
Okan merasa bersalah atas semua tindakan nya, Juna masih di rumah sakit, sementara Chelia masih di rumah sakit wanita cantik itu belum sadarkan diri.
“Maafkan Aku Che,” ujar Okan menatap waja adiknya yang penuh luka-luka, kepalanya dibalut perban berwarna putih setelah di operasi.
“Aku salah,” ujar Okan.
Setelah menjenguk adiknya ia keluar dari kamar Chelia, Zidan mengajaknya bicara.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Tidak baik Om, Aku merasa sangat bodoh, kalau saja Aku tidak melakukan kesalahan semua tidak akan seperti ini.”
“Ya, kalau saja kalian langsung mengabari kami saat Chelia di culik kemungkinan tidak akan separah ini.” Zidan menghela napas, ia menatap putra bosnya dengan tatapan bersalah. “Okan ….” Zidan menghela napas panjang lagi lalu berkata dengan pelan:
“Jangan bergaul dengan Danis.”
“AAA?” Okan kaget saat lelaki itu memintanya untuk menjauhkan putranya.
“Ada Apa Om?”
“Dia menghianatimu dan Juna.”
“Apa?” Mata Okan melotot tidak percaya.
“Apa maksudnya?”
Zidan memperlihatkan CCTV sebelum Juna terhempas ke pintu sebelum polisi memberinya tiga tembakan yang mendorong Juna ke pintu itu ternyata Danis. Putra dari Zidan itu mengorbankan nyawa teman-temanya demi bisa membawa kabur barang rampokannya.
“Apa maksudnya? Bukannya dia sudah berubah?”
“Okan. Orang tamak susah untuk berubah, jika dia musuh ayahmu artinya dia juga musuhku,” ujar Zidan.
“Apa sebenarnya yang dia inginkan?”
“Aku pikir masih sama seperti ambisi beberapa tahun yang lalu, dia ingin membangun kembali apa yang pernah kami tinggalkan dulu.”
“Dia ingin jadi mafia?” tanya Okan.
“Dia ingin menciptakan senjata yang mampu menghancurkan satu kota, dia punya ambisi yang berbahaya Okan,” ujar Zidan.
“Apa dia bekerja sendiri?”
__ADS_1
“Tidak, dia bekerja sama dengan para pejabat dan beberapa profesor.”
“Apa dia sehebat itu?”
“Ternyata kita semua di prank, selama ini dia mau masuk ke ruang rehabilitasi agar dia bebas dari hukuman penjara.”
“Jadi selama ini kita semua di kadalin sama dia?”
“Hanya kita, Ayahmu sudah tahu sebenarnya, karena itu lah dia mengumpulkan orang-orangnya dia tahu akan ada masalah besar.” Zidan mengusap wajahnya dengan kasar.
‘Ternyata selama ini Aku menyekolahkan seorang monster yang tidak punya hati’ ucap Zidan dalam hati seketika ia merasa gagal menjadi seorang ayah.
Okan merasa kepalanya bagai dipukul pakai palu, orang yang dianggap sahabat kembali menghianatinya untuk kedua kali, bukan hanya dirinya yang dikhianati bahkan Juna ingin dicelakai. Rasa bersalah semakin menggunung dalam hatinya.
“Sepertinya Aku akan membawa masalah lebih besar lagi Om.” Okan memperlihatkan tato naga dan simbol persekutuan yang ia ukir dalam tubuhnya.
“Oh sial,” ujar Zidan mengumpat.
“Aku hanya ingin seperti dia, tidak tahu akan membawa masalah,” ujar Okan .
“Kamu akan menyebabkan masalah dalam keluargamu Okan … nenekmu, Ibumu, Ayahmu, mereka bertiga susah payah memutuskan hubungan dengan mereka agar kamu dan adik-adikmu tidak terlibat dalam persekutuan itu lagi. Namun kamu memakai simbol itu lagi . Jika musuh melihat simbol itu mereka akan mengira kalau ayahmu masih terlibat.”
Okan tidak tahu keinginannya untuk meniru tato ayahnya akan membawa petaka untuk keluarganya, ia hanya kagum pada sosok Leon dan pelatihnya dengan suka rela membuatkan tato yang sama persis seperti ayahnya.
“Itu wajar, masalah yang satu belum selesai kamu sudah memulai masalah baru lagi . Apa kamu tahu kalau Naira masih disandera penjahat itu?”
“Bukannya Naira selamat Om, tadi kata dokter dia bersama teman.” Wajah Okan painik.
“Sayangnya bukan Naira, itu teman yang lain namanya Luna.”
Mendengar Naira tidak ikut selamat otak Okan semakin panas, dikhianati, disalahkan orang tua, adik kesayangan koma wanita yang dicintai disandera. Lelaki itu merasa muak pada dirinya sendiri, ia ingin marah tapi tidak tahu harus melampiaskan kemana.
