
Trang….trang…trang….
Bunyi pedang beradu terus menggema dilapangan, keduanya terlihat sangat serius dan tak ada yang mau mengalah sedikitpun.
Awalnya Mumbai, salah satu orang kepercayaan Jiang Chen tak terlalu menanggapi waktu Jiang Xia Yan menantangnya untuk bertanding.
Mumbai yang tiap pagi selalu datang terlebih dahulu untuk memulai latihan bersama para pasukan keluarga Jiang sedikit terkejut waktu melihat Jiang Xia Yan datang kelapangan dengan memakai pakaian seperti lelaki.
Jika itu Xiao Mei mereka tak terlalu terkejut karena wanita tersebut adalah seorang jenderal yang sudah biasa berada dimedan pertempuran.
Tapi yang ada dihadapannya ini adalah putri bungsu jenderal besar Jiang Shing yang dijaga seperti guci mahal yang tak boleh sedikitpun retak atau ternoda, membawa sebuah pedang panjang yang sangat cantik datang mengajaknya duel.
Mumbai yang mengira jika nona mudanya itu sedang bosan dan ingin bermain pada akhirnya mulai menanggapi permintaan Jiang Xia Yan.
Pedang yang pada awalnya hanya sekedar digunakan untuk menangkis serangan tanpa minat berubah menjadi serangan yang serius waktu melihat jika Jiang Xia Yan tidak main – main dengan ucapannya.
Bahkan Jiang Xia Yan mampu menggores bahu sebelah kirinya dengan pedang yang ada ditangannya tanpa sedikitpun keraguan.
Para prajurit yang pada awalnya ingin memulai latihan akhirnya mengurungkan niat mereka dan fokus menonton pertandingan tersebut.
“ Aku tak menyangka nona muda ketiga begitu hebat, bahkan aku bisa melihat jika dia sudah hampir bisa menyamai kemampuan jenderal muda Jiang Chen….”, ucap salah satu prajurit.
“ Buah jatuh tak jauh dari pohonnya….”
“ Kedua orang tua serta kakaknya adalah harimau ganas di medan pertempuran…”
“ Jadi mana mungkin putrinya hanya seekor kucing rumahan yang pengecut….”, ucap salah satu prajurit menimpali.
“ Benar….”
“ Dan orang yang menyebarkan rumor jika nona muda ketiga bodoh dan idiot adalah orang buta yang tak bisa melihat bakat sebesar itu….”, ucap yang lainnya menimpali.
Banyak pujian yang dilontarkan oleh para prajurit kepada Jiang Xia Yan.
Apalagi mereka sudah beberapa kali berinteraksi dengan putri bungsu Jiang Shing tersebut membuat para prajurit begitu mengagumi kebaikan dan kelembutan hati nona muda ketiga Jiang.
Jiang Chen yang berada dibelakang kerumunan para prajurit merasa bangga terhadap pencapaian besar yang dialami oleh sang adik saat ini.
“ Ada apa ini ?....”
“ Kenapa semua orang berkumpul disini ?....”, tanya Jiang Shing menegur.
Belum sempat para prajurit dan Jiang Chen menjawab, mereka kembali dikejutkan oleh teriakan Jiang Shing yang cukup keras dan tak lama kemudian tawa keras mendominasi dipinggir lapangan.
Hahahaaa…..
“ Dia memang putriku….”, ucap Jiang Shing bangga.
“ Dia bukan hanya putrimu….tapi juga putriku….”, ucap Xiao Mei protes.
“ Iya…iya…dia putri kita berdua….”, Jiang Shing berucap sambil merangkul bahu istrinya dan tertawa lepas.
Ketiganya pun segera melihat pertandingan sengit yang tengah berlangsung ditengah lapangan tersebut dan mengomentari beberapa gerakan Jiang Xia Yan yang mereka anggap terlalu bernafsu itu.
