
“ Pepatah mengatakan, satu petunjuk kecil dapat mengungkap segalanya….”
“ Pepatah juga mengatakan bahwa seseorang akan dapat mengetahui keindahan lagu hanya dengan mendengarkan iringan musik yang ada….”
“ Guru Han penuh dengan bakat dan memiliki pengetahuan yang sangat luas….”
“ Kenapa anda tidak memasuki lingkungan yang resmi….”, ucap Jiang Xia Yan penuh makna.
Melihat jika gadis yang ada dihadapannya terlihat mabuk berat, Han Shan Yang hanya bisa mendesah kasar.
“ Jiang Xia Yan….”
“ Jangan pernah memikirkan hal itu….”, ucap Han Shan Yang dengan wajah sedih.
Bukannya dia tak mampu untuk masuk kedalam lingkungan resmi mengingat bakat dan ketrampilan yang dia miliki, hal itu sangat mudah.
Tapi, jika dia kembali menoleh kebelakang, kembali mengingat bagaimana keluarganya dimusnahkan hanya dalam waktu satu malam untuk kesalahan yang tidak pernah diperbuat ayahnya, membuat langkahnya kembali mundur.
Jiang Xia Yan jelas tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Han Shan Yang saat ini. Tapi, demi aksi balas dendamnya, dia sangat membutuhkan lelaki yang ada dihadapannya itu sekarang.
Untuk itu, Jiang Xia Yan pun kembali membujuk Han Shan Yang agar mau naik kedalam kapal yang sama dengan dirinya.
“ Guru Han….”
“ Aku tahu kamu takut setelah mendengar ceritaku….”
“ Lingkaran resmi selalu dipenuhi oleh pengkhianatan dan kemalangan…..”
“ Dan kebebasan kita sebagai individupun akan menghilang….”
“ Tapi, didunia ini mereka yang mampu berdiri tegak dapat melihat lebih jauh dan melakukan banyak hal baik didalamnya…..”
“ Aku tahu menjadi guru yang baik saat ini sudah cukup bagus….”
“ Tapi, jika seseorang menjadi lebih kuat dan berpengaruh…..”
“ Dia bisa melakukan lebih banyak hal baik lagi didunia….”, ucap Jiang Xia Yan mencoba memberi bersemangat.
Untuk sesaat, Han Shan Yang mulai berpikir tentang bagaimana seorang gadis muda seperti itu bisa mengatakan hal – hal penuh makna seperti ini.
Meski perubahan Jiang Xia Yan cukup drastis, tapi untuk perubahan pola pikir yang sedemikian rupa memerlukan waktu dan pengalaman hidup yang panjang.
Saat ini Han Shan Yang bisa melihat jika Jiang Xia Yan seperti seseorang yang telah melalui kehidupan panjang dan melelahkan, bukan lagi sosok gadis muda usia empat belas tahunan.
Sangat sulit untuk dimengerti dan sikap waspada pun mulai muncul di diri Han Shan Yang saat ini atas semua ucapan dan tindakan Jiang Xia Yan kepadanya.
“ Siapa yang telah mengajarimu dan apa tujuanmu sebenarnya….”
“ Katakan…”
__ADS_1
“ Apa manfaat yang kamu peroleh setelah aku menjadi pejabat….”, tanya Han Shan Yang tepat sasaran.
Mendengar ucapan Han Shan Yang, Jiang Xia Yan pun tersenyum lembut karena tampaknya pesan yang ingin dia sampaikan telah tepat sasaran.
Diluar, Han Shan Yang terlihat hangat dan lembut. Dia hanyalah seorang guru yang selama ini berkutat dengan ilmu dan akademi jarang mencari tahu dunia luar.
Tapi setiap kali dia berdebat dengan seseorang, dia akan mampu menanyakan point – point penting lawan bicaranya sehingga sifat kritisnya ini cukup mendapatkan apresiasi dari beberapa orang termasuk pangeran kedua Ming Shin yang dimasa depan menjadikannya penasehat kaisar sewaktu dia telah naik tahta.
“ Guru….”
“ Kenapa anda menanyakan apa manfaat yang aku dapatkan, tapi tidak menanyakan apa keuntungan yang akan guru dapatkan setelah berhasil masuk lingkaran resmi….”, ucap Jiang Xia Yan mencoba membuat Han Shan Yang kembali berpikir.
“ Ketika melakukan bisnis, biasanya seseorang akan bertanya kepada pihak lain berapa untung yang akan mereka dapatkan jika berhasil menjalin kerjasama…..”
“ Tapi Guru Han malah memikirkan berapa banyak keuntungan yang akan pihak lain dapat tanpa mempertimbangkan keuntungan anda sendiri….”, ucap Jiang Xia Yan berbelit – belit.
Han Shan Yang bukanlah orang bodoh dan dia sangat tahu apa keingginan Jiang Xia Yan saat ini terhadapnya.
“ Lalu, apa yang harus aku lakukan setelah masuk kedalam lingkungan resmi ?....”, tanya Han Shan Yang gamblang.
Jiang Xia Yan menarik susut bibirnya, memandang puas terhadap keputusan yang diambil oleh Han Shan Yang saat ini.
“ Sebenarnya tidak banyak….”
“ Guru Han sangat berbakat, tentu saja akan ada seseorang terkemuka dimasa depan yang akan tertarik pada bakat guru….”
“ Aku berharap pada saat itu tiba….”
“ Guru harus setuju dan dipermukaan menjadi orang kepercayaannya….”
