padaku!”
Leon menyengitkan kedua alisnya saat Okan berkata seperti itu.
“Apa maksudnya?” tanya Leon bigung, karena selama ini ia tidak pernah menekan dan mengatur-atur Okan, hanya istrinya yang selalu mengingatkan Okan jangan pulang malam, jangan bergaul dengan orang yang bermasalah, kalau Okan belum pulang di atas jam sepuluh malam, Hara akan menelepon dan selalu menasehatinya terus menerus, hal yang wajar karena seorang ibu tidak ingin hal buruk terjadi pada putranya. Tetapi Leon hanya mengawasi putranya dengan diam-diam, tidak pernah menekan ataupun memaksa.
‘Salahku dimana anak muda’ ucap Leon dalam hati, melihat wajah putranya yang babak belur Leon sebenarnya tidak tega mu.
“Ayah tidak percaya padaku, selalu memperlakukanku seperti anak kecil, mengatur hidupku.”
Leon tidak bisa berkata-kata, rasanya ia ingin menghancurkan gudang itu pelampiasan, ternyata Hara mendengar semua yang dikatakan Okan, akhirnya ia mengerti kenapa putranya mengukir tato di tubuhnya, karena ia ingin bebas, seperti saat ayahnya muda dulu. Hara sangat kecewa mendengar penuturan putranya, ia akhirnya paham selama ini Okan melakukan semua pekerjaan nya bukan karena kemajuannya, ia terpaksa mengurus perusahaan bidang jasa pengiriman itu karena tidak tega sama ibunya. Hara merasakan hatinya hancur. Putrinya masih berbaring koma di rumah sakit karena ulah para gangster Okan malah ingin seperti mereka.
“Ibu …!” Bimo terkejut.
“Hara …?” Leon juga kaget saat istrinya datang ke gudang.
__ADS_1
“Ibu.“ Okan menunduk.
Hara berjalan mendekat, “ Adikmu masih terbaring koma di rumah gara-gara penjahat itu. Apa kamu ingin m seperti mereka?” tanya Hara dengan suara bergetar.
“Maaf kan Aku, IBu,” jawab Okan.
“Ibu sangat kecewa denganmu. Karena, Ibu pikir selama ini kamu melakukannya karena keinginan sendiri, ternyata kamu terpaksa,” ujar Hara.
“Ibu, Aku sudah dewasa, Aku tahu mana yang terbaik untuk hidupku.”
Hara menutup mata lalu ia berkata lagi. “Kamu tidak akan bisa seperti ayahmu Okan dan Ibu juga berharap jangan seperti ayah, kamu tidak tahu kesulitan apa yang dihadapi dan bagaimana mereka berjuang melepaskan diri dari sana.”
Melihat wajah sedih istrinya, Leon datang memeluk pundaknya dengan erat.
” Kenapa datang ke sini?”
“Aku khawatir kamu memukulnya tapi sepertinya ibu terlambat datang,” ujar Hara.
“Jangan khawatir aku hanya melatih bagaimana caranya menghadapi musuh. Bagaimana dia menangkap penjahat yang menculik adiknya, kalau dia lemah? Aku minta maaf Bu mulai hari ini aku akan keras padanya, agar dia tahu bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua.”
“Yah, apa yang ingin kamu lakukan.”
“Dia sudah memilih takdirnya, kita tidak bisa melarangnya, tapi kita akan beri ia bekal,” ujar Leon
Leon membujuk Hara agar percaya padanya untuk mendidik Okan, setelah tahu apa yang dilakukan Leon selama ini di belakang keluarganya, untuk pertama kalinya ia mengizinkan Leon untuk memberi Okan pelajaran tentang bagaimana bertahan hidup alam mafia.
“Maafkan Aku sayang jika suatu saat kami berdua memegang senjata dan terluka karena senjata lagi,” ujar Leon.
“Baiklah, dia yang menginginkan itu Aku tidak bisa menolaknya, harapanku hanya Lucas. Itu artinya bapak anak akan jadi mafia lagi,” ujar Hara.
“Aku akan melibatkan Okan untuk misi kali ini, agar dia tahu pistol yang digunakan para mafia itu bukan pistol mainan, agar dia tahu bagaimana kehidupan para gangster.”
Hara hanya mengangguk dan menahan tangisan dan meninggalkan gudang tersebut, tidak bisa dibayangkan perasaan Hara ketika tahu kalau suami anak kesayangannya kembali jadi mafia. Misi Leon dan pasukannya ingin menangkap Dave dan anak buahnya.
Bersambung
__ADS_1