
Begitu melangkah keluar, Jiang Xia Yan melihat ada seorang lelaki muda berpakaian coklat polos sedang manatap Wudao Jia dari seberang jalan.
Arah matanya menatap ketempat dimana Jiang Xia Yan baru saja beranjak pergi, kamar Han Wu Ying yang tepat berada dilantai dua bangunan Wudao Jia dengan jendela menghadap kearah jalan.
“ Apakah dia sudah mengetahui keberadaan kakaknya disini ?...”, batin Jiang Xia Yan penasaran.
Lelaki tersebut begitu serius hingga dia tak menyadari bahwa ada seseorang yang berjalan cepat kearahnya.
Setelah Jiang Xia Yan terbatuk pelan, barulah Han Shan Yang mengalihkan atensinya dan menatap heran kepada keenam orang pemuda yang berdiri disampingnya itu.
Dari keenam pemuda yang berdiri menatapnya hanya satu pemuda yang menarik perhatiannya karena merasa jika wajahnya sedikit tak asing baginya.
Pemuda berjubah putih dengan alis rapi dan halus seperti batu giok yang diukir. Meski merasa familier tapi dia tak tahu dari keluarga mana pemuda tersebut berasal.
Hingga suara lembut menyapu gendang telingga “ Guru Han….”.
“ Jiang Xia Yan…..”, guman Han Shan Yang terkejut.
Begitu melihat sekali lagi kepada lima orang pemuda yang berdiri dibelakang nona muda ketiga Jiang, Han Shan Yang semakin yakin jika yang ada dihadapanya itu adalah muridnya.
“ Kenapa kamu berpakaian seperti itu ?.....”, tanya Han Shan Yang dengan kedua bola mata melotot sambil menelisik pakaian yang dikenakan oleh Jiang Xia Yan saat ini.
Meski ini bukan pertama kalinya Han Shan Yang melihat ada seorang wanita keluar dengan menggunakan pakaian laki – laki dengan tujuan untuk menyamar atau pergi ketempat yang tidak sewajarnya wanita kunjungi, tapi melihat jika wanita itu adalah Jiang Xia yan membuatnya snagt terkejut.
“ Apa kamu baru keluar dari…..”, belum sempat Han Shan Yang menyelesaikan ucapannya, kata – katanya sudah dipotong oleh Jiang Xia Yan.
“ Benar, aku baru keluar dari Wudao Jia….”, ucap Jiang Xia Yan santai.
Karena cukup terkejut, Han Shan Yang sampai terbatuk – batuk hingga wajahnya berubah menjadi merah padam dan menitikkan air mata.
Meski banyak wanita menyamar menjadi laki – laki, tapi ini untuk pertama kalinya dia melihat gadis muda menyamar sebagai laki – laki untuk bisa masuk kedalam Wudao Jia.
Dan anehnya, gadis muda yang menjadi muridnya diakademi itu tak malu mengakui jika dia baru saja keluar dari rumah bordil terbesar di ibukota tersebut.
“ Semua orang mengatakan jika wanita yang ada di Wudao Jia sangatlah cantik dan menakjubkan….”
“ Jadi, secara khusus aku pergi untuk mengunjunginya…”
“ Bahkan, beberapa hari ini aku mendengar jika mereka kedatangan sekelompok penari keliling yang sangat cantik…..”, ucap Jiang Xia Yan dengan kedua mata berbinar.
Han Shan Yang terlihat tampak tenang dipermukaan dan dia biasanya sangat kompeten dalam menghadapi bangsawan dan pejabat.
Tapi sekarang menghadapi tindakan Jiang Xia Yan yang ambigu, membuatnya sedikit kuwalahan dan tak tahu harus bersikap seperti apa.
__ADS_1
Belum lagi Jiang Xia Yan mengatakan hal – hal yang tidak masuk akal, membuat ilusi yang salah sehingga orang akan percaya jika gadis muda itu benar – benar mencari wanita untuk menghiburnya.
“ Omong kosong !!!....”, ucap Han Shang Yang dengan nada sedikit tinggi.
Melihat Han Shang Yan marah, Jiang Xia Yan tersenyum lembut dan matanya sedikit melengkung seperti bulan sabit, sangat mengemaskan.
“ Apa guru tahu siapa wanita yang kupilih untuk menemaniku siang ini….”
“ Nona muda Han Wu Ying….”, ucap Jiang Xia Yan penuh kegembiraan.
Mendengar nama yang baru saja disebut oleh Jiang Xia Yan, tubuh Han Shan Yang menegang seketika dan lidahnya terasa sangat keluh.
Sambil mengeluarkan sebuah kipas dan membukanya dengan anggun, Jiang Xia Yan pun kembali bersuara lembut.
“ Murid melihat jika guru Han telah lama berdiri disini sambil menatap kearah kamar nona Han Wu Ying….”
“ Apakah guru Han juga mendambakan nona Han Wu Ying ?....”, ucap Jiang Xia Yan dengan tatapan menyelidik.
Han Shan Yang langsung melotot tajam kearah gadis muda yang dianggapnya telah lancang berbicara seperti itu padanya.
Bukan Jiang Xia Yan namanya jika tidak abai akan amarah yang keluar dari tubuh Han Shan Yang saat ini, bahkan kelima orang dibelakangnya bergidik ngeri melihat raut wajah lelaki yang ada dihadapan mereka tersebut.
