
Karena kelelahan Jiang Xia Yan beristirahat lebih awal hari ini dan dia kembali mengalami mimpi buruk untuk kesekian kalinya.
Seperti biasa, Jiang Xia Yan hanya bisa melihat tanpa bisa menghentikannya dan hanya bisa menjadi penonton karena setiap hal yang terjadi tidak bisa dia perbaiki lagi sebab itu adalah masa lalu Wuzia.
Jika hal itu masa depan sang pemilik tubuh Jiang Xia Yan masih bisa merubah dan memperbaiki takdir yang ada.
Tiba – tiba Jiang Xia Yan merasa angin kencang memasuki ruangan dan jendela terbuka lebar dengan sendirinya.
Tak lama kemudian dia mendengar suara gemuruh guntur yang dasyat dengan kilat yang mulai membelah langit membuat hatinya merasa tak tenang dan mulai gelisah.
Masih dengan mata terpejam Jiang Xia Yan yang ketakutan tanpa sadar mengenggam tangan seseorang yang berada disampingnya.
Tangan hangat tersebut menggenggam erat tangan Jiang Xia Yan yang tak berhenti bergetar, sementara tangan yang satunya perlahan mulai menepuk – nepuk punggungnya dengan ringan.
Tepukan tersebut terasa sangat lembut hingga membuat Jiang Xia Yan merasa lebih baik daripada sebelumnya.
Tanpa sadar Jiang Xia Yan langsung masuk kedalam pelukan lelaki tersebut dan berusaha untuk menstabilkan nafasnya yang masih terengah – enggah.
Satu tangan yang tadi menepuk punggungnya dengan lembut bergerak kebelakang kepala Jiang Xia Yan dan menekannya agar masuk lebih dalam kedalam pelukannya.
Aroma maskulin yang menguar dari tubuh lelaki tersebut berlahan membuat hati Jiang Xia Yan menjadi lebih tenang.
Entah sudah berapa lama dia berada diposisi sangat intim dengan seorang lelaki hingga tanpa sadar Jiang Xia Yan pun kembali terlelap.
Mendengar dengkuran halus keluar dari mulut munggil Jiang Xia Yan, lelaki tersebut hanya bisa terkekeh pelan.
Dia mengusap lembut dahi Jiang Xia Yan yang sedikit berkeringat sambil berguman dalam hati “
“ Bagaimana bisa gadis itu tertidur nyenyak saat ada orang asing mengawasinya….”.
Feng Mo Tian yang hendak keluar kamar menghentikan langkahnya waktu dia melihat ada sebuah peta dimeja kerja Jiang Xia Yan.
“ Apa ini ?...”, guman Feng Mo Tian terperajat
Sebagai jenderal muda yang pernah terjun langsung dimedan pertempuran tentunya dia sangat tahu jika peta yang sedang dibuat oleh Jiang Xia Yan tersebut berisikan informasi mengenai medan pertempuran.
Feng Mo Tian pun mulai mengamati dengan seksama medan pertempuran yang berada disepanjang aliran sungai yang menghubungkan dua kekaisaran, yaitu kekaisaran Ming dan kekaisaran Ru.
Namun begitu Feng Mo Tian ingin lebih melihat dengan seksama tiba – tiba saja gambar yang ada didalam peta tersebut menghilang tanpa bekas.
“ Peta ini mengandung sihir…..”, guman Feng Mo Tian terkesima.
Meski dia sudah bisa mempelajari ilmu sihir, tapi kekuatan yang dimilikinya masih belum seberapa sehingga dia tak bisa kembali membuka peta.
Sekarang yang ada dihadapannya hanyalah sebuah kertas kosong yang tak berarti jika tak bisa mengaktivkannya.
“ Kurasa aku harus banyak berlatih agar bisa mengimbanginya….”, batin Feng Mo Tian bersemangat.
