Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
HUKUMAN BAGI PELAYAN YANG LALAI


__ADS_3

Qianyi menatap kosong kedepan, wajahnya sangat pucat dan terlihat sangat putus asa. Tak ada lagi kebanggan dan kesombongan yang selama ini melekat didirinya.


Duo dan beberapa orang pelayan yang ada didalam kamar hanya bisa menatap sedih majikannya tanpa berani mengatakan sepatah katapun, takut memancing kemarahan sang nyonya.


“ Bawakan aku kertas dan kuas….aku ingin menulis surat kepada Yong’er….”, ucap Qianyi lemah.


Jiang Yong adalah putra tertua dari Qianyi dan Jiang Quon. Tuan muda kedua ini adalah kebanggaan keluarga kedua sekaligus cucu kesayangan nyonya besar Jiang.


Diusia muda Jiang Yong sudah mampu memperoleh kehormatan dalam bakatnya dan dia selalu melakukan pekerjaan dengan baik membuat Jiang Quon sangat membanggakannya dihadapan semua orang.


“ Karena ayahmu tidak bisa diandalkan, masih ada kakakmu….”, ucap Qianyi berkata dengan gigi terkatup sambil memandang kearah Jiang Xiuying yang tengah tertidur pulas.


“ Yong’er sangat menyayangi adiknya….”


“ Kali ini…”


“ Dia tak akan membiarkan j****g kecil Jiang Xia Yan hidup tenang…”


“ Aku bisa memastikan jika kakakmu akan membuat j****g kecil itu menjalani sisa hidupnya dengan penuh penderitaan….”


Qianyi terus saja berguman dengan penuh amarah sambil menyapukan kuasnya keatas kertas untuk dikirimkan kepada putranya yang sedang bertugas di luar kota.


Setelah selesai menulis surat, Qianyi menghela nafas berat dan mulai berbicara kepada pelayan pribadinya.


“ Apakah orang – orang itu masih disana ?....”, tanyanya tajam.


“ Keempat pelayan dan Gui Momo, semuanya masih berada didalam gudang. Nyonya kedua ingin memberi mereka racun atau langsung….”, ucapan Duo terpotong ditengah jalan waktu Qianyi berkata dengan nada datar dan dingin.


“ Beri racun kepada dua pelayan Jiang Xialun dan kembalikan ke kediaman keluarga ketiga….”


“ Biarkan Ruo Xinxin yang menyelesaikan sisanya…”


“ Dan untuk dua pelayan Ying’er….”


“ Jual mereka ke rumah bordil tingkat sembilan….”


“ Membunuhnya terlalu mudah karena dosa keduanya tak bisa diampuni setelah tak menjaga nona mudanya dengan baik…”


“ Untuk Gui Momo….”


“ Karena dia yang paling tahu kejadian malam itu, biarkan dia hidup untuk saat ini…”


“ Aku akan mencoba untuk berbicara sendiri dengannya….”


Qianyi mengucapkan semua kata dengan penuh penekanan dalam setiap kalimatnya, menyalurkan kemarahannya disana.


Setealah mendengar ucapan nyonya keduanya, Duo pun bergegas menuju gudang dimana para pelayan tersebut disekap.

__ADS_1


Sesampainya didalam gudang yang berbau busuk karena terbengkalai dalam waktu yang lama, Duo segera menyuruh para pengawal untuk membawa ke empat pelayan tersebut  kesudut ruangan sambil menutup hidungnya dengan saputangan.


Dua pelayan milik Jiang Xialun segera dipegangi dan diberi minuman beracun sebelum akhirnya dibuang kehalaman keluarga ketiga sesuai perintah sang nyonya.


Sementara dua orang pelayan Jiang Xiuying diseret dengan paksa untuk dijual kerumah bunga karena kesalahan mereka sangat fatal.


“ Seret dan bersihkan tubuh mereka…nyonya akan menjualnya kerumah bunga. Jika kamu ingin melakukan sesuatu, lakukan sesuai keingginanmu….”, ucap Duo dingin.


Kedua pengawal yang menyeret tubuh pelayan Jiang Xiuying yang cantik dan bertubuh molek tersebut tersenyum senang karena malam ini mereka akan menikmati tubuh keduanya secara gratis dan diperkirakan dua pelayan tersebut masih perawan.


Sementara dua pelayan Jiang Xiuying yang sudah mengikuti nona muda tertua Jiang itu sejak mereka masih muda terlihat sangat ketakutan waktu mendengar mereka diberikan kepada dua pengawal yang menyeret tubuhnya untuk dinikmati dan dijual ke rumah bunga.


Semua orang sangat tahu bagaimana rumah bunga sebutan untuk rumah bordil tingkat sembilan. Itu adalah rumah bordil paling rendah diantara semua rumah bordil yang ada di ibukota.


Para pelanggannya adalah orang – orang kasar dan brutal. Wanita  yang ada disana akan dinodai tanpa henti siang dan malam karena bayaran yang mereka terima sangat rendah sehingga memerlukan banyak tamu yang harus dilayani untuk membuat majikan senang.


Uang yang masuk pun seluruhnya jatuh ketangan majikan. Jika mereka terinveksi penyakit, majikan tidak akan mau mengobati dan membuang mereka dijalanan hingga akhirnya mati karena kelaparan dan kedinginan.


“ Tidak !!!...”


“ Lebih baik mati meminum racun daripada harus dijual kerumah bungga….”


Keduanya pun meronta – ronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman dua pengawal yang berbadan gempal tersebut.