“ Chyou…apa Yan’er berlatih denganmu ?....”, tanya Xiao Mei penasaran.
“ Benar nyonya….”
__ADS_1
“ Selain berlatih dengan saya, nona biasanya berlatih sendiri didalam hutan belakang kediaman….”, ucap Chyou menjelaskan.
“ Ahhh….”, akhirnya Xiao Mei mengerti kenapa ilmu pedang putrinya bisa mengalami peningkatan secepat ini.
Hanya Jiang Shing dan Xiao Mei yang tahu jika dihutan belakang kediaman yang terlihat biasa saja nyatanya menyimpan misteri dan kekuatan tersembunyi.
Dan hanya mereka yang terpilih saja yang bisa menemukan dan memanfaatkannya, salah satunya Jiang Shing dan Xiao Mei yang tanpa sengaja menemukan rahasia besar tersebut tujuh tahun yang lalu.
“ Tapi sayangnya tindakan Yan’er masih mentah dan terlalu terburu – buru….”, ucap Xiao Mei mengkritik.
“ Adik hanya kurang terjun kelapangan saja ibu….”
“ Jika adik ikut dengan kita, mungkin kemampuannya akan berkembang lebih pesat lagi karena adik bisa langsung mempraktekkan ilmunya dimedan pertempuran….”, ucap Jiang Chen bersemangat.
Mendengar ucapan anak sulungnya itu, Xiao Mei pun langsung melirik Jiang Shing yang hanya bisa menghembuskan nafas secara kasar dan tetap fokus pada Jiang Xia Yan yang sedang bertanding ditengah lapangan.
Sejak kasus dimalam pesta perjamuan, Xiao Mei yang sudah lama tak menyukai keluarga suaminya itu pada akhirnya berani mengemukakan pendapatnya untuk pertama kalinya.
FLASH BACK ON
Meski keduanya tampak lega setelah mengetahui jika semua yang terjadi malam ini adalah kesalah pahaman, tapi Xiao Mei masih tidak bisa tenang.
“ Yan’er hampir mati terkurung api didalam aula leluhur….”
“ Dan sekarang Chan’er yang reputasinya hampir hancur….”
“ Aku tak bisa lagi mentolerir kesalah mereka….”, ucap Xiao Mei tajam.
Meski pada awalnya Jiang Shing masih berusaha untuk berbaik hati pada keluarga besarnya karena menghormati mendiang jenderal tua Jiang.
“ Kupikir setelah kita bersikap dingin….”
“ Mereka bisa berubah….”, ucap Jiang Shing kecewa.
“ Itu sudah watak dan karakter yang tak bisa diubah….”
“ Mereka menghormatimu karena mereka menggunakan pengaruhmu untuk memanjat keatas… ”
“ Bukan menganggapmu bagian dari keluarga mereka…”, ucap Xiao Mei tajam.
Xiao Mei sangat bersyukur dia dan suaminya telah menyetujui keingginan putrinya agar beristirahat sejenak di ibukota.
Jika tidak, mungkin Xiao Mei dan Jiang Shing akan selamanya terus dibodohi oleh anggota keluarga Jiang yang lainnya.
“ Apakah kita harus memisahkan diri dengan keluarga Jiang ?.....”, tanya Jiang Shing lemah.
“ Itu jalan satu – satunya agar kita beruda bisa melindungi kedua anak kita…”, ucap Xiao Mei sambil mengenggam tangan suaminya dengan erat.
“ Baiklah….”
“ Besok kita bahas lagi…”
“ Malam ini aku sudah cukup lelah….”, ucap Jiang Shing sambil mengajak sang istri untuk tidur lebih cepat setelah melalui hari yang cukup panjang dan melelahkan.
FLASH BACK OFF
Jiang Chen tanpa sadar bersorak gembira waktu sang adik berhasil menjatuhkan pedang Mumbai ketanah yang merupakan akhir dari duel panas pagi ini.