__ADS_1
Feng Mo Tain terlihat mendesah pelan, jika bukan karena menggunakan ilmu penghilang raga dia juga tak akan bisa masuk dengan mudah kedalam kediaman keluarga pertama Jiang.
Jika dia melewati jalur resmi maka bisa dipastikan dia tak akan pernah bisa masuk untuk melihat kondisi gadisnya secara langsung mengingat buruknya hubungan antara keluarga Jiang dengan keluarga Feng.
Mereka pasti akan langsung memblokirnya sebelum bisa melewati pintu gerbang. Meski demam Jiang Xia Yan sudah turun tapi hati Feng Mo Tian masih belum sepenuhnya lega.
Melihat bagaiamana gadis itu mengalami mimpi buruk dan peta sihir yang tadi dilihatnya diatas meja kerja Jiang Xia Yan, entah kenapa Feng Mo Tian merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
Lamunan Feng Mo Tian langsung buyar seketika begitu dia merasa ada langkah kaki mendekat menuju kearah kamar Jiang Xia Yan.
Tak ingin tertangkap, Feng Mo Tian pun segera mengaktivkan sihir penghilang raga dan menyamarkan aura tubuhnya.
Perlahan Yuyun memasuki ruangan tanpa menyadari jika Feng Mo Tian segera melesat keluar begitu pintu terbuka.
Dia segera mengedarkan pandangannya menyapu seluruah ruangan tapi lagi – lagi tak menemukan apapun selain jejak samar aura yang sangat kuat disana.
Meski bukan aura kegelapan seperti sebelumnya, namun aura kuat tersebut juga terasa sangat mematikan hingga membuat Yuyun menjadi sangat waspada.
Karena ini sudah kedua kalinya dia kecolongan, Yuyun pun pada akhirnya memutuskan untuk melaporkan semuanya kepada kaisar Ru Xie Chang.
Feng Mo Tian yang berhasil lolos dan sudah berada diluar kediaman masih memikirkan tentang peta perang yang tadi dilihatnya.
“ Apa yang ingin nona muda ketiga Jiang itu lakukan ?....”
“ Jika ingin memberontak, tapi kenapa harus memilih aliran sungai yang tak subur tersebut….”, batin Feng Mo Tian penuh tanda tanya.
Melihat langit semakin gelap dan hujan mulai menguyur bumi, Feng Mo Tian pun bergegas kembali kehalaman rumahnya.
Ini adalah fenomena langkah dan tak terduga yang terjadi diawal musim semi hingga membuat banyak bungga dan tanaman yang baru saja tumbuh kembali berguguran akibat kencangnya hujan yang melanda.
Banyak orang yang mengeluh tanaman mereka mati hanya dalam waktu semalam akibat kejadian tak terduga tersebut.
Dihalaman rumah tangga ketiga, sejak pertemuannya dengan Mo Lian tanpa sadar Jiang Yu sering melamun dan tersenyum sendiri.
Tentu saja tingkah pola Jiang Yu ini tak lepas dari pengamatan Ruo Xinxin yang sejak mendapatkan informasi pertemuan suaminya dengan nona muda keempat keluarga Mo menjadi semakin waspada.
“ Kenapa suami senyam – senyum sendiri….”
“ Apa ada hal yang membahagiakan….”, ucap Ruo Xinxin dengan tatapan penuh selidik.
Lamunan Jiang Yu langsung buyar begitu mendengar suara lembut istrinya. Diapun segera mencari topik pembicaraan agar Ruo Xinxin tak curiga.
“ Kulihat, Xin’er masih saja menolak dengan rencana pernikahan yang telah kubuat…”
“ Tiga hari lagi keluarga besar Shu akan memberikan mahar pernikahan….”
“ Dan aku harap Xin’er tidak bertindak bodoh dan mempermalukan keluarga kita….”, Jiang Yu terlihat memberi peringatan keras terhadap istrinya.
