Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
PERHATIAN


__ADS_3

Jiang Shing dan istrinya kembali ke kediaman pada saat matahari sudah tenggelam. Mereka kembali dengan kereta kuda penuh hadiah yang diberikan oleh pihak istana.


Jika dimasa lalu, hadiah tersebut akan diberikan kepada nyonya besar Jiang dan langsung disimpan dalam gudang kediaman utama.


Tapi kali ini, semua hadiah yang didapat langsung dibawah ke halaman keluarga pertama agar Jiang Xia Yan bisa memilih dan menyimpannya.


Hadiah yang diperoleh dari istana sangat mewah dan mahal. Semua pelayan yang hampir sebagian besar adalah mata – mata merasa tak berdaya waktu semua hadiah tersebut masuk kedalam gudang kediaman keluarga pertama.


Melihat jika anak tirinya teguh dengan ucapannya, nyonya besar Jiang pun meluapkan amarahnya dengan memecahkan semua barang yang ada dalam ruangan waktu mengetahui jika semua hadiah tahun ini tak masuk kedalam gudang kediaman utama.


Tapi, Jiang Shing dan Xiao Mei tak perduli. Mereka menganggap itu adalah hak mereka untuk menaruh dimana hadiah yang mereka terima dari istana, meski hal itu menyebabkan nyonya besar Jiang tak senang.


Sementara itu, Jiang Xia Yan terlihat fokus membaca buku tentang pemerintahan, politik dan hukum kekaisaran Ming agar bisa melanjutkan rencana yang telah disusunnya dengan benar.


Tiba – tiba dia mendengar suara tawa renyah dan hangat diluar membuat atensinya teralihkan sejenak, tak lama kemudian ada suara memanggilnya “ Yan’er….”


Jiang Xia Yan menoleh, dia melihat ayahnya melangkah masuk kedalam kamar di ikuti oleh sang ibu yang berjalan dibelakangnya.


Keduanya terlihat segera bergegas menemuinya karena baju yang mereka berdua kenakan adalah baju yang mereka gunakan untuk menghadap kaisar Ming Qin didalam istana.


Sementara sang kakak terlihat menyembul diatara keduanya sambil mengedipkan kedua mata beberapa kali.


Jiang Xia Yan pun segera berdiri dan menyapa ketiganya dengan hangat “ Ayah…ibu…kakak….”.


Jiang Shing dan Xiao Mei terkejut dengan sikap hangat dan tatapan lembut yang diberikan oleh putri mereka saat ini.


Seingat keduanya, dimasa lalu ketika bertemu Jiang Xia Yan akan memberikan sikap dingin tak bersahabat.


Setelah mengucapkan beberapa kata, dia biasanya akan langsung menyuruh ketiganya pergi dengan alasan ingin beristirahat.


Tapi sekarang, bukan hanya menyapa dengan hangat tapi Jiang Xia Yan juga menyuruh ketiganya untuk duduk dan memanggil pelayan untuk menyeduh teh buat mereka.


Tentu saja tindakan kecil Jiang Xia Yan ini membuat hati kedua orang tuanya menghangat, sedangkan gadis itu yang tak mengerti apa yang tengah dirasakan oleh kedua orang tuanya kembali tersenyum manis untuk menghapus kecanggungan yang ada.


“ Bagaimana kondisi Yan’er ?….”


“ Apa Yan’er merasa ada yang tidak nyaman ?....”, tanya Xiao Mei dengan lembut.


Diapun segera mengenggam tangan putrinya dengan erat sambil menatap sedih luka bakar yang terbalut kain putih yang ada dihadapannya.


“ Semuanya baik – baik saja….”


“ Ayah dan ibu tak perlu khawatir….”, ucap Jiang Xia Yan lembut.


Melihat jika putri mereka sudah lebih baik daripada semalam, keduanya merasa lebih lega dan sedikit tenang.


“ Yan’er….”

__ADS_1


“ Ayah mendapatkan beberapa peti berisi barang – barang berharga dari istana….”


“ Semuanya adalah bahan dan perhiasan berkualitas terbaik yang ada di ibukota….”, ucap Jiang Shing bersemangat.


Jiang Shing berharap putrinya akan langsung berlari dan memilih perhiasan yang dia suka seperti tahun - tahun sebelumnya.


Tapi pada kenyataannya, Jiang Xia Yan masih duduk dengan tenang bersama ibunya, sesuatu pemandangan lain yang dia dapatkan dan membuatnya kembali terkejut.


Melihat raut wajah sang ayah berubah, Jiang Xia Yan yang tak ingin menyinggung perasaan kedua orang tuanya segera bersuara.


“ Terimakasih ayah…”


“ Simpan saja semua barang – barang tersebut di gudang halaman rumah kita….”


