
Karena tak ada informasi yang banyak mengenai sosok selir Hien, maka melalui obrolan kali ini Jiang Xia Yan bisa mengetahui bagaimana sebenarnya karakter wanita itu.
Setelah memberikan salam, Jiang Xia Yan pun menyuruh pelayan menghidangkan teh dan kudapan sementara dia langsung duduk dihadapan selir Hien.
“ Suatu kehormatan butik kecil saya didatangi anda, selir….”, ucap Jiang Xia Yan merendah.
“ Aku sama sekali tak menyangka jika butik yang menjadi buah bibir warga ibukota seminggu terakhir ini adalah milik nona muda ketiga Jiang…. ”
“ Melihat pakaian yang dikenakan oleh putri Ming Liew yang berasal dari butik ini aku jadi ingin memesan beberapa gaun untuk acara perjamuan yang akan diadakan didalam istana beberapa waktu mendatang….”
“ Selain modelnya bagus aku juga sangat menyukai hasil sulaman yang menjadi ciri khas dari setiap gaun….”, ucap selir Hien manis.
“ Jika seperti itu, saya akan memanggilkan anak buah saya yang bertugas menerima rancangan gaun pesanan sekaligus sebagai orang yang memberikan ciri khas sulaman disetiap gaun yang ada…. ”, ucap Jiang Xia Yan yang langsung menyuruh salah satu pelayan untuk memanggil Han Wu Ying.
“ Mengenai hasil sulaman yang menjadi cirri khas pakaian yang ada dibutik, saya harus berterimakasih kepada selir Hien karena dari anda lah saya mendapatkan inspirasi tersebut….”, ucap Jiang Xia Yan sambil tersenyum lebar.
“ Aku….”
“ Bagaimana bisa….”,ucap selir Hien terkejut.
“ Ayah saya mendapatkan hadiah dari istana setelah datang keibukota….”
“ Dan dari hadiah yang ayah saya terima terdapat kain pemberian selir Hien, dan saya sangat mengagumi kain tersebut karena selain indah juga memiliki sulaman berbentuk bungga yang sangat halus….”, ucap Jiang Xia Yan penuh pujian.
Selir Hien sama sekali tak menyangka jika kain milik keponakannya yang dia simpan didalam gudang akan diberikan kepada jenderal besar Jiang Shing sebagai hadiah.
“ Kurasa mulai ada tikus dikediamanku….”
“ Nanti aku akan mengecek kembali semua barangku dan membinasakan tikus – tikus liar itu...”, batin selir Hien geram.
Dia sama sekali tak menyangka jika akan kecolongan seperti ini mengingat jika selama ini kediamannya telah bebas dari hama yang menganggu.
Han Wu Ying yang baru datang segera memberi hormat dan duduk disamping Jiang Xia Yan, sementara selir Hien terus menatap wanita muda yang ada dihadapannya itu dengan tatapan penuh selidik.
“ Nona muda ketiga Jiang, darimana anda mendapatkan wanita muda yang penuh talenta ini ?….”, ucap selir Hien penasaran.
“ Saya tak sengaja bertemu dengan nona Han Wu Ying di perbatasan ibukota…”
__ADS_1
“ Begitu mengetahui bakat yang dimilikinya….”
“ Sayapun langsung merekrutnya….”
“ Dan hasilnya sangat memuaskan….”, ucap Jiang Xia Yan bangga.
Selir Hien merasa sangat familier dengan wanita muda yang ada dihadapannya itu, tapi dia sama sekali tak bisa mengingat siapa dia.
Jika itu adalah keponakannya, bentuk tubuh dan juga wajahnya sangatlah jauh berbeda.
Tapi tampaknya ikatan darh tak bisa dibohongi hingga membuat ibunda pangeran kedua Ming Shin tersebut terus menatapnya tajam selama sesi diskusi mengenai gaun yang akan dia buat.
“ Satu minggu lagi, gaun – gaun ini akan kami antarkan kedalam istana….”, ucap Han Wu Ying sopan sebelum beranjak pergi.
Setelah berada dibalik tembok, Han Wu Ying terlihat memegangi dadanya untuk menormalkan nafasnya yang sedari tadi berusaha dia tahan agar suara lemah lembutnya bisa dia pertahankan.
“ Nona muda ketiga, anda cukup beruntung bisa mendapatkan bakat langkah seperti itu….”, ucap selir Hien penuh pujian.
“ Saya juga tak menyangka jika pada akhirnya bisa membuka bisnis diibukota karena sebelumnya sama sekali tak pernah terbayangkan….”, ucap Jiang Xia Yang sambil menatap jauh kedepan.
