
Jiang Shing dan Xiao Mei berjalan terburu – buru menuju tempat dimana nyonya besar Jiang sedang dikerumuni para tamu saat ini
“ Apa yang sedang terjadi ?.....”, tanya Xiao Mei cemas.
“ Kakak ipar tertua tidak boleh cemas….”
“ Kami tidak akan menyalahkan Chan’er tentang masalah ini….”
“ Bagaimanapun juga dia membuat kesalahan setelah mengkonsumsi banyak alkohol….”, ucap Ruo Xinxin sok bijaksana.
Jiang Quon dan Jiang Yu yang memang sudah sangat lama ingin melihat kemalangan kakak tertuanya pun tak membuang kesempatan bagus ini.
“ Ini semua adalah salahku….”
“ Seharusnya aku tak membiarkan Chan’er terlalu banyak minum tadi….”, ucap Jiang Yu penuh penyesalan.
“ Kakak tertua, kamu tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri…”
“ Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi….”
“ Lebih baik kakak tertua memikirkan langkah apa yang akan kakak tertua ambil selanjutnya….”, ucap Jiang Quon sok bijaksana.
Wajah Jiang Shing memerah akibat menahan malu dan amarah. Dalam hati dia berjanji akan memberikan hukuman yang layak jika benar Jiang Chen melakukan perbuatan tercela seperti yang dituduhkan kepadanya.
“ Apalagi yang bisa dikatakan ?...”
“ Adik perempuanku datang ketempat ini dengan maksud baik….”
“ Tapi dia dijebak dan kehilangan kemurniannya….”
“ Tentu saja seseorang harus bertanggung jawab akan hal itu….”, ucap Wan Bai kakak kandung Wan Lu penuh amarah.
“ Lebih baik tutup mulutmu !!!....”
“ Chan’er tumbuh dengan sangat baik….”
“ Tidak mungkin baginya melakukan hal yang dangkal seperti ini….”, ucap Jiang Shin penuh emosi.
“ Benar…”
“ Chan’er bukanlah orang yang implusif….”
“ Selama ini sudah banyak keluarga bangsawan yang memiliki putri cantik datang untuk melamar kepada kami….”
“ Apa kalian pikir Chan’er akan melakukan hal konyol seperti itu dan menghancurkan masa depannya sendiri….”, ucap Xiao Mei mencibir.
Mendengar semua ucapan anak tiri dan menantunya itu, nyonya besar Jiang terlihat sangat murka apalagi dia juga menyadari jika Wan Lu bukanlah gadis yang memiliki kecantikan seorang dewi sehingga pantas diperebutkan oleh banyak orang hingga melakukan hal konyol seperti itu.
“ Saksi dan bukti semuanya ada….”
“ Kenapa kalian masih berdalih….”
“ Adik perempuanku adalah wanita yang lemah, jadi mana mungkin dia akan memaksa Jiang Chen untuk melakukan hal tidak bermoral seperti itu….”
“ Pada awalnya kupikir tuan muda pertama Jiang adalah pemuda berpendidikan….”
__ADS_1
“ Nyatanya dia sangatlah buruk….”
“ Aku akan segera melaporkan hal ini pada biro hukum agar Jiang Chen mendapatkan hukuman yang setimpal….”, ucap Wan Bai berapi – api.
Jiang Zu yang juga berada didalam kerumunan sedikit merasa aneh dengan semua perdebatan yang terjadi dan dengan polosnya diapun mulai bersuara yang membuat atensi semua orang mengarah kepadanya.
“ Saat ini belum ada yang masuk dan melihat….”
“ Tapi kenapa semua orang mengatakan jika orang yang ada didalam adalah kakak tertua ?...”
“ Apakah kakak tertua benar – benar ada didalam ?....”, tanya Jiang Zu dengan wajah polos.
Semua orang tercenggang mendengar ucapan nona muda keempat Jiang tersebut dan kasak kusuk pun mulai terdengar.
Mereka semua mulai berpikir jika ini sebenarnya adalah permasalahan intern keluarga Jiang yang dipergunakan untuk menjatuhkan keluarga pertama dengan melihat betapa gigihnya semua keluarga menyerang Jiang Shing saat ini dengan mengkambing hitamkan Jiang Chen.
“ Apa yang kamu katakan nona keempat….”
“ Hanya Chan’er yang meninggalkan perjamuan dalam kondisi mabuk…”
“ Memang siapa lagi jika bukan dia ….”, ucap Ruo Xinxin sambil tertawa meremehkan.
“ Masih ada kakak kedua….”
“ Tadi aku juga melihat kakak kedua keluar dari ruangan dalam kondisi mabuk….”
“ Jika kakak kedua juga tak bisa diketahui keberadaannya saat ini, kenapa hanya kakak tertua yang dituduh dan harus bertanggung jawab….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.
Semua orang pun kembali terkejut dan tercenggang dengan semua hal yang dikatakan oleh Jiang Xia Yan barusan .
“ Adik….”
“ Siapa yang dituduh dan harus bertanggung jawab ?....”, tanya Jiang Chen binggung.
Tiba – tiba nona muda yang ada disebelah Jiang Chen pun diseret menjauh oleh ibunya yang tak ingin putrinya terlibat.
“ Maaf ibu….”
“ Aku tadi tersesat waktu sedang mencari toilet….”