“ Nanti aku akan memilihnya secara perlahan….”, ucap Jiang Xia Yan dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.


Semua orang langsung saling pandang mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Jiang Xia Yan. Meski terkejut, tapi ada kelegaan disorot mata mereka.


“ Yan’er…”


“ Sekarang ayah dan ibu sudah kembali….”


“ Jadi, kedepannya tidak akan ada lagi yang berani menganggumu….”, ucap Xiao Mei penuh perhatian.


“ Ibu tenang saja….”


“ Baik sekarang ataupun dimasa depan….”, ucap Jiang Xia Yan dengan suara tenang dan lembut.


Melihat ketenangan dari sikap yang ditunjukkan oleh Jiang Xia Yan, Xiao Mei sedikit merasa tenang dihatinya.


Setidaknya, putrinya memiliki cara sendiri untuk mengatasi masalah yang ada dihadapannya meski dia masih belum merasa terlalu yakin.


Jiang Chen mulutnya terasa berkedut. Dia ingin sekali mengungkapkan semua kebenaran yang terjadi seandainya saja sang adik mengijinkan.


“ Lalu…bagaimana kamu bisa dikurung didalam aula leluhur hingga terjebak dalam bara api disana ?...”, Jiang Shing akhirnya menanyakan sesuatu yang menganjal hatinya mulai semalam.


Meski sekeras apapun dia menyelidiki kejadian itu, tapi dia sama sekali tak menemukan petunjuk yang dapat membantunya menemukan jawaban.


“ Itu karena aku menentang paman kedua…”


“ Untuk masalah kebakaran….”


“ Aku sendiri tak tahu apa penyebabnya….”, ucap Jiang Xia Yan dengan nada datar.


“ Bagaimana bisa orang dewasa bertengkar dengan gadis kecil….”


“ Sungguh memalukan….”, ucap Xiao Mei mencemoh.

__ADS_1


Sejak melihat putrinya berada diujung maut tapi keluarga kedua diam tak bergeming, membuat Xiao Mei hilang respek dan semua pikiran baik tentang mereka.


“ Yan'er…”


“ Kenapa kamu menentang paman keduamu ?...”, tanya Xiao Mei penasaran


“ Karena aku menolak pernikahan yang mereka rencanakan….”, ucap Jiang Xia Yan santai.


“ Pernikahan !!!....”, teriak Jiang Shing dan Xiao Mei terkejut secara bersamaan.


“ Menikah dengan siapa ?....”


“ Kenapa ayah dan ibu tidak mengetahuinya ?...”, Xiao Mei terbelalak tak percaya.


“ Siapa yang melamarmu ?....”, tanya Jiang Shing penuh selidik.


“ Putra pertama wakil perdana menteri Huang, Huang Yi….”, ucap Jiang Xia Yan dengan nada datar dan dingin.


Meski Jiang Shing tak pernah tinggal di dalam ibukota, tapi dia bisa mengetahui siapa saja pejabat yang kompeten dan memiliki masa depan yang cerah.


Apalagi dia pernah mendengar jika putra pertama keluarga Huang tersebut cukup tampan dan berbakat sehingga dia merasa jika pemuda itu akan cocok bersanding dengan putrinya.


Xiao Mei yang bisa membaca apa yang sedang dipikirkan suaminya langsung menegurnya.


“ Apa yang kamu pikirkan…..”


“ Bahkan jika dia adalah raja surga ataupun seorang kaisar….”


“ Itu tak akan berhasil jika Yan’er tidak mau….”, ucap Xiao Mei tajam.


Kata – kata yang diucapkan oleh Xiao Mei mengejutkan semua orang. Mereka tak menyangka jika jenderal wanita itu akan memiliki pemikiran yang begitu terbuka.


“ Selain itu….”


“ Kamu dan aku tidak tahu niat apa yang mereka miliki….”


“ Apalagi, kabar gembira seperti ini dirahasiakan dari kita….”


“ Bukankah itu sesuatu yang janggal….”, Xiao Mei terlihat berapi – api dalam ucapannya.


Dia bahkan merasa jijik waktu membayangkan betapa buruknya perlakuan keluarga kedua terhadap putri mereka selama ini.


Melihat jika Xiao Mei memihak setiap keputusan yang dia buat, tak terasa hati Jiang Xia Yan menjadi hangat.


Seolah kekosongan yang selama ini memenuhi ruang hatinya perlahan mulai terisi kehangatan dari perhatian dan kasih sayang dari keluarga kecil barunya tersebut.


“ Jadi begini rasanya memiliki keluarga dan mendapatkan dukungan dan perhatian dari mereka…”, batin Jiang Xia Yan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2