Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
KEBAKARAN


__ADS_3

Tak jauh dari ibukota terlihat beberapa ekor kuda sedang minum di air sungai yang sudah mulai membeku karena musim dingin sudah hampir tiba.


Tak jauh dari sungai tersebut ada sebuah padang rumput yang mulai menguning dan terlihat beberapa pasukan tentara sedang beristirahat disana.


Sedikit jauh dari para pasukan beristirahat terlihat seorang lelaki paruh baya dengan kulit perunggu karena terkena sinar matahari dan hujan selama berada dalam medan peperangan sedang menatap jauh kedepan.


Dan disampingnya duduk seorang wanita dengan usai tiga tahun lebih mudah darinya sedang mengelus kepala kudanya sambil tersenyum lembut.


Wanita tersebut memiliki sepasang mata yang hidup dan membuatnya terlihat sangat cantik meski hanya menggunakan pakaian sederhana.


Tapi yang menarik dari wanita itu adalah aura kepahlawanan yang terlihat jelas diraut wajah cantiknya itu.


“ Istriku….”


“ Sebentar lagi kita akan tiba di ibukota…”


“ Apa kamu sudah tak sabar ingin melihat putri kecil kita ?….”, ucap Jiang Shing dengan tatapan lembut.


Tatapan tajam Jiang Shing langsung berubah menjadi lembut ketika dia mengingat tentang putri kecilnya yang dia tinggalkan didalam kediaman bersama keluarga besarnya.


“ Tentu saja…itu alasanku kenapa meminta pulang cepat begitu tugas kita selesai…”, ucap Xiao Mei dengan kedua mata berbinar.


Dia sudah tak sabar ingin melihat putri kecilnya yang sudah lebih dari setahun ini tidak dia temui karena kesibukannya di medan peperangan bersama sang suami dan putra sulungnya.


Selain karena ingin segera menemui putrinya, keduanya juga ingin merayakan ulang tahun nyonya besar Jiang yang selama ini sering mereka lewatkan karena kesibukan yang ada.


Kedatangan mereka yang tanpa kabar berita terlebih dahulu memang sengaja dilakukan untuk memberikan kejutan bagi semua orang.


Rencananya kabar mengenai pemberontak yang telah mundur dan mengaku kalah akan mereka sampaikan langsung kepada kaisar sebagai kejutan akhir tahun buat orang nomor satu dikekaisaran Ming ini.


Seiring berjalannya waktu, pesta yang diselenggarakan dikediaman keluarag Jiang akan segera dimulai karena semua tamu undangan telah hadir.


Semua tamu yang hadir mulai mempertanyakan keberadaan nona muda tertua dan nona muda ketiga Jiang yang mulai awal sama sekali tak menampakkan batang hidungnya.


Bukannya mereka perhatian, hanya saja mereka haus akan informasi yang bisa dijadikan gosip terhangat di ibukota.


Keingintahuan semua orang mengenai keberadaan nona muda tertua dan nona muda ketiga Jiang dijawab oleh Jiang Xialun dan Ruo Xinxin dengan lugas jika keduanya sedang sakit sehingga tidak bisa keluar.


Bahkan mereka juga menyebarkan rumor jika Jiang Xia Yan menderita luka dalam yang berbahaya dan menular sehingga akan membuat semua orang yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi mengurungkan niatnya untuk menjenguk.


Meski tujuan mereka sebenarnya bukan berniat menjenguk tapi untuk mendapatkan bahan gossip mengenai dua lamaran yang datang kedalam keluarag Jiang dimana hal tersebut masih belum dikonfirmasi secara resmi oleh nyonya besar Jiang membuat semua orang sangat penasaran.

__ADS_1


Disisi lain, didalam aula leluhur Jiang Xia Yan berlutut didepan papan leluhur dan melihat jam pasir yang ada disampingnya.


Pasir tinggal sedikit lagi habis, itu artinya rencana yang telah disusunnya akan segera tiba. Diapun segera memasukkan tiga buah dupa kedalam guci doa dengan lembut.


Namun indera pendengarannya mendengar ada suara orang berjalan menyusup dibalik tirai yang ada dibelakangnya.


“ Ah…kamu lagi….”, ucap Jiang Xia Yan sinis.


Bukannya menjawab, Feng Mo Tian malah terkekeh sambil berjalan mendekat kearah gadis yang sudah membuatnya tak bisa tidur dengan tenang beberapa hari terakhir karena penasaran.


Feng Mo Tian tersenyum sambil kedua matanya menyapu seluruh ruangan, tapi dia sama sekali tak mendapatkan apa yang diinginkannya hingga membuatnya mendesah pelan.


Jiang Xia Yan tentu saja bisa menangkap gelagat aneh yang ditunjukkan oleh pemuda yang ada dihadapannya itu.


“ Apa yang kamu cari didalam kediaman keluarga Jiang ?....”, ucap Jiang Xia Yan dengan tatapan menyelidik.


Tak ada jawaban dari Feng Mo Tian membuat Jiang Xia Yan sedikit kesal. Diapun kembali melontarkan ucapan dengan nada pedas.


