
Hari yang dinanti – nanti oleh banyak orang akhirnya tiba juga. Pesta penyambutan datangnya Jiang shing beserta pasukannya dengan kemenangan mutlak ditangan.
Ratusan pejabat sipil dan militer akan hadir dalam pesta penyambutan yang diadakan oleh keluarga kekaisaran Ming dialua utama istana.
Keluarga Jiang memegang kekuatan yang sangat besar ditangan mereka dan dengan memiliki dukungan penuh dari mereka maka itu akan menjadi pedang yang bagus untuk membela kepentingan kekaisaran Ming.
Dan jika pedang tajam itu diabaikan, suatu saat bisa mengancam kursi tahta kapan saja. Dan itu sangat tidak diinginkan oleh kaisar Ming Qin.
Maka dari itu, meski sangat tajam dan berbahaya dia tetap harus mengenggam pedang tersebut kuat – kuat agar kekuasaan yang dimilikinya tak tergoyahkan.
Didalam kamarnya, Jiang Xia Yan telah dirias oleh keempat pelayan pribadinya dan tak akan membiarkan siapapun menyentuh bagian tubuhnya kecuali empat wanita muda tersebut.
Bukannya tanpa alasan Jiang Xia Yan melakukan hal tersebut, dia hanya tidak mau lenggah sedikitpun hingga nantinya akan membahayakan nyawanya.
Keempat pelayan pribadinya tersebut sudah mengetahui karakter baru dari nona mudanya setelah bangun dari demam tinggi yang membuatnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Untuk itu mereka tidak lagi memberikan pakaian berwarna cerah dan perhiasan, tapi memberikan pakaian dengan warna yang netral serta simple namun tak menghilangakan kesan elegan yang ada.
Begitu juga dengan tatanan rambut dan hiasan kepala yang akan dipakai oleh nona mudanya, mereka akan memilihkan yang simple tapi elegan sehingga bisa menunjang aura bermartabat yang keluar dari tubuh Jiang Xia Yan.
“ Sempurna….”, ucap Jinying merasa puas.
“ Nona terlihat semakin cantik setiap harinya….”, Kiew tak bisa lagi untuk menyembunyikan kekagumannya.
Jiang Xia Yan memang mengakui jika tubuh ini cukup cantik dan bagus padahal dia hanya merawat dengan bahan seadanya tanpa perlu kesalon yang mahal seperti rutinitas yang dulu dia lakukan pada jaman kehidupan lampaunya.
Sementara itu, diluar kamar kedua orang tua Jiang Xia Yan beserta kakaknya sedang menunggunya untuk keluar agar bisa pergi bersama – sama keacara penyambutan yang digelar didalam istana tersebut.
Kriet….
Suara deritan pintu membuat atensi semua orang mengarah kepadanya. Jiang Xia Yan keluar dari dalam kamar dengan gaya anggun hingga membuat kedua orang tua dan kakaknya tercengang.
“ Adik….”
“ Apakah itu benar kamu ?...”, Jiang Chen terlihat membuka mulut sangat lebar dan menatap sang adik dengan kedua mata melotot sempurna.
__ADS_1
Jiang Xia Yan hari ini mengenakan gaun sutra biru tua dengan jubah serigala pemberian sang kakak yang mampu menutupi bagian leher sepenuhnya.
Jiang Chen sama sekali tak menyangka jika jubah rubah yang dibawahnya dari wilayah Timur mampu membuat penampilan adiknya seelegan ini.
Kulit Jiang Xia yan yang seputih salju akan terlihat lebih bercahaya waktu menggunakan warna gelap seperti biru lotus ditubuhnya.
Kesan elegan dan bermartabat melekat pada dirinya sehingga penampilan Jiang Xia Yan saat ini sudah sejajar dengan para wanita yang tinggal didalam istana.
Xiao Mei dan Jiang Shing begitu terpukau dengan penampilan gadis kecil mereka sehingga lidah keduanya terasa keluh, tak bisa berucap sepatah katapun.
Meski mereka banyak melihat wanita bangsawan kelas atas, tapi penampilan Jiang Xia Yan kali ini seperti permaisuri dengan aura mulia di istana yang bahkan sinarnya melampau makhota emas yang dipakai oleh kaisar.
“ Sungguh anggun dan bermartabat….”, guman keduanya secara bersamaan.
“ Hahaha…..”, tawa keras Jiang Shing memecah kesunyian yang ada.
“ Keluarga Jiang memiliki putri yang sudah beranjak dewasa….”, ucap Jiang Shing penuh kebanggaan.
Mereka berempat pun segera berjalan menuju kereta kuda yang sudah menunggu didepan kediaman karena tak ingin terlambat sampai di istana.
Selama perjalanan Jiang Xia Yan mencoba untuk berbincang hangat dengan ibundanya. Kegiatan sepele yang tidak pernah pemilik tubuh asli lakukan selama ini karena kebodohannya.
Perjamuan malam ini sama sekali bukan perjamuan perayaan. Akan ada banyak bahaya ekstrim yang menunggunya disana.
