
Jiang Xia Yan berjalan keatas batu bersama Jiang Chen agar bisa melihat tarian Han Wu Ying dengan lebih leluasa.
Namun sebenarnya bukan itu alasan kenapa Jiang Xia Yan mencari tempat yang lebih tinggi.
Namun, dia ingin mencari keberadaan beberapa orang yang selama beberapa hari ini telah mengawasi kediamanannya.
Dan Jiang Xia Yan sangat yakin jika dirinya lah yang kemungkinan besar sedang mereka cari.
Karena rasa penasaran ini jugalah yang membuat dirinya ikut merayakan festival lentera malam ini.
Suatu hal yang selama ini tidak terlalu Jiang Xia Yan sukai secara pribadi. Perayaan dan keramaian baginya bukanlah hal yang bagus dan menguntungkan.
Dalam kehidupannya yang terdahulu dia hanya akan menghadiri pesta koleganya sepintas selalu, hanya menunjukkan batang hidungnya dan ngobrol sebentar langsung pergi.
Tapi jika itu berkaitan dengan bisnis dan tender maka dia akan berlama – lama dalam pesta yang diadakan oleh tuan rumah.
Perilakunya yang seperti itu sudah banyak diketajui oleh rekan bisnisnya sehingga mereka akan selalu membuat topik atau malah membahas masalah kerjasama agar wanita muda tersebut bisa sedikit lebih lama dalam pesta yang telah mereka selenggarakan.
Meski Jiang Xia Yan tkn menangkap aura buruk dari beberapa orang yang telah mengamatinya beberapa hari terakhir, justru hal itu yang memicu rasa penasaran dalam hatinya.
“ Apa yang mereka inginkan dariku ?....”, hal itulah yang terbesit dalam benaknya saat ini.
Melihat jika pertunjukkan tari sudah hampir selesai dan semua orang sudah bersiap dengan lenteranya.
Jiang Chen pun segera mengulurkan tangan kepada Jiang Xia Yan untuk kembali bergabung dengan keluarganya.
Belum sempat keduanya untuk turun, tiba – tiba tak jauh dari tempat mereka berada ada anak kecil menangis diatas sebuah tiang yang sangat tinggi.
Semua orang memperkirakan anak tersebut naik keatas tiang untuk melihat tarian dewi danau minguanxi, tapi dia tak bisa turun karena takut terpeleset.
Orang – orang pun mulai berlari untuk mencari tangga, tapi sepertinya anak kecil lelaki itu tak bisa bertahan lebih lama lagi diatas tiang karena tangannya mulai melemah.
“ Adik, tunggu aku disini….”, ucap Jiang Chen melesat pergi.
Merasa jika jarak antara bocah kecil itu dengan sang adik yang tak terlalu jauh, dengan ilmu peringan tubuh yang dimilikinya Jiang Chen pun segera terbang dan mengendong bocak lelaki kecil itu untuk turun dan langung menyerahkannya kepada sang ibu yang terlihat sangat lega.
“ Terimakasih tuan muda….”
“ Berkat bantuan tuan muda, anak saya bisa selamat….”, ucap sang ibu sambil memeluk anaknya dengan erat.
Ucapan terimakasih dan tepuk tangan riuh atas aksi heroik yang baru saja Jiang Chen lakukan tak membuat pemuda itu berlama – lama disana dan segera pamit undur diri untuk segera menjemput Jiang Xia Yan.
Begitu berjalan kearah tempatnya tadi, Jiang Chen sangat terkejut karena batu tersebut telah kosong tak ada siapapun yang ada diatas sana.
Hati Jiang Chen menegang dan dipun segera melangkah dengan cepat sambil mencari keberadaan sang adik sekitar batu besar tersebut.
“ Yan”er !!!....”
“ Yan’er !!!....”, teriaknya beberapa kali kesegala arah.
__ADS_1
Melihat sama sekali tak ada sahutan ataupun sosok sang adik, hati Jiang Chen pun semakin cemas dibuatnya.
“ Tuan…”
“ Apakah kamu tahu dimana nona muda yang berdiri diatas batu ini ?...”, tanya Jiang Chen sopan.
“ Nona muda apa ?...”
“ Aku sama sekali tak melihatnya….”, ucap lelaki itu lantang karena berisiknya suasana sekitar.
Melihat jika pemuda yang ada dihadapannya sedikit linglung dengan ekpresi penuh kekhawatiran, lelaki muda tersebut berusaha untuk maju dan kembali berbicara.
“ Mungkin, nona muda keluargamu diculik….”
“ Ada banyak penculik pada festival lentera seperti ini setiap tahunnya….”
“ Apalagi jika nona muda sendirian dan terpisah dari keluarganya…”, ucap lelaki muda tersebut sebelum berlalu pergi.
Mendengar ucapan lelaki muda tersebut, tiba – tiba saja tubuh Jiang Chen bergetar hebat.
Selama ini sebagai wakil jenderal besar dia sama sekali tak pernah setakut ini sebelumnya meski berada dimedan perang menghadapi musuh yang kejam sekalipun.
