Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
KABAR MENGEJUTKAN


__ADS_3

Seiring dengan berjalannya waktu, kediaman keluarga besar Jiang kembali tenang dan suasa berangsur – angsur mulai pulih seperti sebelumnya.


Jiang Xia Yan masih dikurung didalam aula lelahur untuk waktu yang lama. Bahkan dia juga tidak bisa lagi pergi ke akademi.


Tapi siapa sangka jika nona muda ketiga Jiang ini pada kenyataannya selalu berkeliaran diluar tanpa ada yang mengetahui karena dia telah memasang boneka hidup serupa dengannya.


Dengan ilmu kultivasi langit ke empat yang dimilikinya, Jiang Xia Yan dapat menempatkan boneka yang sangat mirip dengannya bahkan itu gerakan maupun suaranya.


Sehingga Jiang Xia Yan yang asli bebas berkeliaran di luar semaunya tanpa ada satupun orang yang mengetahui.


Bahkan Tian Wan yang cukup tinggi ilmunya saja masih terkecoh dan menganggap jika nona muda ketiga Jiang tersebut masih berada di aula leluhur untuk menjalankan hukumannya.


Untuk Jiang Xiuying sendiri, kesehatan gadis itu telah meningkat dengan pesat berkat obat – obatan mahal yang didapatkan Qianyi melalui transaksi pasar gelap.


Dia rela merogoh kantong cukup dalam demi bisa membuat putri kesayangannya itu sembuh seperti sedia kala, setidaknya hingga pelaksanaan ulang tahun nyonya besar Jiang digelar.


Meski kondisi tubuhnya sudah pulih benar, namun tingkat kewarasan mentalnya masih belum sepenuhnya pulih tapi lebih baik dari sebelumnya.


Nona muda tertua Jiang tersebut masih sering pingsan dan mengumankan kata – kata yang tak jelas sambil menggigil ketakutan.


Dan untuk sembuh total seperti sedia kala, masih perlu waktu cukup lama dan biaya yang tinggi.


Tampaknya, bukan hanya Jiang Xiuying yang memiliki gangguan jiwa. Qianyi pun juga mengalaminya meski tidak separah sang putri.


Sejak kejadian naas tersebut, nyonya kedua Jiang tersebut sulit untuk mengendalikan emosinya.


Dia sering sekali marah – marah tak jelas dan membuat kekacauan didalam rumah sehingga membuat para pelayannya menjadi ketakutan.


Tentu saja hal tersebut membuat suaminya menjadi tak betah tinggal dirumah. Setiap hari dia menggilir para selir yang ada dihalamannya untuk melayaninya.


Pertengkaran antara keduanya semakin memanas waktu Jiang Quon mengetahui jika sang istri hendak mengirimkan surat kepada pangeran Ming Qianfan guna memberitahukan jika pada malam kejadian tersebut Jiang Xia Yan telah bertukar tempat dengan Jiang Xiuying.


Untung saja Jiang Quon mengetahui hal tersebut lebih cepat sehingga surat bisa dihentikan sebelum sampai ketangan pangeran Ming Qianfan.


“ Lelaki brengsek !!!....”


“ Beraninya dia merusak rencanaku !!!....”


“ Dan sekarang, dengan tak tahu malunya dia malah tiap hari tidur dikediaman para rubah betina itu….”


“ Dasar b*****n !!!....”, Qianyi terus berteriak sambil memecahkan semua barang yang ada dalam jangkauannya secara membabi – buta.


Kegilaan Qianyi akhirnya terhenti waktu dia mendengar suara berisik dari kamar putrinya. Takut terjadi sesuatu hal yang buruk, diapun bergegas menuju kamar Jiang Xiuying dengan cepat.


“ Apa yang  telah terjadi ? !!!....”


“ Aku mengangkatmu menjadi pelayan pribadi nona muda….”


“ Dan…beginikah kamu melayaninya !!!....”, ucap Qianyi dengan nada tinggi.

__ADS_1


Pelayan kecil dihadapannya bergetar ketakutan. Dia yang baru saja masuk kedalam kediaman kedua sering melihat dari jauh betapa mengerikannya nyonya kedua Jiang tersebut pada saat sedang marah.


“ Pelayan ini pantas mati karena tak bisa menjaga nona muda dengan baik….”, ucapnya sambil bersujud ketakutan.


Pelayan kecil yang bernama Yuan tersebut terus bersujud memohon ampun dengan tubuh bergetar karena takut.


“ Mohon ampun nyonya…”


“ Pelayan ini cukup khawatir dengan keadaan nona muda tertua saat ini…”


“ Beberapa hari ini nona muda tertua sering merasa mual. Dan tadi waktu pelayan ini memberi nona muda bubur…”


“ Nona muda langsung memuntahkannya….”


“ Pelayan ini dengan berani meminta kepada nyonya kedua untuk memanggil tabib karena takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada nona….”, ucap Yuan masih dengan posisi bersujud ketakutan.


Mendengar ucapan Yuan, seketika Qianyi membelalakkan kedua matanya dengan sempurna dan dengan cepat diapun menyuruh Duo untuk memanggil tabib.


“ Tunggu !!!....”


“ Kamu bilang jika Ying’er sering merasa mual beberapa hari ini ?....”, tanya Qianyi dengan tatapan menyelidik.