“ Untung ada tuan muda yang baik hati ini mau mengantar dan menemaniku hingga kembali kedalam aula…”
“ Tapi begitu sampai diaula, katanya ibu sedang berada disini…”
“ Jadinya aku menyusul dengan tuan muda yang telah menolongku ini kemari…”, ucap gadis muda itu menjelaskan.
Melihat putranya ternyata memang tidak bersalah, Jiang Shing dan Xiao Mei pun tertawa lepas seolah batu besar yang tadi menganjal hatinya perlahan menghilang.
Namun hal tersebut tak berlaku bagi keluarga Jiang yang lainnya yang sekarang sangat pucat dan binggung tentang siapa lelaki yang ada didalam ruangan berasam Wan Lu.
“ Sudah cukup dramanya….”
“ Mari kita lihat siapa pemuda yang harus bertanggung jawab terhadap Wan Lu….”, ucap Jiang Xia Yan sambil menyuruh pelayan untuk membangunkan orang yang sedang tidur tanpa busana tersebut secepatnya.
Gerakan para pelayan yang sangat cepat tak mampu nyonya besar Jiang blokir.
__ADS_1
Diapun hanya bisa menunggu diluar untuk mengetahui siapa sebenarnya yang berada didalam bersama keponakannya.
“ Menjawab nona….”
“ Pemuda yang ada didalam adalah tuan muda kedua….”, ucap pelayan tersebut tegas.
Tak lama kemudian muncullah sosok Jiang Yong dengan pakaian berantakan karena terburu – buru dipakai dengan wajah memerah akibat pengaruh alkohol yang tadi diminumnya.
Dibandingkan dengan nama Jiang Chen yang sedari awal terus diteriakkan, kemunculan Jiang Yong dari dalam ruangan sudah menjadi bukti yang kuat dan tak bisa dibantah lagi membuat wajah Ruo Xinxin dan nyonya besar Jiang memucat.
“ Apa ?....”
“ Jadi ini hanya kesalahpahaman…”
“ Kakak tertuaku hampir disalahkan dengan sangat kejam….”
“ Sebaiknya kalian para pelayan membuka mata lebih lebar lagi lain kali… ”
“ Ini namanya merusak reputasi seseorang dan jika dilaporkan kalian bisa dipenjara….”, ucap Jiang Xia Yan menyindir dengan tatapan tajam.
Perkataan Jiang Xia Yan yang mengatas namakan pelayan lebih tepatnya menyindir Ruo Xinxin dan nyonya besar Jiang yang secara tidak langsung ingin merusak reputasi sang kakak dengan menjebaknya.
“ Adik, apa yang kamu bicarakan….”
“ Kenapa aku harus disalahkan ?....”, ucap Jiang Chen sambil mengaruk kepalanya binggung.
“ Chan’er….”
“ Seseorang baru saja ingin memberikan istri kepadamu….”, ucap Xiao Mei tersenyum sinis.
“ Seperti yang aku katakan sebelumnya, Chan’er ku adalah orang yang tahu aturan dan tak akan memilih istri yang tidak pernah aku lihat dan aku setujui….”, ucap Xiao Mei penuh penekanan sambil melirik tajam kearah Ruo Xinxin dan nyonya besar Jiang.
Melihat nenek tirinya dan bibi ketiganya diam terpaku tak bersuara seperti tadi, tentu saja Jiang Xia Yan harus memberikan penutup drama malam ini agar lebih berkesan lagi.
“ Nenek, biao ge, paman kedua, sekarang masalah sudah menjadi seperti ini. Jadi, apa yang harus dilakukan ?....”, ucap Jiang Xia Yan membalikkan keadaan.
Ucapan Jiang Xia Yan inilah yang disebut istilah menampar wajah seseorang tanpa menggunakan tangan, cukup dengan kata – kata ringan yang langsung tepat sasaran.
Nyonya besar Jiang terlihat sangat panik, bagaimanapun semua yang terjadi malam ini adalah rencananya dan dia sama sekali tak memiliki antisipasi karena sangat yakin akan berhasil seratus persen.
Bukan hanya nyonya besar Jiang yang panik, bahkan Jiang Quon sekarang sudah blank.
Pikirannya kosong mengingat kejadian ini dapat memotong jalur resmi Jiang Yong secara langsung.
“ Dan karena tadi nenek sudah mengatakan jika bagaimanapun Wan Lu adalah cucu menantu perempuan keluarga Jiang….”
“ Kurasa nenek tadi juga meminta semua nyonya yang hadir disini sebagai saksinya…”
“ Jadi kakak kedua harus bertanggung jawab untuk kemurnian Wan Lu yang telah diambil….”, ucap Jiang Xia Yan tenang.
“ Kamu….”, nyonya besar Jiang hampir saja pingsan jika tidak ada yang menopang badannya dibelakang.
Dia sama sekali tak menyangka jika kata – katanya tadi yang meminta seluruh nyonya yang hadir sebagai saksi akan digunakan oleh Jiang Xia Yan sebagai senjata untuk menikamnya.
Ruo Xinxin terlihat sangat panik dan berusaha membujuk para nyonya agar tak menyebarkan semua hal yang mereka lihat dan dengar pada malam ini tentunya dengan imbalan yang tak sedikit.
__ADS_1
Karena ikut terlibat, maka Ruo Xinxin pun dengan berat hati terpaksa merogoh kantong pribadinya kembali untuk menutup mulut semua tamu yang hadir malam ini agar nama baik Jiang Yong tak tercemar.