Okan melajukan kendaraannya ingin mencari Naira sendirian, ia ingin menjauh dan menghilang dari keluarganya. Sikapnya yang belum dewasa akan menyeret lelaki berwajah tampan itu dalam masalah, jika ia selalu bertindak nekat ia bukan hanya mencelakai dirinya hal itu juga bisa menyebabkan ayahnya dalam masalah besar. Jika Leon selalu berhati-hati dalam bertindak maka putra sulungnya justru kebalikannya, Okan selalu bertindak nekat tanpa berpikir. Demi Naira wanita yang ia cintai ia berani berkorban.
Okan sebenarnya orang yang pintar sama sepertinya, hanya saja tidak ada yang mengarahkannya bagaimana cara bertindak yang benar, ia tidak tahu bagaimana cara para mafia kelas atas bekerja. Leon tidak mau mengajari putranya karena ia tidak ingin Okan mengikuti jejaknya sebagai mafia. Semua orang tua juga akan seperti itu hanya ingin yang baik untuk putranya.
Kali ini juga ia kembali mengulang kesalahan yang sama` yakni bertindak hanya mengandalkan logika, setelah menyelidiki keberadaan Dave gangster yang menculik Naira, Okan langsung datang menuju sebuah clup malam, ia ingin menyelamatkan wanita idamannya.
Di sisi lain.
Toni, Ken dan beberapa anak buahnya mencari keberadaan Dave, dan mereka menemukan pria bertato burung elang itu di sebuah clup malam melakukan transaksi. Toni menyalakan alat komunikasi di kupingnya.
__ADS_1
“Bos kami menemukannya,” ujar Ken memberi laporan.
“Katakan di mana?”
“Dia berada di kandang macan Bos.”
“Apa kamu bisa membawanya padaku hidup-hidup?”
“Sedang diusahakan Bos. Tapi Bos … kenapa ada Okan?”
“Okan?”
“Ya Bos, sepertinya dia ingin bertindak sendiri untuk menyelamatkan Naira.”
“Anak tidak punya otak! Saya memintanya untuk berada di rumah kenapa malah datang ke sana? Awasi dia dan bawa pulang.
“Baik Bos.”
“Batalkan misi, suruh anak buahmu mundur,” pintah Leon terpaksa rencana yang sudah di susun jadi berubah karena lagi-lagi Okan mengacaukan semuanya.
Toni menghubungi anak buahnya lagi, meminta mereka untuk mundur dari rencana awal , misi mereka kali ini membawa Okan pulang dengan selamat sebelum Dave dan penjahat lain menangkap lalu menggunakan anak itu mengancam Leon.
Okan malah minum dan mulai membuat keributan, ia ingin mendekati Dave, dua orang anak buah Dave menangkap Okan dan menyeret keluar, pertarungan dimulai. Okan walau setengah mabuk masih bisa melawan.
Buak!
Pak!
Suara pertarungan mereka di sebuah ruangan kosong, dua lawan satu Okan masih bisa menaklukkan mereka. Sepertinya kedua pengawal Dave tidak ingin melawan Okan lama-lama ia mengeluarkan pistol dari balik punggungnya dan mengarahkan ke kepala Okan.
Tidak diduga seorang lelaki bertopi hoddy bernama Asta Stanley membantu Okan, ia memukul tangannya dengan sepotong kayu dan pistol itu terjatuh lalu merebutnya.
“Siapa kamu? jangan ikut campur!
“Kalau kamu ingin bertarung, bertarunglah secara jantan, jangan menembak lawan dari belakang itu tindakan pengecut,” ujar Asta Stanley lalu memutar tubuhnya,
Pak!
Satu tendangan maut menghantam dada lelaki bertubuh tinggi besar itu, tubuhnya masih berdiri kokoh.
“Oh, kamu menantangku.” Stanley melepaskan topi Hoddynya memperlihatkan wajahnya, kedua anak buah Dave itu mengangkat kedua alis mereka, wajah tampan itu sangat mirip dengan Dave, saat ingin bertarung lagi, tiba-tiba suara tembakan terdengar di luar.
__ADS_1
Tidak ingin mengundang keributan di clup yang dijuluki ‘Kandang Macan’ Asta Stanley menarik tangan Okan dan mengajaknya melarikan diri pemilik clup malam itu, pemilik club' itu disebut juga iblis bermata satu, siapa yang berani membuat keributan dalam barnya, ia tidak segan-segan menghabisinya saat itu juga, bahkan polisi tidak ada yang berani mengusik clup besar tersebut karena di sanalah para gangster, mafia, perampok bersenjata.
Bersambung