
Ditepi jendela ruang kerjanya dilantai dua rumah produksi, Jiang Xia Yan mulai menutup mata sambil menikmati sentuhan angin musim yang membawa kesejukan tersendiri baginya.
Tanpa dia sadari, dibawah jendela tampak seorang pemuda tampan yang gagah dengan baju zirah berwarna merah, kulitnya yang berwarna kecoklatan akibat sengatan matahari dan debu selama berada dimedan pertempuran menambah pemuda itu terlihat begitu memukau.
“ Apa kamu tak merindukanku ?....”, batin Feng Mo Tian bertelepati.
Mendengar suara yang tiba – tiba datang mengusik pikirannya, Jiang Xia Yan segera membuka matanya dan mengedarkan pandangannya kedepan.
“ Apa yang kamu bawa untukku ?…”, Jiang Xia Yan terlihat membalas telepati yang diberikan oleh Feng Mo Tian dengan kedua mata berbinar.
“ Aku membawakanmu beberapa kepala para pemberontak….”
“ Apa kamu menerimanya….”,ucap Feng Mo Tian sambil mengerling nakal.
“ Apa tidak ada yang lainnya ?...”
“ Aku sudah bosan dengan kepala manusia….”, ucap Jiag Xia Yan sambil memutar bola matanya malas.
Melihat gadinya sangat mengemaskan, Feng Mo Tain pun segera melompat menuju tepi jendela ruang kerja Jiang Xia Yan hingga membuat gadis itu terkejut hingga mundur beberapa langkah kebelakang.
“ Hati – hati….”, ucap Feng Mo Tian sambil menarik pinggang ramping Jiang Xia Yan hingga tubuh gadis itu langsung menubruk dada bidang Feng Mo Tian.
Tatapan keduanya terkunci untuk beberapa saat dan keduanya pun larut dalam keheningan. Ada kerinduan yang sangat dalam Jiang Xia Yan rasakan pada pemuda tampan yang ada dihadapannya tersebut.
“ Lepaskan….”
“ Kalau ada yang melihat bisa menimbulkan kesalah pahaman….”, ucap Jiang Xia sambil mendorong tubuh Feng Mo Tian namun gagal.
Cup….
Kedua mata Jiang Xia Yan langsung melotot sempurna waktu Feng Mo Tian tiba – tiba mengecup bibirnya sekilas.
Melihat reaksi Jiang Xia Yan yang sangat mengemaskan\, Feng Mo Tian langsung menari tekuk gadis itu dan kembali m*****t bibir munggil yang ada dihadapannya dengan lembut.
Jiang Xia Yan yang masih terkejut sedikit terbuai dengan ciuman Feng Mo Tian hingga tanpa sadar diapun memberikan balasan.
Melihat jika Jiang Xia Yan merespon, Feng Mo Tian pun semakin memperdalam ciumannya. Menyalurkan kerinduan yang menghimpit dadanya selama ini.
Ciuman Feng Mo Tian yang lembut dan hangat membuat Jiang Xia Yan sangat menikmati moment yang mereka alami saat ini.
__ADS_1
Berbeda dengan ciuman kaisar Ru Xie Chang yang menuntut dan penuh gairah. Tapi keduanya mampu membuat Jiang Xia Yan hilang akal sehat untuk sementara waktu.
Feng Mo Tian tersenyum penuh kebahagiaan sambil mengusap bibir Jiang Xia Yan yang basah dengan jempolnya.
“ Aku benar – benar merindukanmu….”, ucap Feng Mo Tian kembali mengecup bibir Jiang Xia Yan beberapa kali.
Jiang Xia Yan yang salah tingkah segera memalingkan wajahnya untuk menutupi rasa malu yang tiba – tiba hinggap dalam hatinya.
“ Kenapa kamu jadi murahan seperti Yan’er….”, batin Jiang Xia Yan penuh penyesalan.
Jiang Xia Yan berjalan menuju meja kerajanya sambil meruntuki kebodohannya dengan membiarkan Feng Mo Tian menciumnya.
Bahkan yang lebih parahnya lagi, bukan hanya menikmati ciuman tersebut tapi Jiang Xia Yan juga membalasnya seolah dia juga menantikan hal tersebut.
“ Bodoh….bodoh…apa yang barusan aku lakukan….”, Jiang Xia Yan kembali meruntuki dirinya.
Jiang Xia Yan masih belum sadar jika Feng Mo Tian masih berada disana dan terus mengamati setiap gerak – geriknya sambil tersenyum penuh arti.
