Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
MURKA


__ADS_3

Disalah satu banggunana mewah di kawasan ibukota, seorang lelaki berpakaian putih sedang memainkan cangkir porselen yang ada ditangannya dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.


“ Jadi kamu mengatakan jika nona muda ketiga Jiang adalah musuh pangeran Ming Qianfan ?...”, tanyanya penuh selidik.


“ Dia bahkan menggunakan tangan tangjienya sendiri untuk menarik pangeran Ming Qianfan kedalam lubang. Metode seperti itu memang pintar tapi sangat kejam….apalagi itu dilakukan oleh seorang gadis muda….”, ucapnya lagi.


Diapun segera beralih kepada pemuda yang ada dihadapannnya dengan tatapan penuh selidik, berusaha untuk mengetahui respon dari sahabatnya tersebut.


“ Aku menebak, bukan pangeran Ming Qianfan yang dia incar….”, ucap Feng Mo Tian santai.


“ Lalu…siapa yang dia incar ?....”, tanya Chia Ang Bei penasaran.


“ Bagaimana jika dia hanya menggunakan pangeran Ming Qianfan sebagai pintu masuk untuk melenyapkan seluruh keluarga kekaisaran Ming….”, Guzou menjawab pertanyaan sahabatnya dengan ringan.


Ketiganya pun langsung terdiam dan suasa hening menyelimuti dalam jangka waktu yang panjang, tanpa ada satupun yang berniat untuk membuka suara.


Banyak pertanyaan yang ada dalam benak masing – masing orang yang intinya sama yaitu kenapa putri dari jenderal besar yang selama ini mengabdikan diri untuk kekaisaran Ming malah ingin menghancurkannya.


“ Dendam apa yang membuat gadis tersebut bertindak hingga melangkah sejauh itu ?....”


“ Seorang diri tanpa pendukung disisinya….”


“ Sungguh sangat berani…..”


Itulah yang ada dalam benak ketiganya dan tindakan yang diambil nona muda ketiga Jiang ini dianggap tak biasa bagi mereka dan cukup berbahaya.


Tapi mengingat jika Jiang Xia Yan sama sekali tak mentargetkan keluarga mereka, ketiganya bisa merasa sedikit tenang karena mereka bukanlah musuh meski tak berada didalam satu kapal yang sama.


Sementara itu di kediaman Jiang terlihat semua orang sibuk mempersiapkan peseta ulang tahun nyonya besar Jiang yang ke delapan puluh tahun.


Meski usianya sudah hampir satu abad, tapi wanita tua ini tetap ingin merayakan pesta besar didalam kediamannya.


Toh....semua budget yang digunakan untuk melaksanakan pesat bukanlah dari dana pribadinya sendiri melainkan dana dari ketiga putranya, terutama anak tirinya Jiang Shing yang kiriman uang tiap bulannya selalu masuk kedalam kantong pribadinya beserta menantu keduanya.


Karena Qianyi masih berada di luar, maka Ruo Xinxin lah yang sekarang sibuk mempersiapkan semuanya, terutama menulis undangan untuk diberikan kepada para wanita bangsawan yang ada di ibukota.


Ruo Xinxin yang lembut dan berbakat serta ahli dalam sastra dan puisi memiliki tulisan yang sangat halus dan indah.


Untuk itu dialah yang dipilih menulis surat undangan tersebut. Jiang Yu yang melihat istrinya masih secantik dan semenawan dulu langsung melingkarkan lengannya dari belakang hingga membuat konsentrasi Ruo Xinxin menjadi buyar.


“ Suamiku…lihat, tulisanku menjadi jelek dan undangan ini tak bisa terpakai lagi….”, ucap Ruo Xinxin pura – pura kesal.


“ Apanya yang jelek…tulisan ini masih sangat bagus sama seperti dirimu yang tetap cantik dan menawan seperti dulu….”, ucap Jiang Yu mengombal.

__ADS_1


Ruo Xinxin pun tersipu malu membuat Jiang Yu merasa gemas dan langsung mendaratkan ciuman di pipi istrinya tersebut.


Ketika keduanya sedang asyik bercengkerama hangat tiba – tiba suara lantang pelayan pribadinya membuat kemesraan tersebut buyar seketika.


“ Ada apa Ren An ?....kenapa kamu sangat berisik….”, tegur Ruo Xinxin tak senang.


“ Maaf nyonya ketiga…”


“ Nyonya kedua kembali bersama ketiga nona muda….”


“ Tapi….”


“ Nona muda tertua menjadi gila….”, ucap Ren An gugup.


“ Ying'er gila ?....bagaimana bisa ?....”, tanya Ruo Xinxin binggung.


Untuk menjawab rasa penasaran yang ada dalam hatinya, dia bersama sang suami bergegas keluar menuju halaman utama.


Saat tiba dia melihat keponakannya tersebut berteriak dan mengamuk seperti orang gila sambil dipegangi dua pelayan yang terlihat mulai kuwalahan untuk menenangkannya.