“ Karena guru Han sangat tertarik dengan nona Han Wu Ying maka ikutlah denganku….”
Jiang Xia Yan segera menyilangkan kipas didepan dadanya dan berjalan menjauh diikuti oleh keempat pelayan pribadinya dan Yinhang yang setia mendampinginya.
Han Shan Yang terlihat terdiam untuk sejenak, berusaha mencerna setiap kata yang Jiang Xia Yan ucapkan hingga pada akhirnya dia mengambil keputusan untuk mengikutinya.
Dilantai atas pagoda, seberang Wudao Jia, Chang Wu berseru dengan suara keras “ Benar kan tebakanku jika nona muda ketiga Jiang ini cukup tertarik pada guru Han….”
Gu Zou tak menanggapi semua perkataan yang diucapkan oleh Chang Wu, dia malah bersepekulasi jika Jiang Xia Yan menyadari keberadaan mereka.
“ Apakah tadi nona muda ketiga Jiang sengaja menutupi wajahnya dengan kipas agar gerak bibirnya tidak bisa kamu baca ?....”, ucap Gu Zao sambil menatap Feng Mo Tian tajam.
Gu Zou sangat tahu jika sahabatnya itu tak bisa membaca pikiran Jiang Xia Yan sehingga dia hanya bisa membaca gerak bibirnya sambil mencari tahu isi pembicaraan yang terjadi melalui pikiran Han Shan Yang.
Feng Mo Tian hanya mengangkat bahunya acuh dan kembali menatap kemana Jiang Xia Yan pergi bersama Han Shang Yang dengan tajam.
Begitu Feng Mo Tian berdiri, kedua sahabatnya itu langsung bersuara berbarengan “ Mau kemana ?...”.
“ Tentu saja mendengarkan pembicaraan mereka….”
“ Aku sangat ingin tahu apa fungsi Han Shang Yang dalam bidak catur Jiang Xia Yan….”
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut, Feng Mo Tian pun segera melesat pergi diikuti oleh dua orang sahabatnya yang juga tak ingin ketinggalan informasi penting tersebut.
Disebuah restoran mewah tepat disamping Wudao Jia tampak Yinhang dan Chyou berdiri disamping pintu sedangkan ketiga pelayan pribadinya berdiri dengan kepala menunduk disekitar dinding ruangan yang dijadikan tempat pertemuan seolah mereka tidak ada disana.
Diatas meja Jiang Xia Yan menuangkan segelas anggur berwarn kuning dan memiliki aroma yang ringan tapi cukup memabukkan.
Anggur yang dituang oleh Jiang Xia Yan ini sama seperti Everclear dijaman modern yang memiliki kandungan alcohol tinggi yaitu 60 – 90 persen.
Minuman ini tidak menyebabkan efek samping tapi bagi orang normal yang tidak memiliki toleransi terhadap alkohol tentunya akan langsung mabuk dalam satu kali tegukan.
“ Guru….minumlah….”, ucap Jiang Xia Yang menyerahkan secangkir kecil anggur.
“ Jiang Xia Yan….apa yang kamu inginkan ?....”, tany Han Shan Yang langsung.
Dia tak ingin basa – basi terhadap muridnya yang beberapa waktu terakhir ini sangat aneh baik sikap maupun sifatnya.
Dan sepertinya, gadis muda itu mentargetkannya sejak sifat dan sikapnya mulai berubah membuat Han Shan Yang harus memperjelasnya sekarang.
“ Ayolah guru Han….”
“ Kenapa kamu menjadi serius seperti itu….”, ucap Jiang Xia Yan terkekeh.
Ketika mengucapkan kalimat tersebut dapat Han Shan Yang lihat jika tatapan mata Jiang Xia Yang tampak serius tapi seakan menggoda dirinya.
Jiang Xia Yan saat ini sedang berperan menampilkan gadis muda yang tidak bersalah tapi pada saat bersamaan dia menampilkan sikap seakan merayunya hingga membuat hati Han Shan Yang berdebar seketika.
Han Shan Yang langsung meminum anggur yang ada dihadapannya dengan sekali teguk, berusaha untuk menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan.
“ Anggur ini berwarna kuning dan tak memiliki aroma selayaknya minuman anggur pada umumnya….”
“ Hanya provinsi Qionghe yang mampu memproduksi anggur berkualitas tinggi seperti ini…”
“ Apakah anggur ini juga berasal dari sana….”, ucap Jiang Xia Yan santai sambil kembali menuang anggur dari dalam labu kristal yang ada dihadapnnya.
Kembali mengisi cangkir Han Shan Yang untuk kedua kalinya. Melihat jika gurunya tersebut kembali meneguk anggur kuning tersebut dengan satu kali tegukan hingga tandas, diam – diam Jiang Xia Yan menyungingkan senyumannya.
“ Ngomomg – ngomong provinsi Qionghe selain terkenal akan anggurnya juga terkenal dengan orang – orang yang memiliki toleransi alkohol yang sangat tinggi….”
“ Melihat bagaimana cara guru Han minum….”
“ Guru Han seperti orang yang berasal dari provinsi Qionghe….”, ucap Jiang Xia Yan masih dengan sikap tenang dan senyum manis yang terus terkembang diwajahnya.
Mendengar ucapan Jiang Xia Yan, Han Shan Yang hanya mengerutkan bibirnya tak bersuara tapi alisnya sedikit terangkat seperti dia sedang mengingat sesuatu hal yang menyakitkan.
__ADS_1