Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia

Pembalasan Anak Mantan Bos Mafia
Diantara Dua Pilihan


__ADS_3

Sebelum pulang ke Jakarta Bimo  memanggil Luna ke ruangannya.


“Apa Om?”


“Sini duduk dulu.” perlakukan keduanya sudah berubah sejak Luna   berhasil.


“Apa kamu membaca dengan jelas perjanjian yang diberikan Pak Leon padamu?’ tanya Bimo, Bram juga ada di sana di sana ia ikut mendengar.


“Baca … tapi tidak semuanya, intinya aku diminta bersedia melakukan apapun yang diminta Pak Leon, demi kesembuhanku aku mau menerimanya, kalau aku yang diminta bayar biaya rumah sakit kakiku. Mana mampu aku,” ujar Luna.


“ Apa kamu membaca dengan jelas?” tanya Baram penasaran.


“Om, membaca begitu banyak aku bisa mengantuk, jadi aku hanya baca sedikit lalu tanda tangan,” ujar Luna.


‘Aduh anak ini terlalu polos’ Bimo membatin.


“Lalu bagaimana menurutmu dengan lelaki ini?”


“Bimo menunjukan foto Lucas.”


“Wow … daebaaak ganteng bangat,” ujar Luna


“Dia adik Okan, namanya Lucas  Wardana, sekarang kuliah di Canada. Apa kamu mau menikah dengannya?” tanya Bram tersenyum ia seolah-olah meledek Luna.


Luna tertawa, “gak lah! dia bisa muntah saat melihatku, Om ini ngaco aja. Ayo om  pulang!  Luna ada   meeting penting nanti sore,” ujar Luna.


“Ya udah ayo.”


Pembahasan berhenti di situ saja, Luna  bahkan tidak tahu untuk apa perjanjian yang diberikan Leon padanya, tapi gadis muda itu main tanda tangan saja.


Di kantor,


Okan  terlihat sibuk menandatangani berkas di atas meja, ponselnya berdering.


Naira Call.


“Ya Nai.”


“Sibuk?” tanya gadis cantik itu di ujung telepon.


“Tidak juga. Kenapa?”

__ADS_1


“Aku mau mengajakmu makan siang. Apa kamu ada waktu?”


“Okan melihat tumpukan berkas yang ingin ditandatangani.” Ia  menggaruk kepala yang tidak gatal, ia mencoba  berpikir.


“Baiklah aku akan kesana,” jawab Okan.


Fudo dan Shin yang  sibuk di depan laptop  masing-masing saling  menoleh. Tidak biasa Okan menunda pekerjaan, apa lagi berkas yang menumpuk di atas mejanya  sangat mendesak, ia harus menandatangani berkas-berkas itu sebelum sore.


“Saya akan keluar sebentar. Kalian tidak usah ikut.” Okan meraih kunci mobil dan  bergegas ingin keluar.


“Bos, biarkan saya menyetir.” Shin berdiri.


“Saya ingin kencan Shin,  sya tidak mau  ada orang ketiga yang jadi pengganggu  di sela kencanku dengan Naira,” ujarnya datar.


“Baik Bos,”sahut keduanya serentak.


Okan keluar tanpa didampingi kedua penjaganya, beberapa hari ini ia lebih sering bertemu Naira dan meninggalkan mereka  berdua di kantor,  walau diminta untuk tinggal. Tapi Shin selalu mengawasinya dari jauh.


“Apa  bos sudah melupakan gadis manis itu?” tanya Fudo penasaran.


“Siapa maksudmu?”


“Luna, padahal baru tiga hari dia tidak masuk kantor.”


Okan  berkendara menuju kantor baru Naira, saat ia tiba ia melihat dua orang asing mengawasi  kantor Naira.


“Siapa sebenarnya para keparat itu.  Ini kedua kalinya aku melihat mereka,” ucap Okan.


Ia keluar dari mobil,   berdiri menatap kedua pria yang mengawasi kantor Naira, saat melihat Okan ada di sana mereka berdua langsung tancap gas lalu melarikan diri. Tidak lama kemudian Naira keluar, kali ini wanita cantik itu menggunakan  blus lengan panjang dipadukan rok panjang model kembang, Naira sangat pintar mengenakan  pakaian yang cocok di tubuhnya selalu terlihat stylish  dan berkelas di setiap penampilannya. Okan selalu percaya diri saat jalan bersama Naira, tidak jarang mata pria selalu tertuju pada Naira setiap kali ia melintas.


“Selamat siang,” sapa Naira sembari memamerkan senyuman yang paling manis.


“Pagi,” sapa Okan wajahnya lelaki itu seolah-lah menyimpan banyak banyak pertanyaan pada wanita yang bersama saat ini.


