Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
SALING SINDIR


__ADS_3

Waktu berlalu dengan sangat cepat, seolah hanya dengan kedipan mata saja dan dua minggu telah berlalu dengan tenang.


Hari ini adalah hari yang cukup dinanti – nantikan semua orang, terutama keluarga kedua Jiang karena ini adalah hari pernikahan Jiang Xiuying.


Meski tidak senang, tapi ini kaisar sudah menganugerahkan pernikahan ini sehigga tak ada lagi jalan untuk mundur.


Setelah menjadi duda selama beberapa tahun dan hanya mengisi kediamannya dengan para wanita cantik sebagai mainannya.


Hari ini adik kaisar Ming Qin tersebut akan membawa seorang wangfei kedalam kediamanannya.


Namun yang tidak semua orang tahu adalah kapan kebahagiaan tersebut akan berakhir menjadi pemakaman, seperti apa yang terjadi pada wangfei – wangfei sebelumnya.


Didalam kamarnya saat ini Jiang Xiuying sedang dirias dan dibelakangnya berdiri Qianyi terlihat sangat cemas sambil mencengkeram saputangan yang ada ditangannya dengan erat.


Saat ini hatinya terasa tercabik – cabik. Putri yang dia besarkan dengan sepenuh hati pada akhirnya harus dia dorong dengan kedua tangannya menuju lubang api yang menyakitkan.


Tidak ada ibu yang tega menyakiti anaknya sendiri. Bahkan sekarang dia merasa jika seseorang sedang memotong dagingnya dengan pisau tajam secara perlahan.


Sakit,  tapi dia sama sekali tak bisa mengeluarkan suara hanya bisa menangis dalam diam.


Karena tubuhnya sudah mulai tak bertenaga, Qianyi pun memilih untuk duduk dan membiarkan pengasuh pernikahan bekerja.


Qianyi yang melihat pantulan putrinya dari balik cermin kembali menangis keras dalam hati.


Jika bukan karena matanya yang berkedip, mungkin orang akan berpikir bahwa yang sedang dirias tersebut adalah mayat hidup.


Pengasuh pernikahan juga menjadi khawatir terhadap ekpresi datar dan tak hidup dari Jiang Xiuying saat ini membuatnya tak bisa berkata dan hanya diam untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Dia sangat tahu kenapa gadis muda yang ada dihadapannya itu sama sekali tidak memiliki kegembiraan dan seluruh ekpresinya dipenuhi dengan keputus asaan.


Tak ada gadis normal yang bersedia menikah dengan pangeran Ming Qianfan. Jika bukan karena nona muda tertua Jiang ini sudah mengandung darah daging pangeran Ming Qianfan mungkin dia akan memilih untuk mati.


Melihat suasa semakin menyedihkan dan mencekam, pengasuh pernikahan pun semakin cepat menyelesaikan tugasnya sehingga dia ada alasan untuk pergi.


Qianyi yang sudah berusaha mati – matian untuk menahan agar air matanya tak menetes, akhirnya tak kuasa juga.


Jiang Xiuying yang melihat ibundanya menangis tanpa suara mulai menatap wanita yang telah melahirkannya tersebut dengan tajam.


“ Ibu jangan khawatir….”


“ Hari ini apa yang aku derita tidak akan sia – sia….”


“ Aku akan segera membalaskan dendamku….”, ucap Jiang Xiuying berapi – api.


“ Ying’er….”


“ Maafkan ibu nak….”


“ Ibu tak bisa membantumu….”, ucap Qianyi sambil menangis didalam pelukan Jiang Xiuying.

__ADS_1


“ Ayah dan ibu tak bisa membantu. Aku sendiri yang akan membalaskan dendamku…”, ucap Jiang Xiuying dengan suara serak menahan kesedihan yang ada dihatinya.


Sementara itu dilain tempat, aula utama kediaman Jiang saat ini ekpresi nyonya besar Jiang sangatlah serius.


Dia merasa sangat tidak senang tapi sebagai nyoya utama dalam kediaman Jiang mau tak mau diapun harus mengantar kepergian cucu perempuan tertuanya itu.


“ Untuk apa dia meminta mahar….”


“ Setelah melakukan hal yang tidak tahu malu itu, dia masih berani meminta…. ”, ucap nyonya besar Jiang dengan nada tinggi.


Atas kejadian memalukan yang menimpah Jiang Xiuying maka secara alami nyonya besar Jiangpun mulai membenci Qianyi dan juga cucu perempuan pertamanya itu.


Jiang Quon yang melihat kemarahan dan ketidak senangan di wajah sang ibu ingin secepatnya untuk menceraikan Qianyi saat ini juga.


Melihat kekecewaan dan amarah dari wajah nyonya besar Jiang, Ruo Xinxin dan Jiang Yu hanya diam tak bersuara.


Sementara Jiang Shing dan Xiao Mei pun tetap berdiri tegak seoalah kemarahan wanita tua itu sama sekali tak pernah mereka dengar.


Namun kemarahan nyonya besar Jiang langsung sirna begitu ada sesosok pemuda dengan badan tegap memasuki aula.


Dia adalah Jiang Yong, anak pertama keluarga kedua yang sangat membanggakan bagi nyonya besar Jiang.


Dengan hangat diapun menyapa cucu laki – laki keduanya itu dengan semanagat “ Yong’er…..”.


Jiang Yong pun tersenyum lebar dan langsung memberi salam kepada nyonya besar Jiang “ Nenek….”.