“ Tapi kesetiaan dan dedikasi guru hanya padaku….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.
Melihat jika Han Shan Yang merupakan pribadi yang akan melakukan pro dan kontra sebelum mengambil keputusan, maka Jiang Xia Yan pun kembali memberikan beberapa kata untuk membuat lelaki tersebut yakin untuk berada diatas kapal bersama dirinya.
“ Kamu ingin aku masuk kedalam istana dan menjadi mata – mata ?….”, ucap Han Shan Yang tak percaya dengan keingginan Jiang Xia Yan kepada dirinya.
“ Tidak bisa disebut sebagai mata – mata sebenarnya….”
“ Guru tetap melakukan tugas seperti pejabat pada umumnya….”
“ Mendapatkan promosi serta kekayaan….”
“ Juga mendapatkan istri yang baik dan bisa menunjang karir guru….”
“ Aku berjanji akan menjaga identitas guru agar tidak terungkap…”
“ Dan sebagai imbalannya, guru harus memberikanku beberapa informasi penting yang aku perlukan….”
“ Itupun tidak setiap saat, hanya beberapa informasi penting saja….”, ucap Jiang Xia Yan tampak berputar – putra.
__ADS_1
Meski Jiang Xia Yan berkata banyak hal, hanya satu kesimpulan yang bisa didapatkan oleh Han Shan Yang membuatnya kembali bertanya.
“ Siapa orang penting yang kamu maksud ?....”, tanya Han Shan Yang dengan tatapan penuh selidik.
“ Pangeran kedua Ming Shin….”
“ Guru harus menjadi orang kepercayaannya setelah ditarik masuk kedalam lingkungan resmi olehnya….”, ucap Jiag Xia Yan tenang.
Mendengar nama pangeran kedua Ming Shin, tanpa sadar tubuh Han Shan Yang bergetar ketakutan dan hal itu ditangkap jelas oleh Jiang Xia Yan yang langsung bersuara untuk menenangkannya.
“ Tenanglah guru, semua yang kamu pikirkan itu tidak akan terjadi….”
“ Aku tidak mencintai pangeran kedua Ming Shin dan membuatmu menjadi perantara cintaku….”, ucap Jiang Xia Yan terkekeh.
Han Shan Yang terlihat sedikit binggung akan semua ucapan Jiang Xia Yan yang sangat gamblang kepadanya.
“ Jika bukan cinta lalu apa ?....”
“ Apa dia ingin membalas dendam karena cintanya telah di tolak ?....”
“ Tapi, apa harus sampai sejauh ini…..”
Han Shan Yang masih terus berkutat dengan pemikirannya sendiri mengenai apa alasan yang membuat Jiang Xia Yan melangkah sampai sejauh ini.
Apalagi dia sangat tahu pangeran kedua Ming Shin ini bukanlah orang biasa. Meski terlihat tidak berbahaya, justru dia adalah salah satu pangeran yang harus diwaspadai dibandingkan pangeran yang lain.
Pola pikirnya sangat rumit dan dia termasuk seseorang yang memiliki pemikiran yang sangat cermat serta tidak mudah untuk mempercayai orang lain.
Metode yang digunakan untuk menarik musuhnya boleh terbilang sangat manis, tetapi sekali dikhianati dia akan menjadi orang yang sangat keji.
Setelah memikirkan semuanya dengan matang, Han Shan Yang pun mulai menjawab “ Baiklah, aku setuju asalkan semua yang telah kamu janjikan tidak kamu ingkari….”.
Meski sudah mengetahui hasil akhir yang akan didapatkannya, namun Jiang Xia Yan cukup terkejut jika Han Shan Yang akan memberinya jawaban secepat ini.
Jiang Xia Yan pun langsung bangun sambil mengangkat gelas anggur untuk bersulang atas kerjasama yang telah mereka jalin hari ini.
“ Semoga karir masa depan guru menjadi cemerlang dan tak terbatas….”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum penuh kemenangan.
Jiang Xia Yan meneguk anggur dalam cangkir dengan cepat sehingga jejak anggur mengalir dari sudut mulutnya, menarik garis kedagu melewati leher jenjangnya yang putih sebelum pada akhirnya berlabuh di kerah gaunnya.
Han Shan Yang membuang muka melihat pemandangan indah itu dan menyakinkan hatinya jika gadis muda yang ada dihadapannya itu adalah muridnya yang tidak berpengalaman.
Kecantikan Jiang Xia Yan tidak bisa Han Shan Yang pungkiri lagi, apalagi saat ini gadis itu sedang mekar diusinya yang beranjak remaja.
Tapi, Han Shan Yang masih bisa berpikir jernih meski sedikit kacau diapun membuang jauh – jauh pemikirannya itu.
“ Tagihannya sudah dibayar, guru bisa meminum anggurnya dengan tenang sekarang….”, ucap Jiang Xia Yan beranjak pergi.
Han Shan Yang hanya terdiam tak menjawab sambil meneguk secangkir anggur yang kini terasa sangat pahit begitu Jiang Xia Yan pergi.
__ADS_1
Begitu tiba diluar, rona merah diwajah Jiang Xia Yan pun langsung menghilang berganti dengan raut wajah dingin tak tersentuh diapun berkata dengan nada datar “ kembali kekediaman sekarang….. ”
Yinhang dan keempat pelayan pribadinya patuh dan segera berjalan menuju kearah kereta kuda yang terparkir tak jauh dari restoran tempat mereka berada sekarang.