
Ketegangan jelas terlihat diwajah semua anggota keluarga Jiang, mereka sangat berharap teriakan penjaga tadi hanyalah sebuah lelucon belaka.
Namun, begitu ketiga orang tersebut masuk dengan senyum lebar semua orang baru bisa memastikan jika itu adalah jenderal besar Jiang Shing, istrinya dan anak lelaki mereka.
“ Ibu…anak ini kembali ke ibukota untuk merayakan ulang tahunmu. Maaf jika kedatangan anak sedikit terlambat….”, ucap Jiang Shing sambil tersenyum lebar.
Semua orang masih terpaku ditempatnya masing – masing tanpa berbuat apa – apa dan dalam hati meruntuki kesialan yang terjadi hari ini.
Melihat bahwa semua tamu menatap mereka dengan aneh, Xiao Mei mengkerutkan kening dan merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi.
Jiang Chen juga melakukan hal yang sama, setelah menyapu seluruh area dia sama sekali tak melihat sosok sang adik yang biasanya ada ditengah – tengah keluarga besar mereka.
“ Dimana Adik?....”
" Kenapa tak terlihat ?....", ucap Jiang Chen binggung.
“ Betul, dimana Yan’er…kenapa dia sama sekali tak terlihatsejak tadi…”, tanya Xiao Mei sambil mengedarkan matanya keseluruh aula mencari keberadaan sang putri, tapi hasilnya nihil.
Tiba – tiba dari tamu yang datang terdengar suara yang sangt pelan, tapi karena aula menjadi hening maka suara tersebut terdengar sangat nyaring ditelingga.
“ Jenderal besar Jiang Shing….”
“ Anda tiba tepat pada waktunya….”
“ Baru saja aula leluhur terbakar dan nona muda ketiga terjebak disana….”, cicit Chi Bian Cheung sedih.
Bagaimanapun Jiang Xia Yan adalah dewi penolong kakaknya. Dalam kemalangannya kali ini, diapun berusaha untuk membantu gadis tersebut.
Ketika mendengar kata – kata yang diucapkan oleh bocah lelaki gendut itu, Jiang Shing dan Xiao Mei pun tercenggang untuk sesaat.
“ Tunggu….”
“ Kenapa Yan’er berada di aula leluhur pada saat semua orang sedang berpesta….”
“ Dan yang paling penting kenapa semua keluarga terlihat menikmati pesta padahal mereka tahu jika Yan’er dalam bahaya…”,
Itulah serangkaian pertanyaan yang ada dalam benak pasangan suami istri tersebut sebelum keduanya bergegas pergi.
Ruo Xinxin yang sudah kembali dari keterkejutannya segera bersuara “ Kakak ipar, aku akan mencari penjaga untuk….”
Belum sempat Ruo Xinxin menyelesaikan kalimantny, Jiang Shing sudah berjalan melewatinya dengan dingin.
__ADS_1
Bahkan ekspresi yang ditampilkannya pun sudah seperti ingin membunuh semua orang yang berani menyentuhnya.
Jiang Xialun yang berdiri disamping ibunya terlihat menggigil ketakutan bahkan dia sudah mencengkeram ujung gaunnya hingga basah oleh keringat yang mengucur deras dari tubuhnya.
Sama dengan Jiang Shing, Xiao Mei dan Jiang Chen juga pergi tanpa sepatah katapun dengan wajah penuh amarah.
Diaula leluhur, api semakin ganas bahkan hampir menjadi bola api besar. Jiang Xia Yan pun segera menutup hidungnya dengan menggunakan saputangan basah yang telah disiapkannya.
Feng Mo Tian merasa sangat binggung sekarang, bagaimana bisa gadis itu tetap tenang pada saat berada ditengah – tengah kobaran api seperti ini.
“ Jika tuan muda Feng masih belum mau keluar, jangan salahkan aku jika hangus terbakar disini….”, sekali lagi Jiang Xia Yan memberikan peringatan kepada Feng Mo Tian.
Belum sempat menjawab, Feng Mo Tian dikejutkan oleh suara teriakan seseorang memanggil dengan nada cemas dari luar aula.
“ Yan’er…..”
“ Yan’er….”
“ Apa kamu mendengar suara ayah nak….”, teriak Jiang Shing lantang.
Jiang Chen yang berlari berasama snag ayah, meluhat kobaran api semakin besar ingin mendobrak pintu aula leluhur agar bisa masuk.
Naun sayangnya dia harus berhenti bertindak dan melangkah mundur kembali waktu papan nama yang berdiri kokoh diatas bangunan terjatuh.
Ini sama saja dengan membiarkan putrinya mati didalam. Bahkan seluruh keluarganya sama sekali tak menghiraukan dan sibuk berpesta didalama aula utama.
