Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Menyelidiki Tentang Aluna


__ADS_3

Melihat Luna keberatan menceritakan tentang kehidupan pribadinya ia tidak memaksa


“Baiklah saya tidak akan memaksa kamu Luna,  saya tidak ingin salah sangka padaku, hanya ingin tahu tentang karyawan yang bekerja di perusahaan saya.”


“Apa Bapak juga melakukannya pada Sinar?” tanya Luna.


‘Kenapa aku  harus melakukan itu pada orang lain  … aku menyelidiki tentang hidupmu karena kamu  istimewah Luna’ ucap Okan dalam hati ia menunjukkan sisi berbeda dari dirinya.


“Ya karena kamu menarik,” ujar Okan dengan santai.


“Tidak ada yang menarik tentang hidupku Pak. Intinya aku hidup di dari desa di pinggir pantai dan dijaga oleh kedua kakak laki-lakiku  menjagaku dengan ketat,” ujar Luna lagi.


“Baiklah, saya mengerti.”


Suasana jadi hening beberapa menit mereka saling diam, Luna  mendadak jadi pendiam . Melihat Luna jadi pendiam Okan merasa tidak nyaman.


‘Apa dia tersinggung karena Aku bertanya tentang kehidupan pribadinya?’ tanya Okan dalam hati.


“Baiklah, maaf pertanyaanku bikin kamu tersinggung say-”


“Pak, boleh kah kita lanjut nanti saja,” potong Luna sedikit tidak sopan.


“Kenapa?” wajah Okan datar.


“Aku sangat lapar dan rasanya  kakiku tidak kuat lagi berjalan.”


Ternyata Luna tiba-tiba jadi pendiam karena kelaparan, wajah Okan yang tadinya buran kembali tersenyum kecil.


“Jadi kamu tiba-tiba   jadi pendiam karena lapar?”


“Ya … lapar bangat sampai rasanya ingin pingsan.” Luna memegangi perut.


“Baiklah ayo ke ke kamarku, kamu makan di sana kalau kamu makan di sini banyak orang yang akan melihatmu nanti. Aku tidak ingin ada gosif di kantor tentang saya dan kamu.” pungkas Okan


“Ya, baiklah,” sahut Luna tanpa membantah, ia bahkan tidak menolak saat di ajak ke kamar lah Okan, dalam pikirannya Luma ia diajak ke sana agar tidak ada melihat mereka.


Okan sempat terkejut,. tadinya ia pikir kalau Luna akan   menolak  di ajak ke kamar. Lalu berjalan menuju lift  walau banyak orang yang menatap Okan ataupun curi-curi pandag pandanya. Namun  lelaki tampan itu terihat  tidak perduli, ia berdiri  dan kedua tangannya di masukkan  ke dua sisi saku celana. Banyak  orang dalam lift karena itu Luna sengaja mencari jarak saat Okan, saat Okan turun ia juga turun berjalan di belakang Okan.


“Apa kamar Bapak juga di lantai  sini?” tanya Luna menatap  punggung Okan yang berjalan di depannya.


“Ya.”


“Aku juga di lantai ini  … Apakah kamar kita dek-” kalimat Luna menggantung saat Okan menempelkan  card miliknya ke pintu kamar di depan Luna


“Apa kamar kita depan-depanan?” tanya Luna  dengan   bola mata membesar.

__ADS_1


“Mari masuk.” Okan membuka pintu, membiarkan peranyaan Luna menguap begitu saha


Walau  masih terkejut, tapi Luna masih tetap masuk ia takut ada orang lain yang melihat dirinya masuk ke kamar bos Okan.


Saat ia masuk dan kembali menujukkam  ekspresi takjub mata Luna melonggo dengan isi kamar Okan kamar yang ditempati bos tersebut kamar tipe penthouse room di lengkapi semua pasilitas.


“Wow … kamar yang aku tempati sudah bangus , ternyata kamar Bapak lebih bagus,” ucap Luna dengan takjup,  lalu ia  mendorong  pintu menuju balkon, mulut Luna terus berucap ‘wow’


“Kamu mau makan apa?” tanya Okan memegang gagang telepon.


“Apa saja Pak,” sahut Luna tanpa menoleh/


“Kamu sebutkan saja … saya tidak tahu makanan apa yang kamu suka,” ujar Okan ia menatap Luna yang masih berdiri di balkon.


“Nasi goreng seapod juga tidak apa-apa Pak,”  masih menatap ke arah pantai lalu berjalan mengelilingi semua ruangan di  kamar yang di tempati.


“Duduklah yang ada kamu tambah lapar kalau mondar-mandir seperti itu,” ujar Okan ia tidak marah lagi bahkan  melupakan rasa kesalnya pada Luna saat melihat wanita itu tertawa lebar dan bersikap apa adaya.


