Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
API KEMARAHAN


__ADS_3

Udara diruangan tiba – tiba saja terasa dingin dan mencekam seakan menusuk hingga kedalam tulang setelah tabib yang memeriksa Jiang Xia Yan pergi.


Meski tabib mengatakan jika demam yang dialami oleh nona muda ketiga Jiang tersebut hanya karena faktor kelelahan dan hanya memerlukan waktu untuk beristirahat agar keadaannya bisa kembali normal.


Namun yang jelas kabar baik tersebut tak mampu memberikan kelegaan pada semua orang, terutama pada kelima pelayan pribadi Jiang Xia Yan yang masih merasa cemas dan khawatir.


Meskipun wajah Jiang Xia Yan terlihat tenang, namun kelima pelayannya bisa merasakan kemarahan yang sangat dalam dari nona mudanya itu.


Entah mimpi buruk apa yang telah nona mudanya itu alami sehingga moodnya begitu buruk pagi ini ditambah lagi badannya demam sehingga membuatnya terpaksa harus beristirahat diatas ranjang seharian ini.


Kedua tangan Jiang Xia Yan mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya dengan kuat untuk menahan amarah yang terasa mulai tak terkendali didalam dirinya.


Jiang Xia Yan belum pernah merasa semarah ini sebelumnya meski banyak orang yang telah menindasnya dimasa lalu.


“ Apa ini rasa marah dan kekecewaan yang sangat besar dari Wuzia hingga aku hampir kehilangan kontrol diriku….”, batin Jiang Xia Yan tak mengerti.


Perasaan asing ini selain menyesakkan juga membuat darahnya terasa mendidih seketika waktu mengingat bagaimana dinginnya lelaki itu membunuhnya setelah mendapatkan buku kuning yang sangat dicarinya selama ini.


Tega membunuh dirinya dan calon anak dalam kandungannya, membuat sebagian jiwa Wuzia yang ada dalam raga Jiang Xia Yan sangat marah.


Mengingat sikap kembaran pangeran kedua Ming Shin yang sangat lembut dan menatapnya hangat serta penuh cinta membuat Jiang Xia Yan semakin muak.


Jika bukan karena misinya untuk mendapatkan batu pernata hitam, dirinya tak akan sudi untuk memeluk erat tubuh kotor lelaki tersebut.


Memikirkan bagaimana kejamnya Bai Sheng memperlakukan Wuzia, Jiang Xia Yan tak sabar untuk bisa mencabik – cabik kembaran pangeran kedua Ming Shin dengan kedua tangannya sendiri.


Kelima  pelayannya hanya bisa terdiam, sama sekali tak ada yang berani bertanya karena takut akan membuat JiangXia Yan bertambah marah.


Yuyun yang melihat hal tersebut segera pergi untuk menemui kaisar Ru Xie Chang dipenginapanya untuk menyampaikan kabar tersebut.


Sementara itu dilain tempat, dikediaman keluarga besar Jiang tampak nyonya besar Jiang sedang duduk dikursi malasnya yang terlihat semakin memudar warnanya.


Bukan hanya kursi saja yang warnanya memudar, bahkan keseluruhan kediaman Jiang saat ini terlihat kusam tak semeriah biasanya setelah keluarga pertama memisahkan diri dari keluarga besar Jiang.


Dimasa lalu, kediaman keluarga Jiang selalu meriah dan terlihat mewah karena setiap Jiang Shing menerima hadiah dia akan tanpa ragu memberikannya kepada nyonya besar Jiang baik itu uang atau barang – barang mewah dari dalam istana.


Tapi sekarang, jangankan barang mewah bahkan keuangan yang ada pun semakin menipis sehingga mereka terpaksa harus menyingsingkan lengan bajunya agar bisa hidup untuk beberapa tahun kedepan.


Tak ada lagi pesta atau perjamuan mewah yang biasanya dilakukan oleh nyonya besar tiap dua minggu sekali.

__ADS_1


Bahkan tamu yang datang juga sangat berkurang drastis. Jika dulu masih banyak nyonya bangsawan yang datang berkunjung membawakannya berbagai macam hadiah baik uang ataupun bawang mewah untuk menjilat.


Namun sekarang, tak ada lagi tamu atau nyonya bangsawan yang berusaha mendekatinya meski diluar mereka tetap mau bergabung dengan keluarga Jiang.


Jiang Quon yang awalnya memiliki dua putra dan satu putri yang membanggakan terpaksa harus menelan pil pahit setelah putra terakhirnya Jiang Ho mati tenggelam didanau dekat kediamanannya.


Meski banyak selir baru yang dibawanya kehalaman rumah kedua, tapi tak ada satupun yang bisa memberikan keturunan kepada Jiang Quon sehingga dia hanya memiliki satu putri dari selirnya yang sekarang menjadi nyonya rumah tangga kedua, Xionglue.


Hal ganjil tersebut tentu saja membuat nyonya besar Jiang menjadi curiga sehingga memanggil tabib untuk memeriksa kondisi kesuburan Jiang Quon.


Namun hasil yang didapatkan membuat nyonya besar tercenggang hingga pingsan setelah tabib mengatakan jika Jiang Quon tak bisa lagi memiliki keturunan karena telah meminum obat yang telah menghancurkan hingga ke akarnya untuk bisa memiliki keturunan.


Jiang Quon yang merasa jika semua itu adalah perbuatan Qianyi istri pertamanya hanya bisa terduduk lemas karena tak bisa menuntut balas sebab istrinya sudah meninggal gantung diri waktu mengetahui putra pertama mereka dihukum penggal.


