Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
CATUR PERANG


__ADS_3

Dikediaman keluarga pertama, begitu tiba Jiang Shing dan istrinya segera pergi kedalam kamar mereka untuk beristirahat karena cukup lelah dengan semua kejadian tak terduga  yang terjadi selama perjamuan berlangsung.


Namun tidak dengan Jiang Chen, dia malah memilih duduk di teras depan kamar sang adik dengan tubuh tegap dan wajah tegang.


Jinying dan Kiew yang hendak menghampiri dan bertanya mengurungkan niatnya ketika melihat wajah wakil jenderal Jiang shing itu menggelap.


“ Nona….”, ucap Lin dengan sorot khawatir.


“ Kalian pergi istirahat dulu, kakak biar aku yang tangani….”, usir Jiang Xia Yan halus.


Keempat pelayan pribadinya itupun langsung undur diri. Jika sudah mendapat perintah seperti itu, merekapun tak lagi berani membantah seperti sebelum – sebelumnya.


Apalagi Lin dan Chyou yang tadi ikut hadir dalam pesta yang berlangsung didalam istana tentunya sangat tahu peristiwa besar apa yang terjadi disana.


Untuk itu, malam ini mereka tak akan menganggu pembicaraan penting kakak beradik tersebut yang tentunya akan membahas semua hal yang terjadi didalam istana malam ini.


“ Kakak tertua….”, sapa Jiang Xia Yan hangat.


“ Adik….”, lamunan Jiang Chen langsung buyar begitu suara lembut menerpa indera pendengarannya.


“ Kenapa tidak langsung beristirahat….”


“ Bukankah malam ini begitu melelahkan…. ”, ucap Jiang Xia Yan penuh perhatian.


“ Aku tak akan bisa tidur malam ini hingga semuanya jelas….”, ucap Jiang Chen cemas.


Jiang Xia Yan sangat tahu apa yang saat ini menganjal pikiran sang kakak. Dengan santai, diapun mulai mengeluarkan sebuah catur dan meletakkannnya diatas meja.


“ Kakak…., bermainlah catur denganku sekarang….”, ucap Jiang Xia Yan tenang.


“ Adik…, ini sudah terlalu malam….”, ucap Jiang Chen keberatan.


Jiang Xia Yang tak perduli dengan nada protes yang dilayangkan oleh sang kakak. Malam ini dia akan berkomunikasi dengan pemuda tampan yang ada dihadapannya melalui permainan catur perang agar lebih mudah untuk dipahami.


“ Kedua pasukan ini akan saling berhadapan….”


“ Ini tentaraku….”


“ Dan ini tentaramu….”, ucap Jiang Xia Yan sambil memberikan bagian hitam kepada sang kakak sedangkan dirinya sudah mengatur bagian putih miliknya diatas bidak.


Melihat catur yang akan dimainkan adalah catur perang, sebagai wakil jenderal tentunya Jiang Chen merasa sangat tertarik.


Apalagi yang mengajaknya bermain adalah sang adik yang selama ini tidak pernah dia ketahui bisa bermain catur, apalagi catur perang.

__ADS_1


“ Baiklah…aku ingin melihat kejutan apa lagi yang akan kamu tunjukkan padaku malam ini, dek….”, batin Jaing Chen bersemangat.


Potongan putih dan hitam yang jatuh dibidak catur seoalah – olah itu adalah medan perang yang sesungguhnya dimana sang pemain adalah komando perangnya.


Jiang Xia Yan diberi kesempatan untuk bermain terlebih dahulu. Dia pun menunjukkan gerakan yang lambat namun langkah yang dia ambil sangat halus.


Berbeda dengan Jiang Chen yang sudah mulai dari awal menggunakan langkah tajam namun terlihat sangat lembut dan cermat.


Gerakan bidak hitam Jiang Chen terlihat menekan dan memaksa tapi itu tak membuat Jiang Xia Yan diam, bidak putihnya terus bergerak sesuai dengan ritmenya dengan pelan dan tak tergesa – gesa.


Meskipun sekilas terlihat bidak yang dimainkan oleh sang adik akan kalah, tapi begitu bidak hitam milik Jiang Chen ingin melahapnya, Jiang Xia Yan berhasil melarikan diri dengan licik.


Sudah habis sebatang dupa, tapi tak ada satupun bidak hitam maupun bidak putih yang hilang dari papan catur yang mereka mainkan.


Tapi, seseorang bisa melihat dengan jelas bahwa bidak hitam Jiang Chen menempati posisi kunci dan bidak putih dipaksa bergerak kesudut.


Jika ini terus berlanjut, maka bisa dipastikan bidak hitam milik Jiang Chen bisa menggigit satu persatu bidak putih milik Jiang Xia Yan secara pasti.


“ Tampaknya, adik tidak terlalu berpengalaman….”, batin Jiang Chen senang waktu melihat kemenangan ada didepan matanya.


Melihat senyuman sang kakak, Jiang Xia Yan pun langsung bergerak cepat dan mulai membalikkan keadaan.


Jiang Chen sangat terkejut dengan semua langkah yang diambil oleh sang adik yang terus memaksa bidak hitam miliknya kesudut.