Disampingnya terlihat Qianyi dengan wajah sangat kusut, suatu pemandangan yang tak pernah Ruo Xinxin temui selama dia tinggal didalam kediaman Jiang.


Wanita yang biasanya selalu anggun dan tenang dalam menyikapi berbagai permasalahan yang ada kini terlihat sangat kusut dan wajahnya menyiratkan kelelahan yang amat sangat akibat stress.


Sedangkan seseorang yang seharusnya menjadi korban dalam rencana licik mereka malah terlihat baik – baik saja dan bersikap tenang.


Melihat kehadiran nyonya besar Jiang, Qianyi pun langsung berlari dan mengadu kepada ibu mertuanya tersebut berharap Jiang Xia Yan bisa menerima hukuman yang sebanding dengan apa yang putrinya rasakan sekarang.


“ Nyonya besar…”


“ Anda harus menegakkan keadilan untuk saya…”


“ Nona ketiga telah melukai putriku….”


“ Anda harus menghukumnya dengan hukuman yang setimpal….”


Qianyi menangis meraung – raung meminta keadilan atas nasib buruk yang menimpah putrinya.


Semua orang yang ada didalam kediaman langsung melihat kearah Jiang Xia Yan seolah mereka juga menuntut keadilan untuk Jiang Xiuying meski mereka sama sekali tak tahu nasib buruk apa yang telah menuimpah nona muda tertua Jiang tersebut.


“ Jiang Xia Yan !!!…”


“ Kamu telah dengan sengaja melukai kakak tertuamu !!!....”

__ADS_1


“ Untuk itu kamu akan mendapatkan hukuman atas semua perbuatanmu !!!.... ”, teriak nyonya besar Jiang penuh amarah


Jiang Xia Yan yang sama sekali tak merasa bersalah tetap bersikap tenang, tak menghiraukan teriakan marah dan isak tangis Qianyi yang begitu menyayat hati.


Jiang Quon yang mendengar tentang kabar kejadian buruk yang menerima putrinya bergegas pulang kerumah dan tanpa melepas seragamnya dia segera berjalan cepat menuju aula.


Melihat suaminya datang, Qianyi segera berlari dan memeluk suaminya dengan berderai air mata “ Suamiku….Ying’er…..”.


Meski hubungan antara Jiang Quon dan istrinya tak terlalu baik, tapi karena sekarang Ying’er nya sudah ternoda dan akan sulit untuk dijadikan batu pijakan dalam karirnya, amarahpun mulai berkobar dalam hatinya.


“ Jiang Xia Yan !!!....”, teriaknya penuh amarah


Melihat suaminya membela dirinya, Qianyi semakin memperkeras tangisannya berharap agar suaminya segera menghukum Jiang Xia Yan dengan keji.


“ Kamu telah menyakiti saudara perempuanmu dengan cara jahat seperti ini…”


“ Karena kakak tertua tidak ada disini, maka hari ini aku akan menghukummu atas nama kakak tertua….”, teriaknya murka.


Mendengar jika pamannya menggunakan nama ayahnya untuk menghukumnya membuat Jiang Xia Yan tak bisa bersabar lagi.


Tak lama kemudian nyonya besar Jiang sudah membawa tongkat yang biasanya digunakan untuk menghukum para pelayan yang melakukan kesalahan.


Tapi tak pernah digunakan untuk menghukum anggota keluarga Jiang. Dan sekarang nyonya besar Jiang mengeluarkannya untuk menghukum Jiang Xia Yan tentu hati Qianyin merasa sangat senang.


Dia ingin melihat keponakannya itu mati mengenaskan akibat pukulan yang akan diberikan oleh suaminya itu.


“ Benar !!!....”


“ Nona muda ketiga sudah membuat kesalahan…”


“ Dan kamu sebagai adik laki – laki dari orang tuanya berhak untuk mendidiknya dengan keras !!!....”, teriak nyonya besar Jiang arogan.


“ Nona muda ketiga….”


“ Kamu seharusnya berterimakasih kepada pamanmu karena hanya memberi hukuman pukul padamu…”


“Untuk kesalahan sebesar itu, sudah seharusnya kamu dikeluarkan dari keluarga Jiang….”, ucap nyonya besar Jiang penuh intimidasi.


Qianyi yang mendengar ucapan mertuanya merasa tak terima, jika Jiang Xia Yan didepak dari keluarga besar Jiang itu artinya gadis itu akan bebas tanpa mendapatkan hukuman apapun.


Tentu saja dia tak bisa menerima hal tersebut karena dia tak akan lagi bisa membalas dendam terhadap semua hal buruk yang telah menimpah putrinya itu.


“ Cih…mau menghukumku….coba saja kalau kalian bisa….”, batin Jiang Xia Yan sinis.

__ADS_1


__ADS_2