Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
PENGANGGU


__ADS_3

Meski aib mengenai Jiang Yong yang telah menodai kepolosan seorang gadis yang merupakan keponakan nyonya besar Jiang bisa diredam, nyatanya banyak cibiran masih melayang kepadanya terutama dilingkungan pengadilan hingga membuat lelaki muda itu tak bisa menegakkan wajahnya lagi.


Bahkan sang ayah, Jiang Quon secara terang – terangan menganggapnya tidak ada untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


“ Ini pasti ulah Jiang Xia Yan, jika tidak aku tak mungkin berakhir seperti ini….”, guman Jiang Yong geram.


Bukan hanya para pejabat dipengadilan yang menjauhinya, bahkan pangeran kedua Ming Shin juga melakukan hal yang sama.


Seakan dia adalah virus yang harus dijauhi agar tidak menganggu keselamatan yang lainnya.


Tentu saja hal itu tidak bisa diterima begitu saja oleh Jiang Yong yang langsung membereskan semua bukti untuk diserahkan kepada pangeran kedua Ming Shin.


“ Dengan ini, kurasa Yang Mulia akan kembali melihatku…”, guman Jiang Yong penuh harap.


Karena tak bisa menemui pangeran kedua Ming Shin secara langsung, maka Jiang Yong hanya bisa memberikan bukti yang telah dia kumpulkan untuk menjatuhkan Jiang Shing kepada pengawal pribadinya.


Jiang Xia Yan yang sudah mengetahui gerak – gerik Jiang Yong hanya bisa tersenyum sinis karena semua bukti tersebut sudah dia manipulasi setelah membunuh mata – mata yang dikirim kakak keduanya itu di pasukan militer milik keluarga Jiang.


“ Cih…ternyata hanya segitu saja kemampuannya….”, batin Jiang Xia Yan mencemoh.


Pangeran kedua Ming Shin yang melihat semua bukti yang diberikan oleh Jiang Yong hanya terdiam tanpa ekpresi.


Baginya, bukti tersebut masih belum matang jika dia ingin membuat kaisar Ming Qin menghukum Jiang Shing.


Dia masih harus mengolahnya kembali sehingga bukti tersebut bisa membuat jenderal besar Jiang Shing tak bisa berkutik lagi.


“ Tidak buruk tapi ini sangat terburu – buru….”, ucap pangeran kedua Ming Shin dan dibalas anggukan oleh pengawal pribadinya sebelum keluar ruangan.


Dari ucapan pangeran kedua Ming Shin dapat pengawalnya itu simpulkan bahwa dia tak perlu berbuat apa – apa kepada Jiang Yong karena bukti itu tak terlalu membantunya.


Jiang Yong yang melihat jika pangeran kedua Ming Shin tak bertindak setelah mendapatkan bukti tersebut merasa sangat gelisah.


“ Kurasa, aku harus menemui Yang Mulia secara langsung dan menyerahkan bukti terakhir ini….”, ucap Jiang Yong sambil memegang kertas yang menjadi kartu As nya itu dengan erat.


Sebagai orang yang cerdas, Jiang Yong memang tak menyerahkan bukti tersebut secara keseluruhan karena ingin melihat tindakan dari pangeran kedua Ming Shin.


Tapi melihat umpan yang telah diberikannya tak mendapatkan respon, Jiang Yong pun terpaksa menggunakan kartu As nya untuk melancarkan rencananya.


Sementara itu dilain tempat, Jiang Xia Yan terlihat sangat gembira waktu mengetahui jika Han Wu Ying menerima tawarannya.


Diapun segera membawa wanita muda tersebut kesebuah tempat yang sudah dia bersihkan dan renovasi sebelumnya sehingga cocok dijadikan tempat usaha miliknya.


“ Kamu bisa bekerja dengan kelima penjahit ini….”


“ Masalah keuangan dan manajemen nantinya Jinying dan Lin akan membantumu…”


“ Dan untuk masalah desain pakaian, kamu bisa langsung berkonsultasi denganku….”, ucap Jiang Xia Yan menjelaskan.