“ Orang yang aku tunggu telah tiba…”
“ Sebaiknya tuan muda Feng memikirkan jalan keluar sendiri…”, ucap Jiang Xia Yan tersenyum licik.
Jiang Xia Yan segera mengambil satu bongkahan kayu yang terbakar dan menempelkannya dilengan sebelah kirinya.
Aksi Jiang Xia Yan tentu saja membuat Feng Mo Tian terbelalak. Dia sama sekali tak menyangka jika gadis Jiang itu benar – benar sudah gila.
Bagaimana bisa dia membuat rencana semengerikan itu, bahkan dia rela melukai anggota tubuhnya sendiri dengan tenang.
“ Benar – benar tak habis pikir aku….”, batin Feng Mo Tian tak percaya dengan kelakuan nekat Jiang Xia Yan.
Drama yang dibuat oleh Jiang Xia Yan hari ini adalah untuk membuka mata Jiang Shing agar bisa melihat dengan jelas bagaimana sebenarnya situasi yang ada dalam kediaman keluarga besar Jiang.
Mereka yang selalu bilang menyayangi dan memperhatikan Jiang Xia Yan nyatanya tega membiarkan gadis itu bergelung dengan maut.
__ADS_1
Jiang Xia Yan tak memiliki banyak waktu untuk membuat Jiang Shing mengerti maka dari itu dia menggunakan cara langsung yang ekstrim hanya untuk membuat keluarganya melihat dan memahami semuanya dengan jelas.
Begitu pintu berhasil dibuka dengan paksa, Jiang Xia Yan segera keluar dan jatuh tepat ditempat yang tak terkena kobaran api.
“ Sangat cerdik tapi juga berbahaya….”, guman Feng Mo Tian mulai bisa membaca skema rencana Jiang Xia Yan.
“ Ternyata gadis itu benar – benar sudah menyiapkan semuanya dengan matang. Untuk apa aku tadi begitu mengkhawatirkannya….”, batin feng Mo Tian sinis.
Tak ingin terlihat oleh jenderal besar Jiang Shing, Feng Mo Tian pun segera melesat pergi setelah memastikan bahwa semua tindakan yang dilakukan oleh Jiang Xia Yan telah terencana dengan sangat baik.
“ Tuan…”, seseorang lelaki tua menyambut kedatangan Feng Mo Tian dihutan belakang kediaman Jiang.
“ Benda itu tak ada dikediaman Jiang…”
“ Jiang Shing telah datang…”
“ Cepat pergi….”, setelah mendengar instruksinya anak buah Feng Mo Tian segera menghilang dalam kegelapan malam.
Sementara itu di depan aula leluhur, Jiang Xia Yan yang hendak keluar tiba – tiba saja kakinya tersandung.
Untung saja Jiang Chen sigap dan langsung menangkap tubuh Jiang Xia Yan sebelum berhasil mencium tanah.
“ Yan’er….”, teriak Jiang Shing dan Xiao Mei bersamaan waktu melihat tiba – tiba putrinya pingsan dalam dekapan sang kakak.
Ketiganya melihat kondisi Jiang Xia Yan yang cukup memprihatinkan merasa sangat sedih dan marah.
Selain tubuh gadis itu penuh noda hitam terkena abu, yang paling membuat mereka geram adalah lengan kiri Jiang Xia Yan terdapat luka bakar yang sangat lebar.
Membuat Jiang Shing seketika mengepalkan kedua tangannya dengan kuat menahan amarah yang mulai merasuki hatinya.
Mata Xiao Mei langsung memerah waktu Jiang Xia Yan meringkuk dalam pelukannya dan berguman dengan kedua mata tertutup “ Keluarkan aku !!!….aku tidak ingin menikah!!!….”
Mendengar igauan Jiang Xia Yan dialam bawah sadarnya, tubuh Jiang Shing dan Xiao Mei langsung membeku seketika.
Kini mereka mengerti dan paham kenapa putri mereka bisa terjebak didalam aula leluhur Jiang sementara semua orang sedang menikmati pesta yang tengah berlangsung.
Dalam diam, Jiang Shing bertekad tidak akan membiarkan orang – orang yang ingin mencelakai putrinya ini lolos begitu saja.
Dia akan mengusut dan memberi mereka semua pelajaran atas perbuatan kejam yang telah mereka lakukan terhadap Yan’er.
Sementara itu, Jiang Xia Yan yang masih pura – pura pingsan tersenyum penuh kemenangan dalam hati.
__ADS_1
Karena hari ini dia terlalu memforsir tenaganya, maka diapun tertidur pulas waktu ibunya mengendongnya kembali kedalam kediaman.