Selir Hien yang mulai teringat tujuannnya datang kemari adalah untuk putranya, diapun kemudian mulai melancarkan aksinya.
Jiang Xia Yan yang mendengar nama pangeran kedua Ming Shin disebut pun mulai menjalankan rencananya.
“ Pengeran kedua Ming Shin berhak mendapatkan wanita yang terbaik….”
“ Saya dulu terlalu muda dan naif jadi wajar jika Yang Mulia merasa risih…. ”, ucap Jiang Xia Yan merasa bersalah.
Tiba – tiba selir Hien memegang kedua tangan Jiang Xia Yan sambil menatapnya dengan lembut
“ Dulu, kamu masih sangat mudah jadi sedikit bertindak sembrono….”
“ Tapi sekarang, setelah beranjak dewasa dan melihat perubahan besar yang ada didalam dirimu aku yakin pasti Shin’er akan melihatmu….”, ucap selir Hien memberi semangat.
Dalam hati Jiang Xia Yan tersenyum sinis, ternyata ibu dan anak sama – sama hebat dalam menarik simpati orang lain.
“ Tapi, saya merasa tidak cocok….”
__ADS_1
“ Justru saya lihat, kakak kedua lebih cocok bersanding dengan pangeran kedua Ming Shin…..”, ucap Jiang Xia Yan senduh.
Meski dapat selir Hien lihat Jiang Xiulin cukup bisa memberikan masukan bagi putranya dalam menjalankan tugas – tugas yang diembannya, tapi nona muda kedua Jiang itu tak memiliki kekuatan yang bisa mendukung putranya untuk naik tahta.
Berbeda dengan Jiang Xia Yan, selain memiliki dukungan penuh dari ayah dan ibunya yang memiliki kekuatan militer besar, gadis itu juga memilik karakter kuat sebagai wanita yang bisa bersaing didalam istana.
“ Kurasa Shin’er lebih cocok bersama denganmu. Meski usiamu jauh lebih muda, tapi pola pikirmu sudah sangat dewasa….”, ucap selir Hien berusaha meyakinkan.
Jiang Xia Yan menghela nafas panjang beberapa kali smabil memasang wajah sedihnya dan berkata “ Tapi jika Yang Mulia tetap tak memandang saya, bukankah hal itu tidak akan ada artinya….”.
Mendengar ucapan Jiang Xia Yan, selir Hien sangat yakin jika gadis yang ada dihadapannya itu masih memiliki rasa kepada anaknya hanya saja mungkin dia tak ingin lagi mengejar – ngejar putranya seperti dahulu karena malu.
“ Kurasa aku harus memberi sara kepada Shin’er agar bersikap baik terhadap nona muda ketiga Jiang jika ingin mendapat dukungan militer dari Jiang Shing….”, bati selir Hien bahagia.
Setelah mendapatkan semua hal yang dia inginkan, selir Hien pun pergi dengan hati gembira karena salah satu misinya telah berhasil meski masalah Han Wu Ying masih menganjal dihatinya.
“ Mungkin aku akan mencoba menyelidikinya lagi secara perlahan….”
“ Sekarang aku harus fokus pada pemilihan putra mahkota yang akan digelar tak lama lagi….”, batin selir Hien penuh semangat.
Setelah selir Hien pergi, Lin yang sedari tadi gatal ingin bertanya pada akhirnya menumpahkan semua uneg – uneg dalam hatinya.
“ Nona….”
“ Apa nona akan kembali mengejar pangeran kedua Ming Shin ?.....”
“ Bukankah laki – laki itu selama ini tak pernah memperdulikan nona dan selalu membuat nona sakit hati….”, ucap Lin cemas.
Dia tak mau nona mudanya itu kembali sedih dan kecewa akibat sikap yang diberikan oleh pangeran kedua Ming Shin kepadanya.
Lin juga tak mau nona muda nya kembali melakukan tindakan bodoh seperti dulu sehingga namanya kembali buruk dan menjadi lelucon bagi semua orang.
“ Tenang saja Lin….”
“ Aku tidak akan menjadi bodoh seperti dulu lagi….”, ucap Jiang Xia Yan mencoba menangkan pelayan pribadinya tersebut.
“ Kali ini, aku yang akan membuat laki – laki itu menderita….”
__ADS_1
“ Dan perlahan dendam yang ada akan terbayar tuntas….”, batin Jiang Xia Yan penuh tekad.