
Jiang Xia Yan tetap mempertahankan ekspresi datarnya pada saat mendengar semua ancaman yang keluar dari mulut nyonya besar Jiang.
Dia tetap tenang seolah hukuman besar yang ada dihadapannya bukanlah apa – apa. Gadis itu tak menampilkan ekspresi apapun dan wajahnya tetap datar.
Tentu saja hal itu membuat Jiang Quon merasa direndahkan. Selama ini semua orang akan berlutut meminta ampun begitu melihat amarahnya.
Tapi gadis kecil dihadapannya ini, bukan saja tidak takut tapi sikapnya sangat tenang seolah – olah sama sekali tak terganggu apapun,dan dengan tenangnya Jiang Xia Yan mulai bersuara
“ Paman kedua memang memiliki hati yang sangat baik....”
“ Kakak tertua sedang berbaring lemah ditempat tidur, paman kedua tidak melihatnya malah sibuk mendisiplinkanku atas nama ayah…”
“ Apa mungkin paman kedua sangat menyayangiku melebihi kakak tertua ?....”
Ucapan Jiang Xia Yan yang begitu tenang dan menghanyutkan justru membuat hati Jiang Quon merasa tersindir.
Memang benar jika selama ini dia sama sekali tak perduli dengan anak keduanya itu karena berjenis kelamin perempuan.
Dia lebih mengutamakan anak pertama serta ketiganya yang merupakan yang berjenis kelamin laki - laki karena bisa menjadi penerus keluarga Jiang.
Kali ini dia membela Jiang Xiuying semata – mata karena marah gadis itu tidak bisa dia gunakan lagi sebagai batu pijakan untuk karirnya karena kemurniannya telah hancur.
Masih untung jika ada laki – laki bangsawan yang mau menikahinya dan menerima keadaannya yang sudah kotor seperti itu.
Hal itulah yang memacu kemarahannya dan dia memerlukan seeorang sebagai pelampiasan, Jiang Xia Yan lah yang pada akhirnya menjadi sasarannya.
Semua orang terdiam, bahkan ekspresi nyonya besar Jiang sudah mulai menggelap. Jiang Yu terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam sementara sang istri ada kilatan api kemarahan disorot matanya yang biasa terlihat teduh.
Jiang Xialun membuka mulutnya lebar – lebar dan melotot tak percaya jika adik ketiganya mampu berkata sarkasme seperti itu.
Sedangkan Qianyi menundukkan kepala dengan wajah merah padam sambil mengepalkan tinjunya dengan sangat erat.
“ Jiang Xia Yan !!!....”
“ Kamu masih belum merenungkan kesalahanmu !!!....”
“ Karena itu, jika aku tak mengajarimu sekarang maka aku akan malu untuk menghadapi ayahmu !!!....”, ucap Jiang Quon penuh amarah.
Jiang Xialun tersenyum dalam hati waktu melihat paman keduanya mulai mengambil tongkat yang ada dalam kotak tersebut. Dia sangat berharap akan melihat kemalangan adik ketiganya saat ini juga.
Namun, gerakan Jiang Quon terhenti waktu Jiang Xia Yan kembali berkata dengan penuh penekanan disetiap katanya.
“ Bagaimana paman kedua akan mengajariku ?....”
“ Menggunakan tongkat ini untuk membunuhku ?....”
“ Atau membungkamku ?.....”
“ Atau memukulku setengah mati sebelum dikirim kepengadilan ?....”
__ADS_1
Jiang Xia Yan sama sekali tak merasa takut, justru dia malah memberikan kata – kata provokatif membuat semua orang terbelalak karena terkejut.
“ Gadis jahat !!!....”
“ Kata – kata apa yang kau ucapkan ? !!!....”
“ Mungkinkah kamu ingin mengatakan bahwa paman keduamu ingin membunuhmu ?....”, teriak nyonya besar Jiang penuh amarah.
Melihat ada kesempatan untuk memperkeruh keadaan dan membuat Jiang Xia Yan terus berselisih dengan keluarga kedua, Ruo Xinxin yang sedari diam akhirnya mulai bersuara.
“ Nona muda ketiga….”
“ Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu ?....”
“ Kamu telah melukai Ying’er…”
“ Tapi, bagaimana kamu membuat tuduhan palsu terhadap korban….”, ucap Ruo Xinxin berusaha memberi bensin pada api yang sedang berkobar.
Jiang Xia Yan yang pada awalnya tak mentargetkan keluarga ketiga saat ini merasa gemas melihat bibi ketiganya mengambil kesempatan dalam situasi ini.