“ Mencuri barang dikediaman Jiang itu bisa dianggap sebagai rencana untuk melawan keluarga besar Jiang dimasa depan….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.


“ Mencuri ?....”, ucap Feng Mo Tian dengan sorotan tajam penuh amarah.


“ Itu adalah benda keluarga Feng dan aku kesini untuk mengambilnya kembali….”, ucap Feng Mo Tian tajam.


Jiang Xia Yan yang sudah mengetahui jika selama ini Feng Mo Tian sedang mengawasinya terlihat sangat kesal dengan sikap arogan pemuda tersebut.


Melihat jam pasir sudah mau habis sebagai tanda waktunya telah tiba, maka Jiang Xia Yan pun mulai mengusir Feng Mo Tian agar tidak menganggu rencananya.


“ Tidak ada seorangpun dibawah langit yang bisa mengusirku….”, ucap Feng Mo Tian congkak.


“ karena kamu ingin dikubur bersama leluhurku, maka aku tidak punya pilihan lain….”, ucap Jiang Xia Yan mulai berjalan mendekat kearah tempat papan leluhurnya berada.


Feng Mo Tian mengkerutkan kening cukup dalam karena masih binggung dengan ucapan Jiang Xia Yan, sedangkan dirinya sama sekali tak bisa membaca pikiran gadis itu jadi yang dia lakukan hanyalah melihat apa yang sedang gadis itu rencanakan.


Jiang Xia Yan segera mengambil beberapa papan leluhurnya dan memasukkannya kedalam tungku arang yang ada dilantai.


Dalam sekejap api yang semula hanya percikan perlahan mulai membesar. Tentu saja Feng Mo Tian sangat terkejut dengan tindakan Jiang Xia Yan tersebut.


“ Kamu sudah gila !!!....”, teriak Feng Mo Tian terkejut.


Selama ini dia banyak melihat orang yang bertindak nekat dan implusif, tapi tidak segila apa yang dilakukan oleh Jiang Xia Yan saat ini.

__ADS_1


“ Bagaimana bisa dia membakar habis papan leluhurnya tanpa rasa bersalah sedikitpun seperti itu….”, batin Feng Mo Tian tak mengerti dengan jalan pikiran gadis itu.


“ Masih belum terlambat bagi tuan muda Feng untuk pergi sekarang….”, ucap Jiang Xia Yan dengan nada dingin.


Dia sama sekali tak perduli dengan keterkejutan yang ditunjukkan oleh Feng Mo Tian kepadanya. Bahkan jika pemuda itu menganggapnya sudah gila, dia juga akan acuh.


Melihat api yang berkobar kurang besar, Jiang Xia Yan pun mulai mengambil semua barang yang bisa membuat kobaran api semakin besar.


“ Jiang Xia yan !!!....”


“ Apa yang kamu lakukan ?!!!...”


“ Apa kamu ingin mati ?!!!....”, teriak Feng Mo Tian panik.


Tapi Jiang Xia Yan tak menanggapi teriakan Feng Mo Tian. Dia terus meratakan bara api hingga hampir seluruh ruangan terbakar.


Api membumbung keatas langit dan asap tebal secara bertahap muncul dari dalam aula leluhur membuat para pengawal yang berjaga mulai panik dan berusaha memadamkan api.


Kesempatan baik itu digunakan oleh Lin untuk menerobos masuk kedalam aula utama dan membuat keributan disana, sehingga atensi semua orang teralihkan.


“ Berita buruk !!!....”


“ Berita buruk !!!....”


“ Aula leluhur terbakar !!!....”


“ Nona muda ketiga terjebak dalam api !!!....”, teriak Lin histeris.


Ketika kata – kata tersebut terdengar, aula menjadi gempar. Semua orang mulai mempertanyakan bagaiamana jIang Xia Yan bisa didalam aula, sedangkan seluruh keluarganya mengatakan jika gadis itu sedang sakit.


Qianyi dan nyonya besar Jiang merasa sangat panik, mereka tidak menyangka jika aula leluhur bisa terbakar dengan sendirinya.


Meski keduanya merasa bahagia atas kemalangan yang menimpah Jiang Xia Yan, tapi dipermukaan mereka merasa sangat sedih.


“ Cepat pergi dan lihat bagaimana kondisi nona muda ketiga….”, perintah nyonya besar Jiang tegas.


Tapi acting keduanya bisa segera terbaca oleh semua orang jika keluarga besar Jiang tak menyayangi Jiang Xia Yan.


Hal itu terbukti dengan Ruo Xinxin dan Jiang Xialun yang tetap duduk tenang setelah mendengar jika nona muda ketiga Jiang terjebak dalam api.


Tampaknya ketegangan yang terjadi masih belum berhenti sampai disini hingga teriakan penjaga didepan membuat tubuh semua orang membeku seketika.

__ADS_1


“ Jenderal besar Jiang Shing, Nyonya pertama Jiang, dan tuan muda pertama Jiang telah kembali ke kediaman…”, teriak penjaga lantang.


“ Apa ?!!!....”, seluruh anggota keluarga Jiang  pun tercengang karena sama sekali tak menyangka jika Jiang Shing beserta istri dan anaknya akan pulang hari ini.


__ADS_2