Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
KEKEJAMAN JIANG YONG


__ADS_3

Didalam penjara yang menyeramkan, angin bertiup masuk melalui vertilasi kecil membuat orang yang berada didalamnya menyusut menjadi bola.


Melihat jika udara dingin terasa menusuk tulang, gadis muda itupun berdiri sambil berbalut selimut lusuh dan robek berusaha untuk menutup vertilasi dengan sepotong kain lusuh yang ditemukannya didalam sel penjara.


Karena tubuhnya tak terlalu tinggi, gadis itu berjuang keras sambil berjinjit untuk bisa menutup celah yang membuat tubuhnya semakin membeku.


“ Sial !!!!....”


“ Kenapa lubang angin ini tinggi sekali !!!....”, gerutu Jiang Xiuying kesal.


Dia terus saja berjinjit dan sesekali melompat agar kain tersebut menutup lubang angin tersebut.


Namun seberapa keras dia berusaha nyatanya hal itu sama sekali tak membuahkan hasil dan pada akhirnya dia hanya bisa menyerah.


Penjaga penjara yang kebetulan sedang berpatroli hanya menatapnya sambil tersenyum senang melihat kemalangan gadis itu tanpa ada sedikitpun niat untuk membantunya.


Menyadari ada petugas yang berpatroli, Jiang Xiuying pun melambai untuk memanggilnya. Tapi petugas tersebut masih terdiam ditempatnya sambil memberikan tatapan jijik kepadanya.


“ Apa ?....”, ucap penjaga itu ketus.


“ Belakangan ini apa ada anggota keluargaku yang datang ?....”


“ Atau mungkin ada pesan yang ingin mereka sampaikan kepadaku ?....”,tanya Jiang Xiuying penuh harap.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh nona muda tertua Jiang itu sang penjaga penjara tak bisa lagi untuk menahan tawanya.


“ Apa yang kamu pikirkan nona…..”


“ Kasus ini masih belum terselesaikan jadi siapa yang berani untuk menjenggukmu disini….”


“ Selain adik ketigamu….”


“ Tidak ada lagi yang datang untuk menanyakan informasi mengenai dirimu….”, ucapnya terkekeh.


Jiang Xiuying mencengkeram kuat ujung gaunnya yang lusuh dan kotor tersebut dengan penuh kekecewaan dan amarah.


Saat ini tak ada lagi yang perduli dengannya, bahkan keluarganya sendiri seperti telah membuangnya begitu saja.


Tiba – tiba saja setiap kata yang Jiang Xia Yan ucapkan waktu berkunjung kemarin kembali terngiang digendang telinganya yang membuatnya bertindak implusif.


“ Penjaga….”


“ Jika kakak laki – lakiku datang tolong katakan bahwa suasana hatiku sedang tidak baik….”


“ Dan aku tak ingin menemui siapapun….”, ucap Jiang Xiuying tajam.


Diapun segera melepaskan gelang pemberian sang ibu untuk diberikan kepada penjaga penjara agar perintahnya tersebut dijalankan.


Selama berada didalam penjara, semua perhiasan yang Jiang Xiuying kenakan perlahan habis untuk menyogok penjaga penjara agar dia mendapatkan selimut dan makanan yang sedikit layak.


Ketika penjaga melihat gelang emas tersebut, kedua matanya langsung bersinar cerah. Dan diapun segera menganggukkan kepala sebelum pergi meninggalkan sel.


Setelah penjaga pergi, Jiang Xiuying kembali berjongkok tak berdaya sambil memegangi bahunya dan membenamkan kepalanya diantara kedua kakinya.


Jiang Xiuying pun kembali menangis sesenngukan. Dia sama sekali tak menyangka, baru saja beberapa hari kemarin dia masih menjalani kehidupan sebagai nona muda tertua Jiang yang selalu dipuja dan dihormati serta  bergelimang harta.


Tapi sekarang, dia bernasib sangat menyedihkan. Bahkan hanya untuk memakan semangkok bubur sisa dia harus menukarnya dengan perhiasan.


Jika tidak, maka setiap hari dia akan memakan bubur basi dan roti berjamur yang diberikan oleh petugas untuk menyiksanya.


Akibat kelelahan menangis pada akhirnya Jiang Xiuying pun tertidur hingga suara ketukan di selnya membuatnya terbangun dengan linglung.


