
Hari berlalu dengan sangat cepat, saat ini sudah hari dimana Jiang Xia Yan harus kembali ke rumah Dongpu untuk bertemu dengan dua bersaudara Dong membahas mengenai pemusnahan kediaman pangeran Ming Qianfan.
Dibandingkan dengan pertemuan pertama, kedua saudara Dong ini sudah banyak berubah dan tak bersikap arogan seperti dulu.
Bahkan jejak kesedihan serta kemarahan terlihat jelas diwajah mereka. Dan itu dapat Jiang Xia yan simpulkan jika mereka sudah berhasil mendapatkan informasi mengenai dua putri mereka atau bahkan dua bersaudara Dong tersebut sudah melihat langsung bagaimana menderitanya mereka disana.
“ Nona muda Jiang….”, Dong Yu terlihat memulai percakapan pagi ini setelah terdiam beberapa saat.
“ Sebelumnya nona sempat mengatakan bahwa keluarga kekaisaran tidak akan bisa melacak pemusnahan ini….”
“ Bisakah kami tahu caranya ?....”, ucap Dong Yu penasaran.
Mendengar hal tersebut, Chang Wu mulai tersenyum dalam hati seolah dia melihat keindahan didalam cangkir teh
yang ada ditangannya.
Begitu mudahnya nona muda Jiang ini menggiring seseorang untuk berada dalam kapal yang sama dengannya demi tujuannya.
“ Aku secara alami ingin membantu anda berdua…”
“ Seperti yang aku katakan sebelumnya, resiko yang diambil ini akan sangat besar…”, ucap Jiang Xia Yan sambil menghela nafas panjang sebelum kembali berkata.
“ Dalam beberapa hal….”
“ Keluarga Jiang terikat pada perahu yang sama dengan keluarga Dong…”
“ Jadi, satu kesalahan kecil saja akan membuat keluarga Jiang menderita….”, ucap Jiang Xia Yan menjeda kalimatnya.
Membuat dua saudara Dong mulai berpikir secara dalam hingga akhirnya sang adik, Dong Wu yang semula hanya menyimak akhirnya ikut angkat bicara.
“ Aku tahu jika tindakan kami ini terkesan memaksa….”
“ Tapi, jika nona muda Jiang bersedia membantu…”
“ Setengah bisnis keluarga Dong akan kami berikan kepada keluarga Jiang…”, ucap Dong Wu bernegoisasi.
Saat ini dia dan sang kakak akan memberikan apapun untuk bisa membalas semua kekejian yang dilakukan oleh pangeran Ming Qianfan kepada kedua putri keluarga Dong hingga membuatnya menderita seperti itu.
Setengah dari bisnis yang mereka miliki bukanlah apa – apa bagi keluarga Dong yang kaya raya tersebut karena mereka masih memiliki sumber pendapatan lainnya yang tak kalah besarnya dari bisnis yang ada.
Chang Wu terbelalak mendengar penawaran yang diberikan oleh Dong Wu kepada nona muda Jiang tersebut.
Jika jadi gadis yang ada dihadapannya itu, Chang Wu tak membutuhkan waktu lama untuk berpikir dan akan langsung mengiyakan penawaran yang sangat menggiurkan tersebut.
Siapapun sangat tahu seberapa besar bisnis yang dikelola oleh keluarga Dong tersebut dan luasnya pasar yang mereka miliki.
Bahkan dengan diam saja, pundi – pundi uang akan terus mengalir kedalam kediaman Jiang tanpa mereka melakukan apapun.
Tapi apa yang dipikirkan oleh Chang Wu tak sama dengan pemikiran Jiang Xia Yan. Uang bukanlah masalah baginya saat ini, justru koneksi yang luas lah yang dia perlukan untuk memperkuat pijakannya.
“ Tidak perlu repot – repot untuk memberikanku setengah dari bisnis kalian….”
__ADS_1
“ Hubungan baik lah yang aku perlukan saat ini…”
“ Dimasa depan, jika aku meminta bantuan dari keluarga Dong aku berharap permintaan ini tidak akan pernah kalian tolak…. ”
“ Lagipula, aku juga memiliki hutang darah dengan kediaman pangeran Ming Qianfan….”
“ Jika kediaman pangeran Ming Qianfan tidak dimusanahkan sekarang…”
“ Aku takutnya akan menjadi masalah dimasa yang akan datang….”, ucap Jiang Xia Yan tenang sambil tersenyum lembut.
Chang Wu hampir saja menjatuhkan rahangnya waktu dengan tegas nona muda Jiang tersebut menolak penawaran besar dari keluarga Dong.
Jika kemarin dia menolak diberi ribuan kepingan tael emas, sekarang bahkan menolak tawaran besar yang tidak mungkin bisa didapatkan oleh semua orang dengan mudah.
Chang Wu tidak mengerti dengan adanya koneksi yang baik dari keluarga Dong, hal ini akan sangat menguntungkan keluarga Jiang jika kedepannya benar – benar ingin memusnahkan kekaisaran Ming.
Mendengar semua kata yang keluar dari mulut nona muda yang ada dihadapannya, dua bersaudara Dong ini semakin percaya akan ketulusan yang diberikan oleh Jiang Xia Yan dan bertekad akan membantu apapun yang keluarga Jiang butuhkan dimasa depan.
“ Lalu, apa yang nona muda Jiang rencanakan sekarang ?....”, tanya Dong Wu penasaran.
“ Untuk keluarga kekaisaran….”