Melihat keponakan laki – lakinya datang, sebagai nyonya rumah yang baru menggantikan Qianyi, Ruo Xinxin pun mulai mendekati pemuda tersebut dan menyambutnya dengan hangat.


“ Kenapa tuan muda kedua langsung kemari dan tak beristirahat terlebih dahulu….”, ucap Ruo Xinxin manis.


Jiang Yong menatap bibi ketiganya itu dengan dingin. Dia sangat tahu bagaimana buruknya perlakuan wanita itu kepadanya sejak dia masih kecil dulu.


“ Tidak perlu….”


“ Aku kembali kali ini untuk melihat adik perempuanku menikah….”


“ Jika aku istirahat maka upacara pernikahannya akan terlambat….”, ucap Jiang Yong tajam.


Suasana menjadi canggung kembali setelah Jiang Yong membahas mengenai pernikahan Jiang Xiuying, terutama nyonya besar Jiang.


Jiang Yong pun segera mengedarkan pandangannya dan mencari sosok yang membuatnya pulang dengan tergesa - gesa saat ini.


Begitu mendapatkan seseorang yang diinginkannya, Jiang Yong langsung menatap tajam dengan aura intimidasi yang kuat.


“ Lama tidak bertemu adik ketiga telah banyak berubah….”


“ Bahkan aku tak bisa mengenalinya…”, ucap Jiang Yong tajam.


Mata Jiang Yong menyelidiki dengan sinis kearah Jiang Xia Yan, seolah tatapannya seperti ular berbisa yang sangat besar dam akan langsung melahapnya dengan satu kali serangan.

__ADS_1


“ Kakak kedua tetap sama seperti biasa….”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum ringan.


Tiba – tiba Jiang Chen yang ada disamping sang adik ikut berbicara “ Benar sekali, adik kedua sepertinya tak mengalami perubahan sedikitpun meski waktu telah berlalu lama….”.


Ucapan sinis Jiang Chen tentu saja mengalihkan atensi Jiang Yong yang saat ini masih terpaku pada Jiang Xia Yan.


“ Aku sama sekali  tak menyangka jika sekarang hubungan adik ketiga dengan kakak pertama akan sebagus ini…. ”, ucap Jiang Yong sinis.


“ Karena kami saudara kandung, jadi secara alami hubungan kami sangatlah baik….”, ucap Jiang Xia Yan santai.


Melihat ketenangan dari sikap yang diberikan oleh Jiang Xia Yan meski dia telah memberikan tatapan intimidasi membuat Jiang Yong sedikit gusar.


“ Aku akan pergi sekarang…”, Jiang Yong membungkuk hormat kepada nyonya besar Jiang dan meninggalkan aula utama tanpa memandang siapapun, bahkan sang ayah yang ada disamping neneknya.


Nyonya besar Jiang yang tak ingin pergi kepesta pernikahan akhirnya pamit undur diri dengan alasan kurang enak badan.


Padahal sesungguhnya dia tak mau kehilangan mukanya waktu berhadapan dengan orang lain yang pasti akan mencemohnya setelah kasus memalukan yang diperbuat Jiang Xiuying.


Setelah nyonya besar Jiang pergi, suasana di aula menjadi agak canggung. Untuk memecah kesunyian, Jiang Yu berusaha untuk berbasa – basi dengan Jiang Shing.


“ Kakak tertua….”


“ Sekarang Yong’er telah kembali…”


“ Apa yang harus kita lakukan selanjutnya ?....”, ucap Jiang Yu tersenyum lebar.


“ Apa hubungan Jiang Yong denganku ?....”, ucap Jiang Shing binggung.


Jika dimasa lalu mungkin dia akan langsung menjawab pertanyaan sang adik dan diapun tak akan segan untuk membantu keponakannya dengan berbicara kepada kaisar agar keponakannya itu bisa masuk kedalam system pemerintahan yang ada.


Tapi setelah hubungan keluarga pertama dengan keluarga ketiga dan kedua memburuk, maka Jiang Shing merasa jika dia tak perlu lagi membantu dan memperhatikan kedua saudara tiri beserta keluarganya setelah perlakuan buruk mereka terhadap sang putri.


“ Aku sudah disibukkan untuk mengurus Chan’er dan Yan’er…”


“ Apakah aku juga harus mengurus putra dari saudara kedua ?...”


“ Saudara ketiga, bukankah rumah tanggamu memiliki anggota lebih sedikit….”


“ Kenapa tidak kamu saja yang mengurus dan membantu saudara kedua….”


“ Lagipula kalian berdua adalah saudara sedarah….”, ucap Jiang Shing tajam dan bermakna dalam.


Jiang Shing adalah salah satu orang yang sangat lugas dan jujur. Kata – kata yang diucapkannya seperti ular berbisa, penuh dengan racun.


Ketika Jiang Shing mengucapkan kata – kata tersebut, Jiang Yu hanya diam tak menanggapi. Tapi, Ruo Xinxin merasa sangat marah hingga kuku – kukunya menancap kuat ditelapak tangannya.


Semua orang sangat tahu jika keluarga ketiga tak memiliki garis keturunan karena Rou Xinxin hanya bisa melahirkan satu orang putri saja.


Dan perkataan Jiang Shing seperti menancapkan pisau tepat dijantungnya, sakit tapi tak beradarh itulah yang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


“ Kurang ajar !!!!....”


“ Berani sekali dia menyindirku seperti itu !!!….”, batin Ruo Xinxin geram.


__ADS_2