“ Benar nyonya…”


“ Bahkan nona muda tertua juga sering merasa pusing…”, ucap Yuan menjelaskan.


Jderrr….


“ Tidak !!!....”


“ Ini tidak mungkin !!!....”, batin Qianyi ketakutan.


Tiba – tiba dunia terasa berputar dan sejenak kegelapan menyelimuti kedua matanya. Yuan yang melihat nyonya kedua hendak terjatuh segera membantunya untuk duduk.


Qianyi menepuk jantungnya beberapa kali sambil menatap tajam kearah ranjang Jiang Xiuying. Dunianya serasa hancur seketika dan berharap apa yang menjadi ketakutannya tak akan pernah terjadi.


Yuan sebenarnya tahu apa yang telah terjadi pada nona mudanya karena gejala yang dialami menunjukkan jika gadis muda itu tengah berbadan dua.


Tapi dia tak berani menyampaikan fakta tersebut secara langsung hingga tabib memeriksanya dan memberitahukan hasilnya kepada Qianyi.


Begitu tabib Ryu datang, dia langsung memeriksa denyut nadi Jiang Xiuying. Ketika selesai memeriksa keadaan nona muda tertua Jiang, tabib Ryu menatap tajam Qianyi.


“ Kalian semua pergi….”, perintah Qianyi tajam.


Mendengar instruksi tersebut, semua pelayan segera berjalan mundur dan membiarkan Qianyi berbicara empat mata dengan tabib Ryu.


“ Denyut nadi nona muda tertua sehalus mutiara….”


“ Ini adalah denyut nadi tanda kehamilan….”, ucap tabib Ryu sambil menghembuskan nafas cukup dalam.

__ADS_1


Meskipun Qianyi sudah menduganya sejak awal, tapi mendengar langsung ucapan tabib Ryu membuat dunianya terasa berputar dengan sangat cepat.


Tabib Ryu adalah salah satu orang kepercayaan Qianyi jadi dia bisa menjamin semua rahasianya kepada lelaki muda itu.


Selain sebagai orang kepercayaannya, tabib Ryu juga terkenal sangat ahli dibidangnya sehingga apapun yang keluar dari dalam mulutnya tak pernah salah.


“ Tabib Ryu….”


“ Anda harus membantu saya menyelamatkan masa depan Ying’er….”


“ Ying’er masih sangat muda….’


“ Anak itu tak boleh lahir…”


“ Tolong….”


“ Bantu gugurkan anak itu….”, ucap Qianyi mengiba.


Melihat tabib Ryu menggelengkan kepala secara perlahan, membuat Qianyi menjadi frustasi dibuatnya. Diapun mulai menangis tersedu – sedu atas kemalangan putri kesayangannya itu.


“ Bukan aku tak mau membantu….”


“ Hanya saja kesehatan nona muda tertua sangat lemah…”


“ Aku takutnya hal itu akan merugikan tubuhnya….”


“ Dan jika dipaksa, aku takutnya dimasa depan nona muda tertua tak akan bisa memiliki keturunan….”


Tabib Ryu menjelaskan secara gamblang masalah yang sedang dihadapi Jiang Xiuying ini dengan harapan Qianyi tak akan melakukan tindakan gegabah yang malah bisa menghancurkan masa depan putrinya.


Tubuh Qianyi langsung lemas seperti jelly. Dia merasa dunianya benar – benar hancur seketika mendengar semua penjelasan dari tabib Ryu.


Seorang wanita yang tak bisa memiliki keturunan sama seperti seonggok sampah yang tiada artinya dan itu juga menjadi akhir dari kehidupan sebagai seorang wanita.


Jikapun dimasa depan dia bisa menikah, wanita yang tak bisa memberi keturunan tidak akan pernah bisa mendapatkan kasih sayang dari suami bahkan akan selalu direndahkan.


Seperti seorang prajurit tanpa senjata dimedan perang, dia akan mati dengan sendirinya ditengah sakitnya serangan musuh yang diarahkan kepadanya.


Tabib Ryu keluar dari kediaman Jiang dengan langkah terburu – buru. Dia harus segera meninggalkan ibukota secepatnya.


Tadi, sebelum ada panggilan dari kediaman Jiang dia menerima surat ancaman yang menyebutkan jika dia harus mengatakan bahwa janin dalam kandungan Jiang Xiuying tidak bisa digugurkan dan memastikan bahwa Qianyi akan melindungi janin itu.


Jika dia tak menuruti apa yang diperintahkan maka seluruh keluarganya akan dilenyapkan dalam sekejap.


Tabib Ryu terpaksa mengikuti perintah tersebut karena waktu dia berangkat ada sekelompok orang berpakaian hitam mengepung dikediamannya.


Takut akan keselamatan istri dan anaknya membuat tabib Ryu terpaksa harus mengkhianati majikan yang selama ini menghidupinya.


“ Bagaimana orang itu bisa tahu jika Jiang Xiuying hamil. Padahal aku baru mengetahui saat memeriksanya tadi….”, batin tabib Ryu penasaran.

__ADS_1


Tak ingin terjebak dalam kesulitan, diapun segera berbenah dan mengajak keluarganya untuk pulang kampung dengan alasan menjaga ibunya yang telah tua dan sakit – skaitan.


__ADS_2