Selanjutnya, Jiang Xia Yan pun melakukan serangan terus menerus dan tidak tertahankan lagi. Gerakannya seperti tornado yang langsung melahap habis bidak hitam dalam satu kali putaran.


Dalam waktu kurang dari beberapa menit setelah Jiang Chen merasakan jika dia akan mendapatkan kemenangan, kepingan bidak hitam berangsur – angsur mulai menghilang dari papan digantikan dengan bidak putih seluruhnya.


“ Kamu kalah kakak….”, Jiang Xia Yan tersenyum lebar waktu satu bidak hitam terakhir menghilang dari papan catur.


“ Baiklah…aku mengaku kalah…”, ucap Jiang Chen getir.


Dia sama sekali tak menyangka, seoarang jenderal muda, wakil jenderal besar Jiang Shing dalam pertempuran dikalahkan hingga tak tersisa oleh seorang gadis kecil tanpa ampun tentunya akan menjadi lelucon paling memalukan jika ada yang mengetahuinya.


Bukan hanya terkejut karena berhasil dikalahkan oleh sang adik, Jiang Chen justru terkejut setelah memahami keseluruhan permainan yang ada.


Apa yang dimainkan oleh sang adik bukanlah cara bagaimana  mengendalikan lawan tapi lebih kearah pemahaman tentang situasi peperangan secara keseluruhan.


Langkah yang pada awalnya lemah dan lembut tiba – tiba menjadi tajam dan mematikan seolah – olah sedari awal, permainan ini sudah berada dalam genggamannya.


“ Jadi, apa yang bisa kakak simpulkan dari permainan yang baru saja kita lakukan ?....”, Jiang Xia Yan bertanya dengan tatapan penuh selidik.


“ Gerakan ini….”

__ADS_1


“ Ahhh….”, ucap Jiang Chen dengan wajah mengerti.


Selama ini dalam berurusan dengan keluarga kedua, Jiang Xia Yan melakukan gerakan lembut dan bertahan bukan karena dia ingin melepaskan mereka begitu saja akan tetapi lebih menunggu kesempatan.


Pada kesempatan itu ada, dia akan menggunakan jebakan yang mereka buat untuk menghancurkan diri mereka sendiri dan keluar sebagai pemenang.


Seperti apa yang terjadi pada malam  ini, Jiang Xia Yan terlihat bertahan dan tak mengatakan hal apapun kepada kedua orang tuanya sehingga membuat Qianyi merasa jika keponakannya tersebut masih sama seperti sebelumnya, penakut dan bodoh sehingga diapun berani melangkah lebih jauh.


Dan siapa duga jika kali ini jebakan dan perangkap yang dia buat kembali kepada dirinya dan sang putri sehingga membuat mereka terpojok dan tak bisa mundur lagi.


“ Ada banyak jalan untuk mencapai tujuan…”


“ Dan tak selamanya jalan keras dan tajam cocok untuk kita mainkan…”


“ Akan tetapi, jalan putih juga tak selamanya bisa menjamin kemenangan…”


“ Dan jika itu terjadi….”


“ Maka jalan gelaplah yang harus kita pilih….”, ucap Jiang Xia Yan tenang.


Sikap tenang yang ditunjukkan oleh Jiang Xia Yan membuat Jiang Chen kagum apalagi pesona dan wajah cantik sang adik dibawah temaram lilin yang menyala membuatnya terlihat seperti seorang dewi.


Kulit putih cerah bersinar seperti seorang dewi yang turun dari kayangan, tapi sorot tajam yang keluar dari matanya terlihat bagaikan malaikat maut yang akan mengambil nyawa siapa saja yang berani menghalangi langkahnya.


“ Kecantikan dan kekejaman berbalut menjadi satu memang sungguh mengerikan….”, batin Jiang Chen bergidik ngeri.


Selama menjadi jenderal muda dalam peperangan, pemuda ini tak pernah merasakan takut dan ketidak nyamanan seperti ini.


Tapi, begitu memandang wajah sang adik yang terlihat tenang dan memukau justru dia merasakan ketakutan yang teramat dalam hingga sampai ketulang – tulangnya.


“ Jika begitu, apa yang bisa kakak bantu ?....”, ucap Jiang Chen dengan tatapan menyelidik.


Jiang Chen merasa jika sang adik mengajaknya bermain catur malam ini tentunya memiliki tujuan yang pasti.


Melihat kakaknya cukup mengerti apa yang ingin disampaikannya tanpa dia harus berkata banyak, Jiang Xia Yan pun langsung mengatakan tujuan sebenarnya.


“ Aku memerlukan uang dalam jumlah yang cukup banyak…”


“ Bisakah hadiah yang diberikan dari istana dijadikan uang ?....”, ucap Jiang Xia yan to the point.


Jiang Chen terlihat sedikit terkejut dengan keingginan sang adik yang meminta banyak uang cash kepadanya.


“ Untuk apa ?....”, itulah yang ada dalam benaknya sekarang.

__ADS_1


Tapi karena dia sudah percaya dengan sang adik maka Jiang Chen pun mengiyakan permintaan tersebut dan berjanji akan mengantarnya besok pagi.


__ADS_2