“ Kenapa dia sangat mengemaskan seperti itu sih….”, batin Feng Mo Tian bahagia.
Setelah berusaha menenangkan hatinya, Jiang Xia Yan yang hendak duduk sangat terkejut waktu menyadari jika Feng Mo Tian masih berada didalam ruangannya.
“ Aku tak menyangka kamu sangat mengemaskan jika sedang malu seperti itu….”, ucap Feng Mo Tian tersenyum lembut.
Mendengar ucapan Feng Mo Tian, Jiang Xia Yan ingin mengubur dirinya dalam tanah saat ini juga demi menutupi rasa malunya.
Dengan cepat, Feng Mo Tian bergerak menuju tempat Jiang Xia Yan duduk dan langsung mengalungkan kedua tangannya keleher gadis itu dari belakang kursi.
“ Jangan terlalu capek kerja….”
" Jangan lupa makan dan istirahat...."
“ Aku pulang dulu ya….”
“ Nanti malam aku akan ketempatmu….”, ucap Feng Mo Tian sambil mengecup pipi kanan Jiang Xia Yan dengan lembut sebelum pergi keluar melalui jendela.
Tubuh Jiang Xia Yan masih membeku ditempat. Baru setelah derap kaki kuda berlahan mulai menjauh diapun segera menutup wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus dengan kedua tangannya.
“ Kamu benar – benar gila Yan’er…..”
__ADS_1
“ Bagaimana kamu bisa bertindak seperti itu….”
“ Padahal semalaman kamu masih memikirkan kaisar Ru Xie Chang dan sekarang kamu berciuman dengan Feng Mo Tian….”
“ Dimana otakmu ?.....”, Jiang Xia Yan terus meruntuki kebodohannya saat ini.
Han Wu Ying dan Kiew yang sedari tadi mencuri dengar dari balik pintu semua ocehan Jiang Xia Yan hanya bisa salin pandang dengan penuh rasa penasaran.
“ Kurasa nona benar – benar sedang jatuh cinta….”
“ Siapapun lelaki yang dicintai oleh nona, semoga bisa membuatnya bahagia….”, ucap keduanya mendesah pasrah.
Setelah sampai dikediaman, Feng Mo Tian segera melepaskan baju zirahnya dan langsung berendam didalam bak mandi untuk mebersihkan dirinya.
Perlahan dia usap bibirnya sambil tersenyum penuh kebahagian. Dia pada awalnya mengira jika Jiang Xia Yan akan menampar dan menendangnya keluar raungan melihat gadis itu melotot tajam waktu dia mengecup bibirnya.
Tapi menyadari jika Jiang Xia Yan menikmati ciuman dan membalasnya membuat hati Feng Mo Tian menjadi hangat dan berbunga – bunga.
Sikap Jiang Xia Yan membuat Feng Mo Tian semakin percaya diri untuk bisa mendapatkan hati nona muda ketiga Jiang tersebut meski dia harus berhadapan dengan Jiang Shing dan Jiang Chen untuk mendapatkan restu.
“ Setidaknya cintaku tak bertepuk sebelah tangan….”
“ Maka dari itu, aku akan memperjuangkannya dengan sepenuh hati….”, guman Feng Mo Tian dengan kedua mata berbinar bahagia.
Sementara itu didalam istana kerajaan Ruxie, lebih tepatnya didalam ruang kerjanya tiba – tiba saja perasaan aneh muncul membuat kaisar Ru Xie Chang memegangi dadanya untuk sesaat.
“ Ada apa ini ?....”
“ Kenapa aku merasa ada hal buruk terjadi….”, guman kaisar Ru Xie Chang gelisah.
Belum juga rasa gelisah dalam hatinya reda, tiba – tiba satu bayangan hitam melesat masuk dan berjongkok memberi hormat sambil melaporkan mengenai informasi yang diminta oleh tuannya.
“ Sialan !!!....”
“ Berani sekali kucing liar itu menyentuh gadisku !!!....”, batin kaisar Ru Xie Chang geram.
Kaisar Ru Xie Chang pun bergegs pergi keluar untuk memberi sedikit hukuman pada gadisnya yang telah nakal diluar.
Sementara Jiang Xia Yan yang masih berkutat dengan pemikirannya tak menyadari jika sebentar lagi ada binatang buas yang akan menerkamnya karena tindakannya.
__ADS_1