
Melihat Luna keberatan menceritakan tentang kehidupan pribadinya ia tidak memaksa
“Baiklah saya tidak akan memaksa kamu Luna, saya tidak ingin salah sangka padaku, hanya ingin tahu tentang karyawan yang bekerja di perusahaan saya.”
“Apa Bapak juga melakukannya pada Sinar?” tanya Luna.
‘Kenapa aku harus melakukan itu pada orang lain … aku menyelidiki tentang hidupmu karena kamu istimewah Luna’ ucap Okan dalam hati ia menunjukkan sisi berbeda dari dirinya.
“Ya karena kamu menarik,” ujar Okan dengan santai.
“Tidak ada yang menarik tentang hidupku Pak. Intinya aku hidup di dari desa di pinggir pantai dan dijaga oleh kedua kakak laki-lakiku menjagaku dengan ketat,” ujar Luna lagi.
“Baiklah, saya mengerti.”
Suasana jadi hening beberapa menit mereka saling diam, Luna mendadak jadi pendiam . Melihat Luna jadi pendiam Okan merasa tidak nyaman.
‘Apa dia tersinggung karena Aku bertanya tentang kehidupan pribadinya?’ tanya Okan dalam hati.
“Baiklah, maaf pertanyaanku bikin kamu tersinggung say-”
“Pak, boleh kah kita lanjut nanti saja,” potong Luna sedikit tidak sopan.
“Kenapa?” wajah Okan datar.
“Aku sangat lapar dan rasanya kakiku tidak kuat lagi berjalan.”
Ternyata Luna tiba-tiba jadi pendiam karena kelaparan, wajah Okan yang tadinya buran kembali tersenyum kecil.
“Jadi kamu tiba-tiba jadi pendiam karena lapar?”
“Ya … lapar bangat sampai rasanya ingin pingsan.” Luna memegangi perut.
“Baiklah ayo ke ke kamarku, kamu makan di sana kalau kamu makan di sini banyak orang yang akan melihatmu nanti. Aku tidak ingin ada gosif di kantor tentang saya dan kamu.” pungkas Okan
“Ya, baiklah,” sahut Luna tanpa membantah, ia bahkan tidak menolak saat di ajak ke kamar lah Okan, dalam pikirannya Luma ia diajak ke sana agar tidak ada melihat mereka.
Okan sempat terkejut,. tadinya ia pikir kalau Luna akan menolak di ajak ke kamar. Lalu berjalan menuju lift walau banyak orang yang menatap Okan ataupun curi-curi pandag pandanya. Namun lelaki tampan itu terihat tidak perduli, ia berdiri dan kedua tangannya di masukkan ke dua sisi saku celana. Banyak orang dalam lift karena itu Luna sengaja mencari jarak saat Okan, saat Okan turun ia juga turun berjalan di belakang Okan.
“Apa kamar Bapak juga di lantai sini?” tanya Luna menatap punggung Okan yang berjalan di depannya.
“Ya.”
“Aku juga di lantai ini … Apakah kamar kita dek-” kalimat Luna menggantung saat Okan menempelkan card miliknya ke pintu kamar di depan Luna
“Apa kamar kita depan-depanan?” tanya Luna dengan bola mata membesar.
__ADS_1
“Mari masuk.” Okan membuka pintu, membiarkan peranyaan Luna menguap begitu saha
Walau masih terkejut, tapi Luna masih tetap masuk ia takut ada orang lain yang melihat dirinya masuk ke kamar bos Okan.
Saat ia masuk dan kembali menujukkam ekspresi takjub mata Luna melonggo dengan isi kamar Okan kamar yang ditempati bos tersebut kamar tipe penthouse room di lengkapi semua pasilitas.
“Wow … kamar yang aku tempati sudah bangus , ternyata kamar Bapak lebih bagus,” ucap Luna dengan takjup, lalu ia mendorong pintu menuju balkon, mulut Luna terus berucap ‘wow’
“Kamu mau makan apa?” tanya Okan memegang gagang telepon.
“Apa saja Pak,” sahut Luna tanpa menoleh/
“Kamu sebutkan saja … saya tidak tahu makanan apa yang kamu suka,” ujar Okan ia menatap Luna yang masih berdiri di balkon.
“Nasi goreng seapod juga tidak apa-apa Pak,” masih menatap ke arah pantai lalu berjalan mengelilingi semua ruangan di kamar yang di tempati.
“Duduklah yang ada kamu tambah lapar kalau mondar-mandir seperti itu,” ujar Okan ia tidak marah lagi bahkan melupakan rasa kesalnya pada Luna saat melihat wanita itu tertawa lebar dan bersikap apa adaya.