Dan harapan satu – satunya nyonya besar Jiang untuk mendapatkan pewaris adalah putra bungsunya,  Jiang Yu.


Tapi sayangnya putra bungsunya itu sama sekali tak tertarik dengan wanita lain karena Ruo Xinxin bisa mengelola suaminya itu dengan sangat baik.


Bahkan putri keempat wakil perdana menteri Mo Lian juga masih belum bisa bertemu langsung dengan Jiang Yu akibat Ruo Xinxin yang selalu mempersulit wanita muda itu untuk bertemu dengan putra bungsunya hingga membuat nyonya besar Jiang menjadi geram.


“ Semua orang tampaknya telah membangkitkan amarahku akhir – akhir ini….”, ucap Nyonya besar Jiang penuh emosi


“ Nyonya besar jangan marah…”


“ Jika tuan ketiga sudah melihat dan bercengkrama dengannya, saya yakin tuan ketiga akan tertarik dan perlahan berpaling dari nyonya ketiga….”, ucap pelayan pribadi nyonya besar Jiang menghibur.


Wanita paruh baya itu terus mengucapkan kata – kata manis agar kemarahan yang ada didalam hati nyonya besar Jiang bisa mereda.


Meski apa yang dikatakan oleh pelayan pribadinya itu benar adanya, tapi nyonya besar Jiang merasa jika semua anggota keluarganya kini sulit untuk diatur.


“ Bahkan Xin’er sekarang juga semakin lihai berkata – kata…”


“ Kurasa itu ajaran dari ibunya…”


“ Setiap tuan muda bangsawan yang aku sodorkan kepadanya berhasil dibuatnya mundur hanya dalam satu kali pertemuan…. ”


“ Apakah dia ingin menikah dengan salah satu pangeran Ming….”


“ Ambisi yang terlalu tinggi….”

__ADS_1


“ Dia sama seperti ibunya yang sama sekali tak bisa melihat dimana posisinya ….”, guman nyonya besar Jiang mencemoh.


Tanpa kedua wanita itu ketahui, diam – diam seorang pelayan berjalan menjauh dari kediaman utama dan menuju halaman kediaman ketiga dengan tergesa – gesa.


Saat ini Ruo Xinxin terlihat sangat lelah dan tertekan menghadapi semua persoalan yang datang silih berganti seolah tak ada habisnya.


Begitu dia mendengar dari mulut pelayan pribadinya jika nyonya besar Jiang sedang mengatur pertemuan antara nona keempat Mo, Ruo Xinxin menutup kedua matanya sejenak dan langsung menghempaskan semua buku yang ada diatas meja dengan kasar.


Melihat amarah Ruo Xinxin semua orang yang berada dalam ruangan hanya terdiam membeku tak ada yang berani mengucapkan sepatah katapun.


Meski sikap Ruo Xinxin tetap lembut dan perhatian jika dihadapan putri dan suaminya, namun para pelayan dapat melihat dengan jelas merasakan jika temperamen nyonya ketiga tersebut telah berubah semenjak dia diangkat menjadi nyonya rumah menggantikan Qianyi.


Bukan hanya semakin kasar, Ruo Xinxin juga semakin kejam dan tak berperasaan dalam menghukum siapa saja yang berani melanggar perintahnya.


Para pelayan menyadari semua hal ini berkaitan dengan dana umum pengelolaan rumah tangga keluarga besar Jiang yang dianggap sangat kurang beberapa bulan terakhir ini.


Apalagi nyonya ketiga juga sering mengeluarkan dana pribadinya untuk menambal setiap pengeluaran boros yang dilakukan nyonya besar Jiang setiap harinya.


Mendapatkan perlakuan seperti ini dari mertuanya tentu saja Ruo Xinxin merasa tidak senang dan merasa sangat marah.


“ Wanita tua Bangka itu ingin memasukkan j****g dalam kediamanku setelah pengorbananku selama ini !!!....”


“ Jangan harap itu akan berhasil !!!....”, Ruo Xinxin berteriak sambil mengertakkan giginya dengan mata melotot.


Jika Jiang Yu melihat istrinya seperti ini tentu dia akan sangat terkejut karena selama ini perangai sang istri terlihat sangat lembut dan berpendidikan sehingga tak mungkin baginya wanita itu bisa mengucapkan kata – kata kasar seperti ini.


Ren An yang melihat nyonya ketiganya mulia hilang kendali pada akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.


“ Nyonya….”


“ Anda harus tenang….”


“ Selama tuan ketiga tak menanggapi wanita itu, nyonya masih bisa mencegahnya….”


“ Sekarang yang kita perlukan adalah rencana untuk menggagalkan pertemuan tersebut…. ”, ucap Ren An membujuk Ruo Xinxin.


Mendengar ucapan pelayan pribadinya, Ruo Xinxin merasa sedikit tenang dan mulai kembali duduk ditempatnya sementara para pelayan lainnya segera membereskan kekacauan yang dibuat nyonya ketiga sebelum Jiang Yu datang.


“ Benar….”

__ADS_1


“ Aku harus tenang sekarang….”


“ Yang kuperlukan sekarang adalah sebuah rencana untuk menggagalkan pertemuan tersebut….”, guman Ruo Xinxin sambil tersenyum licik waktu tiba – tiba ada ide cemerlang muncul dalam benaknya.


__ADS_2