Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Dituduh Tidur Dengan Bos


__ADS_3

Saat sedang ngobrol sambari menemani Sinar makan siang , tiba-tiba Intan datang entah dari mana,  wanita jahat tu sudah berdiri di belakang mereka.


“Ternyata kamu hanya pura-pura polos, ya.” ucapnya tiba-tiba.


“Maksud kamu apa?” Luna berdiri,  ia tidak pernah takut dengan malut jahat seperti Intan.


“Kamu pikir Aku tidak tahu kalau kamu tidur dengan Pak Okan di kantor ini?”


Mendapat fitnah yang  memalukan seperti itu,  Luna kaget bukan kepalang. Ia melotot dan menampar wajah Intan dengan keras.


Pak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Intan, wanita itu sebenarnya cantik, hanya saja mulutnya terlalu beracun. Ia selalu mencari gara-gara pada karyawan yang lebih cantik darinya, ia juga tidak suka melihat karyawan lain dekat dengan atasan mereka, Intan salah satu orang suka sirik sama orang lain.


“Jaga mulut kamu, ya!” bentak Luna dengan tegas.


“Kamu berani ya menamparku!” Ia ingin membalas memukul kepala Luna dengan botol minum, untung Sinar menahan tangannya.


“Berhenti memfitnah orang sebelum mulutmu busuk  kena karma,” pungkas Luna dengan kesal.


“Kamu pikir aku tidak tahu? Pak Maman penjaga gedung ini yang bilang padaku kalau kamu menginap di kantor dan dia melihatmu mengambil pakaian ganti  di ruangan satpam dengan rambut yang acak-acakan. Apa ibumu juga mendukung kamu tidur sama bos?’


Luna sebenarnya  tidak ingin ada keributan di kantor,  beberapa hari ini ia selalu menahan diri agar tidak marah, tetapi mendengar wanita sinting itu menghina ibunya ia jadi marah. Beberapa hari yang lalu saat mereka di rumah Tetua adat, sudah di nasehati  istri tetua kalau Intan akan memberinya kesulitan, akhirnya  sekarang terbukti.


‘Apa kesulitan ini yang dimaksud nenek itu?’ tanya Luna dalam hati.


“Dasar wanita munafik!” teriak Intan lagi.


Mendengar keributan di ruangan para staf dan Bu Tika datang dan menghentikan mereka berdua.


“Berhenti kalian berdua!” teriak Bu Tika.


Luna menghela nafas panjang, ia tahu akan mendapat hukuman lagi dari Bu Tika. Baru beberapa waktu yang lalu ia dapat Skors sepertinya akan dapat kartu merah lagi, semua gara-gara Intan.


“Gara-gara lu si Intan, kamu gak ada kapok-kapoknya cari masalah sama Luna,” ujar Sinar,  ia geram sama wanita tersebut.


“Diam lu!  Teman lu ini gak menampar gua duluan,” bentak Intan.


‘Harusnya aku menahan diri. Om Bimo akan marah  kalau tahu  aku  bermasalah lagi di kantor. Bagaimana kalau dia tidak memperbolehkanku ikut liburan kantor’ ucap Luna menghela napas.


“Kalian berdua ke ruangan saya, sekarang!” bentak Tika atasan mereka lagi.


“Baik, Bu.” Luna menutup kunci tasnya dan meletakkannya di bawah meja.


.


“Sabar ya Lun,” bisik Sinar.


*

__ADS_1


Luna kembali kena  marah dari Bu Tika  karena ulah Intan,


“Aku muak melihat ulah kalian  berdua. Kantor ini bukan untuk adu jotos dan saling jambak-jambakan, lakukan itu di luar sana!” ujar wanita yang bernama Tika itu,  ia adalah  HRD di kantor mereka. Wanita yang dikenal dengan ketegasannya dan  tatapan yang tajam.


“Dia duluan Bu, saya senior di kantor ini, tapi wanita ini sudah berani menampar saya,” ucap Intan, sekarang ia berakting seolah-olah  dirinya yang terzalimi.


‘Astaga wanita ini sangat munafik’ ucap Luna dalam hati.


“Dia tidur dengan -”


“Jaga mulutmu ya,” potong Luna dengan geram.


“Aku tidak mau tahu tentang masalah pribadi kalian, tapi jangan lakukan itu di kantor. Kali ini kalian berdua dapat SP  dari saya, tiga kali kalian dapat SP,  akan saya keluarkan,” tegas wanita itu lagi.