“Bapak benar, tapi apa Bapak punya makanan kecil untuk menganjal perut,” ujar Luna jujur.
“Apa kamu selapar itu?”
“Ya lapar bangat.”
“Luna, seharusnya kamu makan dulu baru konser tadi. Lihat ini sudah jam sembilan.”
Okan hanya diam dengan wajah datarr saat ia cerita tentang hari ini, Luna juga cerita betapa gugupnya Sinar naik panggung dan ia berani saat ia menemaninya. Okan membuka kulkas kecil di kamarnya. Kamar hotel tipe yang ditempati Okan menyediakan segala kemewahan.
Lalu menyodorkan pada Luna, wanita itu menerima dengan sikap tenang dan ia tetap melanjutkan ceritanya walau Okan tidak menyahutinya karena sebenarnya ia asangat marah melihat Luna dikerumuti para lelaki di pantai siang tadi.
Tapi sikap Luna yang tenang tanpa beban membuat Okan mengangkat kedua alisnya.
‘Apa dia memang sepolos itu …? bagaimana kalau ada laki-laki jahat yang membawanya ke kamar hotel apa dia mau?’ tanya Okan dalam hati, terkadang ia merasa khawatir dengan sikap polos Luna.
Tidak lama kemudian makanan pesanan datang
“Bapak tidak makan?” tanya Luna ia menatap menu hanya makan untuk satu orang.
“Saya sudah makan Luna … lihat jam itu, hanya kamu yang belum makan jam segini,” ujar Okan.
“Tadinya niat kami turun ke bawah hanya ingin makan, tapi melihat panggung dia sangat bersemangat,” tutur Luna.
“Kamu makan saja dulu, berhenti membahas tentang konser kalian tapi.”
“Baiklah.”
__ADS_1
Melihat Okan hanya diam tidak memberi respon atas ceritanya Luna berpikir kalau Okan tidak tertarik mendengar , jadi diam dan menghabiskan nasi goreng.
“Nanti setelah makan kamu dan temanmu tidak usah ikut kegiatan kantor malam ini.”
“Kenapa Pak.”
Mereka pasti akan memusuhi kalian lagi karena kejadin di panggung tadi,” ujar Okan.
Okan bahkan memikirkan hal kecil seperti itu ia tidak mau Luna dapat masalah.
“Ok, baiklah.”
*
Di sisi Lain
Bimo dan Bram mendapat kabar dari Naira kalau Dave sudah meninggal. Naira baru pulang Batam, rencananya ia ingin menemui sahabatnya Chelia. Ternyata saudara kembar Okan itu sudah menunjukkan kemajuan Chelia sudah sadar walau harus duduk di kursi roda.
“Bagaimana keadaan Chelia Om?” tanya Naira.
“Sudah membaik , hanya tinggal pemulihan. Tapi bagaimana dengan gadis muda yang diculik dengan kalian saat itu apa kamu mengenalnya?” tanya Bram
“Chelia baru memperkenalkan setengah jam sebelum di culik, aku juga tidak mengelanya. Justru itu yang aku tanyakan,” ujar Naira.
“Kenapa?” Bimo saling menatap
“Dia adik Dave, lelaki itu sudah meninggal.”
“Apa? Lalu siapa lelaki -”
“Dia Stanley adik Dave … dia sedang mencari adiknya juga. Apa benar om Leon menyekapnya?” tanya Naira penasaran.
“Apa maksudnya? Itu tidak mungkin.” Bimo bigung untuk menjawab pertanyaan Naira karena Luna tidak di culik, tetapi ia sudah membuat kesepakatan tidak boleh keluar dari rumah Leon sebelum mereka pulang ke Indonesia.
“Sebenarnya Aku ingin datang ke Canada untuk memastikan apa gadis muda itu dibawa ke sana.”
“Siapa yang memintamu?” tanya Bram.
“Stanley hanya ingin adiknya karena dia tidak bersalah,” ujar Naira.
“Apa kamu diminta mencari adiknya ke Canada?” Bram menatap Naira.
“Aku hanya tidak ingin kesalapahaman, makanya Aku akan ke sana sebelum Stanley ke sana dan melakukan hal yang buruk,” tutur Naira
Naira berencana akan menjenguk Chelia ke Canada sebelum Stanley kesana. Stanley berpikir kalau Leon menyembunyikan Luna Ia menyelidi Okan, ternyata Okan juga tidak taku tentang Luna adiknya, karena Okan memang tidak tahu kalau Aluna adik Stanley.
__ADS_1
Bersambung