
Pada saat sang surya mulai menampakkan wujudnya, kedua mata Jiang Xia Yan pun mulai terbuka dengan lebar seiring Lin dan Kiew berjalan masuk kedalam ruangan.
Melihat lilin yang ada didalam kamar masih menyala dan dimeja kerja nona mudanya terlihat banyak buku berserakan kedua pelayan tersebut sudah bisa memastikan jika semalaman nona mudanya itu pasti belum tertidur, entah hal berat apa yang menyebabkan Jiang Xia Yan pikirkan hingga terjaga semalaman.
Keduanya hanya bisa menghembuskan nafas kasar waktu melihat wajah gelap Jiang Xia Yan sehingga tak berani membuka mulut melihat mood nona mudanya itu sangat jelek pagi ini.
“ Bawa sarapanku kedalam kamar dan jangan ganggu aku mandi….”, perintah Jiang Xia Yan tegas.
Lin dan Kiew kembali saling bertatapan seakan berkata “ Apa yang membuat mood nona pagi ini begitu buruk ?....”
Setelah membersihkan kamar dan menyiapkan pakaian serta asesoris yang akan digunakan oleh nona mudanya, kedua pelayan tersebut mulai berjalan mundur meninggalkan kamar menuju dapur untuk mengambil sarapan.
Didalam bak kamar mandi Jiang Xia Yan kembali melamun, meski sudah bermeditasi dan sempat naik tingkat namun hatinya masih saja gelisah.
Tiba – tiba sebuah wajah muncul dalam kepalanya, membuat senyum diwajahnya mulai tercetak dengan jelas.
“ Apakah dia jadi balik hari ini ?....”
“ Kurasa, aku harus menemuinya nanti….”, guman Jiang Xia Yan sambil berdiri untuk mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya.
Setelah berpakaian dan memakan sarapan yang sudah terhidang diatas meja, Jiang Xia Yan pun mulai menggunakan telepati untuk memanggil Feng Mo Tian.
Semakin intensnya komunikasi antara keduanya membuat Jiang Xia Yan dan Feng Mo Tian bisa menggunakan telepati untuk berkomunikasi asalkan mereka masih dalam wilayah yang sama.
Beberapa kali Jiang Xia Yan memusatkan pikirannya untuk memanggil Feng Mo Tian, namun usahanya tersebut masih belum membuahkan hasil sama sekali.
“ Apa dia masih belum kembali ?.....”, batin Jiang Xia Yan bermonolog.
Tak ingin hanya terdiam dan semakin menambah risau hatinya, Jiang Xia Yan pun mulai bangkit dari tempat duduknya dan berniat untuk keluar menuju rumah produksi miliknya.
Berharap dengan adanya kesibukan disana dia bisa melupakan masalah mengenai kerisauan hatinya barang sejenak.
__ADS_1
Sementara itu dilain tempat, seseorang yang telah membuat hati dan pikiran Jiang Xia Yan resah malah tengah asyik bercengkerama dengan beberapa pejabat yang baru saja dia angkat didalam istana.
Dalam diskusi singkat yang dia dapatkan, kaisar Ru Xie Chang merasa jika posisi raja hanya ada tiga pilihan saat ini yang sangat cocok mengisi posisi tersebut yaitu klan Jiang, klan Feng dan klan Gyo.
Untuk klan Jiang, sepertinya hanya ada nama Jiang Xia Yan yang bisa masuk menjadi kandidat karena kedua orang tuanya dan kakak semata wayangnya yang merupakan seorang jenderal jelas tak akan mau untuk duduk dalam posisi tersebut mengingat mereka lebih senang berada dimedan pertempuran daripada harus berkutat dengan administrasi yang ada.
Sementara dari keluarga Feng, rival cintaya tersebut lah yang cocok menjadi kandidat sebagai raja, Feng Mo Tian.
Selain berbakat pemuda tersebut juga merupakan jenderal muda pemberani dan banyak akal serta dianggap bijaksana oleh rakyat.
Dan untuk keluarga Gyo yang merupakan keluarga sarjana dan kaum terpelajar sudah lama menarik diri tak mau berurusan dengan yang namanya politik dan kekuasaan, tentunya mereka akan langsung menolak dengan tegas permintaan tersebut.
“ Jadi hanya ada dua kandidat, Jiang Xia Yan dan Feng Mo Tian….”, batin kaisar Ru Xie Chang bimbang.
Melihat bagaimana reaksi Jiang Xia Yan waktu dia mengatakan akan memberikan kerajaan Ruxie sebagai mahar pernikahan membuat gadis itu sangat marah.