“Bapak benar, tapi apa Bapak punya makanan kecil untuk menganjal perut,” ujar Luna jujur.


“Apa kamu selapar itu?”


“Ya lapar bangat.”


“Luna, seharusnya kamu makan dulu baru konser tadi. Lihat ini sudah jam sembilan.”


Okan hanya diam dengan wajah datarr saat ia  cerita tentang hari ini, Luna juga cerita betapa gugupnya Sinar naik panggung dan ia berani saat ia menemaninya. Okan membuka kulkas kecil di kamarnya. Kamar hotel  tipe yang ditempati Okan menyediakan  segala kemewahan.


Lalu menyodorkan pada Luna, wanita itu menerima dengan sikap  tenang dan ia tetap melanjutkan ceritanya walau Okan tidak menyahutinya karena sebenarnya ia asangat marah melihat Luna dikerumuti para lelaki di pantai  siang tadi.


Tapi sikap Luna yang tenang tanpa beban membuat Okan mengangkat kedua alisnya.


‘Apa dia  memang sepolos itu …? bagaimana kalau ada laki-laki jahat yang membawanya ke kamar hotel apa dia mau?’ tanya Okan dalam hati, terkadang ia merasa khawatir dengan sikap polos Luna.


Tidak lama kemudian  makanan pesanan datang


“Bapak tidak makan?” tanya Luna ia menatap menu hanya  makan  untuk satu orang.


“Saya sudah makan Luna … lihat jam itu, hanya kamu yang belum makan jam segini,” ujar Okan.


“Tadinya niat kami turun ke bawah hanya ingin  makan, tapi melihat panggung dia sangat bersemangat,” tutur Luna.


“Kamu makan saja dulu, berhenti membahas tentang konser kalian tapi.”


“Baiklah.”

__ADS_1


Melihat Okan hanya diam tidak  memberi respon atas ceritanya Luna  berpikir kalau Okan tidak tertarik mendengar , jadi  diam dan  menghabiskan nasi goreng.


“Nanti setelah  makan kamu dan temanmu tidak usah ikut kegiatan kantor malam ini.”


“Kenapa Pak.”


Mereka pasti akan memusuhi kalian lagi karena kejadin di panggung  tadi,” ujar Okan.


Okan bahkan memikirkan hal kecil seperti  itu ia tidak mau  Luna dapat masalah.


“Ok, baiklah.”


*


Di sisi Lain


Bimo dan  Bram mendapat kabar  dari Naira kalau Dave sudah meninggal. Naira baru pulang Batam, rencananya ia ingin menemui  sahabatnya Chelia. Ternyata  saudara kembar Okan itu sudah menunjukkan kemajuan Chelia sudah sadar walau harus duduk di kursi roda.


“Bagaimana keadaan Chelia Om?” tanya Naira.


“Sudah membaik , hanya tinggal pemulihan. Tapi bagaimana dengan gadis muda yang diculik dengan kalian saat itu apa kamu mengenalnya?” tanya Bram


“Chelia baru memperkenalkan setengah jam sebelum di culik, aku juga tidak mengelanya. Justru itu yang aku tanyakan,”  ujar Naira.


“Kenapa?” Bimo saling menatap


“Dia adik Dave,  lelaki itu sudah meninggal.”


“Apa? Lalu siapa lelaki -”


“Dia Stanley adik Dave … dia sedang mencari adiknya juga. Apa benar om Leon menyekapnya?” tanya Naira penasaran.


“Apa maksudnya? Itu tidak mungkin.”  Bimo bigung untuk menjawab pertanyaan Naira karena Luna tidak di culik, tetapi ia sudah membuat kesepakatan tidak boleh keluar dari rumah  Leon sebelum mereka pulang ke Indonesia.


“Sebenarnya Aku ingin datang  ke Canada untuk memastikan apa gadis muda itu dibawa ke sana.”


“Siapa yang memintamu?” tanya Bram.


“Stanley hanya ingin adiknya karena dia tidak bersalah,” ujar Naira.


“Apa kamu diminta mencari adiknya ke Canada?” Bram menatap Naira.


“Aku  hanya tidak ingin kesalapahaman, makanya Aku akan ke sana sebelum Stanley ke sana dan melakukan hal yang buruk,” tutur  Naira


Naira berencana akan menjenguk Chelia ke Canada sebelum Stanley kesana. Stanley berpikir kalau Leon menyembunyikan Luna Ia menyelidi Okan, ternyata Okan juga tidak taku tentang Luna adiknya,  karena Okan memang tidak tahu kalau Aluna adik Stanley.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2