
Setelah dipanggil secara paksa, Luna duduk, ia memiringkan sedikit kepala serta menimang sesuatu.
“Apa Bapak juga membawa rantang bekal dari rumah?” tanya Luna tersenyum sangat manis, Okan menatap bibir Luna ikut-ikutan tersenyum.
“Ya, saya bosan makan-makanan di restoran, ingin menyantap makanan rumah.”
“Jadi suruh si Bibi di rumah masak?’
“Tidak, saya yang masak.”
“Ha? Benarkah?” tanya Luna membesarkan bola matanya.
“Ya coba saja.”
Mendengar Okan yang memasak sendiri Luna kaget, sekaligus sangat penasaran dengan rasa. Ia buru-buru meraih sumpit di samping piring mencicipi potongan ikan yang terlihat sangat segar.
“Oh, ini sangat enak. Bagaimana Bapak melakukan ini?”
Melihat Luna bersemangat Okan antusias menjelaskan, saat ia tinggal di hutan dulu ia harus bisa mengolah tumbuhan dan hewan di hutan agar makanan yang lezat, ia bisa memasak tapi bukan berarti makanan yang dibawa hasil masakannya.
“Ini coba saja, bukankah kamu selalu membawa bekal ini?”
Luna langsung terdiam, lalu menatap Okan dengan senyuman lemar, lalu ia bertanya.
“Apakah Bapak selalu mengintip menu bekalku?” tanya Luna, bibir tersenyum sangat manis, Ia bahkan tidak memakai riasan hari hari hanya lipbam yang dioleskan ke bibir nya agar tidak kering, penampilannya sangat polos. Namun melihatnya tersenyum tulus dan sikap polos itu , Okan selalu melihat wajahnya begitu dalam.
“Ya, ini model makanan yang selalu aku bawa. Sebenarnya aku sekalian pamer sama Sinar, aku bilang padanya kalau aku hebat masak makanan Jepang. Sinar pelanggan setiaku dan orang satu-satunya yang selalu memuji masakanku,” ujar Luna sembari tertawa.
Luna tipe orang yang selalu menyelipkan tawa di setiap kali bercerita, tawa itu juga yang kadang membuat orang ketularan ikut tertawa. Cerita Luna mengalir apa adanya polos dan selalu gembira itulah yang dilihat Okan darinya.
“Tapi dari mana bapak tahu model makananku. Kita kan tidak pernah makan bersama?” Luna menatap wajah Okan.
“Apa kamu ada teropong besar di jendela itu.” Luna melirik ke arah jendela, ada sebuah teropong mirip teropong bintang di di dekat jendela.
Lalu ia berdiri dan melihat dari teropong ke bawah semua sangat jelas, ternyata beberapa hari ini ia selalu melihat bekal makanan Luna di taman.
“Astaga, bukankah ini teropong bintang?”
“Bukan hanya bintang Luna … teropong kamu juga bisa,” ujar Okan hanya bisa tersenyum melihat tingkah dan ekspresi Luna.
__ADS_1
“Jadi selama ini bapak melihat kami makan?”
“Ya. Lihat menu makananmu. Bukankah kamu selalu makan dengan wanita berkacamata itu?”
“Ya bapak Benar, namanya Sinar Pak, Aku juga ikutan bersinar jika di dekatnya,” ucap Luna, ia memuji sang sahabat di hadapan Bos.
“Apa kamu tidak punya teman lain di kantor ini? Kenapa hanya sama dia terus?”
“Punya banyak teman kalau mereka tidak mengerti kita untuk apa Pak. Lebih baik punya satu sahabat tapi mengerti kita,”tutur Luna.
Luna kembali duduk, ia menyendok semangkuk nasi kecil untuk Okan dan satu untuk dirinya, makan bersama sembari mengobrol santai membuat Okan tampak bahagia. Apalagi Luna memuji masakannya yang dibawa.
“Saya tidak pernah menduga kalau Bos itu pintar masak, saya kira bos besar itu tidak pernah masuk dapur, ternyata pintar masak makanan Jepang kaya Saya. Suatu saat nanti Aku ingin meminta Bos memasak bersama.”