Setelah mengantar Han Wu Ying kedalam kamarnya, Jiang Xia Yan mulai sibuk mendiskusikan banyak hal mengenai model dan varian yang akan mereka luncurkan dalam pembukaan butik.


Han Wu Ying masih belum percaya jika pada akhirnya dia bisa keluar dari tempat kotor yang selama ini menghidupinya itu dan sekarang bekerja sesuai dengan minatnya membuat hatinya bahagia.


“ Terimakasih atas semua yang nona berikan kepadaku….”, ucap Han Wu Ying tulus.

__ADS_1


“ Justru aku yang harus berterimahkasih karena kamu mau menerima tawaran yang aku berikan….”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum lebar.


Rencananya, selain mengelola bisnis miliknya tersebut, kedepannya dia ingin Han Wu Ying menjadi mata dan telinganya di ibukota.


Dengan desain yang dibuatnya, tentunya akan banyak wanita muda serta nyonya bangsawan yang akan memanggilnya untuk membuat pakaian.


Dan kesempatan itu bisa dijadikan Han Wu Ying untuk mengorek informasi lebih dalam mengenai hal penting yang terjadi dikekaisaran Ming.


Selama berada di Wudao Jia, Han Wu Ying banyak belajar dari para bangsawan yang menyewanya.


Para lelaki tersebut sering menceritakan mengenai pasangan mereka dan wanita dengan penampilan seperti apa rata - rata mereka disukai, membuat Han Wu Ying memiliki banyak inspirasi.


Berpatokan dari hal tersebut tampaknya Han Wu Ying sudah bisa membidik pasar mana yang akan dia tuju sebagai sasaran produknya.


Karena terlalu asyik mendesain rancangan gaun yang akan mereka produksi beserta cara pemasarannya, keduanya berbicara terlalu banyak dan tak menyadari jika hari sudah mulai gelap.


“ Kurasa kita harus segera menyelesaikan dulu rancangan yang telah kita buat tadi….”


“ Jika ada hal yang perlu ditanyakan, nona Han Wu Ying bisa datang ke kediamanku kapan saja….”, ucap Jiang Xia Yan bersemangat.


Melihat jika selama ini dia tidak pernah memperkenalkan dirinya secara resmi maka kali ini Jiang Xia Yan pun mulai membuka identitas dirinya.


“ Aku Jiang Xia Yan, nona muda ketiga Jiang….”


“ Kamu bisa mencariku dihalaman keluarga pertama jika datang berkunjung kesana….”, ucap Jiang Xia Yan sambil tersenyum lebar.


Han Wu Ying tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya waktu mengetahui identitas asli nona muda yang telah mengeluarkannya dari neraka kenikmatan tersebut.


Diapun segera masuk kedlam kediaman yang sekaligus sebagai rumah produksinya mulai hari ini begitu kereta kuda yang dinaiki oleh Jiang Xia Yan sudah tak terlihat lagi.


Setibanya dikediaman, Jiang Xia Yan yang seharian lelah mengurusi bisnisnya ingin segera mandi dan merebahkan diri diatas ranjang sambil membuat rencana selanjutnya hingga kedatangan Feng Mo Tian yang tiba – tiba didalam kamarnya mengusik ketenangannya.


“ Mau apa lagi kamu kemari ?....”, ucap Jiang Xia Yan dengan nada datar dan dingin.


Feng Mo Tian yang sudah terbiasa dengan sikap dingin Jiang Xia Yan hanya acuh dan langsung duduk dikursi tanpa diminta.


“ Dasar tak tahu malu….”, ucap Jiang Xia Yan sinis.


Feng Mo Tian hanya terkekeh pelan melihat amarah Jiang Xia Yan yang baginya sangat mengemaskan itu.


“ Apa kamu sudah memikirkan cara mengantisipasi pergerakan kakak keduamu itu….”


“ Jika belum, aku bisa membantumu….”, ucap Feng Mo Tian dengan wajah serius.


“ Aku tak mengira jka tuan muda Feng cukup perhatian terhadap keluargaku….”, ucap Jiang Xia Yan penuh dengan sindiran.