Cahaya redup yang ada menampilkan sosok yang sangat familiar untuknya. Untuk sesaat Jiang Xiuying merasa sangat bahagia.


Tapi ketika dia teringat kembali ucapan adik ketiganya, senyuman yang tadi sempat merekah kembali hilang berganti tatapan tajam dan sinis.


“ Apakah adik perempuan baik – baik saja ?....”, tanya Jiang Yong lembut.

__ADS_1


“ Kakak kedua….”


“ Kenapa kamu datang kesini….”, ucap Jiang Xiuying datar.


Kedua alis Jiang Yong menukik sempurna dengan tatapan heran melihat adik perempuannya tak sennag akan kedatangannya.


Diapun segera mengeluarkan kunci dari balik lengan bajunya dan berjakan masuk kedalam sel.


Ketika melihat kakaknya membuka selnya, Jiang Xiuying pun merasa sangat senang hingga dia langsung berdiri berjalan mendekat kearah sang kakak.


“ Untuk sementara aku tidak bisa menyelamatkanmu….”


“ Aku datang kesini hanya untuk melihatmu dan memberimu kudapan kesukaanmu….”, ucap Jiang Yong hangat.


Diapun segera mengulurkan bungkusan yang tadi dia bawa. Kedua mata Jiang Xiuying langsung bersinar waktu melihat jika didalam kantong kertas itu ada kue kacang kesukaannya yang masih hangat.


“ Aku tahu adik perempuan sudah banyak menderita disini…”


“ Jadi malam ini aku sengaja membawakan kue kacang kesukaanmu agar hati adik perempuan senang….”


“ Makanlah….”, ucap Jiang Yong penuh perhatian.


Jiang Xiuying tak bisa lagi untuk menyembunyikan kesedihannya waktu mencium aroma gurih kue kacang hangat yang ada ditangannya.


“ Jangan menangis….”


“ Makanlah….”


“ Aku akan berusaha untuk membebaskanmu secepatnya….”, ucap Jiang Yong sambil tersenyum lembut.


Mendengar ucapan kakak keduanya, Jiang Xiuying langsung mendongak. Entah kenapa dia merasa ngeri melihat senyuman sang kakak hingga tanpa sadar tubuhnya mulai bergetar hebat.


Ucapan Jiang Xia Yan kembali menggema digendang telinganya membuat alarm dalam tubuh Jiang Xiuying pun berbunyi dengan keras.


Kue kacang yang sudah berada didepan mulutnya tak bisa Jiang Xiuying gigit. Bahkan sekarang dia sudah menatap ngeri melihat kue kesukaannya itu.


Hal yang paling berharga dalam berhubungan dengan orang lain adalah kepercayaan.


Tapi menyadari fakta jika permasalahan besar yang menimpahnya saat ini, apakah kakak keduanya itu rela untuk kehilangan prospek karir yang cerah dimasa depan hanya untuk membantunya.


Tiba – tiba Jiang Xiuying teringat jika dia sudah menyogok penjaga penjara agar tak mengijinkan kakak keduanya itu untuk masuk, tapi pada kenyataannya pemuda itu berhasil masuk dan memberi sebungkus kue kacang kepadanya.


“ Apa sebenarnya maksud kedatangan kakak kedua…. ”


“ Apakah dia benar – benar datang untuk membantuku….”, batin Jiang Xiuying penuh rasa curiga.


Jiang Xiuying pun mulai mengedarkan pandangannya. Biasanya malam seperti ini selalu ada penjaga yang sedang bermain kartu sekedar mengobrol di ujung sel.


Tapi saat ini suasananya sangatlah sunyi dan dia pun mulai menyadari jika hanya ada dirinya dan Jiang Yong didalam sel penjara ini.


“ Kenapa tidak dimakan ?....”, tanya Jiang Yong dengan tatapan menyelidik.


“ Aku…aku akan memakannya nanti….”, ucap Jaing Xiuying gagap.


“ Kue kacang ini akan menjadi tak enak setelah dingin…”, ucap Jiang Yong lembut.


“ Tidak…”


" Aku masih kenyang sekarang...."


“ Aku akan menyimpannya dan memakannya nanti….”,


Jiang Xiuying pun terus mengelak dan langsung membungkus kembali kue kacang tersebut dan meletakkannya disamping tubuhnya dengan ketakutan.