__ADS_1
Meski dimulut Ruo Xinxin terlihat setuju dengan keputusannya, tapi Jiang Yu sangat tahu jika istrinya itu sangat memanjakan putrinya dan tak akan segan untuk selalu menuruti keingginannya meski kadang tak masuk akal.
Maka dari itu Jiang Yu pun mencoba untuk membuka pikiran istrinya agar keluarga ketiga tak terjerumus terlalu dalam.
“ Meski keluarga kita tak terlalu buruk namun ada beberapa keluarga yang tak bisa kita naiki….”
“ Lebih baik menuntun Xin’er turun dan menghancurkan pemikirannya sedini mungkin…”
“ Jika tidak…”
“ Maka ketika dia masuk kedalam kubangan lumpur terlalu dalam, sulit baginya untuk keluar….”, ucap Jiang Yu penuh makna.
Ruo Xinxin bukanlah orang bodoh sehingga dia dengan cepat dapat mengerti arti dibalik ucapan suaminya.
Meski dia juga merasa ini adalah yang terbaik, tapi tampaknya hati Jiang Xialun yang sudah terpaku pada pangeran kedua Ming Shin sangat sulit untuk bisa membuatnya berpaling.
Melihat istrinya terdiam seakan dia masih enggan untuk memenuhi permiantaannya membuat Jiang Yu menarik nafas dalam beberapa kali dan melihat kearah Ruo Xinxin dengan penuh kekecewaan.
“ Istriku biasanya selalu bisa memahami situasi yang ada….”
“ Tapi kenapa sekarang kamu malah seakan menutup mata….”
“ Pangeran kedua Ming Shin bukanlah sosok yang sederhana….”
“ Sebagai pejabat sipil tingkat kedua, keluarga kita hanyalah sebutir debu tak terlihat dimatanya….”
“ Meskipun selama ini Xin’er banyak membantunya dibelakang layar tapi jika dia melihat dimasa depan kita tak bisa membantunya untuk naik menjadi kaisar dia pasti akan dibuang…. ”
“ Bukan hanya tak bisa menjadi istri resmi….”
“ Sebagai selirpun itu akan sangat sulit karena kerasanya persaingan yang ada….”
“ Aku hanya tak ingin Xin’er hidup menderita dimasa depan….”, Jiang Yu mengeluarkan unek – unek yang ada didalam hatinya selama ini.
Mendengar ucapan sang suami, Ruo Xinxin mengenggam kedua tangannya dengan perasaan gelisah.
Selama ini dia selalu mengira jika suaminya memandang rendah Jiang Xialun sehingga tidak bisa bersaing memperebutkan posisi dihati pengeran kedua Ming Shin.
Tapi setelah mendengar jika keluarga mereka tak akan bisa membantu pangeran kedua Ming Shin untuk merebut tahta, dia mulai sadar jika sebesar apapun pengorbanan yang dilakukan oleh Jiang Xialun tak akan pernah ada artinya.
Pangeran kedua Ming Shin tentu akan mempertimbangan untuk menikahi gadis yang latar belakang keluarganya kuat dan bisa membantunya naik tahta.
Jika itu Jiang Xia Yan, mungkin tak akan sulit karena kekuatan militer keluarga Jiang dan keluarga Xiao bisa membantu pangeran kedua Ming Shin gunakan sebagai senjata dalam perebutan kekuasaan.
Tapi keluarga ketiga, apa yang bisa mereka berikan, ditambah lagi kondisi keuangan keluarga Jiang beberapa bulan juga tak kunjung mmebaik.
Sebagai pejabat kelas dua yang masih bergantung dengan pejabat lain didalam pemerintahan tentunya tak bisa memberikan kontribusi apapun meski putrinya sangat cantik dan berbakat.
__ADS_1
“ Aku akan mencoba kembali membujuk Xin’er….”
“ Semoga kali ini dia tak keras kepala seperti sebelumnya….”, batin Ruo Xinxin resah.