Okan belum tahu apa yang terjadi saat Naira diculik, ia juga  belum mengetahui hubungan Naira dan Dave, karena Stanley  mengatakan mereka tidak terlihat seperti korban penculikan. Maka setiap kali Naira mengajak Okan jalan,  Lelaki yang selalu terlihat coll itu, lebih banyak diam,


Mereka berdua masuk ke sebuah restoran mewah tidak jauh dari kantor Naira.


“Apa ada yang salah?” tanya Naira akhirnya ia  menyadari sikap Okan yang beruba.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Sikapmu itu loh makin dingin saja kian hari,” ujar Naira.


“Lalu Aku harus bagaimana Nai?” ujar Okan sembari  mengusap  mulutnya dengan tissu, ia  menyudahi acara makan, Okan hanya  makan seperempat, banyak memikul beban pertanyaan di otak membuatnya tidak selera makan.


“Cerita dong kan bagaimana hari-harimu setelah jadi CEO di Wardana Group. Apakah cewek-cewek di sana histeris karena memiliki CEO tampan?” tanya Naira.


“Tidak juga,  mereka biasa saja bahkan ada yang cuek,” ujar Okan, tiba-tiba ia teringat sama Luna yang selalu menghindarinya belakangan ini.


“Wah  … wanita yang menghindari kamu itu pasti wanita yang spesial, jarang-jarang ada perempuan yang menghindari lelaki tampan seperti kamu Okan,” ujar Naira.


Okan terdiam, tiba-tiba ia  merindukan Luna, sudah tiga hari   tidak masuk kantor.


‘Apa yang terjadi pada Luna. Kenapa dia tidak masuk kerja?’ Okan bertanya dalam hati.


“Kita langsung pulang ya Nai, Aku masih ada rapat,” ujar Okan.


“Oh, gitu baiklah.”


Okan mengangkat tangan memanggil pramusaji dan menyodorkan kartu  untuk membayar, setelah membayar makan mereka langsung pulang. Ada raut kecewa di wajah Okan karena Naira belum mau terbuka padanya tentang apa yang terjadi setahun itu. Padahal Okan sudah menunggu-nunggu Naira menceritakan  kejadian yang sebenarnya tapi wanita itu tidak menceritakannya.


Sepanjang perjalanan pulang wajah Okan terlihat tidak bersemangat sama sekali.


Saat ia tiba di ruangannya ia memijat kepala  yang terasa sangat pusing. Kalau biasanya pasangan kekasih kalau habis jalan dengan kekasih akan terlihat bahagia tetapi kali ini Okan pulang justru   membawa beban yang lebih banyak. Saat berdiri di depan jendela, matanya tiba-tiba membesar karena kaget ternyata ada Luna di taman   bersama Sinar.


Mereka dua terlihat sangat bergembira saat bertemu kembali,   seakan-akan satu tahun tidak berjumpa. Sinar beberapa kali memeluk luna dengan bahagia.


“Lun, aku sangat merindukanmu. Kamu tahu, saat kamu tidak ada aku tidak makan,” ujar Sinar memajukan bibirnya.


“Idiiih … kamu merindukanku karena makanan,” dengus Luna sambil menoyor kening  Sinar.


“Satu, karena itu, dua karena aku merindukan sahabatku,” ucap Sinar memeluk Luna dan  menyandarkan kepalanya di pundak Luna.


“Aku juga merindukanmu,” balas Luna  mengusap-usap kepala Sinar.


“Jangan tinggalkan Aku lagi sayangku,” canda Sinar, ia berakting seakan-akan mereka berdua pasangan kekasih,  lalu Sinar mendaratkan satu ciuman di pipi Luna.


Luna buru-buru  mengusap pipinya berulang-ulang sebari bergelidik, ”dasar Lisbaaang …! Ih, kamu membuatku geli,” ujar Luna mendorong tubuh sang sahabat. Sinar bukannya berhenti  ia melakukannya berulang-ulang.


Ternyata tawa bahagia bisa menular bagi orang lain, Okan ikut tersenyum melihat tingkah kedua sahabat itu, ia menggigit kepalan tangan nya untuk menutupi senyuman di bibirnya. Seketika raut wajahnya berubah, ia duduk kembali di meja kerjanya dan menandatangani berkas itu dengan semangat,


“Shin panggil pak Bayu ke ruanganku untuk membawa berkas kerjasama dengan PT . Ozal kemarin,” pintah Okan.

__ADS_1


Kedua lelaki itu menoleh Okan sama-sama dengan tatapan melongo, karena tiba-tiba saja mood Okan kembali menyala.


Bersambung….


__ADS_2