Tak ingin berbasa – basi lagi diapun mulai menanggapi ucapan bibi ketiganya itu hingga membuat wanita tersebut langsung bungkam seketika.
“ Bibi ketiga….”
“ Jika tidak tahu apa – apa….”
“ Sebaiknya anda diam….”
Jelas saja ucapan Jiang Xia Yan tersebut sama sekali diluar ekspetasi Ruo Xinxin meski dia berharap bisa mengambil keuntungan dari perdebatan ini.
Melihat rencananya hampir gagal, Qianyi pun melakukan langkah terakhir dengan menangis tersedu – sedu dan bersujud dikaki nyonya besar Jiang berharap mendapatkan keadilan.
“ Lihatlah !!!!.....”
“ Nona muda ketiga sangat membenci kami…. ”
“ Dia telah menyakiti Ying’er tapi sama sekali tak menyesal….”
“ Justru sekarang dia merendahkan suamiku…”
“ Tindakannya sangat sombong karena mengandalkan reputasi besar ayahnya untuk menindas kami….”
“ Selama ini keluarga kedua selalu mendukung keluarga pertama….”
“ Bagaimana bisa keluarga pertama melakukan hal buruk ini kepada kami….”
Tangisan Qianyi terlihat sangat menyedihkan dan menyayat hati. Seolah – olah semua yang dia katakan adalah kebenaran yang mutlak untuk dipercayai.
Tapi, sayangnya dia membawa nama Jiang Shing yang bagi Jiang Xia Yan sangat tabu untuk diucapkan oleh mulut kotor Qianyi.
__ADS_1
“ Bibi kedua terus mengatakan jika aku melukai kakak tertua….”
" Dan sekarang aku ingin mengajukan pertanyaan pada bibi….”
“ Apakah bibi kedua bersedia untuk menjawabnya ?....”, ucap Jiang Xia Yan lantang.
Meski Qianyi merasa ragu, tapi dia tak ingin topengnya terbuka sekarang karena banyak sorot mata menuju kepadanya.
“ Baik…apa yang ingin kamu tanyakan ?...”, ucapnya lemah sambil menyeka air mata yang menetes deras dipipinya.
“ Aku ingin bertanya pada bibi…”
“ Bukankah bibi kedua tinggal disebelah kamarku dan itu sangat dekat dengan kejadian buruk yang menimpah kakak tertua…”
“ Pada saat kejadian, kenapa bibi tidak menolong kakak tertua…”
“ Melihat luka yang ada ditubuh kakak tertua, tentunya malam itu dia berjuang untuk melawan….”
“ Dan kondisi kamar yang sangat berantakan jelas ada keributan besar disana….”
“ Bagaimana bibi kedua tidak bisa mendengar suara apapun dalam posisi sedekat itu ?....”
“ Mungkinkan bibi kedua mendengar tapi terlalu lelah untuk keluar atau….”, ucap Jiang Xia Yan dengan penuh penekanan.
“ Kamu…..”, ucap Qianyi gugup.
“ Tentu saja bibi kedua tidak mendengar suara minta tolong dari kakak tertua….”
“ Kenapa ?....”
“ Tentu karena kakak tertua tidak berani meminta bantuan….”
“ Dan, kenapa kakak tertua tak berani meminta bantuan ?....”
“ Apakah dia tahu siapa penjahat itu ?...”
Perkataan Jiang Xia Yan yang langsung melesat tepat sasaran tentu saja membuat Qianyi menjadi gusar.
“ Omong kosong macam apa itu ?....”, teriak Qianyi tak terima.
Tubuh Qianyi bergetar hebat karena amarah dan rasa takut yang dalam. Semua orang pasti akan langsung berpikir bagaimana bisa dia yang berada dikamar yang sangat dekat dengan putrinya malah bertindak abai.
Apa itu karena dia tahu jika yang seharusnya ada dikamar tersebut adalah keponakannya, bukan putrinya sehingga dia membiarkan semua hal buruk itu terjadi.
Dan saat ini, Jiang Xia Yan seperti menguliti habis rencana busuk Qianyi dihadapan semua orang membuatnya mulai berada diambang frustasi.
Membuat wanita tersebut hanya bisa terdiam menahan semua api amarah yang bergejolak hebat dalam hatinya sambil menunggu kesempatan untuk membalikkan semua ucapan Jiang Xia Yan kepadanya.
Jiang Xia Yan ynag melihat bibinya terdiam dengan wajah pucat pasi tersenyum puas dalam hati.
__ADS_1
" Ternyata, hanya segini saja kemampuan mereka.....", ucap Jiang Xia Yan mencemoh