“ Sementara waktu, kalian tidak perlu pusing karena aku sudah mengurusnya….”
“ Yang perlu kalian lakukan adalah mempersiapkan segalanya…”
“ Dua minggu lagi adalah waktu yang tepat…”
“ Jadi sebaiknya kalian bergerak pada dini hari agar benar – benar aman….”, ucap Jiang Xia Yan menjelaskan secara terperinci mengenai rencananya.
“ Bagaimana kamu bisa yakin jika serangan ini akan benar – benar aman ?...”
“ Waktu dini hari tidaklah buruk untuk perayaan….”, ucap Dong Wu sambil mengusap jangutnya dan mengangguk – anggukkan kepala.
“ Anda tidak perlu khawatir….”
“ Selama ini tidak pernah ada kecelakaan dalam setiap rencanaku….”, ucap Jiang Xia Yan sombong.
“ Yang perlu anda siapkan hanyalah petarung unggul dan kuda….”
“ Istana pangeran Ming Qianfan tidaklah kecil….”
“ Pertama kalian harus mencari tahu peta kediaman tersebut….”
“ Pada hari eksekusi, selain tangjie ku….”
“ Kalian harus memotong gulma dan menggali sampai ke akar – akarnya hingga tak bersisa….”, ucap Jiang Xia Yan tenang sambil menyesap teh yang ada dihadapannya.
“ Aku tidak tahu aturan apa yang berlaku didunia persilatan….”
“ Yang aku inginkan, dalam pemusnahan tersebut jangan meninggalkan apapun…”
__ADS_1
“ Terlepas itu apakah perempuan, tua, muda, anak – anak semua harus dibasmi hingga habis jangan sampai ada yang tersisa….”
“ Aku ingin istana kediaman pangeran Ming Qianfan benar – benar menjadi kuburan….”, ucap Jiang Xia Yan menjelaskan dengan raut wajah tenang tak berekpresi.
Tentu saja ucapan Jiang Xia Yan membuat dua bersaudara Dong terkejut. Pasalanya dalam peperangan apa yang gadis muda itu katakan selalu menjadi pengecualian mereka dalam melakukan pemusnaan sebuah rumah tangga.
Dan metode mereka juga tak pernah sekejam itu. Dua bersaudara Dong tersebut terlihat mengkerutkan kening sangat dalam sebelum akhirnya bersuara.
“ Para pelayan dan selir, serta anak – anak adalah korban dari pangeran Ming Qianfan….”, Dong Wu terlihat mengemukakan pendapatnya.
“ Gulma bisa kembali tumbuh subur jika anda tak mencabut sampai keakar – akarnya dan membereskannya….”
“ Rasa belas kasihan hanya akan menghancurkan keluarga Dong dimasa depan…”
“ Ingatlah, kita berada diperahu yang sama….”
“ Jika keluarga Dong mengalami penderitaan maka keluarga Jiang juga sama….”,
Jiang Xia Yan terlihat memberi peringatan yang tegas kepada dua bersaudara Dong tentang konsekuensi besar yang akan mereka dapatkan membuat keduanya langsung menganggukan kepala berbarengan.
“ Kami janji tidak akan meninggalkan satu orang pun dan membuat keluarga Jiang menderita….”, ucap Dong Yu tegas.
“ Itu adalah keputusan terbaik….”
“ Kalian bisa membalas dendam ini dengan cara mencuci istana kediaman pangeran Ming Qianfan dengan darah….”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum lebar.
Melihat jika semua hal telah didiskusikan dengan baik, dua bersaudara Dong tersebut langsung pamit undur diri untuk menyiapkan semua hal yang diperlukan untuk memusnahkan istana kediaman pangeran Ming Qianfan dua minggu lagi.
Setelah keduanya pergi, Chang Wu pun mulai berbicara setelah tadi hanya sebagai penyimak percakapan ketiganya.
“ Nona muda Jiang…”
“ Untuk tugas kemarin….”
“ Informasi sudah disebar kedalam istana….”
“ Aku yakin, tak lama lagi nona akan mendapatkan hasil seperti yang diinginkan….”, ucap Chang Wu bangga.
Jiang Xia Yan dalam hati cukup terkejut mendengar penjelasan Chang Wu. Dia sama sekali tak menyangka jika akan mendapatkan hasil secepat ini.
“ Tampaknya semua rencanaku kali ini berjalan dengan sangat mulus….”, batin Jiang Xia Yan puas.
Setelah melakukan pembicaraan tersebut, Chang Wu pun memberanikan diri untuk mencoba meluluhkan hati gadis cantik yang ada dihadapannya dengan trik cantik yang biasa dia meainkan untuk menjerat wanita muda yang dia inginkan.
Melihat jika pembicaraan Chang Wu sudah melenceng jauh kemana – mana, Jiang Xia Yan yang tak suka digombalin seperti itu akhirnya pamit undur diri.
Chang Wu hanya bisa mendesah frustasi dimejanya. Sungguh wanita muda yang sulit untuk dimengerti dan dipahami.
Selama ini Chang Wu hanya perlu berkata manis dan memberikan hadiah berupa perhiasan atau pakaian mewah, maka wanita muda yang dia temui akan langsung luluh.
“ Mungkinkan nona muda Jiang ini akan merasa senang jika dikirimi kepala manusia dibandingkan dengan gaun mewah dan perhiasan ?....”, batin Chang Wu bergidik ngeri.
__ADS_1