“ Tentu saja, apapun yang berhubungan denganmu selalu menarik mintaku….”, ucap Feng Mo Tian dengan nada menggoda.


“ Tidak diperlukan….”, Jiang Xia Yan langsung menolak dengan kasar bantuan yang diberikan oleh Feng Mo Tian kepadanya.


Meski dia tak tahu apa maksud tersembunyi dari Feng Mo Tian, tapi Jiang Xia Yan sama sekali tak ingin memiliki hubungan apapun dengan pemuda tersebut.


“ Sebaiknya tuan muda Feng lebih memikirkan diri sendiri alih – alih memikirkanku…. ”, ucap Jiang Xia Yan tajam.

__ADS_1


“ Wah….”


“ Tak kusangka kamu juga mengetahui hal itu….”, ucap Feng Mo Tian serius.


“ Karena aku sangat baik jadi aku akan memberikanmu peringatan…”


“ Pertempuran yang akan kamu hadapi tidak seperti apa yang tampak didepan mata…”


“ Semua sudah dimanipulasi….”


“ Jadi aku sarankan kamu mengubah rencanamu sekarang sebelum terlambat….”, ucap Jiang Xia Yan santai dan tenang.


“ Bagaimana kamu bisa tahu jika rencanaku tidak akan berhasil ?.....”, tanya Feng Mo Tian penasaran.


Semua yang terjadi pada Feng Mo Tian sudah dia lihat sekilas dalam slide memori masa depan sang pemilik tubuh sebelumnya.


Peperangan yang terjadi kedepan semuanya sudah dimanipulasi oleh pangeran kedua Ming Shin sehingga Feng Mo Tian mati dimedan pertempuran.


Namun, Jiang Xia Yan tak bisa memberitahukan semua hal tersebut dan hanya bisa memberinya peringatan.


“ Sebagai teman, aku hanya tak ingin melihatmu mati konyol disana….”, ucap Jiang Xia Yan jujur.


“ Apa kamu sebegitu mengkhawatirkan keselamatanku saat ini…”, ucap Feng Mo Tian dengan senyum menggoda.


“ Aku hanya memberi saran….”


“ Dan sebaiknya kamu segera pergi dari sini sebelum aku tendang…..”, ucap Jiang Xia Yan penuh ancaman.


Feng Mo Tain pun segera melesat pergi begitu Jiang Xia Yan sudah membuat ancang – ancang untuk melemparnya keluar seperti terakhir kali.


“ Baiklah, kali ini aku mengikuti saranmu….”, ucap Feng Mo Tian dari balik jendela.


Brakkkk……


Jiang Xia Yan pun langsung menutup jendela dengan kasar hingga membuat Tian Wan yang ada diatas pohon hampir terjatuh karena terkejut.


Merasa jika ada seseorang yang masuk kedalam kamarnya lagi membuat Jiang Xia Yan geram dan langsung berteriak lantang.


“ Apa lagi ?!!!!.....”, semprot Jiang Xia Yan penuh amarah.


Namun tubuh Jiang Xia Yan langsung membeku waktu berbalik dan mendapatkan sosok kaisar Ru Xie Chang dihadapannya sambil menatapnya dengan tajam.


“ Siapa laki – laki yang kamu ajak masuk kedalam kamarmu malam – malam begini ?….”, tanya kaisar Ru Xie Chang tajam.


Glekkk….


Jiang Xia Yan saat ini sudah seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh oleh suaminya. Entah kenapa tiba – tiba saja lidahknya terasa keluh dan tak dapat berbicara dengan lancar.


“ Siapa yang kamu maksud ?....”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum lebar menutupi kegugupannya.


“ Aku benar – benar harus menikahimu secepatnya agar tak ada kucing liar yang berani mendekatimu lagi….”, ucap kaisar Ru Xie Chang geram.


Tanpa aba – aba kaisar Ru Xie Chang langsung menarik tubuh Jiang Xia Yan dan menciumnya dengan sangat dalam untuk menghilangkan rasa cemburu yang kembali tumbuh didalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2