Untung saja kekuatan kultivasinya sudah meningkat jauh sehingga dia bisa menggunakan hal tersebut untuk menghindari hal buruk yang kemungkinan besar akan menimpanya.
Tapi, sebelum hal itu terjadi dia akan menggunakan kecerdasan otaknya lebih dahulu agar tidak terlalu mengeluarkan energy yang terlalu banyak.
“ Aku harap bibi kedua melakukan kesalahan selama perjamuan sehingga aku tak perlu menggunakan energy yang besar disana….”, batin Jiang Xia Yan bermonolog.
Bibir Jiang Xia Yan sedikit mengait dan sorot matanya tampak sangat jernih, tapi begitu dia menatap secara dalam dia akan menjadi pusaran air yang dapat memicu badai besar dan dasyat.
Xiao Mei yang cukup peka sekilas melihat hal tersebut, tapi karena rasa bahagia yang saat ini menyelimuti hatinya karena pada akhirnya dia bisa dekat dengan putri kecilnya maka diapun mengabaikan intuisinya tersebut.
Jiang Shing mulai memelankan langkah kudanya begitu gerbang istana sudah berada didepan mata, menunggu antrian masuk karena banyaknya tamu yang hadir malam ini.
__ADS_1
Istana kekaisaran terlihat sangat indah dan megah sekaligus menjadi tempat paling berbahaya yang ada di dinasti Ming.
Begitu masuk kedalam, sudah banyak nyonya dan wanita muda tiba dan menikmati perjamuan yang telah disediakan.
Semua orang tak berkedip melihat betapa sempurnanya keluarga tersebut. Selain status mereka dari keluarga militer nomor satu di kekaisaran Ming.
Transformasi Jiang Xia Yan, bukan hanya pada sikap dan sifatnya tapi juga penampilannya yang sangat memukau malam ini membuat semua orang akhirnya mengakui dengan pasti bahwa gadis bodoh dan idiot itu telah hilang seiring kedewasaannya.
Meski banyak yang senang akan perubahan baik Jiang Xia Yan, tapi banyak diantara mereka yang masih tidak bisa menerima meski fakta tersebut sudah ada dihadapan mereka.
Selama ini Xiao Mei yang berasal dari wilayah barat yang tandus dan gersang bahkan sebagian besar wilayahnya merupakan gurun pasir selalu menjadi bahan ejekan para nyonya dan nona muda bangsawan bersama sang putri dibelakang.
Tapi, sekarang mereka tak bisa melakukan hal itu lagi jika tidak ingin ejekan itu berbalik kearah mereka yang sekarang terlihat tidak ada seujung kuku bisa menyamai keanggunan dari sikap Jiang Xia Yan yang terlihat sangat bermartabat itu.
Bahkan penampilan Ruo Xinxin terutama sang putri Jiang Xialun yang selama ini selalu menonjol dan menjadi pusat perhatian berubah menjadi kritikan keras dan pedas dari semua orang.
Jika kumpulan para lelaki tidak mementingkan penampilan dan etiket, namun berbeda dengan para wanita yang lebih kritis terhadap apapun itu.
Ruo Xinxin yang putrinya selama ini menjadi pusat perhatian merasa tidak senang waktu semua hal yang seharusnya menjadi milik Jiang Xialun malah menjadi milik Jiang Xia Yan.
Jiang Xialun yang masih muda tak setangguh Ruo Xinxin. Dia sedikit canggung waktu banyak nyonya yang terlihat menatapnya dengan kritis.
Membuat langkahnya yang halus menjadi sedikit kaku dan terkesan dibuat – buat. Hal itu tentu saja membuat para nyonya memberikan senyum mengejek yang sangat kentara hingga membuat keringat dingin mulai menguyur deras tubuhnya.
“ Kenapa para nyonya menatapku seperti itu…apa ada yang salah dalam penampilanku malam ini…”, batin Jiang Xialun resah.
Ruo Xinxin yang mengetahui keresahan putrinya segera menangkannya. Tapi kata – kata ibundanya tersebut tak mampu membuat hati Jiang Xialun tenang.
Apalagi waktu dia melirik kearah tempat duduk para pangeran, dia melihat pangeran kedua Ming Shin terus menatap adik ketiganya dengan kedua mata tak berkedip.
Meski ekspresi yang ditunjukkan oleh pangeran kedua Ming Shin masih tetap datar, tapi dia yang mengenal kepribadian lelaki tersebut sangat mengetahui jika pengeran kedua Ming Shin sangat tertarik dengan adik ketiganya saat ini
Bahkan dia sama sekali tak memandang dirinya mulai dari dia masuk kedalam hingga sekarang, membuat Jiang Xialun merasa sangat geram.
“ Aku tak rela dia mengambil semua perhatian dariku….”
__ADS_1
“ Dan aku pastikan akan merebut semuanya kembali….”
“ Termasuk perhatian pangeran kedua Ming Shin….”, batin Jiang Xiulin marah.