__ADS_1
Mumbai yang cukup kepayahan menghadapi serangan demi serangan yang dilancarkan Jiang Xia Yan hanya bisa terduduk ditanah dengan nafas tersenggal setelah pertandingan berakhir.
Sementara Jiang Xia Yan dengan senyum lebar mereka diwajahnya, berjalan menuju ketempat kedua orang tuanya dan sang kakak duduk.
“ Adik….”
“ Kamu sungguh hebat….”, ucap Jiang Chen bangga.
Lin pun segera menghampiri nona mudanya untuk memberikan handuk kecil bersih dan sebotol air minum untuk menghilangkan dahaga setelah lelah berlatih.
“ Duduklah Yan’er….”
“ Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu….”, ucap Xiao Mei dengan wajah serius.
Jiang Xia Yan pun langsung duduk disamping sang ibu sambil melirik ayah dan kakaknya yang juga terlihat berwajah tegang.
Tak ingin terus merasa penasaran, Jiang Xia Yan pun langsung menyuruh ibunya untuk berbicara.
“ Setelah semua yang telah terjadi, aku dan ayahmu memutuskan untuk membeli tempat tinggal baru….”
“ Kami sudah melihat satu kediaman dibagian timur ibukota….”
“ Banggunannya tidak terlalu besar, hampir sama dengan kediaman kita….”
“ Jika dibersihkan oleh beberapa pelayan maka itu akan menjadi lebih baik….”, ucap Xiao Mei menjelaskan.
Melihat jika ibunya tampak berputar – putar, Jiang Xia Yan yang sudah sangat penasaran pun pada akhirnya menyela ucapan Xiao Mei.
“ Bu….”
“ Katakan saja, jangan berputar – putar….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.
Jiang Shing mengangguk pelan waktu istrinya meminta pendapat melalui isyarat mata.
Setelah menarik nafas panjang beberapa kali, Xiao Mei memegang kedua tangan putrinya sambil tersenyum “ Kami memutuskan untuk berpisah dengan keluarga Jiang….”.
Melihat ekpresi wajah Jiang Xia Yan yang datar, Xiao Mei sedikit takut jika putrinya itu akan menentang keputusannya.
“ Kapan kita akan pindah ?....”, tanya Jiang Xia Yan datar.
“ Secepatnya, setelah ayah berbicara dengan seluruh keluarga….”, ucap Jiang Shing menjawab.
“ Sebenarnya akan lebih bagus lagi jika adik ikut kami ke wilayah perbatasan timur…. ”, ucap Jiang Chen bersemangat.
Jiang Chen segera menjelaskan berbagai macam hal seru dan menarik yang bisa Jiang Xia Yan lakukan disana agar adiknya mau ikut bersama mereka.
Melihat jika Jiang Xia Yan masih memberikan ekspresi datar, ketiganya pun mulai merasa cemas jika gadis itu masih berat untuk meninggalkan ibukota.
“ Kurasa, perbatasan wilayah timur tidaklah buruk…..”, ucap Jiang Xia Yan datar.
Mendengar ucapan Jiang Xia Yan ketiganya langsung bisa bernafas dengan lega karena pada akhirnya gadis itu memilih untuk bergabung bersama keluarganya daripada menetap di ibukota yang penuh dengan bahaya.
“ Kurasa aku harus mempercepat rencanaku karena waktuku sudah tidak banyak…..”, batin Jiang Xia Yan kembali menyusun ulang semua rencana yang telah dibuatnya.
Sebelum pergi, dia sudah harus membalaskan dendamnya kepada keluarga besar Jiang dan memantapkan posisinya didalam kekaisaran demi menghancurkan kaisar Ming Qin beserta keluarganya.
Jiang Xia Yan berpikir, jika dia sudah menancapkan beberapa orang diibukota dan didalam istana maka tanpa harus berada disini dia masih bisa menjalankan rencananya dengan baik.
__ADS_1