Jiang Yong yang melihat adiknya gugup dan ketakutanpun akhirnya tertawa dengan keras dan wajahnya berubah menjadi gelap.


“ Setelah tinggal beberapa hari didalam penjara….”

__ADS_1


“ Tampaknya adik perempuan menjadi lebih pintar dari sebelumnya….”


“ Tampaknya rencanaku sudah bisa adik perempua  baca…. ”


“ Aku hanya ingin adik perempuan pergi dengan tenang dan nyaman….”, ucap Jiang Yong tak selembut sebelumnya.


Melihat jika kakak keduanya mulai menunjukkan wajah aslinya, spontan Jiang Xiuying pun bergerak mundur sambil berkata “ Kakak kedua, apa yang kamu ingin lakukan padaku ?...”.


Melihat adiknya ketakutan, Jiang Yong pun perlahan mencodongkan badannya kepada Jiang Xiuying hingga membuat tubuh gadis itu bergetar dengan hebat.


“ Dengan sikap waspadamu itu….”


“ Aku rasa kamu sudah mengetahui niatku…”


“ Meski kamu sedang hamil sekarang…..”


“ Itu sama sekali tak mempengaruhiku….”, ucap Jiang Yong tajam.


Jiang Xiuying sangat terkejut hingga kedua matanya melotot sempurna. Melihat hal itu, Jiang Yong pun semakain tak sabar untuk segera mengakhiri semuanya.


“ Adik perempuan tidak boleh menyalahkan kakak kedua karena bertindak kejam….”


“ Sekarang kamu telah membawa bencana besar dan melibatkan seluruh keluarga Jiang….”


“ Tidak mungki keluarga kedua harus kehilangan nyawa hanya untuk melindungi adik perempuan seorang….”


“ Adik perempuan tidak boleh terlalu egois….”, ucap Jiang Yong penuh penekanan.


Setelah mengucapkan kata tersebut, Jiang Yong pun langsung mencekik leher adik perempuannya dengan kuat.


Jiang Xiuying berjuang keras untuk melepaskan diri dari cekikan sang kakak.


Namun, sekeras apapun dai berjuang tenaganya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan sang kakak apalagi dia dalam kondisi hamil sekarang.


Jiang Xiuying hanya bisa merontah dan menendang kesegala arah membuat jerami yang ada dikakinya terbang kemana – mana.


“ Aku tahu adik perempuan tidak akan rela kehilangan nyawa sia – sia….”


“ Adik perempuan tidak ada hubungannya dengan masalah ini tapi harus berkorban nyawa…”


“ Aku sebagai kakak keduamu berjanji akan membalaskan dendam untukmu…”


“ Padas saat karir kakak berada dipuncak….”


“ Nasib keluarga pertama terutama Jiang Xia Yan akan seribu kali lebih tragis dari kematainmu saat ini…”


“ Jadi, adik perempuan tidak boleh membenciku….”,


ucap Jiang Yong lembut tapi semakin kuat mencekik leher sang adik.


Tubuh Jiang Xiuying perlahan – lahan mulai lemas dengan wajah membiru akibat kekurangan pasokan oksigen yang masuk kedalam paru – parunya.


Menyadari jika adiknya sudah tak bernyawa lagi, Jiang Yong pun perlahan melepaskan tangannya hingga tubuh Jiang Xiuying langsung luruh keatas jerami.


Jiang Yong acuh menatap tubuh sang adik yang sudah tak bernyawa tersebut.


Dan diapun segera menusuk satu jari Jiang Xiuying dengan benda tajam sampai mengeluarkan darah.


Dengan tenang, Jiang Yong pun mulai menuntun jari tersebut untuk menuliskan pesan terakhir sang adik di dinding batu penjara.


Selanjutnya, Jiang Yong pun merobek sebagian gaun sang adik dan membuat simpul di jeruji besi dan memasukkan kepala Jiang Xiuying didalamnya.


Setalah selesai mengantung tubuh sang adik, Jiang Yong pun mengambil kantong kue kacang yang tadi dibawanya.


“ Adik perempuan….”


“ Kamu tidak akan mati dengan sia – sia…”

__ADS_1


“ Kakak kedua akan membalaskan dendammu…” ,


Ucap Jiang Yong sebelum keluar dari dalam sel dan meninggalkan sang adik yang tergantung dengan pesan darah dibatu dinding penjara.


__ADS_2