Tiba-tiba Okan menahan tawa
“Sesekali kalau tidak sibuk kadang masak sendiri dan meminta mereka membantu,” ujar Okan tersenyum.
‘Eh, dia tersenyum’ ucap luna dalam hati.
Luna tidak ingin pembicaraan mereka ke arah hal pribadi jadi ia lebih banyak membahas masakan yang dibawa Okan, ternyata masakan ala-ala Jepang itu hasil masakan Shin.
“Aku sudah menduga … masak makanan seperti itu butuh hati dan ketenangan, masakan Jepang yang aku masak ada filosofinya , tentang keberuntungan bukan asal masak,” ujar Luna.
Okan semakin tertarik dengan Luna karena ia pintar mengolah makanan, apalagi makanan yang berbau Jepang.
“Kenapa Kamu lebih suka masak makanan Jepang?” tanya Okan penasaran
“Sebenarnya bukan hanya makanan Jepang si Pak, hanya lebih suka saja, karena ada makna yang tersirat di setiap masakan. Cita-citaku dulu ingin jadi koki,” ujar Luna.
Tidak terasa mereka berdua menghabiskan semua bekal yang dibawa Okan.
“Tapi masakan Pak Shin sangat enak, sampaikan terima kasih untuknya. Terimakasih juga untuk bapak sudah mengajakku makan,” ujar Luna ia membereskan rantang susun itu kembali.
“Kenapa buru-buru, ini masih waktu makan siang.” ujar Okan, ia masih ingin mengobrol dengan Luna.
“Saya sangat banyak pekerjaan. Pak Bayu akan meneriaki ku lagi kalau tidak kerja tepat waktu,” ujar Luna mencari alasan.
Luna sebenarnya tidak ingin dekat-dekat dengan Okan karena Bimo selalu melarangnya. Tetapi Okan yang selalu ingin bertemu.
__ADS_1
Luna juga tidak ingin menimbulkan gosip dalam kantor.
“Baiklah.” Okan tidak ingin memaksa.
Luna keluar membawa berkas di tangannya tadi, keluar memasang wajah pura-pura lelah , karena tidak ingin satu kantor bergosip tentang dirinya lagi. Saat ia duduk ternyata Sinar duduk menunggu dengan cemas.
“Bagaimana Lun, Apa kamu dimarahin?” tanya wanita itu dengan wajah menegang. Luna hanya menggeleng, “dia memintamu mengulang lagi? Tidak apa-apa nanti malam aku akan menemanimu lembur. Kali ini aku janji aku akan marah sama emak kalau dia melarangku,” ujar Sinar. Luna sebenarnya sangat terharu mendengar perhatian Sinar.
“Apa kamu tidak makan siang?”
“Bagaimana mau makanannya mau masuk perut, kalau Pak Okan memarahimu seperti itu,” ujar dengan tatapan cemas.
“Tidak apa-apa Aku tidak dimarahi.”
“Lalu?”
“Hanya diminta menemaninya makan siang”
“Apa?” Mata Sinar melotot kaget.
“Sttt … jangan kencang-kencang.”
“Tapi kenapa wajahmu cemas seperti itu?” tanya Sinar.
“Entahlah … Pak Okan sudah punya kekasih tapi kenapa memintaku menemaninya makan, aku tidak ingin terlibat masalah,” tutur Luna dengan suara pelan.
“Kamu benar juga. Apa dia marahan sama kekasihnya lalu jadikan kamu sebagai pelarian?” tanta Sinar asal menebak.
“Kamu makan saja di sini nanti kamu pingsan.” Luna juga membawa bekal ke kantor rencananya mereka berdua makan bersama seperti biasa di taman kalau tidak di samping masjid di samping kantor. Karena hanya tempat itulah yang mereka anggap paling tenang untuk istirahat.
“Lun, jangan mau dipermainkan laki-laki,” ucap Sinar menasihati.
“Maksudnya?”
“Kamu jangan mau dipermainkan.”
"Tolong jangan sampai ketahuan sama karyawan lain ya, Aku tidak mau dapat masalah di kantor lagi, saat dapat skor waktu itu Aku mau gila rasanya di rumah, ini rahasia kita," bisik Luna.
Bersambung
__ADS_1