Bahkan pagi tadi Jiang Xia Yan mengirim Yuyun untuk menyampaikan pesan kepada kaisar Ru Xie Chang agar membatalkan niatnya untuk memberikan kerajaan Ruxie sebagai mahar jika tidak ingin dibenci oelh gadis itu selamanya.
“ Padahal niatku memberinya mahar kerajaan Ruxie adalah sebagai bukti jika aku benar – benar serius mencintainya dan ingin menjadikannya istriku satu – satunya….”
Jadi sekarang pilihannya hanyalah Feng Mo Tian karena kemungkinan hanya tuan muda pertama Feng itulah yang memenuhi kriteria dan tak akan ditentang.
Jika Jiang Xia Yan yang naik tahta, kemungkinan ada pertentangan dalam keputusan yang dia ambil sangatlah besar mengingat jika pemimpin perempuan saat ini belum ada yang menempati posisi sebagai Ratu sebuah negara sebagai pemimpin.
Meski sudah ada jenderal wanita yang memimpin sebuah pasukan dalam medan pertempuran, namun kesetaraan gender di jaman kuno ini masih belum bisa diperjuangkan dengan baik.
Masyarakat masih menganggap jika wanita hanyalah alat untuk menghasilkan keturunan bagi mereka.
Meski mereka bisa berperan di dunia politik tapi keberadaannya juga hanya dibelakang suami atau ayah dan tidak bebas menyuarakan aspirasinya dipermukaan.
Dan jika Feng Mo Tian sebagai raja dan Jiang Xia Yan sebagai ratu tentunya kerajaan Ruxie ini akan semakin kuat karena dua kekuatan militer dari dua klan besar tertua dinegara ini bersatu.
__ADS_1
Membayangkan hal tersebut tentunya membuat kaisar Ru Xie Chang merasa sangat enggan untuk memberikan tahta kerajaan Ruxie kepada Feng Mo Tian.
“ Kurasa, untuk sementara waktu biar aku saja yang memimpin kerajaan Ruxie hingga Jiang Xia Yan resmi menjadi permaisuriku….”, batin kaisar Ru Xie Chang bermonolog.
Diruang kerjanya, kaisar Ru Xie Chang terlihat menghembuskan nafas kasar beberapa kali dengan tatapan tajam kedepan.
Sudah banyak hal yang dia lakukan, bahkan Jiang Xia Yan juga tak menolak keintiman yang dia berikan kepada gadis itu tapi kenapa nona muda ketiga Jiang itu masih belum menerima pinangannya.
Tentu saja hal itu membuat kepala kaisar Ru Xie Chang mulai berdenyut karena dia sama sekali tak bisa memahami apa sebenarnya yang membuat Jiang Xia Yan masih ragu kepadanya dan menolak menikah dengannya.
Semua permasalahan berat dan rumit selama ini bisa diatasi dan diselesaikan dengan mudah oleh kaisar Ru Xie Chang.
Tapi untuk masalah hati, ini adalah hal pertama yang sangat sulit dia selesaikan meski sudah banyak cara dia coba dan ambil untuk mengatasinya, tapi sampai sekarang masih belum bisa menunjukkan progress yang berarti.
Sementara itu, Jiang Xia Yan yang sudah mulai menggerakkan penanya diatas kertas terlihat sangat produktif.
Kegalauan hatinya nyatanya membuat gadis muda itu menjadi lebih produktif daripada biasanya.
Bahkan hari ini dia sudahmenyelesaikan puluhan gambar gaun rancangan terbaru yang dia hasilkan akibat permasalahan hati ini.
“ Ada apa dengan nona ?....”
“ Tak biasanya dia seperti ini ?...”, tanya Han Wu Ying cemas.
Meski dia cukup senang karena desain gaun untuk musim panas, musin gugur dan musim dingin tahun ini sudah diselesaikan dengan baik, tapi melihat wajah Jiang Xia Yan yang murung membuat wanita muda tersebut merasa khawatir.
“ Entah beban berat apa yang dipikirkan nona hingga terjaga semalaman….”
“ Bahkan waktu menghadapi pemberontakan pangeran kedua Ming Shin saja nona tak sekalut ini….”, Kiew menjelaskan sambil menghela nafas panjang beberapa kali.
“ Apakah nona sedang jatuh cinta ?….”
__ADS_1
“ Atau malah sedang patah hati ?.....”, hanya dua kemungkinan ini yang bisa Han Wu Ying tarik kesimpulan melihat sikap dan reaksi Jiang Xia Yan saat ini.
“ Jika benar maka hanya ada dua orang yang bisa menganggu pikiran nona yaitu kaisar Ru Xie Chang dan tuan muda pertama Feng….”,ucap Kiew menjelaskan.