Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
SEPENGGAL KISAH MASA LALU


__ADS_3

Angin pagi yang berhembus sepoi – sepoi menerbangkan rambut hitam seorang gadis muda yang sedang asyik  memainkan kecapi dihalaman rumahnya.


Suara kecapi yang begitu lembut seolah menghipnotis semua makhluk yang mendengarkan untuk turut hanyut dalam melodi yang penuh kesedihan itu.


“ Kenapa pagi yang cerah seperti ini kamu memainkan lagu sedih seperti itu ?..”, Yaouhan bertanya dengan senyum masam.


Meski Yaouhan sudah mengetahui alasan Wuzia memainkan lagu itu, namun hatinya masih berharap jika gadis itu akan menjawab yang sebaliknya.


“ Apakah semua pengorbananku tak berarti baginya hingga dia menyakitiku sedalam ini….”, guman Wuzia dengan wajah sendu.


Youhan tak bisa melihat gadis yang ada dihadapannya itu bersedih maka diapun segera mengeluarkan bungkusan yang sedari tadi dia bawa.


“ Makanlah kue oesmatus ini selagi hangat…”


“ Koki kekaisaran yang diberikan kepada keluargaku yang membuatnya….”


“ Aku yakin kamu akan menyukainya….”, ucap Yaouhan tersenyum lembut.


Meihat sudut bibir Wuzia terangkat, hati Yaouhan sedikit menghangat. Meski senyum itu tak tulus setidaknyanya raut kesedihan diwajah gadis yang sangat disayangi itu sedikit berkurang.


“ Terimakasih Yaouhan….”


“ Kamu sudah menghiburku hari ini…”, ucap Wuzia memaksa untuk tersenyum.


Diapun segera memakan kue oesmatus kesukaannya dengan hati pedih sambil mengusap perutnya yang masih rata.


“ Maafkan ibu nak….”


“ Seharusnya ayahmu lah yang perhatian kepada kita seperti ini….”, batin Wuzia perih.


Setelah Wuzia menghabiskan kue yang dibawanya, Yaouhan pun pamit undur diri agar gadis itu bisa beristirahat.


Sejak awal kehamilan, Wuzia merasa jika badannya mudah sekali lelah tapi untungnya bayinya tidak rewel sehingga keluarganya tidak curiga jika dia sedang berbadan dua.


“ Bagaimanapun caranya aku harus memberi tahu Bai Sheng mengenai masalah ini….”, batin Wuzia penuh tekad.


Diapun segera menuliskan sebuah surat kepada Bai Sheng agar menemuinya malam nanti ditempat biasa mereka bertemu.


Bai Sheng yang sedang menyiapkan pesta pernikahannya sedikit enggan untuk membuka surat yang diberikan oleh Wuzia kepadanya.


Meski dia sangat mencintai Wuzia, tapi keluarga gadis itu tak bisa membantunya naik posisi didalam pemerintahan jadi diapun berniat melepaskannya dan menikah dengan putri perdana menteri yang bisa membantu karirnya dimasa depan.


Wuzia yang sedang menunggu balasan suratnya hanya bisa menanti dengan raut cemas.


Ini bukanlah pertama kali suratnya diabaikan, tapi dia sangat yakin jika malam ini Bai Sheng akan menemuinya karena dia memiliki sesuatu yang lelaki itu cari selama ini.

__ADS_1


Bai Sheng yang sangat sibuk pulang kedalam kediamannya begitu langit sudah gelap. Dengan tubuh lelah, diapun menyandarkan tubuhnya disofa ruang kerjanya sambil menatap langit – langit dengan tatapan kosong.


Tak sengaja matanya melirik kearah meja kerjanya dan dia melihat sebuah amplop berwarna keemasan masih tergeletak rapi disana.


Sejenak dia mengalihkan pandangannya, berusaha untuk sekali lagi mengabaikan surat yang dikirim oleh Wuzia untuknya.


Tapi entah kenapa hatinya merasa gelisah seolah ada hal penting dalam surat itu yang harus dia baca secepatnya.


Dengan enggan diapun berjalan menuju kearah meja kerjanya dan membukan amplop berwarna keemasan tersebut tanpa semangat.


Namun, ketika membaca baris terakhir yang ada didalam surat kedua matanya mulai berbinar cerah dan Bai Sheng pun segera bergegas pergi ketempat biasanya dia bertemu dengan kekasihnya itu.


Dihutan bamboo, Wuzia terlihat beberapa kali mengusap lengannya sambil mengeratkan mantel bulu yang dipakainya untuk menghalau udara dingin yang mulai masuk kedalam tubuhnya.