“Baik, Bu.” jawab kedua tanpa membantah.


“Sekarang keluar,” pintahnya lagi.


Keluar dari ruangan HRD intan  mengumpat kasar pada luna.


“Ayo kita bicara lagi.”


“Apalagi sekarang,” jawab Luna dengan sikap malas.


“Ikut saja. Kenapa ? kamu takut?” tanya Intan.


“Ngapain gue takut,” sahut Luna dengan tenang.


Intan mengajak ke arah pintu darurat.


Apa yang dilakukan Intan, ternyata  dilihat Okan kebetulan mereka bertiga ingin naik ke gedung atap,  rencananya akan terbang ke Surabaya untuk urusan bisnis,  mereka bertiga berhenti  di dekat tangga naik saat mendengar suara teriakan Intan


“Bos apa-”


“Biarkan saja kita lihat saja dari sini,” ujar Okan


“Apa lagi sekarang?” tanya Luna.


“Semua gara-gara lo, Tolol!” ucap Luna sembari  menunjuk -nunjuk wajah Luna.


“Hentikan Luna,  Aku tidak ingin dapat masalah  lagi,” ujar Luna mengepal tanganya.


“Kenapa?  Dasar wanita penggoda!”


“Apa sih sebenarnya masalahmu?” tanya Luna dengan wajah lelah.


“Aku ingin kamu keluar dari kantor ini.”


“Masalahnya, Apa?”

__ADS_1


“Berhenti bersikap sok polos Luna, kamu pikir Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan dengan Pak Okan?”


“Memang apa yang aku lakukan dengan, Pak Okan?” tanya Luna lagi.


“Kamu tidur dengannya kan?”


“Kamu wanita yang gila,  jangan memulai membuat gosip murahan Intan,” tegur Luna .


“Kamu membantah? Kamu tidak mengakuinya?”


“Aku tidak mengakuinya , karena tidak ada,” jawab Luna dengan tenang.


“Pak Maman yang bilang. Kamu  menginap di kantor.”


“Aku-”


Sebelum Luna mengakui semuanya Okan datang, ia tidak ingin Luna membongkar tentang malam itu, apalagi saat ia terluka.


“Ada apa ini?”


Mereka berdua sama-sama kaget karena Okan tiba-tiba muncul  dari balik gedung.


“Pa- Pak Okan,” sahut Intan terbata-bata.


“Kenapa ribut-ribut? suara kalian sangat mengganggu.” Okan berdiri di di depan mereka.


“Tidak Pak, kami hanya mengobrol,” jawab Intan, ia memegang tangan Luna pura-pura bersikap baik, tapi Luna bukan wanita yang suka cari muka seperti Intan, ia menepis tangan Intan.


Luna  ingin rasanya ia menampar mulut wanita itu.


“Pak Okan, dia ini menuduh saya tidur dengan Bapak. Apa  Bapak boleh minta tolong menjelaskan padanya kalau hal itu tidak terjadi?”


Wajah Intan melotot panik mendengar keberanian Luna.


“Apa kamu memfitnah saya?” tanya Okan dengan raut wajah yang kesal.


“A-a- Tidak Pak, Pak Maman yang bilang,” jawab Intan


terbata-bata,  wajahnya pucat melihat kemarahan di wajah Okan.


Saat ia terdesak maka  ia pun melibatkan orang tua itu, padahal Intan yang mengorek-gorek dan menyimpulkan sendiri. Penjaga gedung itu hanya bilang kalau Luna pernah lembur sampai pagi, ia tidak bilang kalau dia tidur sama Okan.


“Saya paling benci dituduh dan difitnah, saya tidak mau punya karyawan yang punya  mulut seperti Anda. Nanti panggil Pak Maman ke ruangan saya. Urus mereka berdua,” ujar Okan, la melirik Shin.


“Baik Bos.”


“Pak-pak bukan begitu, saya hanya bertanya pada Luna, Tolong jangan pecat saya,” ujar Intan ketakutan.


“Panggil Bu Tika, Bayu dan Maman ke ruangan saya sekarang. Batalkan saja rapat hari ini,” pintah Okan marah.

__ADS_1


Intan akan mendapat  hukuman atas mulutnya yang lancang, Okan sangat marah melihat Luna diperlakukan  jahat seperti itu.


Bersambung


__ADS_2