Namun usaha keduanya sia – sia belakan karena tenaga mereka kalah kuat jika dibandingkan dua pengawal yang menyeret tubuh kecil keduanya dengan kasar itu.


“ Karena nyoya kedua menganggap kamu sangatlah penting, maka nyonya akan menyelesaikannya sendiri…”


Selesai berkata seperti itu, Duo beserta dua orang pelayan yang mendampinginya segera pergi meninggalkan gudang.


Ruangan dalam gudang tiba – tiba menjadi sunyi senyap. Gui Momo bergerak menyusut kesudut ruangan dengan wajah ketakutan.


“ Tidak !!!....”


“ Aku masih belum mau mati !!!....”


“ Aku masih ingin hidup !!!....”, batin Gui Momo ketakutan.


Semua orang yang bekerja dikediaman Jiang sangatlah tahu, siapapun yang masuk kedalam gudang ini tidak akan mendapatkan akhir yang baik.


Mereka semua akan menghilang dari kediaman Jiang dengan tenang tanpa suara, seolah – olah keberadaan mereka tidak pernah ada di dunia ini sebelumnya.


Semua itu diperuntukan untuk pelayan pendosa yang tak terampuni atau seseorang yang telah mengetahui rahasia yang seharusnya tidak dia dengar sehingga hanya kematianlah yang bisa membungkam mulut mereka.


Sementara itu, di aula leluhur tampak Jiang Xia Yan tersenyum puas setelah dia berhasil menembus langit tingkat keempat.


Tak sia – sia baginya untuk ikut ke kuil Guandong meski disana penuh akan jebakan karena dia bisa mendapatkan energy yin murni yang jarang bisa ditemukan di negara ini.

__ADS_1


Selain bisa menembus dua tingkat hanya dalam waktu sepertiga malam saja, kondisi fisiknya sekarang menjadi lebih stabil dari pada biasanya.


Bahkan kondisi tubuh Jiang Xia Yan yang selama ini sangat lemah cukup bertenaga hingga membuat gadis itu semakin percaya diri bisa segera menuntaskan para musuh yang selama ini mengelilinginya.


“ Kurasa, kali ini aku harus benar – benar melenyapkan Gui Momo baru keluarga kedua dan keluarga ketiga….”, batin Jiang Xia Yan tersenyum licik.


Merasa jika Feng Mo Tian masih mengawasinya, meski tak berbahaya untuknya tapi jujur saja kehadiran pemuda itu cukup menganggu ketenangannya.


“ Mau sampai kapan kamu bersembunyi disitu ?....”, ucap Jiang Xia Yan dengan nada datar dan dingin.


Feng Mo Tian pun segera keluar sambil terkekeh. Sudah cukup lama dia bertahan dan akhirnya keingginannya terkabul.


“ Apa kamu tak ingin mengucapkan terimakasih kepadaku ?....”, ucap Feng Mo Tian dengan senyum menggoda.


Jika itu wanita diluaran sana, mungkin mereka akan langsung pingsan mendapatkan senyuman manis dari Feng Mo Tian.


Tapi dihadapannya ini adalah Jiang Xia Yan dimana jiwa aslinya merupakan wanita berhati dingin dan tak tersentuh oleh lelaki hingga menanggapi godaan yang dilayangkan pemuda yang ada dihadapannya itu dengan wajah datar.


“ Tidak perlu....”, jawab Jiang Xia Yan singkat.


“ ck ck…tak kusangka nona muda ketiga sama sekali tak memiliki tatakrama. Bukankah seharusnya aku mendapat hadiah karena aku sudah membantumu selama berada di kuil …..”, ucap Feng Mo Tian menyeringai licik.


“ Tidak diperlukan….”, Jiang Xia Yan masih menjawab singkat dengan nada lebih dingin dari sebelumnya.


Hahahaaaa…..


Tiba – tiba saja Feng Mo Tian tertawa keras, membuat Jiang Xia Yan menaikkan satu alisnya heran melihat tingkah absurd pemuda yang ada dihadapannya itu.


Sedetik kemudian, tubuh Jiang Xia Yan sudah dikukung oleh Feng Mo Tian ditembok, membuat gadis itu hanya bisa menatapnya tajam.


“ Kenapa kamu marah ?....”


“ Bukankah tujuanmu malam itu sudah tercapai….”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum sinis.


Sekali Feng Mo Tian tertawa keras, dia sama sekali tak menyangka jika tujuannya malam itu bisa terlihat jelas di mata gadis itu.


Sebenarnya selain untuk memantau pergerakan Jiang Xia Yan, malam itu dia pergi ke kuil juga berencana untuk menghabisi oangeran Ming Qianfan.


Tapi melihat kejadian yang ada, diapun mengurungkan niatnya dan hanya melenyapkan pasukan milik pangeran Ming Qianfan saja tanpa menyentuh adik dari kaisar Ming Qin yang sudah dia incar sebelumnya.


“ Kamu membuatku semakin penasaran….”, bisik Feng Mo Tian sebelum melesat pergi.


Hembusan nafas hangat Feng Mo Tian di telingga membuat tubuh Jiang Xia Yan menegang seketika.


Meski tubuhnya masih gadis polos yang masih belia, tapi jiwa yang menempatinya adalah wanita dewasa yang tentunya sangat paham jika Feng Mo Tian melakukan semua itu dengan sengaja.


" Sial !!!...aku dipermainkan olehnya....", batin Jiang Xia Yan kesal.

__ADS_1


__ADS_2