Sudah hampir dua jam Wuzia menunggu ditempat tersebut namun sosok yang ditunggunya tidak kunjung hadir.


“ Mungkin, aku yang terlalu berharap besar padanya….”, guman Wuzia sambil menatap buku kuning yang dia bawa dan kembali menyimpannya dibalik mantel bulu yang dipakainya.


Begitu dia hendak melangkah pergi, tiba – tiba lengan Wuzia ditahan oleh sebuah tangan kekar yang langsung mendekapnya dengan erat.


“ Maaf….”


“ Aku sudah menyakitimu selama ini…”


“ Jika posisiku sudah stabil aku berjanji akan menikahimu dan membawamu kedalam kediamananku….”, ucap Bai Sheng berjanji.


Tesss….


Wuzia tak bisa lagi menahan rasa haru dalam hatinya. Meski hanya sebuah janji tapi dia sudah merasa bahagia ternyata laki – laki itu masih mencintainya.


“ Selain ingin menyerahkan buku ini….”


“ Ada hal lain yang ingin aku katakan…”, ucap Wuzia dengan kedua mata berkaca – kaca.


“ Jangan bersedih….”


“ Aku tak sanggup melihat air matamu menetes seperti ini….”, ucap Bai Sheng sambil mengusap air mata Wuzia dengan jarinya.


“ Aku….aku hamil….”, ucap Wuzia terbata – bata.


Jderrr….


Seperti ada petir dimalam hari yang menghantam tubuh Bai Sheng saat ini. Tubuh laki – laki langsung membeku seketika mendengar jika Wuzia sedang mengandung anaknya.


“ Tidak….”

__ADS_1


“ Ini tidak boleh terjadi….”, batin Bai Sheng egois.


Meski dia berjanji akan menikahi Wuzia dimasa depan, tapi dirinya tak bisa merusak rencana yang telah disusunnya dengan sangat rapi hanya masalah kehamilan tersebut.


Bai Sheng yang mulai panik dan tak ingin semua usaha yang telah dilakukannya menjadi sia – sia seakan gelap mata dan langsung menghunuskan pedang kearah perut Wuzia begitu gadis itu menyerahkan buku yang selama ini dia cari.


“ Kenapa ?....”


“ Kenapa kamu melakukan ini padaku ?....”, ucap Wuzia berurai air mata.


Baru saja hati gadis itu menghangat akan janji manis Bai Sheng yang akan menikahinya dimasa depan.


Meski hanya menjadi selir, tapi dirinya relah asal bisa bersama dengan lelaki yang sangat dicintainya itu dan berkumpul bersama denagn buah hati mereka.


Tapi apa yang didapatkannya sekarang, baru juga janji itu diucapkan, sekarang lelaki itu sudah menghunusnya dengan pedang untuk melenyapkan nyawanya.


“ Maaf….”


“ Aku harus melakukan ini agar kamu tak menggagalkan rencanaku….”, ucap Bai Sheng sambil menarik pedang yang menancap diperut Wuzia.


Bai Sheng segera berlalu pergi begitu dia mendengar ada suara langkah kaki berjalan mendekat ketempat keduanya berada dan meninggalkan Wuzia yang terjatuh ditanah bersimbah darah.


“ Nona….”


“ Nona….”


“ Bangunlah....”


“ Apa yang terjadi ?.....”, Lin terlihat panik waktu melihat Jiang Xia Yan mengigau sambil emnagis dengan keringat dingin mengucur deras diseluruh tubuhnya.


“ Nona demam….”, ucap Lin terkejut.


Diaun segera memanggil Kiew yang berjaga didepan agar segera memanggilkan tabib untuk memeriksa nona mudanya.


Jiang Xia Yan mulai membuka mata dengan hati hancur sambil berlinangan air mata. Sorot mata penuh kebencian terlihat jelas dikedua matanya yang masih basah akibat air mata yang mengalir deras dipipinya.


Mimpi yang baru saja dia alami begitu jelas, seolah – olah dia sendiri yang berada disana dan mengalami semua kejadian buruk yang menimpah Wuzia tadi.


“ Dasar brengsek !!!!....”


“ Bajingan !!!....”


“ Aku tak akan pernah memaafkanmu !!!....”, umpat Jiang Xia Yan penuh amarah dalam hati.


Api kemarahan terlihat jelas berkobar dikedua matanya seakan bisa menghancurkan siapa saja yang ada didepannya hingga menjadi debu.

__ADS_1


__ADS_2