Ditempat lain, diantara kerumunan orang yang saling bergesekan dan mengikuti jejak antara yang satu dengan yang lain ada dua lelaki muda yang berjalan diantara kerumunan dimana penampilan mereka cukup menonjol.
Ketampanan dan wajah bersinar yang mereka miliki nyatanya mampu menjadi daya tarik dan membuat semua orang yang berpapasan dengan mereka akan langsung terpesona.
Terutama para gadis muda dan wanita yang wajahnya langsung merona begitu melihat ketampanan tersebut.
“ Dengan adanya festival seperti ini…”
“ Bahkan dengan kondisiku yang masih belum terlalu baik benar…”
“ Seharusnya kamu berterimakasih karena ada sahabat sepertiku yang mau pergi bersamamu…”, ucap Chi Ang Bei santai.
“ Aku masih ada urusan penting….”
“ Jadi, jangan mengikutiku lagi….”, ucap Feng Mo Tian tajam.
“ Aku tidak mengikutimu….”
“ Kita kebetulan bertemu disini jadi nikmatilah….”, ucap Chi Ang Bei tanpa rasa bersalah.
Hari ini Chi Ang Bei bepergian bersama keluarganya dan kebetulan dia melihat sahabatanya Feng Mo Tian berjalan sendirian maka diapun berinisiatif untuk menghampiri meski dia sangat tahu jika akan diusir dan diperlakukan dingin seperti ini.
Saat keduanya sibuk berdebat tanpa diduga mereka melihat ada sekelompok orang berjalan tergesa – gesa dengan wajah tegang.
“ Hey…”
“ Bukankah itu jenderal besar Jiang Shing…”
__ADS_1
“ Kenapa wajahnya sangat tegang seperti itu ?...”
“ Apa ada peristiwa besar terjadi ?....”, ucap Chi Ang Bei penasaran.
Feng Mo Tian mengarahkan pandangannya kedepan dan melihat dengan jelas jenderal besar Jiang Shing berjalan dengan sangat terburu – buru diikuti oleh Jiang Chen dan Xiao Mei dibelakanganya dengan raut wajah tegang.
“ Tampaknya keluarga pertama Jiang sedang dalam masalah….”
“ Jika tidak, kenapa ekpresi mereka semua seperti itu ?....”, ucap Chi Ang Bei semakin penasaran.
Bagi orang – orang keluarga Jiang memiliki ekpresi seperti itu ditempat umun yang dipenuhi dengan kegembiraan merupakan hal yang tak biasa.
Orang akan langsung menebak jika mereka pasti sedang menghadapi masalah yang sangat buruk malam ini.
Mata Feng Mo Tian menyapu sekeliling sambil berguman pelan “ Nona muda ketiga Jiang tidak ada bersama mereka….”.
Melihat jika hubungan antara nona ketiga dengan kedua keluarga lainnya tidak terlalu dekat jadi tidak mungkin jika gadis muda itu lebih memilih bersama dengan keluarga lainnya bukan dengan keluarganya sendiri.
Dan jika dia tidak ikut, maka jenderal besar Jiang Shing tidak mungkin meninggalkannya begitu saja didalam kediaman sendirian sementara yang lainnya bersenang – senang.
Semua pertanyaan yang ada dalam benak Feng Mo Tian dan Chi Ang Bei malam ini terjawab dengan kedatangan Chi Bian Cheung sambil berlari.
“ Nona muda ketiga Jiang hilang….”, ucap bocah kecil tersebut dengan nafas tersenggal – senggal.
“ Mereka mengatakan jika nona muda ketiga Jiang telah dibawa oleh penculik…”
“ Ayo kak….”
“ Bantu aku menyelamatkan nona muda ketiga Jiang….”,
ucap Chi Bian Cheung yang sudah menarik – narik tangan Feng Mo Tian untuk membantunya mencari Jiang Xia Yan dan membantunya.
Setelah berpikir sejenak, Feng Mo Tian pun akhirnya beranjak pergi namun sebelumnya dia berpesan kepada Chi Ang Bei agar masalah ini untuk sementara waktu tidak boleh terekspos keluar.
Meski dia tidak yakin, tapi dia akan berusaha mencari dan menyelamatkan gadis muda yang telah memenuhi pikirannya selama beberapa bulan terakhir ini.
Sementara itu, tak jauh dari tempat Feng Mo Tian pergi terlihat seseorang pemuda tampan melihat kebawah dengan kening berkerut menyaksikan semua kejadian dan percakapan yang ada disana.
“ Diculik ?....”
“ Kurasa itu sedikit aneh…”, batin pangeran kedua Ming Shin bermonolog.
“ Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan laporkan padaku secepatnya….”, ucap pangeran kedua Ming Shin tajam.
Dia merasa ada sedikit keganjilan dalam aksi penculikan Jiang Xia Yan malam ini.
Bagaimana mungkin gadis cerdas dan licik seperti itu bisa jatuh ketangan penculik dengan mudah.
Apalagi ada jenderal besar Jiang Shing dan pengawal serta kakaknya yang seorang jenderal muda disana bersamanya.
__ADS_1
Ini adalah sesuatu hal yang sangat mustahil untuk terjadi meski kemungkinan itu tetap ada walau presentasinya sangat kecil.